Seorang gadis cantik bernama Arun yang memiliki kisah hidup rumit dan penuh lika-liku. Seorang anak tunggal yang dibesarkan oleh sang nenek yang sangat menyayanginya melebihi kasih sayang orang tuanya sendiri. Arun berpikir kehidupan pernikahan menjadi salah satu solusi untuk memperbaiki cerita hidupnya. Bio, laki-laki yang lebih tua empat tahun dari dirinya menjadi suami Arun atas dasar sebuah perjodohan. Mungkin harusnya Arun sadar diri sejak awal, mereka bukan ditakdirkan tapi dipaksakan meski mereka merasa tidak ada perasaan keterpaksaan dalam mmenjalaninya. Akankah ada keajaiban dari sebuah rasa yang terasa dipaksakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon citaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LIMABELAS
Enak ya hidup orang yang bisa bebas.
Bisa nentuin apa mau dirinya sendiri tanpa mikirin perasaan orang lain.
Berbuat semaunya tanpa harus pusing akan anggapan orang disekitarnya.
Ehh ada satu lagi!!
Ada orang yang hidup dengan hal yang menurut orang lain itu sebuah harapannya dalam hidup.
Tapi bagi orang itu sendiri, hal itu tuh kayak suatu hal yang mereka hindari atau malah tidak terpikirkan dalam ruang otak mereka.
Ternyata setiap orang hanya bisa menilai kehidupan orang lain seolah mereka memiliki penilaian yang benar. Namun fakta nya setiap orang salah dalam hal tersebut. Karena manusia itu makhluk yang sangat kompleks bahkan bisa memanipulasi satu sama lain.
"SAH!!"
Suara lantang seperti pada masa memperebutkan kemerdekaan untuk indonesia.
Padahal hanya ada beberapa orang aja.
"Arun sekarang kamu sah jadi istrinya nak Bio. Kamu harus jadi istri yang baik ya" ucap Linda menasehati.
Hari ini hari pernikahan Arun dan Bio. Terkesan cepat? Tidak ini adalah satu bulan setelah pertemuan itu.
Lama?
Iya Arun memiliki tugas yang sangat padat makanya Arun meminta keringanan untuk sedikit melonggarkan waktu pernikahan ini.
Sedangkan mempersiapkan pernikahan nya tidak mencapai waktu setengah bulan juga. Hanya saudara dan teman terdekat dari Arun dan Bio yang menghadiri pernikahan mereka. Memang bukan perayaan besar hanya sederhana bukan karena tidak mampu tapi karena mereka tak ingin banyak yang tahu dan ikut campur nantinya.
"Run?" panggil Tia yang berada disampingnya.
Sedangkan Linda kembali menyapa beberapa keluarganya yang hadir saat ini.
"Tia, makasih ya lo udah mau dateng" ucap Arun sambil menundukan kepalanya.
"Heii, angkat kepala lo. Lo cantik pake siger sunda sama kebaya putih ini tau" ucap Tia.
"Gue kira setelah lo tau semuanya lo bakal ninggala in gue. Dan lo gak mau lagi punya temen kayak gue lagi" ucap Arun dengan mata berkaca-kaca.
Tia menggelengkan kepala sambil menatap Arun, "Gue bakal selalu jadi teman lo, sahabat lo bahkan saudara lo Run. Jadi lo jangan sampe berpikir kayak gitu lagi. Okee!!".
Arun memeluk Tia, "Tapi gue heran, kan suami lo dari kalangan orang kaya ya? Kok acara pernikahan yang sekali seumur hidup sederhana banget sih. Gak kayak di film yang gue liat".
"Otak lo kedoktrin film tuhh, kurang-kurangin lah!" ejek Arun.
"Kurangin? Enak aja lo. Itu obat stres gue dari tugas yahh" balas Tia tidak terima.
"Arun?" Panggil seseorang dari arah belakang mereka.
Arun dan Tia langsung berbalik badan lalu menatap orang tersebut.
"Selamat ya nak" ucap Broto, diikuti Nita sang istri yang hanya tersenyum ramah.
"Terima kasih pak, ibu" balas Arun sambil mencium kedua tangan mereka.
"Panggil mama sama papa aja dong Run, kamu kan sekarang juga udah jadi anak kami. Ya kan mah?" Ucap Broto.
"Hmm, iya Run" setuju Nita.
Arun hanya tersenyum malu sambil melirik ke arah Tia.
Tidak lama seseorang datang, siapa lagi kalo bukan Bio.
"Pah?" Panggil Bio.
"Aku sama dia langsung pulang ke rumah baru aja ya?" ucap Bio.
'Dia'
Tia memicingkan matanya heran mendengar sebutan untuk sahabatnya, yang jelas-jelas keluar dari mulut suaminya. Terdengar tidak sopan dan terkesan kurang menghormati.
Saat Tia akan berinstrupsi, tiba-tiba hp yang ada di genggamannya berbunyi.
"Hallo?" jawab Tia.
"..."
"Oke-oke aku bentar lagi pulang, tunggu aku ikut" ucap Tia lalu mematikan telfonnya.
Dia memegang tangan Arun, "Gue pulang dulu ya, soalnya harus tempat uwa. Tiba-tiba uwa masuk rumah sakit" jelas Tia.
Arun mengangguk, "Lo hati-hati ya, kalo ada apa-apa kabarin gue. Semoga uwa cepet sembuh ya".
"Oke makasih Run, om, tante, pak, saya pamit dulu" ucap Arun sambil tersenyum lalu pergi meninggalkan tempat itu.
"Memangnya rumah itu sudah siap huni?" tanya Broto mengalihkan pandangan Arun.
"Kayaknya sih udah, ya gampang lah paling kurang-kurang dikit doang" ujar Bio.
Arun paham sepertinya, dia akan tinggal bersama Bio di rumah baru bukan rumah pak Broto. Entah rumah atau apa yang akan dia temui nanti. Bahkan terlintas di pikiran Arun rumah itu adalah sebuah tempat pengasingan terutama bagi dirinya.
"Semua udah siapkan?" tanya Bio pada Arun.
"Hah?" balas Arun bingung
"Baju lo! Udah lo kemas dan bawa kesini semuakan?" tanya Bio dengan nada tinggi.
"Bio!" Broto memperingati.
"Lo gak bilang. Gue gak ada persiapan apa-apa, nanti gue pulang dulu" ucap Arun lalu menundukan kepala dan berpamitan pergi dari sana.
"Bisa gak sih bersikap baik sama istri kamu?" Ujar Broto saat Arun pergi.
"Gak bisa. Soalnya gak cinta" balas Bio.
"Nanti juga kamu terbiasa sama dia pasti akhirnya kamu juga cinta sama dia Bio" jelas Broto.
"Cinta enggak, makin eneg iya" gumam Bio.
"Ngomong apa kamu?" tanya Broto.
Bio menggelengkan kepala, "Udah lah pah, ini kan rumah tangga Bio jadi Bio tau mana yang terbaik buat Bio dan Arun".
"Iya pah, udah lah inikan mereka yang jalanin. Kamu gak bisa seenaknya seolah Bio pegawai kamu di kantor yang bisa ikutin semua apa kata kamu!" Ujar Nita menohok.
"Tapi aku gak pernah ngajarin seperti itu, sekarang aku tanya apa waktu pertama kali nikah aku pernah ngebentak kamu?" tanya balik Broto pada Nita.
Nita terdiam.
"Enggak kan?!" ujar Broto.
"KARENA KITA SALING CINTA DAN BUKAN DARI PERJODOHAN!" ucap Nita penuh penekanan lalu pergi meninggalkan suaminya.
Hari ini melelahkan.
Lelah hati, pikiran dan badan. Semua menjadi satu. Padahal baru awal, sangat awal dalam menjalani kehidupan ke depan yang entah bagaimana nanti. Arun pasrah.
"Udah?" tanya Bio pada Arun.
Arun melihat sekilas lalu menganggukan kepala.
Bio membuka pintu mobil lalu menutup nyaa setelah duduk di kursi kemudi.
"Siapa yang suruh lo duduk di depan?" ucap Bio.
"Keadaan! Lo gak liat belakang penuh sama barang?" balas Arun.
Bio melihat ke arah belakang, memang benar keadaan mobinya saat ini persis seperti kapal pecah.
Setalah itu Arun langsung mealihkan pandangannya pada jendela mobil disebelah kirinya. Perlahan mobil mulai melaju dan saat itu juga mata Arun perlahan tertutup.
Baru beberapa menit Arun tertidur.
Ckitttttt
Tiba-tiba mobil mengerem mendadak, membuat tubuh Arun terhuyung ke depan dan kepalanya terbentur ke bagian depan mobil tersebut.
"Anj***" ucap Arun refleks.
"Jangan tidur di mobil lo! Bentar lagi juga nyampe. Lo pikir bakal ada yang gendong lo buat turun!" ujar Bio sarkas.
"Lo bisa bangunin gue, siapa juga yang minta di gendong! Gue tidur bukan mati!" balas Arun.
"Nyusahin!" gumam Bio.
Tbc.
"Belum juga 24 jam ijab sah, udah mau saling bunuh aja. Entar geh, harta gono gini dolooo" otak author.