Bagi Aura, mahasiswa tingkat akhir penerima beasiswa penuh, hidup ini sederhana: belajar keras, lulus cepat, dan dapat kerja bagus demi menyembuhkan ibunya yang sakit. Dunia Aura diatur oleh jadwal kuliah yang ketat dan nilai IPK yang sempurna. Ia menjauhi segala bentuk masalah, termasuk Devan, mahasiswa jurusan hukum yang terkenal arogan, kerap bolos, dan selalu dikelilingi aura berbahaya. Devan adalah definisi nyata dari bad boy kampus yang harus dihindari.
Permusuhan mereka dimulai dari hal sepele—rebutan buku referensi langka di perpustakaan dan insiden kopi tumpah yang membuat Devan bersumpah akan membuat hidup Aura di kampus seperti neraka. Aura menganggap Devan tak lebih dari berandalan kaya yang manja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Penangkapan Marcus Vance di Hotel Regent dan penyeretan Jaksa Abraham di depan kamera nasional ternyata hanyalah riak kecil di permukaan sebuah bendungan yang retak. Di era ekonomi digital tahun 2026, kehancuran sebuah faksi tidak lagi terjadi dalam satu malam yang sunyi. Vanguard Maritim telah menanam akarnya terlalu dalam, bertransformasi menjadi sebuah entitas algoritmik yang bergerak secara otonom ketika pusat kendalinya dipenggal.
Pukul dua dini hari, ketika rintik hujan di luar Menara Bratadikara mulai mereda, ruang kendali siber di lantai lima puluh lima justru berubah menjadi medan perang baru yang jauh lebih mengerikan. Seluruh dinding layar LED berukuran raksasa di ruangan itu mendadak berubah menjadi warna hitam pekat, sebelum menampilkan barisan grafik angka yang merosot tajam dalam warna merah menyala.
Pip... Pip... Pip...
Suara sirene digital berfrekuensi rendah berbunyi tanpa henti. Kenzo duduk di kursi ergonomisnya dengan mata yang memerah akibat kurang tidur. Sepuluh jarinya menari di atas papan ketik mekanis dengan kecepatan yang tidak manusiawi, menciptakan suara ketukan yang berondong seperti senapan mesin. Keringat dingin mengalir deras dari pelipisnya, membasahi kerah kemejanya yang sudah kusut.
"Dev! Aura! Ini bukan sekadar serangan balas dendam biasa," seru Kenzo tanpa mengalihkan pandangannya dari monitor. "Marcus Vance ternyata cuma bertindak sebagai fail-safe (sekring pengaman). Begitu dia menandatangani draf pengakuan di Mabes Polri, sebuah skrip algoritma otonom bernama The Doomsday Protocol di Jenewa langsung aktif secara otomatis."
Devanandra berdiri di belakang kursi Kenzo dengan kedua tangan bersedekap di dada. Jaket taktis hitamnya telah ditanggalkan, menyisakan kaos hitam yang memperlihatkan ketegangan otot-otot lengannya. Sepasang mata elangnya menatap barisan data dengan dingin yang mematikan. "Apa yang dilakukan protokol itu, Ken?"
"Protokol itu meluncurkan serangan Short Selling (penjualan kosong) secara massal terhadap seluruh saham Bratadikara Group di bursa efek New York, London, dan Tokyo secara simultan," Aura yang menjawab dari sudut meja analisis. Ia berdiri dengan draf laporan keuangan global yang baru saja dicetak. Wajah cantiknya tampak pucat namun memancarkan ketajaman analisis yang luar biasa. "Mereka menggunakan ribuan akun robot fiktif untuk membanjiri pasar dengan saham kita, menciptakan kepanikan buatan. Dalam waktu empat jam sejak pasar internasional dibuka, nilai valuasi Bratadikara Group telah menyusut sebesar lima belas persen. Jika ini terus berlanjut sampai bursa Jakarta dibuka besok pagi, kita akan menghadapi kebangkrutan teknis."
"Bukan cuma itu, Aura," sela Kenzo, suaranya naik satu oktav karena panik. "Algoritma mereka juga meretas sistem manifes digital di seluruh kapal kontainer kita yang sedang berlayar di Samudra Hindia. Mereka mengubah kode destinasi dan dokumen bea cukai secara massal. Saat ini, tiga puluh kapal kargo kita terlihat di sistem navigasi internasional sebagai kapal hantu tanpa izin regulasi. Otoritas pelabuhan dari India sampai Afrika Selatan baru saja mengeluarkan perintah pencegatan darurat."
Ini adalah konflik yang panjang dan sistemis—sebuah konspirasi gurita yang sengaja dirancang untuk menguras energi, waktu, dan fokus klan Bratadikara hingga ke titik nadir. Mereka dipaksa bertarung di tiga lini sekaligus: mempertahankan stabilitas saham di pasar barat, memulihkan status hukum kapal di laut selatan, dan menjaga keamanan fisik keluarga di dalam negeri.
"Mereka mau membuat kita lelah secara taktis, Dev," Aura melangkah mendekati Devan, meletakkan tangannya di atas lengan kokoh suaminya. "Mereka tahu kita kuat jika menghadapi satu musuh besar. Jadi, mereka memecah diri menjadi jutaan serpihan digital yang menyerang dari segala arah."
Devan membalikkan tubuhnya, menatap langsung ke dalam mata cokelat jernih Aura. Di tengah badai yang seolah tidak memiliki akhir ini, kehadiran Aura adalah satu-satunya jangkar yang menjaga kewarasannya.
"Kita tidak akan mundur satu jengkal pun, Good Girl," kata Devan, suaranya berat dan penuh dengan wibawa penguasa yang tak tergoyahkan. "Bram!"
Bram melangkah maju dari kegelapan koridor, membungkuk hormat. "Siap, Tuan Muda."
"Aktifkan seluruh armada cadangan klan di Distrik Selatan. Perintahkan setiap kapten kapal untuk mematikan sistem navigasi otomatis satelit dan beralih ke mode panduan manual kompas. Jika ada kapal patroli asing yang mendekat, gunakan hak imunitas diplomatik korporasi yang sudah disahkan Aura tahun lalu. Jangan ada yang menyerah atau membiarkan kapal digeledah sebelum tim hukum kita tiba."
"Dimengerti, Tuan Muda. Perintah dilaksanakan," Bram berbalik dan langsung bergerak cepat keluar ruangan untuk mengoordinasikan tim taktis laut.
"Dan lo, Kenzo," Devan menepuk pundak asisten taktisnya itu dengan keras. "Gue gak peduli berapa ribu server pantulan yang mereka punya. Cari hulu dari algoritma ini. Pastikan ada satu titik fisik di mana server master mereka bernapas. Gue yang akan datang ke sana untuk mematikannya sendiri."
Pukul empat pagi, Aura duduk di ruang perpustakaan pribadi, dikelilingi oleh tumpukan buku hukum dagang internasional dan traktat maritim. Di sampingnya, sebuah cangkir kopi hitam yang telah mendingin diabaikan begitu saja. Di bawah temaram lampu meja, jemari Aura bergerak lincah menyusun draf Injunction (perintah penundaan darurat) yang akan dikirimkan ke Mahkamah Arbitrase Internasional di Den Haag.
Gavinandra kecil tiba-tiba melangkah masuk ke dalam perpustakaan dengan menyeret selimut kecilnya. Anak berusia delapan tahun itu tampaknya terbangun karena atmosfer ketegangan yang merembes melalui dinding-dinding Menara.
"Ibu..." panggil Gavin dengan suara serak khas anak baru bangun tidur.
Aura langsung menghentikan ketikannya, menoleh, dan seketika itu juga seluruh ekspresi dingin pengacaranya mencair, digantikan oleh kehangatan seorang ibu yang tak terbatas. Ia berlutut, menyambut tubuh mungil Gavin ke dalam pelukannya.
"Kenapa belum tidur, Jagoan? Ini masih sangat pagi," tanya Aura lembut sambil mengusap punggung putranya.
Gavin mendongak, menatap ibunya dengan sepasang mata jernihnya yang cerdas. "Gavin dengar suara komputer Paman Ken berisik sekali dari kamar. Apakah orang-orang jahat itu masih mencoba merusak kapal-kapal Ayah?"
Aura tersenyum tipis, mengecup kening Gavin. "Mereka mencoba, Nak. Tapi Ibu sedang menulis draf aturan baru yang akan menghentikan mereka. Kamu tidak perlu khawatir, ya?"
Gavin terdiam sejenak, matanya melirik ke arah layar komputer Aura yang penuh dengan pasal-pasal bahasa Inggris yang rumit. "Ibu, di sekolah kemarin, guru bilang kalau ada laba-laba yang merusak sarang laba-laba lain, cara menghentikannya bukan dengan merusak benangnya satu per satu, tapi dengan menangkap laba-laba besarnya."
Mendengar ucapan polos namun sangat taktis dari putranya, Aura tertegun selama beberapa detik. Otaknya yang jenius langsung memproses metafora tersebut. Selama beberapa jam terakhir, ia dan Kenzo sibuk memblokir serangan short-selling dan memulihkan manifes kapal satu per satu—mereka sedang sibuk memotong benang-benang laba-laba, bukan menghancurkan sang induk.
"Gavinandra," Aura menggenggam kedua pundak kecil putranya dengan binar mata yang mendadak berkilat cerah. "Kamu baru saja memberikan Ibu solusi hukum terbaik di abad ini."
Aura langsung membawa Gavin ke ruang kendali, di mana Devan dan Kenzo masih bertarung melawan waktu.
"Kenzo! Hentikan pelacakan server pantulan di Eropa!" seru Aura begitu memasuki ruangan, membuat Kenzo hampir melompat dari kursinya.
"Hah? Kenapa, Ra? Gue dikit lagi bisa nemu enkripsi lapis ketujuh mereka!" jawab Kenzo bingung.
"Itu jebakan pengalihan fokus," Aura meletakkan sabaknya di atas meja kerja Kenzo. "Algoritma The Doomsday Protocol tidak digerakkan dari Jenewa atau Caymans. Sesuai dengan hukum kliring pasar modal, sebuah serangan short-selling massal berskala miliaran dolar tidak bisa berjalan tanpa adanya jaminan likuiditas fisik di bank kustodian lokal yang berada di wilayah hukum yang sama dengan target."
Devan langsung mendekat, matanya menyipit tajam menatap Aura. "Maksud lo, uang yang mendanai serangan saham kita saat ini ada di Jakarta?"
"Tepat," Aura mengangguk kuat. "Seseorang di dalam negeri, sebuah konsorsium finansial lokal yang menjadi sekutu terselubung Vanguard, sedang menyediakan infrastruktur perbankan untuk memvalidasi transaksi robot itu. Tanpa jaminan dari bank lokal ini, bursa efek internasional akan otomatis menolak transaksi short-selling tersebut karena dianggap sebagai transaksi spekulatif tanpa jaminan aset (naked short selling) yang ilegal."
Kenzo langsung mengerti arah pemikiran Aura. Jemarinya kembali bergerak di atas papan ketik, namun kali ini ia mengubah parameter pencariannya secara radikal. Ia tidak lagi mencari alamat IP luar negeri, melainkan mencari lalu lintas data kliring berkapasitas besar di jaringan perbankan distrik finansial Sudirman dalam tiga jam terakhir.
"Ketemu!" teringat Kenzo lima menit kemudian, sebuah pekikan kemenangan bergaung di ruang kendali. "Bank Swasta Artha Wijaya. Mereka sedang memproses transaksi penjaminan likuiditas senilai tiga triliun rupiah atas nama sebuah perusahaan cangkang baru. Dan pemilik saham mayoritas dari bank itu... adalah sisa-sisa keluarga besar Mahendra yang melarikan diri ke luar kota lima tahun lalu!"
Mendengar nama Mahendra kembali disebut, sebuah senyuman miring yang sangat dingin terukir di wajah tampan Devanandra. Sebuah senyuman yang menandakan bahwa takdir akhirnya membawa musuh-musuhnya kembali ke dalam jangkauan tangannya.
"Jadi serigala-serigala tua itu belum sepenuhnya mati," bisik Devan, suaranya terdengar seperti desau angin malam yang membawa kabar kematian. Ia merogoh saku celananya, mengambil ponsel khususnya, lalu menekan satu tombol cepat. "Bram, batalkan pergerakan ke pelabuhan. Kumpulkan seluruh tim pemukul utama di lobi sekarang juga. Kita punya reuni keluarga yang harus diselesaikan sebelum matahari terbit."
Hujan badai kembali mengguyur Jakarta ketika iring-iringan tiga mobil SUV hitam lapis baja milik klan Bratadikara membelah jalanan protokol yang sepi menuju gedung pusat Bank Artha Wijaya di kawasan kuno Kota Tua. Di dalam mobil komando, Devan duduk diam sambil memeriksa isi magasin senjata otomatisnya, sementara Aura di sampingnya terus memantau pergerakan legalitas pembekuan bank melalui sabaknya yang terhubung langsung dengan otoritas jasa keuangan.
Konflik yang panjang ini telah mencapai titik kulminasinya. Ini bukan lagi sekadar mempertahankan diri dari serangan eksternal; ini adalah operasi pembersihan total untuk memastikan bahwa tidak akan ada lagi bayang-bayang masa lalu yang bisa mengancam masa depan Gavinandra.
"Devan," Aura memegang tangan suaminya sebelum mobil berhenti di depan gedung bank yang tampak gelap. "Gunakan pasal darurat keamanan nasional. Jika kita bisa membuktikan bank ini mendanai sabotase maritim internasional, kita punya hak penuh untuk mengambil alih seluruh kendali server mereka secara legal di bawah pengawasan militer."
Devan menatap istrinya, lalu menarik tengkuk Aura perlahan, mendaratkan sebuah kecupan yang mendalam dan penuh dengan janji proteksi mutlak di kening wanita itu.
"Gue akan membuka pintunya untuk lo, Aura Kirana. Tugas lo adalah menyegel nasib mereka selamanya dengan hukum yang lo bawa," ucap Devan mantap.
Pintu mobil terbuka, dan sosok penguasa tertinggi Bratadikara itu melangkah keluar menembus derasnya hujan malam, siap memimpin langsung pertempuran terakhir demi menjaga takhta bersih yang telah mereka bangun di atas fondasi cinta dan keadilan sejati.