NovelToon NovelToon
Malam Saat Aku Melahirkan, Suamiku Bersama Sahabatku

Malam Saat Aku Melahirkan, Suamiku Bersama Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Penyesalan Suami / Romansa Fantasi
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Erunisa

Persahabatan selama lima belas tahun membuat Aurel percaya bahwa Kayla adalah keluarga yang dipilih oleh hati. Mereka berbagi tawa, air mata, mimpi, bahkan janji untuk selalu ada dalam setiap langkah kehidupan masing-masing.
Hingga suatu hari, semesta merobohkan semua kepercayaan itu.
Suami yang dicintainya, Mahesa, ternyata menyimpan rahasia yang tak pernah terbayangkan. Perempuan yang diam-diam mengisi ruang di hati Mahesa bukanlah orang asing, melainkan sahabat yang selama ini duduk di meja makan rumahnya, memeluknya saat ia menangis, dan mengucapkan doa terbaik di hari pernikahannya.
Yang paling menyakitkan bukanlah perselingkuhan itu sendiri, melainkan kenyataan bahwa kebohongan tersebut dibangun oleh dua orang yang paling ia percaya.
Di antara cinta, pengkhianatan, dan harga diri yang tercabik, Aurel harus memilih, bertahan demi mempertahankan keluarga, atau melepaskan semuanya meski harus kehilangan dua orang sekaligus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Rumah orang tua Mahesa masih terang ketika mobil Mahesa berhenti di halaman. Mahesa turun dengan langkah tergesa, lalu membuka pintu tanpa sempat mengetuk.

"Pak... Bu..." Suara Mahesa terdengar terburu-buru.

Kedua orang tua Mahesa masih berada di ruang tamu. Seolah memang sedang menunggu Mahesa.

Tidak ada sapaan hangat. Tidak ada senyum. Hanya tatapan yang membuat langkah Mahesa perlahan terhenti.

"Duduk." Suara ayahnya terdengar datar.

Mahesa menurut. Ia duduk di sofa yang berhadapan dengan kedua orang tuanya.

Ruangan itu begitu sunyi. Tak ada seorang pun yang memulai pembicaraan. Hingga akhirnya ayah Mahesa angkat bicara.

"Jadi..Kamu masih mau bohong lagi?"

Mahesa menundukkan kepala. "Tidak, Pak."

"Lalu benar?" tanya Ayahnya.

Mahesa memejamkan mata. "...Iya."

Satu kata itu cukup membuat ibunya kembali menangis. "Ya Allah..."

"Kenapa kamu tega, Mahesa?" suara ibunya terdengar sangat kecewa.

Mahesa menggenggam kedua tangannya erat. Ia ingin menjelaskan. Namun setiap alasan yang terlintas di kepalanya terasa begitu memalukan.

Ayahnya kembali bertanya. "Sudah berapa lama?"

Mahesa terdiam cukup lama. "Tujuh tahun." Suara Mahesa nyaris tak terdengar.

Ayahnya memukul sandaran sofa dengan telapak tangannya. "Cukup!" Suara itu menggema di seluruh ruangan.

"Tujuh tahun?"

"Kamu sadar nggak apa yang baru saja kamu ucapkan?"

Mahesa hanya menunduk.

"Kamu bohong sama istrimu selama tujuh tahun!"

"Kamu bohong sama kami juga selama tujuh tahun!" Ibunya mengusap air mata.

"Aurel itu kurang apa?" Pertanyaan ibunya membuat dada Mahesa terasa sesak.

Mahesa tidak bisa menjawab. Karena memang Aurel tidak pernah kurang.

Sejak awal menikah, Aurel selalu berada di sisi Mahesa, Saat Mahesa masih merintis usaha dari nol. Saat penghasilannya belum menentu. Saat mereka harus menunda banyak impian karena uang yang terbatas.

Aurel tidak pernah mengeluh. Ia tetap bekerja. Tetap membantu keuangan rumah tangga. Bahkan ketika usaha Mahesa hampir bangkrut beberapa tahun lalu, Aurel adalah orang pertama yang berkata, "Kalau memang harus mulai dari nol lagi, kita mulai sama-sama."

Mahesa mengusap wajahnya. Kenangan demi kenangan terus bermunculan. Ia teringat bagaimana orang tua Aurel tanpa diminta ikut membantu ketika mereka membangun rumah. Tanah diberikan tanpa meminta imbalan.

Saat usaha Mahesa membutuhkan modal, Aurel bersedia menggunakan sertifikat rumah sebagai jaminan pinjaman. Bahkan ketika mobil Aurel dijadikan jaminan pembiayaan, Aurel hanya bertanya singkat.

"Ini memang untuk usaha kita?"

Dan ketika Mahesa mengangguk. Aurel langsung menyerahkan BPKB itu tanpa curiga. Selama ini Aurel selalu percaya.

Ayah Mahesa menatap putranya dengan mata yang memerah.

"Selama kamu menikah..."

"Pernah nggak Aurel melarang kamu membantu kami?"

Mahesa menggeleng pelan. "Tidak, Pak."

"Pernah nggak dia marah waktu kamu mengirim uang buat adikmu?"

Mahesa kembali menggeleng. "Tidak."

"Pernah nggak dia menghitung berapa rupiah yang kamu keluarkan untuk keluargamu?"

Mahesa menggigit bibirnya. "Tidak pernah."

Ibunya ikut berbicara. "Bahkan Ibu tahu sendiri."

"Kalau ada rezeki lebih, Aurel yang sering bilang..kasih saja dulu ke Bapak sama Ibu. Kami masih cukup."

Air mata Mahesa akhirnya jatuh. Ia mengingat kalimat itu. Berkali-kali. Aurel memang tidak pernah mempermasalahkan pengeluaran untuk keluarganya. Ia selalu percaya bahwa rezeki bisa dicari bersama.

Ayahnya kembali bertanya.

"Kalau begitu...Kenapa?" Pertanyaan sederhana itu justru menjadi yang paling sulit dijawab.

Mahesa membuka mulut. Namun tak ada satu kata pun yang keluar. Karena ia sendiri tidak tahu kapan semuanya berubah. Yang ia tahu hanyalah, ia terus membiarkan hubungan terlarang itu berlangsung. Tanpa pernah benar-benar berani mengakhirinya.

Ayahnya menggeleng pelan. "Kamu tahu apa yang paling menyakitkan buat Bapak?"

Mahesa mengangkat wajahnya.

"Bukan karena kamu selingkuh."

Mahesa terdiam.

"Tapi karena kamu mengkhianati perempuan yang selama ini berjuang di sampingmu." Suara ayahnya Mahesa mulai bergetar.

"Perempuan yang percaya penuh sama kamu."

"Perempuan yang nggak pernah menghitung pengorbanannya."

"Lalu kamu balas dengan kebohongan selama tujuh tahun."

Ruangan kembali sunyi. Mahesa menundukkan kepala semakin dalam.

Malam itu, untuk pertama kalinya, ia tidak lagi merasa kehilangan Aurel adalah hukuman terberat. Melainkan menyadari bahwa ia telah menyia-nyiakan satu-satunya perempuan yang selama ini mencintainya tanpa syarat. Dan penyesalan itu datang ketika semuanya mungkin sudah terlambat.

Mahesa masih menundukkan kepala. Ia tidak sanggup menatap wajah ayah maupun ibunya. Setiap kali mencoba mengangkat pandangan, yang ia lihat hanyalah kekecewaan. Dan itu jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan.

"Pak.." Suara Mahesa terdengar lirih.

"Aku memang salah." Kalimat itu menggantung beberapa detik.

"Tapi..." Mahesa mengepalkan kedua tangannya.

"semuanya juga nggak sepenuhnya salahku."

Ayahnya perlahan mengangkat kepala. "Maksudmu?"

Mahesa menarik napas panjang. "Kalau saja Kayla nggak mendekatiku."

"Kalau saja dia nggak terus menghubungiku."

"Kalau saja dia nggak menawarkan dirinya."

"Kalau saja dia nggak membongkar semua ini..."

Mahesa menggeleng pelan. "mungkin semuanya masih baik-baik saja."

Ibunya memejamkan mata. Sedangkan ayahnya menatap Mahesa dengan sorot yang sulit diartikan.

"Kamu masih menyalahkan orang lain?"

Mahesa terdiam. "Pak.."

"Aku menyesal."

"Aku benar-benar menyesal."

"Tapi kalau Kayla diam saja, Aurel nggak akan pernah tahu."

Ayahnya bangkit dari duduk. Langkahnya pelan menghampiri Mahesa.

"Lalu menurutmu....itu berarti kamu tidak bersalah?"

Mahesa membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban.

Ayahnya menggeleng. "Kamu ini sudah jadi laki-laki, Mahesa."

"Tidak ada perempuan yang bisa membuatmu berselingkuh kalau kamu sendiri tidak mengizinkannya."

Mahesa kembali terdiam.

"Kalau memang sejak awal kamu menolak Kayla, hubungan itu tidak akan berlangsung tujuh tahun."

"Kalau memang kamu setia pada istrimu, tidak akan ada rahasia yang harus disembunyikan."

"Dan kalau memang kamu berniat mengakhirinya, kamu punya ribuan kesempatan selama tujuh tahun."

Setiap kalimat ayahnya menghantam Mahesa tanpa ampun.

"Jangan salahkan Kayla atas keputusan yang kamu ambil sendiri." Ayahnya menarik napas panjang.

"Kayla memang salah karena menjalin hubungan dengan suami sahabatnya."

"Tapi kamu..."

Beliau menatap putranya tepat di mata.

"kamu adalah suami Aurel."

"Kamu yang mengucapkan akad."

"Kamu yang berjanji menjaga rumah tanggamu."

"Bukan Kayla."

Mahesa menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Air matanya kembali jatuh. Untuk pertama kalinya, ia tidak lagi mampu mencari pembenaran atas apa yang telah terjadi.

Ayahnya memejamkan mata sejenak. Lalu, dengan suara yang berat, beliau berkata,

"Mulai hari ini...kamu tidak perlu pulang ke rumah ini lagi."

Mahesa langsung mengangkat kepala. "Pak?"

"Anggap saja hubungan kita cukup sampai di sini." lanjut ayahnya Mahesa.

Wajah Mahesa berubah pucat. "Bapak... jangan bilang begitu."

"Aku anak Bapak.."

Ayahnya menggeleng pelan. "Anak Bapak seharusnya tahu menjaga kehormatan keluarganya."

Mahesa berdiri. "Pak, aku memang salah."

"Tapi jangan usir aku."

Ibunya Mahesa mulai menangis. "Pak..." Beliau mencoba menenangkan suaminya.

Namun ayah Mahesa tetap pada pendiriannya.

"Tahukah kamu apa yang paling membuat Ayah malu?"

Mahesa menatap ayahnya.

"Bukan karena orang lain tahu."

"Tapi karena malam ini..."

"Aurel datang ke rumah ini."

"Sendirian."

"Dengan mata sembab."

"Dan masih memanggil kami 'Pak' dan 'Bu' dengan penuh hormat." Suara ayahnya Mahesa mulai bergetar.

"Padahal yang menyakitinya adalah anak kami."

Mahesa menundukkan kepala.

"Keluarga Aurel begitu baik kepada kita."

"Waktu kalian membangun rumah, mereka memberikan tanah."

"Saat usahamu kesulitan, mereka tetap mendukung."

"Bahkan setelah semua ini terjadi..."

"Aurel tidak datang untuk menghasut kami."

"Dia hanya datang agar kami tidak mendengar kabar itu dari orang lain."

Ayahnya mengusap wajahnya yang mulai basah.

"Bapak malu."

"Malu kepada keluarga Aurel."

"Malu kepada kedua orang tuanya."

"Dan malam ini...Bapak paling malu kepada dirimu sendiri karena gagal mendidik anak."

Ruangan kembali sunyi. Mahesa berdiri mematung. Ia ingin memohon ingin meminta maaf. Namun ia sadar, tidak ada kalimat yang mampu menghapus luka yang telah ia ciptakan.

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Mahesa merasakan bagaimana rasanya kehilangan kepercayaan dari orang-orang yang paling ia cintai.

1
Ma Em
Karena Aurel percaya seratus persen pada Galang jadi Aurel tdk menaruh curiga pada dua orang peselingkuh itu sampai bertahun tahun .
jekey
up lg thor
Allea
bagusss
Ma Em
Mahesa selingkuh dgn Kayla selama tujuh tahun dan Aurel tdk curiga sama sekali kalau Kayla sendiri tdk beritahu Aurel sekarang Aurel msh tenang2 saja , benar2 perselingkuhan yg hebat bisa sampai tujuh THN tdk diketahui .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!