Sembilan belas tahun lalu, Ryuichi Soryu ditemukan tewas dengan cara yang mengguncang jagat dunia bisnis Indonesia.
Berita kematiannya menjadi tajuk utama di seluruh kanal media pada saat itu, memicu kepanikan massal hingga membuat saham-saham di bawah naungan Soryu Group terjun bebas ke titik terendah.
Polisi menutup kasus itu dengan dalil "perampokan biasa" sebuah narasi yang tak masuk akal bagi siapa pun yang mengenal konglomerat berdarah Jepang itu.
Yang membuat kasus pembunuhan itu semakin terlihat jangal adalah tak ada satupun barang berharga yang hilang, tak ada satu pun saksi mata dikejadian perkara, seolah nyawa sang konglomerat hilang begitu saja.
Bagi sang putra, kematian ayahnya itu bukan sekadar tragedi. Itu adalah luka yang membekas di hidupnya selamanya.
Sekarang dirinya sedang mencari sang pelaku dan menyeretnya menuju kehancuran yang setimpal dengan apa yang dia dan ayahnya rasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
𖣂|Bab 10 Bayang-Bayang Masa Lalu Sang Kakak|
...|Legacy of Soryu|...
...· · ─ ·𖥸· ─ · ·...
Ruang kerja Ryuichi Soryu bukan sekadar ruangan biasa yang ditinggalkan oleh pemiliknya. Ruangan itu adalah sebuah makam tanpa jasad, wilayah terlarang yang dipagari oleh perintah mutlak dari Bara Soryu. Namun malam ini, hukum itu dilanggar oleh Raiden Soryu.
"Orang-orang bilang kita bak pinang dibelah dua, Kak," bisik Raiden, suaranya parau, memecah keheningan yang sudah membeku selama belasan tahun.
"Tapi mereka salah. Kau adalah cetakan emasnya, sementara aku... hanyalah perunggu yang tersisa di dasar kawah."
Raiden mulai bergerak dengan kegilaannya. Tangannya meraba sela-sela rak buku, laci-laci tersembunyi, hingga celah sempit di antara dinding dan lemari arsip tua yang catnya mulai mengelupas.
"Di mana kau menyembunyikannya?" Raiden bertanya pada kekosongan.
"Kau selalu bilang, 'Tempat paling aman adalah tempat yang paling dekat dengan hal yang paling kau sayangi'. Menurutku itu hanya omong kosong, yang ada didalam dirimu hanyalah sebuah ambisi."
Tangannya meraih tumpukan laporan keuangan Soryu Group dari dua dekade lalu dan menyapunya ke lantai dalam satu gerakan kasar.
BRAK!
Kertas-kertas itu beterbangan di udara. Di tengah kekacauan itu, sebuah bingkai foto ikut jatuh dan mendarat dengan bunyi denting kaca yang retak.
Raiden membeku. Ia berjongkok, menatap foto di balik kaca yang kini terbelah menjadi dua.
Ryuichi tersenyum tipis di sana, sebuah senyum kemenangan yang tak lekang oleh waktu. Di sampingnya, Olivia Soryu dengan rambut pirang dan mata hijau yang khas—tersenyum dengan binar yang dulu pernah membuat Raiden sesak napas setiap melihatnya. Wanita yang dulu milik kakaknya, dan mirisnya kini justru menjadi istrinya.
"Kau pikir dengan meninggalkan dia untukku, kau sudah menang?" Raiden mencengkeram bingkai itu hingga ujung jarinya memutih.
Matanya berkilat penuh amarah yang terpendam. "Lukisan itu... lukisan itu adalah kunci dari seluruh teka-teki sialan ini. Kau menyembunyikannya karena kau tahu, jika aku menemukannya, aku tidak akan lagi menjadi bayanganmu. Aku akan menjadi akhir dari sejarahmu."
Ia melempar bingkai itu kembali ke tumpukan kertas. Raiden berlutut di lantai yang dingin, tangannya mulai mengetuk panel kayu di bawah meja, mencoba mencari bunyi yang berongga.
"Kau selalu merasa paling pintar. Kau pikir kau bisa membawa rahasia itu untuk selamanya? Tidak! Aku akan menemukannya. Meski aku harus merobohkan mansion ini batu demi batu."
Ia berdiri kembali, napasnya memburu. Matanya menyisir setiap inci ruangan yang remang-remang itu dengan rasa lapar yang hampir mencapai kegilaan.
"Kau dengar aku, Ryuichi?" Raiden menatap potret kakaknya yang kini tertutup debu di dinding.
"Aku tidak akan berhenti sampai aku menemukan lukisan itu. Sampai aku menghapus senyum sombongmu itu dari dunia ini. Jawaban itu milikku... dan aku akan mengambilnya, tak peduli berapa lama lagi aku harus menunggu di dalam bayang-bayangmu."
Sunyi kembali menyergap. Seolah ruangan itu sendiri sedang menertawakan usaha sia-sia pria yang terperangkap dalam dendam masa lalunya.
...***...
Tap.Tap.Tap
Suara langkah kaki yang mendekat itu memecah keheningan koridor. Pria itu menegang, namun ia tidak lari. Sebelum ia sempat berpindah dari tengah kekacauan kertas yang berserakan, pintu ruangan itu berderit terbuka.
"Raiden?"
Olivia berdiri di ambang pintu. Mata-nya mulai menyisir ruangan, menangkap laci meja yang rusak, dokumen yang berhamburan, dan bingkai foto yang pecah di lantai.
Raiden tidak menghindar. Sebaliknya, ia justru memasang topeng paling sempurna dalam koleksinya: senyum suami yang penuh perhatian.
"Hanya mencari dokumen lama, Sayang," ujar Raiden lembut, memotong kecurigaan yang belum sempat terucap.
"Berkas warisan yang perlu kupastikan lagi untuk urusan administrasi."
Olivia menatap laci yang tercongkel paksa. "Kunci ruangan ini sudah lama hilang, Raiden. Bagaimana bisa kau..."
"Toko kunci bisa menduplikasi apa pun, selama bayarannya tepat," Raiden tertawa kecil. "Kau tahu sendiri bagaimana putra sulung mu itu. Dia tidak akan pernah mengizinkanku masuk ke 'kuil suci' milik ayahnya ini. Jadi, aku mengambil jalan pintas."
Olivia melangkah masuk. "Kau seharusnya tidak melakukan ini. Kalau Baraziven sampai tahu kau menggeledah ruang kerja ayahnya, dia akan menganggap ini sebagai pengkhianatan."
Raiden kini berdiri tepat di depan Olivia. Tangannya meraih pinggang wanita itu, menariknya mendekat hingga tak ada lagi jarak di antara mereka.
"Jangan katakan apa pun pada Bara. Kau tahu dia bisa menjadi monster jika tahu wilayahnya diusik."
"Kau seharusnya tidak melakukan ini," bisik Olivia, namun tubuhnya mulai mengkhianati peringatannya sendiri saat tangan Raiden mulai bergerak posesif di punggungnya.
Raiden menatap mata hijau itu—mata yang dulu selalu menatap Ryuichi dengan penuh pemujaan.
Rasa cemburu yang telah mengendap selama belasan tahun kini mendadak mendidih. Di bawah kaki mereka, bingkai foto yang retak memperlihatkan wajah Ryuichi yang seolah sedang menonton dari balik kaca bingkai yang pecah.
Raiden mencengkeram pinggang Olivia lebih erat. "Aku sudah hidup di bawah bayang-bayang kakakku selama setengah hidupku, Olivia. Sekarang di bawah bayang-bayang anaknya. Tidakkah kau pikir aku berhak mendapatkan sesuatu yang utuh untuk diriku sendiri?"
"Raiden, jangan..." Olivia mencoba mendorong bahu suaminya, namun suaranya melemah.
Tanpa peringatan, Raiden menyambar bibir Olivia dalam ciuman yang kasar dan penuh tuntutan. Ciuman itu bukan hanya tentang gairah yang lama terpendam, melainkan sebuah pernyataan dominasi. Di tengah ruangan yang membeku dalam sejarah kakaknya, Raiden ingin membuktikan bahwa ia telah memenangkan satu-satunya hal yang paling berharga yang pernah dimiliki Ryuichi yaitu istrinya sendiri.
"Raiden, jangan disini... ini meja kerjanya," rintih Olivia di sela napasnya yang memburu.
"Justru karena ini mejanya, Olivia," desis Raiden.
Raiden mengangkat tubuh Olivia dan mendudukkannya di atas meja kerja yang kokoh itu. Dokumen-dokumen lama tersapu jatuh, beterbangan ke lantai.
"Raiden!" Olivia terpekik, tangannya mencoba mendorong dada bidang suaminya.
Atmosfer di ruangan itu kian memanas, Raiden menekan tubuh Olivia ke permukaan meja yang keras, tatapannya kini mengunci sepenuhnya ke mata istrinya yang mulai berkaca-kaca karena luapan emosi.
Namun, tepat saat mereka hampir larut dalam suasana tersebut, sebuah suara dari lantai bawah menghancurkan keheningan diantara mereka.
"MAMA! PAPA! MAKAN MALAM SUDAH SIAP!"
Suara lantang Ashura bergema, diikuti suara hentakan kaki yang berat dan cepat menaiki tangga—ciri khas putra bungsu mereka yang tak pernah bisa diam.
Dug! Dug! Dug!
Langkah itu semakin mendekat ke arah koridor ruang kerja. Raiden dan Olivia seketika membeku. Rasa panik mulai menyergap mereka.
"Ashura," bisik Olivia dengan mata membelalak horor.
"Ma? Pa? Kalian di dalam?" Suara Ashura kini terdengar tepat di depan pintu. Gagang pintu mulai bergerak-gerak.
"JANGAN MASUK, ASHURA!" teriak Olivia dengan nada yang sedikit terlalu tinggi.
Hening sejenak dari balik pintu. "Kenapa emangnya? Kok nggak boleh masuk? Mama ngapain sama Papa di dalam ruang kerja Papa besar?" tanya Ashura dengan nada curiga khas anak muda.
Raiden segera memutar otaknya dengan cepat untuk mencari alasan. "Ashura! Jangan masuk dulu! Papa sedang... sedang memindahkan lemari arsip yang berat di belakang pintu. Bahaya kalau kau tiba-tiba masuk, pintunya bisa menghantammu!"
"Oh... perlu bantuan nggak, Pa?"
"Tidak perlu! Sudah hampir selesai! Turunlah duluan bersama kakakmu, kami akan segera menyusul dalam dua menit!" Raiden memberi perintah dengan otoritas yang tak terbantahkan.
Terdengar gumaman tidak puas dari luar, sebelum akhirnya langkah kaki Ashura kembali menjauh menuju tangga.
"Ya sudah, cepat ya! Indra sudah di meja makan! Tapi Kak Bara belum pulang!"
Setelah suara langkah itu menghilang, Olivia langsung merosot dari meja, ia membungkuk, jemarinya menyentuh bingkai foto yang kacanya telah hancur berkeping-keping. Sembari menatap wajah Ryuichi di balik retakan itu.
"Makan malam sudah siap di bawah," kata Olivia tanpa menoleh ke arah Raiden.
"Turunlah sebelum Bara pulang dan curiga. Aku akan membawa foto ini untuk dibelikan bingkai baru besok."
Raiden mengangguk, menghargai alasan itu meski ia tahu ada nostalgia yang terselip di sana.
"Turunlah duluan. Aku akan membereskan ini sedikit."
Olivia pergi tanpa menoleh lagi. Langkah kakinya yang ragu menghilang di koridor panjang.
"Kau lihat itu, Kak?" bisiknya pada keheningan. "Jabatanmu, istrimu... semuanya sekarang ada di bawah kendaliku."
Ia melangkah keluar dan menutup pintu ruangan itu rapat-rapat.
...-Ruang Keluarga-...
...· · ─ ·𖥸· ─ · ·...
Lampu ruang keluarga telah diredupkan, menyisakan keremangan yang hanya cukup untuk sekedar berpura-pura membaca. Di ruangan itu, ada televisi yang menyala, menampilkan tayangan gelar wicara dengan narasumber yang tampak terlalu bersemangat membicarakan sesuatu yang tak seorang pun peduli di jam sebelas malam ini.
Dua remaja Soryu duduk di sofa panjang dengan postur yang bertolak belakang. Indra Soryu di ujung kanan, duduk tegak dengan laptop di pangkuannya—layarnya dipenuhi dengan video tutorial cara mendapatkan beasiswa di luar negeri.
Di ujung kiri, Ashura Soryu hampir horizontal dimana posisi kepalanya di atas bantal, kaki menjuntai ke lantai, dan ibu jarinya bergerak secepat kilat di atas layar ponsel.
Dari speaker ponsel Ashura, terdengar suara tembakan dan ledakan yang tiba-tiba berhenti dengan pekikan karakter yang kalah.
"TIM BRENGSEK!"
Indra tidak menoleh. Hanya alis kirinya yang terangkat sebagai tanda ia terganggu. "Kalah lagi?"
"BUKAN—" Ashura memotong kalimatnya sendiri, lalu menghela napas panjang. "Lupain. Tim gua isinya ampas semua."
"Sudah kuduga," sahut Indra datar.
"DIEM, INDRA!"
Senyum tipis di wajah Indra datang dan pergi seperti kilat. Tepat saat itu, bunyi microwave di dapur memecah keheningan.
TING!
Beberapa menit kemudian, langkah kaki yang berat terdengar mendekat. Bara muncul, sementara jas hitamnya sudah entah dia buang kemana, hanya menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga ke siku.
Di tangannya, semangkuk sup panas mengepulkan uap tipis ke udara dingin ruangan ber-AC itu.
Bara duduk di kursi tunggal di antara kedua adiknya. Ia mulai makan tanpa terburu-buru, namun tanpa sedikit pun jejak kenikmatan. Baginya, makan hanyalah pengisian bahan bakar semata.
"Nyisain sop di dapur," Ashura bersuara tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel. "Eh ternyata udah nemu sendiri."
"Sudah," jawab Bara singkat.
Hening kembali menyergap. Indra kini menutup laptopnya, beralih menatap Bara dengan ekspresi datar.
"Papa sama Mama sudah tidur dari setengah sepuluh," celetuk Ashura lagi, kali ini nada suaranya berubah menjadi nada gosip yang kental. "Lampu kamarnya sih mati, tapi gua curiga."
Bara hanya bergumam pelan sebagai respons. "Hmm..."
"Maksud lo apa curiga?" tanya Indra, memancing.
"gua curiga mereka lagi... tahu kan? Begituan loh," Ashura nyengir nakal. "Tadi kan gua mau panggil Mama sama Papa buat makan, nah gua sempet mau masuk ke ruang kerja papa besar, disana gua denger ada suara-suara aneh dari dalam. Mama sempet teriak melarang gua masuk. Kayaknya mereka lagi...."
Belum sempat Ashura melanjutkan kalimatnya, sendok Bara jatuh ke dalam mangkuk. Nafsu makannya mendadak menguap, tergantikan oleh rasa tak nyaman yang merayap di tengkuknya.
Indra segera bereaksi. Ia mencubit paha Ashura dengan keras hingga kembarannya itu memekik.
"Jangan asal bicara, Ash. Tidak mungkin Papa dan Mama masuk ke ruangan Papa Besar. Pintu itu terkunci dan kuncinya hanya dipegang Kak Bara."
Indra memberikan tatapan peringatan yang tajam pada Ashura seolah berkata: Diam, jangan sampai Kak Bara tahu kalau Papa benar-benar masuk ke sana.
Bara tak menggambil sendoknya lagi, matanya justru menyipit menatap pintu ruang kerja yang berada di lantai dua. "Aku akan cek."
"Tidak perlu, Kak," potong Indra cepat, suaranya tenang namun tegas.
"Tadi aku sudah cek sebelum ke sini. Pintunya masih terkunci rapat. Mungkin Ashura cuma dengar suara tikus atau... imajinasinya yang terlalu kotor."
Bara menatap Indra lama, mencari celah kebohongan di mata adiknya, namun Indra adalah orang terdatar yang pernah dia kenal. Akhirnya, Bara kembali menyendok supnya, meski dengan gerakan yang lebih lambat.
"Tapi beneran, Kak," Ashura tidak menyerah, seolah ingin menggoda ketenangan Bara. "Emangnya 'begituan' itu ngapain sih sampai Mama kedengeran panik gitu? Apa rasanya lebih enak kalau—"
Bara meletakkan mangkuknya ke meja dengan bunyi "klak" yang cukup keras. Nafsu makannya benar-benar hilang total sekarang. Kalimat Ashura tentang ibunya membuat seleranya hancur berkeping-keping.
"Mama biasanya cuma baca novel romance di ponselnya sampai jam dua pagi," sahut Bara, suaranya kini sedingin es. "Dan itu jauh lebih masuk akal daripada teori sampahmu."
"Yah, novel romance kan cuma teori, prakteknya mungkin sama Papa," goda Ashura lagi.
"Makanannya jadi terasa hambar karena cerita bodohmu itu," kata Bara dingin.
"Lah, kan gua cuma nanya—"
"Ashura," potong Bara, suaranya rendah namun penuh penekanan. "Saranku untuk kalian berdua, berhenti menonton film-film cabul yang merusak saraf otak kalian itu. Terutama kau Ashura, sepertinya mulutmu harus di cuci dengan sabun deterjen."
Ashura melongo, sementara Indra tertawa pendek lewat hidungnya.
Bara berdiri, hendak membawa mangkuknya yang masih setengah penuh menuju dapur. Ia berjalan dengan langkah yang tetap kokoh, namun pikirannya kini bercabang. Ia tahu Indra sedang menutupi sesuatu, dan ia tahu Ashura terlalu bodoh untuk berbohong soal suara di dalam ruangan itu.
Ia menghentikan langkah kakinya. "Kalian berdua, segera tidur," perintah Bara dari ambang pintu dapur tanpa menoleh.
"Dan Indra, jangan terlalu merasa pintar dengan menutupi jejak orang lain. Itu tidak baik Indra."
Bara menghilang ke dapur.
"Tuh kan," Ashura berbisik pada Indra. "Dia makin aneh. Masa gua dibilang nonton film cabul? gua kan cuma nonton streaming turnamen!"
Indra menutup laptopnya. "Itu karena kau memang bodoh, Ash. Sekarang diam, dan jangan pernah bahas soal ruang kerja itu lagi di depan Kak Bara kalau kau masih ingin punya uang jajan bulan depan."
Komen pertama , like + bunga🌹 , semangat😉