Seorang pemuda dari Klan Lin, Lin Huang mencoba mencari jalannya sendiri di tengah keputusannya. Hingga suatu hari, kejadian tak terduga yang dia alami justru menjadi titik balik baginya untuk hidup di tempat yang hanya peduli pada kekuatan ini... Apa yang sebenarnya terjadi padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Tak Terduga
Sebuah suara merdu memanggilnya dari arah kanan. Huang menoleh dan mendapati Elysa sedang berjalan ke arahnya, ditemani oleh Mu yang setia mengawal di belakang. Elysa mengenakan jubah perang ringan kaum peri berwarna hijau emerald yang menonjolkan keanggunannya.
"Kudengar kau langsung datang ke Menara Empat Jagat setelah keluar dari pengasingan," ujar Elysa, matanya menatap Huang dengan binar kagum yang tidak bisa disembunyikan. Dia bisa merasakan bahwa energi Huang saat ini jauh lebih dalam dan tak tertebak dibandingkan seminggu lalu.
"Aku butuh menguji batas kemampuanku yang sekarang, Putri Elysa," jawab Huang dengan senyum tipis.
"Pilihan yang tepat, tapi kau harus berhati-hati," Mu melangkah maju, wajahnya tampak serius. "Kematian Mo Rong telah memaksa faksi Gagak Hitam menarik bidak utama mereka yang sesungguhnya di akademi ini. Dia telah menunggumu di dalam menara sejak tiga hari lalu."
Huang menyipitkan matanya. "Siapa?"
"Yin Kuang," jawab Elysa dengan nada berat.
"Dia adalah Murid Dalam peringkat tiga di Menara Empat Jagat. Seorang pangeran murni dari Ras Iblis Klan Tanduk Hitam, dan dia berada di Ranah Formasi Inti Tingkat Akhir. Dia adalah kakak seperguruan dari Xing Ye yang kau kalahkan di ujian pertama, sekaligus sekutu terdekat Jenderal Gorgon di akademi ini."
Mendengar nama itu, darah di dalam tubuh Huang tidak mendingin, melainkan justru berdesir panas. Formasi Inti Tingkat Akhir dari Ras Iblis murni. Ini adalah lawan terkuat yang pernah dia hadapi sejauh ini di kalangan generasi muda.
"Terima kasih atas peringatannya," ucap Huang mantap. Dia menatap pintu gerbang menara yang memancarkan cahaya biru magis. "Tapi jalan kultivasiku tidak mengenal kata mundur."
Dengan langkah lebar dan penuh keyakinan, Lin Huang berjalan melewati kerumunan Murid Dalam, menepis semua keraguan yang ada di udara. Dia melangkah masuk ke dalam gerbang cahaya Menara Empat Jagat. Di dalam struktur kuno yang melayang itu, sebuah pertarungan puncak antara pembawa warisan Asura baru dan pangeran tertinggi Ras Iblis modern telah menanti untuk menguncang fondasi akademi sekali lagi.
Begitu Lin Huang melintasi gerbang cahaya biru, sensasi hisapan ruang yang kuat menarik tubuhnya. Dalam sekejap mata, dia sudah tidak lagi berada di pelataran menara, melainkan berdiri di sebuah arena batu kuno yang melayang di dalam ruang hampa udara.
Ini adalah Lantai Lima Puluh Menara Empat Jagat, batas minimal di mana para Murid Dalam elit dari jajaran lima puluh besar berkumpul dan bertarung. Di sekeliling arena luar, proyeksi formasi magis menampilkan ribuan kursi tribun yang kini telah dipenuhi oleh bayangan spiritual para murid senior dan tetua akademi yang menonton dari luar menara. Kedatangan Lin Huang telah memicu rekor penonton tertinggi bulan ini.
Di ujung arena yang lain, sesosok pria kekar duduk bersila di atas sebuah pilar batu yang runtuh.
Pria itu memiliki kulit berwarna kelabu gelap yang dipenuhi tato tribal kuno berwarna merah menyala. Di kepalanya, sepasang tanduk hitam legam meliuk tajam ke atas, menandakan statusnya sebagai pangeran murni Klan Tanduk Hitam Ras Iblis. Aura Ranah Formasi Inti Tingkat Akhir memancar dari tubuhnya, begitu pekat hingga membuat ruang di sekitarnya tampak mendistorsi. Dialah Yin Kuang.
Merasakan kehadiran Huang, Yin Kuang perlahan membuka matanya. Sepasang pupil mata yang berwarna merah menyala langsung mengunci sosok Huang.
"Kau akhirnya datang, Manusia," suara Yin Kuang berat dan bergetar, memicu gema yang menggetarkan batu-batu arena. "Adik seperguruanku, Xing Ye, memujimu setinggi langit setelah ujian pertama. Mo Rong yang tidak berguna itu bahkan harus mati di tanganmu. Aku mengira kau adalah monster bertangan empat, tapi ternyata kau hanya seorang bocah ingusan."
Huang melangkah maju, jubah abu-abu Murid Dalam miliknya berkibar lembut. Di bawah kendali Kitab Pembalik Surga, aura yang dipancarkannya tetaplah Qi Bumi Purba abu-abu keemasan yang stabil di puncak Tingkat Awal. "Bocah ingusan yang kau maksud ini adalah orang yang mengubur bidak terbaik kalian di Ngarai Tengkorak Merah, Pangeran Yin."
Yin Kuang berdiri, tubuhnya yang setinggi dua meter memancarkan tekanan fisik yang luar biasa. "Mo Rong hanyalah seekor anjing ras manusia yang mencoba menggunakan kekuatan faksi kami. Kematiannya adalah pembersihan sampah. Tapi kau... kau telah mempermalukan faksi Gagak Hitam. Di menara ini, cacat atau mati adalah hal yang lumrah!"
BOOM!
Yin Kuang tidak memberikan peringatan lebih lanjut. Dia menghentakkan kakinya, dan tubuh raksasanya melesat maju bagai komet hitam. Kecepatannya di Ranah Formasi Inti Tingkat Akhir melampaui segala sesuatu yang pernah dihadapi Huang sebelumnya. Dalam fraksi detik, Yin Kuang sudah berada di atas kepala Huang, tinju kanannya yang diselimuti oleh api hitam pekat menghantam ke bawah dengan kekuatan yang sanggup meruntuhkan sebuah gunung kecil.
"Tinjuan Api Kegelapan!"
Huang menyipitkan matanya. Indra batinnya berputar liar. Dia tahu menghindari serangan dengan area seluas ini adalah hal yang sia-sia.
'Mari kita lihat sekuat apa kekuatan fisik Ras Iblis murni!'
Huang mengambil posisi kuda-kuda rendah. Qi Bumi Purba di dalam tubuhnya meledak, memadat di sepanjang lengan kanannya hingga kulit perunggunya memancarkan kilau emas yang solid. Dia melayangkan pukulan lurus menantang tinju raksasa Yin Kuang.
BUUUUMMMMMM!
Benturan dua kekuatan fisik murni itu memicu gelombang kejut yang luar biasa dahsyat. Lantai batu kuno arena melayang itu seketika retak menjadi jutaan keping, memaksa formasi magis menara bekerja ekstra untuk menahan kerusakan.
Tubuh Huang terdorong mundur dengan cepat, kedua kakinya menciptakan parit dalam di atas batu sebelum akhirnya dia berhasil berhenti di tepi arena. Lengan kanannya mati rasa, dan zirah pelindung Qi-nya retak. Semburan api hitam Yin Kuang sempat membakar bagian lengan jubahnya, namun kulit perunggunya tetap utuh, hanya menyisakan bekas hangus yang dengan cepat beregenerasi.
Di seberang arena, Yin Kuang mendarat dengan mantap, namun matanya memancarkan keterkejutan yang samar. "Menahan Tinjuan Api Kegelapan-ku hanya dengan kultivasi Tingkat Awal? Fisik manusiamu benar-benar tidak masuk akal!"
Di luar menara, tribun penonton spiritual langsung gempar.
"Dia menahannya! Lin Huang benar-benar menahan serangan fisik murni dari Yin Kuang!"
"Fisik bumi macam apa yang dia latih hingga sekuat itu?!"
Yin Kuang menyeringai bengis, rasa hormat yang aneh khas Ras Iblis mulai muncul di matanya, persis seperti Xing Ye dulu. "Bagus! Jika kau selemah Mo Rong, pertarungan ini akan sangat membosankan. Sekarang, terima ini!"
Yin Kuang menarik sebuah kapak raksasa bermata dua dari punggungnya. Kapak itu terbuat dari tulang binatang purba dan memancarkan raungan jiwa-jiwa yang tersiksa. Dengan ayunan cepat, dia membelah udara, meluncurkan belasan bilah angin kapak hitam yang mengunci seluruh arah pelarian Huang.
Huang tahu, jika dia terus menyembunyikan kekuatan Asura-nya, dia akan kalah dalam adu ketahanan melawan kultivator Tingkat Akhir ini. Namun, Menara Empat Jagat dipenuhi oleh mata-mata para tetua. Dia harus sangat cerdik.
'Aku tidak perlu melepaskan seluruh energi Asura... aku hanya perlu menggunakannya untuk memperkuat teknik fisikku dari dalam!'
Huang memejamkan matanya sesaat. Di dalam Dantiannya, inti jiwanya bergetar. Dia menarik setetes energi ungu Asura yang paling murni, lalu menyuntikkannya langsung ke dalam jalur meridian Kitab Pembalik Surga. Seketika itu juga, Qi Bumi Purba abu-abu keemasannya mengalami perubahan kualitatif. Warnanya bergeser menjadi abu-abu gelap dengan riak petir ungu samar yang sangat tipis, nyaris tak terlihat jika tidak diperiksa dengan kesadaran spiritual tingkat tinggi.
"Langkah Hantu Bumi!"
WUSH!
Tubuh Huang mendadak lenyap dari pandangan, meninggalkan jejak debu emas. Dia bergerak meliuk di antara celah-celah bilah angin kapak Yin Kuang dengan kecepatan yang naik berlipat ganda.
"Apa?!" Yin Kuang terkejut melihat targetnya mendadak hilang dari kunci spiritualnya.
Sebelum pangeran Iblis itu sempat mengayunkan kapaknya lagi, Huang sudah muncul tepat di titik butanya—di sisi kiri bawah rusuk Yin Kuang yang tidak terlindungi zirah.
"Tinju Pembalik Surga: Sembilan Putaran!" Huang berteriak dalam hati.