"Aku terjebak dalam draf novel yang bahkan belum aku pikirkan alur ceritanya, dan sialnya, aku adalah karakter utamanya."
Tidak ada sistem yang akan membuatku kaya raya. Tidak ada kekuatan luar biasa yang diberikan untuk melawan para penjahat di dunia ini. Hanya aku, seorang penulis yang terjebak di tubuh seorang budak bernama Julian, ditemani oleh Anima dan Animus yang cerewet, serta Yisla gadis miskin yang menyelamatkanku dari perbudakan bersama kakak laki-lakinya bernama Vito.
Kami harus lari dari kejaran para penguasa, menukar daging beku demi koin perak, dan mencoba bertahan hidup di dunia yang genrenya terus berubah di luar kendali.
Bersama Yisla, gadis yang menjadi satu-satunya saksi perjuanganku, aku sebagai Julian harus melintasi perbatasan Utara yang dingin menuju ke Selatan. Mencoba peruntungan hidup baru demi merubah hidupku dan Yisla.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
...── ⋆⋅𖤓⋅⋆ ──...
Yisla mengerjap-erjapkan matanya, masih tampak agak bingung dengan 'kebiasaan baru' Julian yang hobi membentak angin. Namun, melihat pemuda itu menolak sesuatu yang tak kasat mata demi menggenggam tangannya lebih erat, ada kehangatan aneh yang menyergap dadanya di tengah-tengah badai salju ini.
Julian menarik napas dalam-dalam, menepis sisa-sisa bayangan pistol dari kepalanya. Aku emang Author, tapi aku bukan psikopat yang mau ngubah cerita survival ini jadi John Wick versi peradaban salju, batin Astra memantapkan hati.
"Maaf, Yisla. Tadi cuma... mengusir kantuk," dalih Julian melembut.
Yisla memalingkan wajahnya ke dalam syal, menyembunyikan rona merah di pipinya.
"Jalanan di depan menanjak dan licin, Julian. S-sebaiknya jangan lepas tanganku. Nanti kamu tergelincir lagi."
"Tentu saja tidak akan kulepas," sahut Julian cepat. "Pria sejati tidak akan membiarkan wanitanya terjatuh."
Yisla mendengus geli, menyenggol lengan Julian pelan. "Masih sempat-sempatnya membual."
"Kita sudah sampai," bisik Yisla tiba-tiba, menarik Julian berlindung di balik batang pohon ek besar.
Julian melongokkan kepalanya. Sekitar tiga puluh meter di depan mereka, berdiri sebuah rumah kayu yang jauh lebih besar dibandingkan rumah yang mereka tempati. Dari sana, terlihat asap tebal mengepul dari cerobongnya. Menandakan sang tuan rumah sedang berada di dalam rumahnya.
Julian menyipitkan mata, lalu mendadak garuk-garuk kepala dengan wajah cengo.
Gimana cara masuknya, anjir? batin Astra merana. Masa aku dobrak gitu? Kalau aku maksa bisa-bisa digebukin warga sedesa, namanya bunuh diri konyol. Apa aku jadi maling aja ya? Maling dari seorang maling kan itungannya pahlawan!
Julian menoleh, berbisik kepada Yisla dengan wajah serius. "Yisla, pintu rumah nenek sihir itu dikunci nggak biasanya?"
"Pasti dikunci rapat, Jul. Bibi Petrisa kan paranoid orangnya," jawab Yisla heran. "Kenapa? Kamu mau mendobraknya?"
"Nggak, gila aja. Kita pakai opsi siluman," sahut Julian sambil mengendap-endap maju mendekati jendela samping rumah yang posisinya agak rendah.
Yisla melotot ngeri, tapi langsung mengekor di belakang Julian dengan langkah super pelan agar tidak menimbulkan suara di atas salju.
"Julian! Kamu beneran mau menyelinap?! Jangan aneh-aneh deh!"
Begitu sampai di bawah bingkai jendela, Julian memeriksa celah kayunya yang untungnya sedikit longgar akibat pelapukan salju. Dengan hati-hati, ia mencongkelnya menggunakan ujung pisau berburu milik Vito hingga terdengar bunyi klik pelan. Jendela kini terbuka sedikit.
Julian menoleh ke arah Yisla, lalu memberikan isyarat dengan kepalanya.
"Yisla, badanmu lebih kecil dari badanku. Kamu masuk duluan lewat jendela ini, terus lihat keadaan di dalam. Kalau aman, baru kamu panggil aku buat masuk."
Yisla langsung membelalakkan mata, menunjuk dirinya sendiri dengan bingung.
"Hah?! Kok aku duluan?!"
"Ya kan ini misi penyelamatan barang ibumu, Yisla. Lagipula, kalau aku yang nyangkut di jendela ini gara-gara mantel kebesaran, kita berdua bisa langsung tamat diciduk si nenek sihir itu," bisik Julian beralasan, sambil memasang tampang memelas andalannya.
"Ayo, kamu intip dulu. Kalau aman, aku langsung nyusul."
Yisla mendengus sebal, menatap Julian dengan tatapan tidak percaya. "Alasan macam apa itu? Bilang saja kamu takut duluan!" bisiknya sengit, tapi tetap mulai memanjat.
"Bukan takut, ini taktik scouting terencana," bela Julian, buru-buru menyatukan telapak tangan di bawah kaki Yisla sebagai tumpuan.
"Ayo cepat, sebelum bokongku membeku jadi es mambo."
Dengan gerutuan tertahan, Yisla menginjak tangan Julian. Julian mengerahkan seluruh tenaga di lengan kerempengnya, mencoba mengangkat tubuh gadis itu ke atas.
Nghhh... gila, berat juga ya perjuangan seorang pahlawan, batin Astra menggertakkan gigi menahan beban.
Yisla berhasil meloloskan setengah badannya melewati bingkai jendela. Ia melongok ke dalam gudang penyimpanan wol yang sepi. Hanya terdengar suara sayup-sayup Bibi Petrisa sedang mengomel dari arah ruang depan.
"Aman, Jul. Ruangannya kosong," bisik Yisla menoleh kembali ke luar jendela.
"Sekarang, tangkap aku di bawah!"
"Hah? Tangkap?!" Julian melongo. "Bukannya kamu harusnya masuk ke dalam?!"
"Bagian dalam jendelanya tinggi banget, Julian! Kakiku nggak nyampe ke lantainya, kalau aku lompat sekarang bisa patah kaki! Tarik aku keluar dulu!" omel Yisla panik, badannya kini terjebak di tengah kusen seperti jemuran.
"Aduh, merepotkan banget!" Julian buru-buru memeluk pinggang Yisla, mencoba menariknya kembali keluar.
Namun saking paniknya, gerakan mereka malah tidak sinkron. Mantel wol Julian yang gombrang mendadak tersangkut di engsel jendela, sementara Yisla kehilangan keseimbangan.
KoSreeek... Gedebuk!
Julian gagal menahan beban. Mereka berdua jatuh terjungkal dan mendarat tidak estetik di atas tumpukan salju tebal. Julian telentang dengan wajah tertutup salju, sementara Yisla jatuh tepat di atas perutnya.
"Uhuk! Uhuk! Aduh, lambungku..." rintih Julian dramatis, serasa mau muntah sup kentang tadi pagi.
Yisla buru-buru bangkit sambil membersihkan salju di wajahnya, pipinya kini memerah padam antara malu dan kesal.
"Julian! Katanya pria sejati, menangkap satu perempuan saja tidak becus!"
"Heh, hukum fisika tidak mengenal predikat pria sejati, Yisla!" protes Julian berusaha duduk, membersihkan salju dari kerah mantelnya. Lagian, kenapa rute menyelinap di cerita gue sesusah ini sih?!
Wush.... Suhu mendadak drop lagi. Duo Hemisphere bersaudara itu sudah nangkring di atas pagar kayu rumah Bibi Petrisa.
"Sungguh aksi penyusupan yang legendaris," cibir Animus dingin, menepuk tangan dengan ritme lambat yang sarkastik.
"Dua pencuri amatir jatuh karena masalah berat badan. Mengagumkan."
"Tapi adegan jatuh bersamanya tadi sweet banget lho, Sayangku~" timpal Anima mengedipkan sebelah matanya. "Gimana kalau pas jatuh tadi, bibir kalian gak sengaja—"
"DIAM ATAU GUE KUTUK JADI ES MAMBO!" bentak Julian murka, menunjuk udara kosong di atas pagar dengan mata melotot.
Yisla yang baru mau mengomel langsung terdiam seketika. Ia menatap Julian dengan pandangan super ngeri, lalu perlahan mundur satu langkah.
"J-Julian... kamu beneran fix gegar otak ya? Siapa yang mau kamu kutuk jadi es mambo?! D-dan... Apa itu es mambo?"
Julian tersentak, tersadar kalau dia baru saja merusak sisa wibawanya di depan sang female lead. Ia buru-buru menurunkan tangannya sambil menyengir kaku.
"E-eh? Enggak, itu... tadi ada bayangan Yeti lewat, Yisla! Iya, Yetinya gede banget, mukanya ngeselin pula!" dusta Julian dengan tawa hambar yang dipaksakan.
Yisla hanya bisa menghela napas panjang, meratapi nasibnya harus melakukan misi senekat ini bersama cowok yang sayangnya agak kurang waras.