Dalam hidupnya Arkana punya satu rasa penyesalan yang teramat sangat. Bahkan dia tidak tahu ketika berpisah dengan Kanaya, wanita itu sedang dalam keadaan hamil.
Sampai suatu hari Arkana bertemu kembali dengan Kanaya, mantan istrinya. Karena ingin menebus rasa bersalahnya, Arkana ingin rujuk dan membangun pernikahan yang sesungguhnya.
Namun, Kanaya yang masih menyimpan luka, enggan rujuk.
Apakah Arkana berhasil mendapatkan hati Kanaya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Rumah Kanaya terasa lebih tenang, tidak ada lagi suara pertengkaran atau perdebatan. Yang tersisa hanyalah keheningan yang membawa masing-masing orang tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Anaya duduk di samping Arkana sambil memegang lengan pria itu erat-erat, seolah takut ayahnya akan menghilang jika dilepaskan. Sejak mengetahui siapa Arkana sebenarnya, gadis kecil itu hampir tidak pernah menjauh.
"Ayah besok antar Aya sekolah, ya?" tanya gadis kecil itu tiba-tiba.
Arkana menoleh dan tersenyum. "Kalau Aya mau, Ayah yang antar."
Mata Anaya langsung berbinar. "Beneran?"
"Iya." Arkana mengangguk dan tersenyum.
"Enggak bohong, kan?" Anaya ingin memasuki.
Arkana menggeleng pelan. "Enggak bohong."
"Yey-yey ...!" Anaya langsung tertawa senang. Kedua kakinya bergerak-gerak tidak sabar di atas sofa.
"Soalnya teman-teman Aya banyak yang diantar Ayah mereka. Kalau Aya cuma sama Bunda."
Kalimat polos itu membuat senyum Arkana perlahan memudar. Selama ini, hal-hal sederhana yang dianggap biasa oleh banyak ayah ternyata menjadi sesuatu yang sangat diinginkan oleh putrinya.
"Aya juga mau main ke taman sama Ayah. Mau naik sepeda sama Ayah. Mau piknik juga," celoteh Anaya dan membuat beberapa orang dewasa di sana merasa terharu mendengar keinginan gadis kecil.
Arkana terkekeh pelan. "Boleh semua."
"Liburan juga?" tanya Anaya dengan mata berbinar.
"Tentu saja boleh," jawab Arkana tersenyum lebar.
Anaya langsung bersorak girang dan bergoyang. "Yeaaay!"
Kanaya yang sedang membereskan gelas-gelas bekas minum hanya terdiam. Ia tidak ikut menyela. Namun setiap kalimat yang keluar dari mulut Anaya terasa seperti jarum kecil yang menusuk hatinya.
Selama lima tahun terakhir, Kanaya selalu berusaha menjadi cukup bagi kedua anaknya. Menjadi ibu sekaligus ayah. Menjadi pelindung. Menjadi teman bermain. Hari ini Kanaya baru sadar bahwa ada beberapa hal yang memang tidak bisa digantikannya. Anaya tetap membutuhkan sosok ayah.
Sementara itu, di dekat Kanaya, Abinaya berjalan mendekat tanpa suara. Anak laki-laki itu langsung memeluk pinggang ibunya erat-erat.
Kanaya menunduk. "Kenapa, Sayang?"
Abinaya menggeleng. Namun pelukannya justru semakin erat. "Bunda capek?" tanyanya pelan.
Kanaya tersenyum tipis. "Sedikit."
"Aku bantu Bunda."
Kanaya mengusap rambut putranya. "Abi enggak perlu Bunda."
"Aku mau." Suara anak itu terdengar serius. "Aku sayang Bunda."
Kanaya memejamkan mata sesaat. Kalimat sederhana itu selalu berhasil membuat hatinya menghangat.
"Bunda juga sayang Abi."
Abinaya menatap ibunya lama. Lalu berkata dengan suara yang lebih pelan.
"Abi enggak akan biarin siapa pun bikin Bunda sedih lagi."
Kalimat itu membuat ruangan mendadak terasa sunyi. Arkana yang mendengar itu langsung tersentil hatinya Tidak ada nama yang disebut, namun semua orang tahu kepada siapa kalimat itu ditujukan.
Abinaya masih terlalu kecil untuk memahami banyak hal, tetapi ia cukup besar untuk melihat siapa yang selama ini menangis diam-diam saat mengira dirinya sudah tidur. Ia melihat bagaimana Kanaya bekerja dari pagi hingga malam. Ia melihat bagaimana ibunya menahan lelah demi mereka. Karena itu, tanpa sadar, anak laki-laki itu tumbuh menjadi pelindung bagi ibunya.
Arkana menyadari semuanya. Pria itu bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat. Ia berjongkok di depan Abinaya.
"Ayah punya banyak salah sama kalian. Maka izinkan Ayah untuk memperbaikinya, ya."
Abinaya tidak membalas ucapan Arkana. Tatapannya masih waspada.
Arkana menarik napas panjang. "Ayah juga marah sama diri Ayah sendiri. Ayah enggak minta kamu langsung percaya. Ayah juga enggak minta kamu langsung suka."
Anak itu tetap diam. Abinaya masih memandangnya tanpa bicara. Mata Abinaya bertemu langsung dengan mata Arkana.
"Tapi Ayah janji akan berusaha." Arkana tersenyum manis kepada Abinaya.
"Janji?" Abinaya menatap tajam.
Kali ini Abinaya tidak lagi memalingkan wajahnya dari Arkana. Bagi Arkana, itu sudah lebih dari cukup.
"Iya." Arkana mengacungkan jari kelingkingnya kepada Abinaya.
"Jangan bohong." Membalas mengaitkan jari kelingkingnya yang kecil.
Walau suara Abinaya terdengar datar, tetapi cukup membuat dada Arkana terasa sesak. Karena ia tahu mengapa putranya mengatakan hal itu.
"Ayah enggak akan bohong lagi."
Abinaya tidak bicara lagi. Ia hanya kembali memeluk Kanaya.
Hari ini sudah malam. Setelah berbincang cukup lama, Bu Winda, Pak Adjie, dan Bu Cantika akhirnya bersiap pulang.
Sebelum pergi, Bu Winda menghampiri Kanaya. Wanita paruh baya itu menggenggam kedua tangan Kanaya dengan hangat.
"Mama enggak akan memaksa kamu menerima Arka. Tapi Mama berharap suatu hari nanti kamu bisa melihat perubahan dia."
Kanaya tidak menjawab hanya tersenyum tipis.
Bu Winda memahami itu. Luka yang diterima Kanaya terlalu besar untuk disembuhkan hanya dalam satu hari.
Setelah mereka pergi, suasana rumah kembali tenang. Kanaya lalu menunjukkan kamar tamu kepada Arkana.
"Mulai malam ini kamu tidur di sini."
Arkana menatap ruangan itu. Kamar yang cukup nyaman. Namun, jelas terpisah jauh dari kamar utama. Ia sempat membuka mulut ingin protes. Ingin meminta kesempatan. Namun akhirnya mengurungkan niatnya.
"Baik," balas Arkana tersenyum manis seperti dahulu ketika masih bersama di Kota Pelajar yang penuh kenangan itu.
Kanaya tampak sedikit terkejut karena Arkana tidak membantah. Apalagi tersenyum manis yang dahulu suka membuat salah tingkah.
"Aku tahu ini konsekuensi dari perbuatanku." Suara Arkana terdengar tenang. "Aku enggak punya hak menuntut apa pun."
Kanaya terdiam.
Pria itu tidak memaksa kehendaknya. Tidak berdebat atau mencari pembenaran. Hanya menerima.
"Aku akan berusaha memperbaiki semuanya. Meskipun mungkin butuh waktu lama."
Tatapan Arkana tertuju pada Kanaya.
Kanaya menahan napas sesaat. Dulu, tatapan seperti itu selalu membuat jantungnya berdebar. Karena Arkana adalah cinta pertamanya. Pria pertama yang berhasil membuatnya berharap, membuatnya percaya pada masa depan, dan pria yang berhasil mengisi hatinya.
Namun, dia juga menjadi pria yang menghancurkan semua harapan itu. Ketika hubungan mereka sedang terasa begitu indah, ketika Kanaya mulai membayangkan hidup bersama selamanya, kenyataan pahit itu datang menghancurkan segalanya.
Sampai hari ini, luka itu masih ada. Mungkin tidak lagi berdarah, tetapi bekasnya tidak pernah benar-benar hilang.
Kanaya mengalihkan pandangannya. "Istirahat lah." Lalu ia berbalik pergi.
Arkana hanya memandang punggung wanita itu menjauh perlahan. Tidak ada penolakan darinya, tetapi juga belum ada penerimaan.
Pencarian Arkana selama tahun ini akhirnya berakhir. Karena sekarang wanita itu berada di bawah atap yang sama dengannya. Selain itu, dia memiliki kesempatan untuk membuktikan bahwa dirinya bisa menjadi ayah yang baik bagi Abinaya dan Anaya. Serta menjadi pria yang layak mendapatkan maaf dari perempuan yang masih dicintainya hingga hari ini.