NovelToon NovelToon
SANG UTUSAN

SANG UTUSAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Epik Petualangan
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Alenda

Selepas Kematian kedua orangnya, kehidupan yang lebih kejam harus dihadapinya. Namun tanpa disangka, Wira yang tak memiliki ilmu kanuragan sedikitpun, nyatanya dipilih oleh Dewata untuk melawan bangsa Iblis yang hendak menguasai Bumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alenda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengakuan

"Apa Tuan kenal atau mengetahui tentang kalung ini?"

Lesmana meraih kalung yang disodorkan Wira kepadanya. Sesaat berikutnya, matanya membelalak lebar setelah tahu benar bahwa kalung itu milik Putri Dyah Gayatri.

"Dari mana kau mendapatkan kalung ini?" tanya Lesmana penasaran.

"Kalung itu milik ibuku, Tuan. Namanya Dyah Gayatri," jawab Wira lirih.

Bagai tersambar petir. Tubuh Lesmana langsung lemas. Dia terjatuh dari kursinya dan duduk berlutut di depan Wira. "Hamba mohon maaf karena tidak mengetahui keberadaan Pangeran di sini," ucapnya tertunduk.

Wira terkejut dengan sikap yang ditunjukkan Lesmana kepadanya. Padahal dengan pengakuannya, dia tidak ingin diperlakukan seperti itu.

"Bangunlah, Tuan. Aku hanya manusia biasa sama seperti yang lainnya. Dan tolong jangan panggil pangeran lagi!"

"Hamba tidak berani, Pangeran. Sebuah kesalahan besar telah hamba lakukan. Hamba siap menerima hukuman yang akan jatuhkan kepada hamba," Lesmana menunduk dan malah bersujud di depan Wira.

"Bangunlah, Tuan. Aku tidak akan pernah menghukummu. Tapi tolong jaga rahasia ini sampai nanti aku siap membukanya kepada kakek." Wira memegang kedua pundak Lesmana dan membantunya kembali duduk di kursinya.

"Terima kasih Pangeran tidak menghukum hamba," ucap Lesmana tetap dengan kepala menunduk.

"Aku akan menghukum Tuan jika tetap memanggilku pangeran," sahut pemuda tersebut seraya tertawa kecil.

Lesmana mengangkat wajahnya memandang pemuda tersebut. Dia menganggukkan kepalanya mengiyakan permintaan Wira. "Jika tidak ada orang lain, hamba akan tetap memanggil Pangeran. Dan tolong Pangeran jangan memanggil hamba dengan sebutan Tuan. Panggil saja paman, karena hamba teman ayah Pangeran."

Wira mengiyakan permintaan Lesmana. Untuk mencairkan suasana yang kaku, dia meminta kepada Lesmana tentang bagaimana kedua orang tuanya.

"Kedua orang tua Pangeran memang mempunyai hubungan khusus. Namun sayangnya hubungan tersebut merusak tatanan istana yang mengharuskan putri raja menikah dengan seorang pangeran. Yang Mulia Raja Dharmawangsa akhirnya tidak menyetujui hubungan mereka berdua setelah Gusti putri mengakui hubungannya dengan Arga."

"Dan mereka berdua akhirnya melarikan diri dari istana dengan bantuan kakek Arisuta?"

"Bagaimana Pangeran bisa tahu tentang Tuan Arisuta?" tanya Lesmana.

"Beliau yang mengajariku tentang ilmu kanuragan, Paman."

"Tuan Arisuta masih hidup?"

Wira menganggukkan kepalanya, "Beliau masih hidup sampai sekarang, Paman. Tapi setelah memberi tahu jika aku cucu dari seorang raja dan menyuruhku menemui kakek Dharmawangsa, beliau pergi entah kemana."

"Berarti Pangeran datang kesini bukan tanpa kesengajaan?"

"Benar, Paman. Sebenarnya rencanaku datang ke sini untuk langsung menemui kakek, tapi begitu mengetahui akan sulit mendekati seorang raja, akhirnya aku mencari cara lain. Suatu kebetulan juga istana sedang mengadakan turnamen untuk mencari senopati yang baru. Jadi aku ikut mendaftar dan berharap bisa memenangkannya."

"Jika Pangeran menjadi Senopati, maka kesempatan untuk mendekati Yang mulia akan sangat besar."

"Benar sekali, Paman. Itu yang ada dalam pikiranku."

Lesmana mengingat saat pertama kali bertemu Wira ketika pemuda itu mendaftar mengikuti turnamen. Kala itu dia melihat senyum khas Arga juga dimiliki Wira. Selain itu, dia juga melihat sekilas wajah sahabatnya di wajah Wira. Dan dugaan sesaatnya itu ternyata benar, di depannya sekarang ada putra dari sahabatnya tersebut.

"Tapi kira-kira kakek akan mengakui aku sebagai cucunya apa tidak, Paman?"

"Kalau tentang itu hamba tidak tahu, Pangeran. Yang Mulia orangnya sangat kuat menjaga prinsip. Saat ini yang bisa kita lakukan hanya merahasiakan keberadaan Pangeran. Jangan sampai rahasia besar ini sampai terbongkar apalagi diketahui orang-orang yang hendak berbuat makar. Selain itu, kita juga harus mencari siapa tokoh utama yang mempengaruhi Pangeran Arya Seta untuk mengkudeta Yang Mulia."

"Aku paham, Paman. Meski nanti Kakek sudah mengakuiku sebagai cucunya, aku tidak akan membuka diri kepada umum sampai saatnya tiba. Kita akan memberi kejutan besar kepada orang-orang biadab itu!"

Sementara itu di tempat lain di sebuah ruangan yang sedikit gelap. Raden Sanjaya terlihat menundukkan wajahnya di depan seorang lelaki tua.

"Seharusnya kau jangan bersikap seperti tadi siang Sanjaya. Kau terlihat begitu memusuhi Lesmana dan pemuda tersebut. Ada yang perlu kau ingat, gerakan kita masih lama. Kita harus mencari simpati para pejabat dan rakyat sebelum bergerak. Apa kau ingin menggagalkan rencana yang sudah hampir matang itu?"

"Hamba tidak berani, Tuan. Lain kali hamba akan menjaga sikap hamba jika bertemu mereka berdua."

"Jangan hanya mereka berdua saja! Tapi semua orang yang kau temui. Cari simpati sebanyak-banyaknya dari semua orang, baik dia pejabat atau penduduk kotaraja. Setelah posisi kita kuat, apalagi jika kau menjadi Senopati agung, maka kita akan menyingkirkan raja tua itu."

"Baik, Tuan. Hamba mengerti," ucap Raden Sanjaya.

"Pergilah! Jangan sampai aku mendapat laporan lagi tentang sifat burukmu itu!"

Raden Sanjaya yang biasanya terkenal begitu angkuh dan sombong, menjadi seperti kerbau yang dicokok hidungnya. Dia tidak berani mengangkat wajahnya, apalagi membantah sedikitpun ucapan lelaki tua itu.

Sekeluarnya dari ruangan tersebut, Raden Sanjaya menyunggingkan senyumnya. "Lihat saja nanti, aku pasti akan membunuhmu, bajingan. Aku hanya memanfaatkanmu saja saat ini," ucapnya dalam hati sambil terus berjalan menuju kediamannya.

Sesampainya di kediamannya, prajurit yang ditugaskannya mencari keempat pengawal pribadinya, dan juga prajurit yang mencari informasi tentang Wira, sudah menunggu kedatangannya.

Sesuai laporan yang didapat dari kedua prajurit tersebut, keempat pengawal pribadinya itu ternyata belum pernah pulang sama sekali. Mereka sepertinya takut dia akan mencari mereka di rumah masing-masing.

Sementara informasi dari prajurit satunya mengatakan jika tidak mendapatkan apapun dari hasil penelusurannya tentang hubungan Wira dan Lesmana.

Hari demi hari berlalu dengan begitu cepatnya. Turnamen tersebut akhirnya mencapai babak Final. Sesuai yang sudah diprediksi sebelumnya, Partai final akan mempertemukan Wira Soka Witjaksana melawan Raden Sanjaya.

Suasana pagi itu terlihat belum begitu ramai. Para penonton juga belum terlihat berjubel seperti pagi-pagi sebelumnya. Acara partai final turnamen yang nantinya akan dihadiri Raja Dharmawangsa itu, rencananya diadakan siang hari, sehingga membuat para penduduk bisa menyelesaikan pekerjaannya masing-masing.

"Sesuai janjiku, ketika aku sampai di final, kau boleh melihatku bertanding. Tapi ingat, aku tidak mau melihat kau cemas atau was-was saat aku dalam keadaan terdesak."

"Memangnya kenapa aku tidak boleh cemas? Kalau aku tidak mencemaskanmu, bukankah itu berarti aku tidak perhatian kepadamu?"

"Bukan masalah itu, Gadis cantik. Jika aku melihat kau cemas, konsentrasiku bisa buyar. Dan aku bisa saja kalah dalam pertarungan final nanti."

Sinta memonyongkan bibirnya. Meski alasan yang disampaikan Wira menurutnya masuk akal, tapi mana mungkin dia tidak cemas melihat kekasihnya dalam bahaya.

"Kalau begitu sebaiknya aku tidak ikut melihatmu bertanding. Aku tidak akan bisa tidak terlihat cemas, ketika melihat orang yang aku sayangi terluka, misalnya."

"Tapi aku butuh dukunganmu, Cantik! Aku ingin kedatanganmu bisa memberiku semangat untuk menang," sahut Wira.

"Baiklah. Tapi biarkan aku bersikap sewajarnya. Aku tidak pandai menahan perasaanku yang kalut, cemas atau was-was."

Wira mengangguk dan kemudian memeluk gadis cantik itu begitu erat.

 

1
Allian Author
alurnya bagus dan mengalir
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Gas🚬🗿
Vina Manis: belum🤣
total 3 replies
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Bagus lagi kalau namanya BAHLILudin 👍🏻☕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!