[NIKAH KONTRAK]❗
[OBSESI] ❗
[DARK ROMANCE] ❗
start proses : Juni 2026-Ongoing
by Leni Utami
"Cinta yang seharusnya membuat Layla merasa bebas, justru menjadi rantai belenggu yang mengikat erat dirinya. Di antara kekuasaan dan luka masa lalu serta hasrat panas membara, ia terjebak di kobaran asmara yang gelap. Bayangan kelam masa lalu masih menghantuinya. Akankah ia bisa memilih melepaskan diri dari belenggu yang menyiksa batinnya atau memeluk belenggu itu selamanya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lenny Utami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CNB 15
Sesampainya di rumah, Layla langsung masuk kamar lalu membaringkan tubuhnya ke tempat tidur, "Duh.., capek banget. Semoga Zhao Lee pulang lebih lama dari yang seharusnya. Udah lama aku enggak ngerasa bebas kayak gini," ucap Layla senang.
Tiba-tiba ponselnya berdering, ada panggilan masuk dari Zhao Lee. Ia sengaja membiarkan agak lama ponsel itu bergetar. Sebenarnya ia malas untuk merespon, namun ia tak berani membuat Zhao Lee marah. Layla tak ingin Tuannya melakukan tindakan yang di luar prediksinya. Dengan berat hati Layla mengangkat telfon itu, ia berakting seolah-olah baru bangun tidur. "Ya, hallo. Ada apa?," suaranya di buat terdengar parau.
"Ini aku Zhao Lee. Ahh ternyata kamu tidur. Baguslah, jangan kerja dulu hari ini. Lusa aku pulang," suara itu terdengar lembut. Layla yang semula merasa bebas, kini raut wajahnya berubah kecewa. Harapan yang dia buat tak sesuai dengan ekspektasi. Belum puas jiwa itu merasa kelegaan yang di damba. Namun kenyataan merampas paksa, tak lama lagi kesesakan di dada akan di rasa kembali setelah Zhao Lee ke sisi Layla.
''Kenapa cepat sekali, tidak apa jika anda ingin bersantai lebih lama. Semua yang di sini baik-baik saja," ucap Layla.
"Kebetulan urusanku disini berjalan lancar, jadi memungkinkan aku bisa pulang lebih cepat dari yang seharusnya. Terlebih aku tidak suka melihat mu semakin lengket dengan Bennedict," ucap Zhao Lee.
"Melihatku? Bagaimana bisa? Apa dia menyuruh seseorang mengawasiku lagi?" gumam Layla dalam hati.
"Mmm.. Saran saya sebaiknya anda mengunjungi tempat wisata paling terkenal di sana. Pasti seru," kata Layla.
"Layla, aku yang mengelola tempat wisata itu," ucap Zhao Lee.
"Ohh..begitu rupanya," ucap Layla canggung.
Zhao Lee mengambil nafas panjang lalu berkata, "Hhhhuuuhhh, aku suamimu tapi kamu enggak tau apa-apa soal aku," ia nampak kecewa kepada Layla.
"Aku luruskan, kita hanya menikah kontrak itu saja," kata Layla.
"Intinya, lusa aku pulang. Mau di bawakan hadiah apa," Zhao Lee menawarkan.
"Oh ya Tuan, anda tidak perlu membawa hadiah saat pulang. Saya tidak apa-apa. Saya tutup telfonnya ya, saya ingin istirahat. Besok saya ada jadwal untuk ketemu klien bersama Ben, jadi mungkin saya akan sibuk seharian dan sulit untuk di hubungi," ucap Layla. Kemudian Layla menutup telfon dan pergi istirahat.
Namun di sebrang kota sana, Zhao Lee sedang meradang. Ia cemburu kepada Layla karena nampaknya hubungan Layla dengan Bennedict makin dekat dan Layla punya panggilan khusus untuk Bennedict, lalu di tambah Layla akan se-ha-ri-an bersama si brengsek itu. Tanpa peringatan Zhao Lee memanggil Paman Chen ke ruangannya.
"Paman Chen, perintahkan semua karyawan kita untuk selesaikan pekerjaan secepat mungkin! Deadlinenya hari ini jam 10 malam. Tawarkan bonus dan gaji 2 kali lipat dari biasanya setelah itu mereka boleh libur besok'' perintah Zhao Lee, ia sedang di selimuti api cemburu karena kedekatan Layla dan Bennedict.
Mendengar itu, Paman Chen tidak bisa menolak. Dia hanya tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala. Dia seperti menemukan fenomena baru yang unik dan lucu.
Zhao Lee menatap jalanan di balik jendela mobil dengan sorot mata dingin. Di kepalanya hanya ada satu nama, Layla.
Ia tidak peduli berapa banyak pekerjaan yang harus dipercepat, berapa banyak uang yang harus dikeluarkan, atau berapa banyak orang yang harus ia gerakkan. Yang terpenting hanya satu: menggagalkan setiap kesempatan Benedict untuk mendekati Layla.
"Aku sudah memperingatkanmu, Benedict..." gumamnya pelan.
"Jangan sentuh apa yang menjadi milikku." ucap Zhao Lee dingin.
Mobil melaju semakin cepat membelah malam. Zhao Lee mengepalkan tangan di atas pangkuannya. Wajahnya tetap tenang, tetapi sorot matanya menyimpan badai yang siap meledak kapan saja. Sebuah rencana perlahan terbentuk di benaknya, rencana yang akan memastikan tidak ada seorang pun, termasuk Benedict, bisa mengambil Layla darinya.
****************