NovelToon NovelToon
Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

menceritakan seorang pemuda bernama Erlang mencari keadilan dan menuntut balas dendam, dan menemukan cinta sejatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Kitab Tanpa Nama.

Napas kakek tua yang sempat dikira telah terhenti itu tiba-tiba tersedak. Dadanya naik-turun dengan sangat drastis, memicu batuk kering yang kembali memuntahkan sisa-sisa darah dari tenggorokannya. Kelopak matanya yang sudah menutup kembali terbuka lebar, menatap langit-langit daun talas dengan pandangan yang kosong namun mendesak.

"Uhuk! Uh-huk! N-nak... Erlang..." bisik kakek tua itu, suaranya terdengar seperti gesekan dua ampelas kering. Tangannya yang gemetar hebat mendadak bergerak meraba-raba bagian dalam lipatan jubah sutra birunya yang robek.

Erlang yang tadi sempat menunduk berdoa langsung tersentak kaget. Ia mendekatkan wajahnya dengan cemas. "Kakek? Astagfirullah, Kakek masih sadar? Jangan banyak bergerak dulu, Kek! Napas Kakek semakin parah."

"Waktu... waktuku sudah habis, Erlang. Aku tahu ajalku sudah mengintip di balik punggungku," desis sang kakek dengan napas yang putus-putus. Setelah bersusah payah, jemarinya yang kurus berhasil menarik keluar sebuah benda dari balik lapisan jubahnya yang terdalam. "I-ini... ambil ini..."

Erlang menerima benda yang disodorkan sang kakek. Ternyata itu adalah sebuah kitab yang sangat tipis, hanya terdiri dari beberapa lembar kulit satwa yang dihaluskan. Sampulnya polos, berwarna cokelat dekil tanpa ada tulisan, judul, ataupun guratan aksara apa pun di bagian depannya.

"Kitab? Kitab apa ini, Kek? Kenapa tidak ada judulnya?" tanya Erlang polos sambil membolak-balik kitab tipis tersebut di tangannya.

"Jangan melihat... jangan melihat penampilannya yang remeh," bisik kakek tua itu, matanya tiba-tiba membelalak tegang, seolah sedang mengumpulkan seluruh sisa energi batin di dalam tubuhnya yang sekarat. "Gerombolan penyamun Hutan Roban... dan orang-orang serakah di dunia persilatan... mereka rela saling bantai... hanya untuk benda tipis ini. Mereka mengira aku menyembunyikannya di markas besar, padahal benda ini selalu melekat di dadaku."

Erlang memandangi kitab itu dengan perasaan ngeri, mendadak teringat nasib tragis orang tuanya yang juga tewas karena perebutan benda serupa. "Kalau benda ini berbahaya dan memicu pertumpahan darah, kenapa Kakek malah memberikannya kepada saya? Saya tidak punya ilmu untuk melindunginya, Kek. Ilmu silat saya hanya ilmu biasa seadanya."

Kakek tua itu memaksakan sebuah senyuman kecil, memandangi wajah polos Erlang dengan sisa-sisa kesadarannya yang kian meredup. "Karena hatimu murni, Erlang. Kau memberikan singkong bakar terakhirmu... pada kakek-kakek sekarat yang bau tanah... tanpa tahu siapa aku. Di dunia yang penuh intrik ini... orang sepertimu adalah tempat teraman untuk menyembunyikan pusaka."

"Tapi, Kek..."

"Tidak ada tapi, Nak. Dengarkan aku," potong sang kakek, genggaman tangannya pada pergelangan tangan Erlang sempat mengencang sejenak sebelum kembali melonggar. "Kitab ini tidak memiliki nama, karena isinya adalah fondasi dari segala fondasi. Ini adalah intisari dari aliran tenaga dalam murni. Siapa pun yang bisa memahami gerak napas di dalamnya... ia akan bisa melihat hakikat dari segala jenis ilmu beladiri di alam dunia ini."

Erlang menelan ludah, memandangi lembaran kulit tipis itu dengan sangsi. "Inti tenaga dalam? Paman Suro dulu tidak pernah mengajarkan hal-hal rumit seperti ini, Kek. Dia cuma menyuruhku memukul lurus dan melangkah ke kiri-kanan di halaman pondok."

Kakek tua itu terkekeh sangat lirih, meskipun tawa itu diakhiri dengan embusan napas yang berat. "Itu sudah cukup... Tubuhmu bersih dari hawa sakti yang kotor. Pelajari kitab ini... pelajari diam-diam sepanjang perjalananmu. Jangan pernah menunjukkannya kepada siapa pun jika kau belum siap dikeroyok oleh seluruh isi rimba persilatan."

"Bagaimana cara mempelajarinya kalau tidak ada gurunya, Kek? Paman Suro menyuruh saya ke selatan justru untuk mencari guru sakti," ujar Erlang kebingungan, menatap kitab tanpa nama itu dengan dahi berkerut.

"Kitab itu... kitab itu sendiri yang akan menjadi gurumu. Di dalamnya tidak ada jurus rumit... hanya ada tuntunan cara bernapas, cara menyelaraskan detak jantungmu dengan denyut nadi alam semesta," kata sang kakek, pandangan matanya kini mulai benar-benar mengabur, memutih, dan tidak lagi terfokus pada wajah Erlang. "Gunakan... gunakan untuk hal baik... seperti yang kaulakukan hari ini..."

"Kek? Kakek tua? Tolong jangan pejamkan mata dulu!" seru Erlang panik saat melihat tubuh kakek tua itu mendadak melemas sepenuhnya.

"J-jalani... jalanmu... Erlang..."

Suara kakek tua itu melebur bersama embusan angin siang yang kering di pinggiran Hutan Roban. Tepat setelah kata terakhir itu terucap, dadanya yang dipenuhi luka robek berhenti bergerak. Kepalanya terkulai pasrah ke samping, dan sisa kehangatan dari telapak tangannya lenyap seketika, menyisakan tubuh yang dingin dan kaku di atas tanah basah.

Erlang terpaku diam selama beberapa saat. Tangannya masih memegang erat kitab tipis tanpa nama yang terasa agak berat di jemarinya, seolah lembaran kulit itu membawa beban hidup dari kakek tua yang baru saja mengembuskan napas terakhirnya di hadapannya.

"Kakek... benar-benar sudah tiada," bisik Erlang lirih.

Ia menghela napas panjang, menghapus tetesan keringat bercampur debu di dahinya. Dengan hati-hati, Erlang memasukkan kitab tipis itu ke dalam lipatan terdalam baju kain kasarnya, memastikan benda itu tersembunyi dengan aman dan tidak terlihat dari luar. Ia kemudian bangkit berdiri, memandangi jasad sang kakek dengan rasa hormat yang mendalam.

"Saya tidak tahu siapa nama Kakek, tapi saya berjanji akan menjaga amanah ini. Kitab ini tidak akan jatuh ke tangan orang-orang jahat yang mengeroyok Kakek," ucap Erlang dengan nada bicara yang tegas dan bersungguh-sungguh.

Erlang berjalan kembali ke arah pohon beringin untuk mengambil cangkul kecil dan pisau belatinya. Di bawah terik matahari yang mulai bergeser ke barat, ia mulai menggali tanah di pinggiran hutan tersebut, berniat memberikan tempat peristirahat terakhir yang layak bagi sang pendekar tua yang telah mewariskan rahasia terbesar dunia persilatan kepadanya tanpa ia sadari.

1
anggita
novel laga lokal yg cukup menghibur 👌
anggita
nama jurus yg sederhana namun tetap keren👌👍
Rokok Remik
sampai bab ini ceritanya bagus.
erlang terlalu polos, untung bukan ltipe musang birahi /Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!