NovelToon NovelToon
Cinta Diusia Senja

Cinta Diusia Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Cintapertama
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: riena

"Bagaimana jadinya jika calon besanmu adalah mantan kekasih yang paling gagal kamu lupakan seumur hidup?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 8. Akan tinggal seatap

Malamnya, setelah kertas denah "Paviliun Kembar" resmi disepakati, Imam berdiri terpaku di ambang pintu kamar tidurnya. Rumah ini tidak terlalu besar, namun setiap sudutnya dibangun dengan keringat dan air mata. Properti ini adalah bukti nyata keberhasilannya bangkit dari kemiskinan yang dulu membuatnya diusir oleh keluarga Habibah.

Imam melangkah pelan, mendekati lemari kayu tua di sudut kamar. Ia mengusap permukaannya yang mulai kusam. Di atas meja nakas, ada foto mendiang istrinya, Sarah, yang sedang tersenyum manis memeluk Ameera waktu kecil.

Menatap foto itu, rasa bersalah dan rindu mendadak berbaur menjadi satu di dada Imam. Memory-nya kembali berputar ke masa tiga puluh tahun lalu. Masa-masa paling kelam dalam hidupnya.

Setelah malam tragis di stasiun kereta, saat Habibah menghilang dan rumah keluarganya mendadak kosong melompong, Imam hampir gila. Seminggu penuh ia luntang-lantung di Kota S seperti mayat hidup. Ia mendatangi setiap kerabat Habibah yang ia tahu, namun semua bungkam. Gertakan ayah Habibah yang menghina kemiskinannya benar-benar menjadi kenyataan; Habibah disembunyikan di tempat yang tak terjangkau oleh tangannya yang kosong.

Hancur, terhina, dan tak punya pilihan, Imam akhirnya memutuskan merantau ke ibukota dengan modal nekat. Ia bersumpah pada diri sendiri untuk sukses, agar tidak ada lagi orang yang bisa menginjak-injak harga dirinya. Di ibukota, Imam bekerja siang dan malam di sebuah perusahaan kontraktor kecil. Di sanalah ia bertemu dengan Sarah, putri dari pemilik kontraktor tersebut.

Sarah adalah wanita yang baik, lembut, dan sangat pengertian. Dia melihat kerja keras Imam dan jatuh hati pada ketulusannya. Ketika ayah Sarah jatuh sakit dan meminta Imam untuk menikahi putrinya demi menjaga Sarah, Imam berada di persimpangan jalan.

Saat itu, sudah lima tahun berlalu sejak Habibah menghilang. Imam sudah mengerahkan segala cara yang ia mampu untuk mencari keberadaan Habibah, namun hasilnya nihil. Habibah seolah lenyap ditelan bumi. Logika Imam akhirnya menyerah. Ia tahu, ia tidak bisa terus hidup meratapi bayang-bayang masa lalu yang belum tentu mencarinya.

Imam akhirnya menikahi Sarah. Bukan karena cinta yang menggebu-gebu seperti yang ia rasakan pada Habibah, melainkan karena rasa hormat, tanggung jawab, dan rasa terima kasih yang teramat dalam. Bersama Sarah, Imam belajar menata hatinya yang sudah pecah. Sarah adalah istri yang sempurna. Wanita itu mendampinginya dari bawah hingga Imam sukses membangun perusahaannya sendiri, dan memberinya seorang putri secantik Ameera.

Imam belajar mencintai Sarah dengan cara yang berbeda, cinta yang tumbuh karena kebersamaan, kesetiaan, dan rasa damai. Hingga akhirnya takdir kembali merenggut kebahagiaannya saat Sarah meninggal dunia karena sakit tujuh tahun yang lalu, meninggalkan Imam berteman sepi bersama Ameera.

Imam mengambil foto Sarah, mengusap kacanya yang sedikit berdebu dengan ibu jarinya.

"Maafkan aku, Sarah..." bisik Imam parau di keheningan kamar. "Kamu adalah istri yang luar biasa. Rumah ini... adalah saksi betapa kerasnya kita berjuang bersama untuk Ameera."

Ada rasa sesak yang menghimpit dada Imam. Rumah ini harus dijual demi membangun paviliun baru bersama Habibah. Ia merasa seperti sedang mengkhianati memori tentang Sarah. Namun disisi lain, ia juga tahu, ia tidak bisa egois membiarkan Ameera mengorbankan masa depannya demi menjaganya yang kesepian.

Imam menghembuskan napas berat, meletakkan kembali foto itu dengan tangan gemetar. Ia tahu, langkah yang ia ambil ini akan mengubah total sisa hidupnya di usia senja. Ia akan pergi dari rumah penuh kenangan ini, menuju sebuah pekarangan baru di mana cinta pertamanya yang tak lekang oleh waktu sudah menunggu di balik dinding paviliun sebelah.

"Jaga aku, Ya Allah... Jangan biarkan iman dan khilaf menguasai sisa usiaku nanti," doa Imam lirih, bersiap menghadapi babak baru takdirnya yang semakin rumit.

*

*

Sementara itu, di belahan kota yang berbeda, Habibah pun sedang menatap sudut-sudut rumahnya dengan pandangan kosong. Kamar tidur yang selama ini menjadi tempat persembunyian terbaiknya dari kerasnya dunia, sebentar lagi harus dikosongkan.

Jika Imam melewati masa lalunya dengan membangun karier di Jakarta, maka lembaran hidup yang dilalui Habibah jauh lebih berdarah-darah. Kenangan kelam tiga puluh tahun lalu itu mendadak membayang jelas di pelupuk matanya.

Setelah malam itu, malam di mana ayahnya menyeret Habibah pulang dari stasiun kereta, hidupnya berubah menjadi penjara. Semua akses komunikasinya diputus. Kamarnya dikunci dari luar. Setiap hari, yang terdengar hanyalah makian dari sang ayah yang menganggap cintanya pada Imam yang miskin adalah sebuah aib keluarga.

Hanya butuh waktu tiga minggu bagi orang tua Habibah untuk mengeksekusi rencana mereka. Habibah dipaksa menikah dengan Baskoro, seorang pria mapan pilihan ayahnya yang usianya terpaut tujuh tahun lebih tua.

Habibah menolak. Ia mogok makan hingga tubuhnya kurus kering, bahkan sempat berniat nekat untuk kabur. Namun, ancaman ibunya yang histeris dan sakit-sakitan membuat runtuh segala pertahanannya. "Kalau kamu kabur dengan pemuda melarat itu, kamu tidak akan melihat Ibu lagi, Bah!" Kalimat itu menjadi belati terakhir yang membunuh jiwa Habibah muda.

Hari pernikahan itu tiba tanpa ada setitik pun kebahagiaan di wajah Habibah. Ia duduk di pelaminan laksana manekin hidup, mengenakan kebaya pengantin yang mewah namun hatinya layu, tertinggal di peron stasiun bersama Imam.

Pernikahannya dengan Baskoro berjalan dingin. Baskoro adalah pria yang keras kepala dan penuntut. Dia tahu Habibah tidak mencintainya, dan hal itu membuat Baskoro sering melimpahkan kekesalannya lewat sikap yang acuh tak acuh. Di rumah megah itu, Habibah hanya berfungsi sebagai pemenuh kewajiban seorang istri, tanpa pernah mendapatkan kehangatan emosional.

Hingga akhirnya, kehadiran Rayhan lahir ke dunia. Bayi mungil itu menjadi satu-satunya alasan mengapa Habibah memilih bertahan hidup dan tidak menjadi gila. Habibah mencurahkan seluruh sisa hidup dan cintanya yang telah mati hanya untuk membesarkan Rayhan.

Takdir rupanya punya cara sendiri untuk menyudahi penderitaan Habibah bersama Baskoro. Saat Rayhan baru menginjak usia sepuluh tahun, Baskoro meninggal dunia akibat serangan jantung mendadak, meninggalkan usaha yang bangkrut dan tumpukan utang.

Alih-alih menangis meratapi kepergian suaminya, ada rasa lega yang aneh di dada Habibah. Sejak saat itu, ia memilih melepas segala kemewahan masa lalu, pindah ke rumah sederhana yang sekarang ia tempati, dan bekerja membanting tulang sebagai penjahit demi menyekolahkan Rayhan seorang diri. Puluhan tahun menjadi janda, banyak pria mapan seusianya yang mencoba mendekat, namun Habibah menutup rapat pintu hatinya. Baginya, jatah mencintai seorang pria sudah habis dan terkubur bersama Imam di masa lalu.

Habibah mengusap sudut matanya yang basah, kembali ke realitas saat menatap koper-koper yang mulai terisi di sudut kamar.

Rumah mungil ini adalah saksi perjuangannya membesarkan Rayhan dari kecil hingga sukses menjadi pria mandiri. Kini, rumah ini harus dijual demi membangun "Paviliun Kembar" yang digagas anak-anak.

Habibah tersenyum getir pada dirinya sendiri di depan cermin.

Dulu, ia dipaksa menikah oleh orang tuanya hingga terpisah dari Imam. Sekarang, ironisnya, ia justru dipaksa oleh situasi dan anak kandungnya sendiri untuk tinggal satu pekarangan dengan Imam di usia senja.

"Dulu kita dipisahkan dengan paksa, Mas... sekarang kita didekatkan dengan cara yang menyiksa," bisik Habibah lirih pada kesunyian malam.

*

*

Sore hari, di sela-sela kesibukan mengemas barang-barang ke dalam kardus, Rayhan dan Ameera mengumpulkan kedua orang tua mereka di ruang tengah rumah Imam yang sudah mulai kosong.

"Om, Ibu... ada satu hal penting lagi yang harus kita putuskan," buka Rayhan sambil menyerahkan brosur digital dari ponselnya. "Karena rumah ini dan rumah Ibu sudah mulai diiklankan oleh agen properti, dan pernikahan kami tinggal dua bulan lagi, kita tidak mungkin luntang-lantung saat pembangunan rumah baru dimulai."

Ameera menyambung dengan ceria, "Betul! Jadi, Rayhan sudah mencarikan rumah kontrakan yang besar di dekat lokasi lahan kita nanti. Rumahnya dua lantai, kamarnya ada empat. Jadi menjelang Ameera dan Rayhan menikah, kita semua pindah ke sana dulu. Nanti setelah Oktober, Ameera dan Rayhan tinggal di lantai dua, Papa dan Tante Bibah di lantai satu."

Deg.

Bagai disambar petir di siang bolong, Imam dan Habibah saling berpandangan dengan mata membelalak.

Jika rencana "Paviliun Kembar" kemarin masih memberi mereka jarak dinding pemisah dan halaman, rencana mengontrak rumah ini jauh lebih ekstrem. Mereka harus tinggal di bawah satu atap yang sama, bahkan sebelum rumah impian itu jadi!

"T-tunggu, Meer..." Imam mencoba memotong, suaranya agak bergetar. "Apa tidak sebaiknya Papa kos saja dulu? Atau Papa sewa apartemen studio kecil? Menetap satu atap dengan... dengan Jeng Habibah sebelum kalian menikah, rasanya kurang elok."

"Ih, Papa! Kenapa harus buang-uang lagi?" protes Ameera manja. "Kan ada Rayhan dan Ameera juga di sana. Lagipula, Tante Bibah juga tidak keberatan, kan, Tante?"

Habibah menelan ludah yang terasa menyumbat tenggorokannya. Tangannya yang sedang memegang lakban kemasan langsung lemas. Tinggal satu rumah dengan Imam? Berbagi ruang tamu yang sama? Melihat pria itu keluar kamar dengan sarung dan kaos santai di pagi hari?

"I-ibu... terserah Rayhan saja," jawab Habibah akhirnya dengan suara lirih, tidak berani menatap Imam karena jantungnya sudah berdegup gila-gilaan hingga membuatnya pening.

Rayhan tersenyum puas, lalu menatap calon papa mertuanya. "Tenang, Om. Lantai satu kamarnya terpisah jauh kok, dibatasi ruang tengah. Ini demi menghemat biaya juga, jadi uang penjualan rumah bisa murni kita pakai untuk material bangunan terbaik." ujar Rayhan dengan senyum yakin.

***

1
Safitri Agus
terimakasih kak Riena updatenya 🙏🥰🥰🥰
Afternoon Honey
tetap menyimak dan membaca cerita bersambung ini..m
Indriyani_ Indry
Alhamdulillah novel ini ada update nya ... terimakasih kk😍😍😍
Safitri Agus
TRIms kak Riena updatenya 🙏🥰
Safitri Agus
rumit ya,🤦
Safitri Agus
😭😭😭
Safitri Agus
TRIms kak Riena 🙏🥰
Safitri Agus
ujian sebelum pernikahan, mereka pasti dilema....
Safitri Agus
terimakasih kak Riena sudah update 🙏🥰
Fitria Rastanti
gx lanjut kak riee ceritanya
Safitri Agus: lanjut dong kak biar tau endingnya 😊
total 3 replies
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Indriyani_ Indry
dari kmrn blm ada bab yg br ka ... libur yah ka?
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Indriyani_ Indry
sy sukaaa semua novel karya author ini ... novelnya kereeennn dan berkls ...
Safitri Agus
seandainya kalian mengetahui apa yg sedang terjadi dan tentang masalalu mereka.....
Safitri Agus
jeng nya dihilangkan 🤭
yuli mamah
😬😬😬😬😬
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!