NovelToon NovelToon
Berpijak Di Antara Batu Karang

Berpijak Di Antara Batu Karang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Gemini 75

meylani yang sedang putus cinta dengan Andrian membuat nya mengambil keputusan untuk menerima tawaran dipindahkan ke Surabaya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aroma Arang Dan Janji Diatas Piring Plastik

Akhir pekan itu, halaman kecil rumah sewa mereka di Wonocolo berubah menjadi pusat keramaian. Asap tebal mengepul dari pembakaran arang kayu jati yang disulut Bima dengan teknik khusus agar panasnya merata. Aroma bumbu sate campuran ketumbar, bawang putih, kemiri, dan kecap manis tercium menyengat hingga ke jalan gang, memancing tetangga-tetangga lain untuk melongok penasaran.

Meylani, yang biasanya alergi terhadap asap dan kotoran, hari ini mengenakan apron sederhana di atas kaos oblong bekas Bima. Rambutnya diikat asal-asalan, wajahnya sedikit belepotan tepung bumbu, namun senyumnya lebar dan lepas. Ia duduk bersila di tikar anyaman bambu, sibuk menusukkan potongan daging ayam paha yang sudah dimarinasi semalaman ke dalam tusuk sate bambu.

"Mey, hati-hati jarinya! Jangan sampai tembus," tegur Bima sambil membolak-balik sate di atas bara api. Wajahnya hitam karena jelaga, keringatnya bercucuran, tapi matanya berbinar bahagia.

"Aman, Mas! Aku kan sudah latihan seminggu ini di kantor pakai lidi es krim," canda Meylani sambil tertawa.

Tidak lama kemudian, Bu Siti datang membawa piring-piring plastik warna-warni dan gelas-gelas kaca bekas air mineral yang sudah dicuci bersih. Di belakangnya, Pak RT dan beberapa warga lain ikut serta, membawa kursi lipat dan semangat untuk makan bersama.

"Waduh, wanginya bikin laper, Mas Bima! Nduk Meylani rajin banget ya mau ngurusin bumbunya," puji Pak RT sambil mengipasi asap agar tidak terlalu pedas di mata.

"Ah, biasa aja, Pak. Ini kan biar akrab. Lagian, kalau nggak dibantu Mey, saya cuma bisa bakar doang, bumbunya nggak nendang," jawab Bima rendah hati, meski bangga melihat istrinya bekerja keras.

Suasana sore itu hangat dan cair. Tidak ada sekat antara "atasan" dan "bawahan", antara "pendatang baru" dan "warga asli". Semua duduk lesehan, berbagi cerita, dan tertawa terbahak-bahak saat Bima bercerita tentang kegagalannya membakar sate pertama kali hingga gosong total.

Di tengah kesibukan menyajikan sate, ponsel Meylani berdering. Nama "Andrian Alexander" muncul di layar.

Hening sejenak menyelimuti meja makan. Tetangga-tetangga mungkin tidak tahu siapa Andrian, tapi bagi Meylani, panggilan itu adalah gema dari masa lalu yang masih memiliki bobot emosional tertentu. Bukan cinta romantis lagi, tapi rasa hormat dan sedikit rasa bersalah karena jarang menghubungi mantan kekasihnya itu setelah pernikahan.

Meylani menatap Bima. Bima sedang sibuk membalikkan sate, seolah tidak menyadari deringan itu. Atau mungkin ia sadar, namun memilih untuk tidak bereaksi, memberikan ruang pada Meylani.

Dengan tangan yang masih sedikit lengket oleh bumbu, Meylani mengambil ponselnya dan menerima panggilan tersebut. Ia berjalan sedikit menjauh ke sudut halaman agar suaranya tidak terdengar jelas oleh tamu.

"Halo, Andrian?"

"Meylani. Maaf mengganggu waktu santai kamu," suara Andrian terdengar jelas, tenang, dan formal seperti biasa. Latar belakangnya hening, kemungkinan besar ia berada di ruang kerjanya yang kedap suara di Jakarta.

"Tidak apa-apa, Andrian. Ada apa? Semoga semuanya baik-baik saja," jawab Meylani sopan.

"Saya baik. Hanya ingin mengucapkan selamat. Saya membaca berita lokal Surabaya tentang proyek 'Ruang Pulang' yang mendapatkan penghargaan inovasi komunitas tingkat provinsi. Prestasi yang luar biasa. Saya tahu itu hasil kerja kerasmu."

Meylani tersenyum tipis. "Terima kasih, Andrian. Itu bukan hanya kerja saya. Tim kami, termasuk suami saya, sangat berperan besar."

Ada jeda singkat di ujung telepon. "Suami kamu... Bima, kan? Bagaimana kabarnya?"

"Dia baik. Sedang sibuk membakar sate di halaman rumah sekarang. Kami sedang mengadakan acara kecil dengan tetangga," jawab Meylani jujur.

Kali ini, Andrian tertawa kecil. Tawa yang jarang terdengar. "Membakar sate? Di halaman rumah? Terdengar... sangat jauh dari dunia kita dulu, Mey. Dulu, kita bahkan jarang punya waktu untuk makan malam bersama tanpa membahas kasus atau strategi firma hukum."

Kalimat itu menusuk, namun tidak menyakitkan. Itu adalah fakta.

"Iya, Andrian. Hidup di sini berbeda. Lebih sederhana, lebih lambat, tapi... lebih hidup. Aku belajar bahwa kebahagiaan itu tidak selalu harus dicari di puncak karir, tapi bisa ditemukan di hal-hal kecil seperti ini," jelas Meylani lembut.

"Aku senang mendengarnya, Mey. Sungguh. Kamu terlihat lebih bersinar di foto-foto berita itu dibandingkan saat kamu menjadi asisten pribadi ku dulu. Kamu menemukan tempatmu." Suara Andrian terdengar tulus, tanpa nada sedih atau penyesalan. Hanya penerimaan.

"Terima kasih, Andrian. Doa restumu berarti banyak bagiku. Bagaimana denganmu? Apakah kamu sudah menemukan keseimbangan?" tanya Meylani balik.

"Masih berjuang. Kasus korupsi besar sedang berlangsung. Tapi aku belajar untuk mengambil jeda. Mungkin nanti, jika ada waktu, aku akan mencoba memasak sesuatu sendiri. Siapa tahu rasanya seperti sate buatan suami barumu," canda Andrian ringan.

Mereka berbasa-basi sebentar lagi sebelum mengakhiri panggilan. Saat Meylani menutup telepon, ia merasa lega. Tidak ada beban tersisa. Pintu masa lalu telah tertutup rapat dengan kunci penghormatan.

Ia kembali ke tikar. Bima langsung menyodorkan dua tusuk sate terbaik yang baru saja matang, masih mengepul panas.

"Siapa yang nelpon? Penting?" tanya Bima santai, mulutnya penuh kunyahan nasi.

"Andrian. Dia menelepon untuk memberi selamat atas penghargaan proyek kita," jawab Meylani sambil mengambil sate itu.

Bima mengunyah perlahan, lalu menelan. "Oh. Jaksa Tinggi itu? Baik juga dia ya, masih ingat sama kita."

"Iya. Dia bilang... aku terlihat lebih bersinar sekarang daripada dulu," kata Meylani pelan, menatap mata suaminya.

Bima tersenyum, mengusap hidung Meylani yang sedikit kotor oleh abu arang. "Ya wajarlah. Dulu kamu stres mikirin deadline klien. Sekarang kamu stres mikirin apakah bumbunya kurang garam atau nggak. Beda level stresnya, Yang."

Meylani tertawa renyah. Ia menggigit sate itu. Rasanya sempurna. Gurih, manis, sedikit pedas, dan dibakar dengan cinta.

"Enak banget, Mas!" puji Meylani.

"Kan udah dibilang. Tangan dingin buat hukum, tangan panas buat masak," canda Bima bangga.

Tetangga-tetangga mulai bersorak meminta tambah sate. Suasana semakin ramai. Meylani melihat sekelilingnya: Bu Siti yang tertawa lepas, Pak RT yang sedang berdebat soal bola dengan anak muda, dan Bima yang dengan sabar melayani semua orang tanpa mengeluh.

Di momen itu, Meylani menyadari satu hal penting. Andrian memberinya pengakuan secara profesional. Ia menghargai prestasinya. Tapi Bima... Bima memberinya kehidupan. Bima tidak hanya merayakan kemenangannya di atas panggung, tapi juga merayakan hari-hari biasanya di halaman belakang yang berdebu.

Andrian adalah cermin yang memantulkan kesuksesan Meylani.

Bima adalah tanah tempat akar Meylani tumbuh.

Malam semakin larut. Sate habis dimakan. Perut kenyang. Hati puas.

Setelah tamu pulang dan halaman dibersihkan, Meylani dan Bima duduk lelah di teras depan. Bintang-bintang mulai bermunculan di langit Surabaya yang agak cerah malam ini.

"Mas," panggil Meylani.

"Hmm?" Bima menjawab sambil memijat kakinya yang pegal karena seharian jongkok membakar sate.

"Kalau suatu hari nanti aku jadi sangat sukses, kaya raya, dan punya banyak waktu luang... apakah kamu akan tetap mau membakar sate untukku di halaman rumah sederhana ini?"

Bima menoleh, menatap Meylani dengan tatapan serius namun hangat.

"Lani, dengar. Sukses itu relatif. Kalau kamu sukses, kita mungkin pindah ke rumah yang lebih besar. Halaman yang lebih luas. Tapi selama kamu masih mau duduk di sampingku, makan sate gosong buatan saya, dan mendengarkan ocehan saya... maka saya akan selalu ada di sana. Membakar sate, atau apapun yang kamu mau."

Meylani menyandarkan kepalanya di bahu Bima. "Janji?"

"Janji. Atas nama sate ayam bumbu kecap," sahut Bima bercanda.

Meylani tertawa, lalu mencium pipi suaminya yang masih berbau asap. "Cukup. Janjimu sudah lebih berharga dari emas."

Di kejauhan, suara kereta api melintas, membawa orang-orang menuju tujuan masing-masing. Tapi di rumah kecil di Wonocolo itu, Meylani dan Bima sudah sampai di tujuan mereka: saling memiliki, saling menerima, dan saling hadir dalam setiap detak waktu.

Dan bagi Meylani, itulah definisi kekayaan yang sesungguhnya. Bukan apa yang dimiliki, tapi siapa yang tinggal.

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!