kisah seorang dokter internship yang bertemu dengan seorang polisi yang menurutnya sangat menjengkelkan dan terjebak pernikahan dengannya akibat kejadian suatu malam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nad Nanad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 8
Author POV
Dean memasuki sebuah rumah yang lumayan besar dan langsung disambut oleh seorang ibu paruh baya yang masih terlihat anggun diusianya dengan balutan gamis serta jilbabnya. Dia Laila, ibu Dean yang menjadi pasien Anna tempo lalu.
Dean mencium tangan ibunya lalu merangkulnya masuk ke dalam rumah.
"Bu, Dean izin mau nikah." Ucap Dean yang masih mencium tangan ibunya.
"Ya Allah nak! Kamu beneran mau nikah?" Bu Laila tersenyum bahagia mendengar sang anak yang akan segera menikah.
"Iya Bu, ibu mau kan nemenin Dean lamaran nanti malam?"
"Sekarang pun ibu mau! Kamu mau nikahin siapa?" Ucap Bu Laila bersemangat.
"Nanti malam ibu juga pasti tau! Oh ya Nayla dimana Bu?" Dean tersenyum lalu mencari-cari keponakannya itu.
"Di atas sama Bi Yati." Jawab Bu Laila yang tak henti-hentinya tersenyum.
"Oh kalo gitu Dean naik dulu ya Bu." Pamit Dean pada ibunyaa itu.
Dean memang memiliki dua rumah yaitu rumah dinasnya yang di perumahan polisi dan rumah pribadi bersama ibunya di tempat yang sekarang ini. Sesekali ia menginap di rumah ini atau hanya sekedar menjemput Nayla dikala ia tidak sibuk.
***
Anna POV
Malam ini adalah malam paling sial buatku bagaimana tidak di depanku ini sudah ada Pak Dean dengan ibunya yang ternyata adalah Bu Laila yang menjadi pasienku tempo lalu, tapi aku tidak melihat Nayla, mungkin saja ia dititipkan di tetangganya.
Menurutku pak Dean ini adalah orang bermuka dua kenapa aku mengatakan seperti itu? Karena jika saat bersama orang lain seperti ini dia menampilkan sikap sok coolnya dengan wajah datar tanpa ekspresi sedangkan ketika berdua bersamaku dia begitu cerewet.
"Saya datang kesini ingin melamar putri om yang bernama Anastasya Azalea Adzofa atau Anna om." Ucap pak Dean mulai menyatakan tujuannya kesini. Huh memangnya siapa lagi putri papa selain aku kata-katanya sungguh terlalu lebay.
"Bagaimana Anna? Kamu bersedia jadi istri Dean?" Tanya papa padaku seolah meminta persetujuanku padahal cuma berbasa-basi.
"Anna gak bisa nolak kan?" Ucapku agak ketus, kulihat Bu Laila nampak melihatku sambil tersenyum aku jadi tidak enak padanya.
"Anna, gak boleh ngomong gitu sayang." Ucap mama menegur ketidaksopananku ini.
"Iya maaf, Anna terima lamaran pak Dean." Mulutku seolah dikendalikan oleh orang lain sehingga kata-kata itu bisa keluar dari mulutku dengan lugas tanpa beban.
Bukannya senang atau apalah pak Dean justru tak mengubah ekspresi wajahnya yang masih saja datar, dia ini niat ngelamar atau gimana sih_-
Sementara papa, mama, dan Bu Laila nampak tersenyum bahagia mendengar jawabanku, tapi tunggu! Aku dari tak melihat bang satku itu kemana dia? Aku mengedarkan pandanganku mencari keberadaannya dan ternyata dia sedang
duduk melamun di pojokan sambil mengunyah keripik.
Aku menghampirinya berniat ingin meledeknya lagi xixixi
"Ya bang sat Anna langkahin, kasian mana udah tua." Ledekku pada bang Satya.
"Yee malah manas-manasin bukannya dihibur." Sewot bang Satya sambil melempariku dengan bantal sofa.
"Gak boleh gitu sama Anna bang, nanti kalo Anna udah pergi yang nemenin Abang disini siapa? yang masakin Abang, pijitin kaki Abang, nyuciin seragam Abang, sampai semirin sepatu Abang siapa dong?" Ucapku pura-pura sedih.
"Yee emang kamu pernah lakuin semua itu buat abang? jangan ngadi-ngadi ya An! malah kamu itu sering gangguin Abang, ngerepotin!"
"Awas nanti rindu sama Anna."
"Idih, eh btw dek kamu emangnya mau sama muka lempeng itu?" Bang Satya sedikit berbisik di telingaku sambil menunjuk Pak Dean yang masih asyik berbincang dengan papa.
"Hah? Muka lempeng? muka lempeng siapa bang?"Tanyaku dengan suara keras agar Pak Dean bisa mendengarnya.
Semua orang menatap kami dengan heran, terkecuali pak Dean yang menatap tajam ke arah bang Satya dengan mata tajamnya bak seekor elang yang sedang mengincar mangsanya.
"Hustt diem nanti orangnya denger!"
"Mana sempat keburu didengar orangnya, ya kan pak?" Ucapku lalu menatap pak Dean.
Yah bang Satya takut sama pak Dean! ck bang Satku lemah.
"Abang takut sama pak Dean?" Bisikku di telinga bang Satya.
"Dia atasan abang dek! dia itu Perwira sedangkan Abang ini masih Bintara, tapi kita sahabatan sih " Ucap bang Satya menjelaskan mengenai pangkat mereka yang sama sekali tak membuatku mengerti.
"Anna sini nak!" Panggil papa padaku aku langsung menuju ke tempatku kembali.
"Saya mau akad nikahnya diadakan Minggu depan." Ucapnya yang membuatku kaget.
"Kebelet amat mau nikah pak, gak laku ya?" Bukannya marah dengan perkataanku barusan ia malah tersenyum.
"Kan saya kemarin udah bilang kalo saya itu udah kenal kamu udah lama dan gak nikah-nikah sampai sekarang gara-gara nunggu kamu lulus jadi dokter, nah sekarang udah waktunya."
"Lah berarti saya disini dijebak dong? Wah gak adil." Ucapku tak terima karena aku merasa seolah ini adalah jebakan.
"Papa mau kamu ada yang jagain sayang selama papa sama Mama gak disini." Ucap papa memberi penjelasan padaku.
"Kan ada bang Satya?"
"Kamu percaya sama Abang kamu yang sengklek itu?" Gurau papa yang langsung ditatap horor oleh bang Satya.
"Lah mereka sama, sama-sama sengklek."
"Papa cuma mau kamu ada yang jagain kalo Abang kamu udah nikah nanti gak mungkin kan kamu jadi prioritasnya terus?" Benar juga kata papa, tak mungkin aku yang selalu dinomor satukan oleh bang Satya saat ia sudah memiliki keluarga sendiri nanti.
Aku terharu mendengar penuturan papa dan mencoba untuk menerima pernikahan ini untuk menyenangkan hati kedua orangtuaku meski aku belum bisa menerima ini seutuhnya.
"Tapi Anna punya satu permintaan sama pak Dean!"
"Apa itu?"
"Pernikahan ini gak boleh dipublish dulu biar orang-orang terdekat aja yang tau."
"Kenapa mesti begitu? Kamu malu punya suami ganteng kayak saya?" Waduh mulai lagi kepedeannya.
"Bukan gitu pak, tapi ya saya inikan masih muda nah bapak udah mendekati jadi om-om, bapak mau dikatain pedo sama orang?"
"Memang saya ini udah kayak om-om ya?"
"Iyalah". Ucapku ngasal padahal itu hanya alasanku semata.
"Iya, iya sayang." Wah udah mulai berani manggil-manggil sayang.
"Woi belum halal woi main sayang-sayangan aja." Ujar bang Satya sedikit berteriak ke arah kami.
"Jomblo mending diem." Balas pak Dean.
"Eh gue gak jomblo ya! gue punya pacar tuh." Jawab bang Satya sewot.
"Pacaran mulu bang gak nikah-nikah." Ujar pak Dean bertambah sengit berdebat dengan bang Satya. Asik gelud aku suka keributan:v
eh btw yang nanya soal motorku, aku sudah menyuruh bang Satya untuk mengambilkannya malam itu walau melewati beberapa perdebatan bahkan pergelutan yang akhirnya akulah yang menang:v
To Be Continued ...
😘 dadah jumpa lagi di chap selanjutnya
thor...
knpa g dilanjutin kisahnya Dean sm Anna
👍🤗