NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Di Antara Dua Kakakku.

Terjebak Cinta Di Antara Dua Kakakku.

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:220
Nilai: 5
Nama Author: Andinirhein

Aku hanya ingin memiliki keluarga. Namun, takdir justru menyeretku ke dalam cinta yang mustahil. Terjebak di antara pria yang kucintai dan kakak angkat yang diam-diam menginginkanku, aku dipaksa menghadapi rahasia kelam yang selama bertahun-tahun disembunyikan. Saat kebenaran terungkap, bukan hanya hatiku yang hancur, tetapi seluruh hidupku ikut berubah. Akankah cinta menjadi penyelamat... atau justru awal dari kehancuranku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andinirhein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketika Ketakutan Mulai Mengetuk.

Cepat naik, Tuan CEO," ajak seseorang kepada Hwi Sol.

Hwi Sol terkekeh mendengar sapaan itu sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil.

"Padahal baru satu tahun kita tidak bertemu, tapi rupanya detektif muda ini masih sama saja," ujarnya sambil menggeleng pelan.

"Maksudmu aku masih tetap tampan, bukan?" sahut Tae Seon dengan percaya diri. Ia adalah sahabat dekat Hwi Sol sejak masa kuliah.

Hwi Sol hanya mendecak pelan, membuat Tae Seon tertawa semakin lebar.

"Ngomong-ngomong, tumben sekali minta aku menjemputmu," lanjut Tae Seon sambil mulai menjalankan mobil. "Ke mana sopirmu?"

"Aku memang tidak memakai sopir. Aku lebih suka mengemudi sendiri. Hanya saja, hari ini aku sedang ingin disopiri olehmu."

"Oh, begitu?" Tae Seon mengangguk paham. Lalu senyum jahil perlahan muncul di wajahnya. "Oh ya, bagaimana kabar Seolhwa? Apa adikmu yang cantik itu sudah punya kekasih?"

"Sudah."

Jawaban singkat itu langsung membuat Tae Seon tertawa.

"Ya! Jangan cemburu seperti itu, dong. Hahaha!"

"Sudahlah, fokus menyetir saja. Jangan meledekku."

Tae Seon kembali tertawa, sementara Hwi Sol hanya menghela napas pasrah.

Begitulah cara mereka bercanda. Meski telah lama tidak bertemu secara langsung, keduanya masih sering saling berkirim pesan dan sesekali menelepon untuk menanyakan kabar.

Kesibukan masing-masing membuat waktu mereka semakin terbatas. Karena itulah, ketika akhirnya memiliki kesempatan luang yang sama, mereka segera membuat janji untuk bertemu.

Malam itu, dua sahabat yang sama-sama masih melajang itu memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama, melepas rindu yang telah lama tertahan sambil menikmati makan malam dan mengenang masa-masa kuliah mereka dahulu.

Sesampainya di restoran, Hwi Sol dan Tae Seon memilih sebuah meja di dekat jendela. Setelah memesan makanan, keduanya menikmati suasana malam yang tenang sambil menunggu pesanan mereka datang.

"Oh, ya. Saat ini kamu sedang menangani kasus apa?" tanya Hwi Sol sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi.

Ekspresi Tae Seon yang semula santai perlahan berubah serius.

"Kasus yang sedang viral di Seoul. Kamu pasti pernah mendengarnya."

Hwi Sol mengangguk pelan, memberi isyarat agar sahabatnya melanjutkan.

"Akhir-akhir ini ada beberapa kasus pembunuhan yang menargetkan perempuan muda. Awalnya kami mengira setiap kasus dilakukan oleh pelaku yang berbeda. Namun, setelah aku mempelajari seluruh laporan dan melihat pola yang ditinggalkan, aku semakin yakin bahwa semua pembunuhan itu dilakukan oleh orang yang sama."

Hwi Sol mengernyit.

"Jadi, ini ulah seorang pembunuh berantai?"

Tae Seon mengangguk.

"Aku sudah menetapkannya sebagai kasus pembunuhan berantai."

Suasana di antara mereka seketika berubah lebih tegang.

"Memangnya pola apa yang dia tinggalkan?" tanya Hwi Sol penasaran.

Tae Seon terdiam sesaat sebelum menjawab.

"Setiap korban ditemukan dengan tanda yang sama. Pelaku selalu meninggalkan bekas kecupan di leher mereka."

Alis Hwi Sol langsung terangkat.

"Benar-benar gila."

"Ya." Tae Seon mengembuskan napas panjang. "Orang seperti itu biasanya tidak berhenti hanya pada satu atau dua korban. Selama belum tertangkap, kemungkinan besar akan ada korban berikutnya."

Ucapan itu membuat Hwi Sol terdiam sejenak.

"Oh, ya." Tae Seon kembali menatap sahabatnya. "Aku hanya ingin mengingatkan sesuatu."

"Apa?"

"Jangan biarkan Seolhwa pulang sendirian larut malam."

Tatapan Hwi Sol langsung berubah serius.

"Aku tidak bermaksud menakut-nakutimu. Aku hanya khawatir. Sampai saat ini, aku dan tim masih memburu pelaku itu. Jadi, selama dia belum tertangkap, lebih baik kalian berhati-hati."

Hwi Sol mengangguk pelan.

"Aku mengerti."

Dalam hati, ia berjanji akan lebih memperhatikan keselamatan adiknya. Ia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi hanya karena dirinya lengah.

Hampir dua jam Hwi Sol dan Tae Seon menghabiskan waktu bersama. Mereka membicarakan banyak hal, mulai dari pekerjaan, kenangan masa kuliah, hingga kehidupan pribadi masing-masing.

Suasana yang hangat itu tiba-tiba terputus ketika ponsel Tae Seon berdering.

Ia segera mengangkat panggilan tersebut. Namun, baru beberapa detik mendengarkan laporan dari seberang sana, wajahnya langsung berubah gelap.

"Brengsek!"

Tangan Tae Seon menghantam meja cukup keras hingga beberapa pengunjung menoleh ke arah mereka.

Hwi Sol yang terkejut langsung mengernyit.

"Ada apa? Kenapa?"

Tae Seon mengepalkan tangannya kuat-kuat.

"Bajingan itu beraksi lagi."

Jantung Hwi Sol seolah ikut menegang.

"Jangan bilang..."

Tae Seon mengangguk dengan rahang mengeras.

"Dia membunuh seorang wanita lagi."

Tanpa membuang waktu, ia segera berdiri dan meraih jaketnya.

"Aku harus pergi sekarang."

"Hati-hati."

"Terima kasih untuk hari ini." Tae Seon menepuk bahu sahabatnya sekilas. "Lain kali kita harus bertemu lagi."

Setelah mengatakan itu, ia bergegas meninggalkan restoran.

Hwi Sol hanya mengangguk pelan sambil memperhatikan punggung sahabatnya yang semakin menjauh.

Begitu Tae Seon menghilang dari pandangan, pikiran Hwi Sol langsung tertuju pada satu orang.

Seolhwa.

Tanpa berpikir panjang, ia segera meraih ponselnya dan menelepon sang adik.

Beberapa saat kemudian, panggilannya tersambung.

"Oppa?"

Suara Seolhwa terdengar ceria dari seberang sana.

Hwi Sol mengembuskan napas lega. Setidaknya adiknya baik-baik saja.

"Kamu sedang di mana?"

"Aku sedang bersama Eun Dam."

Jawaban itu sedikit menenangkan hatinya.

"Bagus. Bisa berikan teleponnya pada Eun Dam?"

"Tentu, Oppa."

Tak lama kemudian, suara laki-laki lain terdengar dari seberang.

"Ya, Hyung?"

Nada bicara Hwi Sol langsung berubah serius.

"Pastikan kamu mengantarnya pulang."

"Baik, Hyung."

"Jangan pulang lebih dari jam sepuluh malam, dan jangan lewat jalan yang sepi."

Eun Dam terdiam sesaat.

"Baik, Hyung. Tapi memangnya ada apa?"

"Kamu tahu kasus pembunuhan berantai yang sedang ramai dibicarakan itu?"

"Tentu. Aku tahu."

"Sampai sekarang pelakunya masih belum tertangkap." Hwi Sol menatap kosong ke luar jendela restoran. "Aku hanya takut sesuatu yang buruk terjadi pada Seolhwa."

Nada suaranya terdengar lebih berat dari biasanya.

"Dan aku yakin kamu juga tidak ingin hal itu terjadi, bukan?"

"Tentu saja tidak."

Suara Eun Dam terdengar mantap.

"Baik, Hyung. Aku mengerti. Jangan khawatir. Aku akan memastikan Seolhwa pulang dengan selamat."

Mendengar jawaban itu, Hwi Sol akhirnya merasa sedikit lebih tenang.

"Terima kasih."

Setelah panggilan berakhir, ia masih menatap layar ponselnya beberapa saat.

Entah mengapa, firasat buruk perlahan mulai merayapi hatinya malam itu.

Hwi Sol segera menggelengkan kepalanya, berusaha menepis segala pikiran buruk yang mulai memenuhi benaknya.

Ada Eun Dam yang menjaganya.

Seolhwa tidak sendirian.

Ia bersama Eun Dam, dan Hwi Sol tahu betul bahwa pemuda itu tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada adiknya.

Meski begitu, entah mengapa, perasaan tidak tenang itu masih enggan meninggalkan hatinya.

***

Di sisi lain,

"Ayo, aku antar pulang. Hyung berpesan agar aku mengantarmu sampai rumah sebelum jam sepuluh malam," ujar Eun Dam.

"Iya. Baiklah."

Aku mengangguk pelan.

Eun Dam segera menyalakan motornya dan membiarkan mesin itu menyala beberapa saat.

Setelah semuanya siap, aku naik ke jok belakang. Refleks, tanganku meraih ujung jaket kulit yang dikenakannya.

Namun, sebelum motor itu melaju, Eun Dam tiba-tiba menarik salah satu tanganku dan meletakkannya di pinggangnya.

Ia menoleh ke belakang, menatapku sekilas dengan senyum tipis di bibirnya.

"Pegang yang erat. Aku lebih suka seperti ini."

Jantungku berdegup sedikit lebih cepat.

Belum sempat aku menjawab, ia sudah memutar gas dan membawa motor melaju membelah jalanan malam Seoul.

Aku hanya tersenyum kecil sebelum akhirnya menuruti keinginannya. Kedua lenganku melingkar di pinggangnya, sementara angin malam menerpa wajah kami sepanjang perjalanan.

Sekitar sepuluh menit sebelum tiba di rumah, aku meminta Eun Dam berhenti di sebuah apotek.

"Aku ingin membeli obat pereda nyeri haid sebentar."

"Oke. Aku tunggu di sini."

Eun Dam memarkir motornya di depan apotek, sementara aku masuk ke dalam.

Setelah mengambil obat yang kubutuhkan, aku berdiri di antrean kasir untuk melakukan pembayaran.

Namun, tiba-tiba seseorang menabrak bahuku cukup keras.

Aku sedikit terhuyung dan spontan menoleh.

Seorang pemuda bertubuh tinggi yang mengenakan hoodie hitam berjalan tergesa-gesa melewatiku. Tanpa meminta maaf sedikit pun, ia langsung menyela antrean di depanku sebelum segera meninggalkan apotek.

Semuanya terjadi begitu cepat.

Aku hanya bisa menatap punggungnya yang semakin menjauh dengan perasaan kesal.

"Ck. Dasar tidak punya sopan santun," gumamku pelan.

Meski begitu, entah mengapa ada sesuatu pada pemuda itu yang membuatku merasa tidak nyaman.

Perasaan aneh yang sulit kujelaskan mulai mengusik benakku saat mataku terus mengikuti sosoknya hingga menghilang di balik keramaian malam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!