NovelToon NovelToon
Dendam Berdarah

Dendam Berdarah

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Kutukan
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Liburan keluarga Pak Gunawan dan Bu Sri yang sedang hamil tua berakhir tragis ketika mereka, bersama dua pelayan dan seorang tukang kebun, ditemukan tewas mengenaskan di vila mereka.

Penyelidikan mengungkap bahwa pembantaian tersebut dipicu oleh aksi perampokan yang berubah menjadi pembunuhan brutal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Vila yang indah.

Tahun 2006....

Sebuah mobil Toyota Kijang Krista berwarna hitam melaju perlahan di jalan desa yang masih sebagian besar berupa tanah berbatu. Debu tipis beterbangan di belakang kendaraan itu. Di kanan dan kiri jalan terbentang sawah hijau yang luas.

Udara terasa sejuk, jauh berbeda dengan hiruk-pikuk kota yang selama ini mereka tinggali. Burung-burung beterbangan rendah di atas pematang, sementara pepohonan rindang berjajar di sepanjang jalan desa.

Di dalam mobil, Pak Gunawan yang duduk di kursi depan tersenyum puas melihat pemandangan itu.

"Bagaimana, Sri? Tempat ini jauh lebih tenang daripada kota, bukan?" tanyanya sambil menoleh ke arah istrinya.

Bu Sri yang tengah hamil delapan bulan mengusap perut besarnya perlahan.

"Iya, Mas. Rasanya bahkan baru menghirup udaranya saja sudah membuatku lebih rileks."

"Syukurlah. Aku memang berharap tempat ini bisa membuatmu lebih nyaman sampai waktu persalinan tiba."

Di kursi belakang, dua asisten rumah tangga mereka, Sumi dan Lela yang sama-sama berusia sekitar dua puluh lima tahun, tampak antusias melihat pemandangan di luar jendela.

"Masya Allah, cantik sekali desanya," ujar Sumi.

"Iya, Mbak. Lihat sawahnya luas sekali," sahut Lela.

Di samping mereka duduk seorang wanita berusia sekitar empat puluh tahun bernama Mbok Warsih. Dia sudah bekerja pada keluarga Gunawan selama bertahun-tahun dan dianggap seperti keluarga sendiri.

"Tempat seperti ini memang cocok untuk istirahat," kata Mbok Warsih. "Nyonya pasti bisa tidur lebih nyenyak di sini."

Bu Sri tersenyum.

"Aku juga berharap begitu, Mbok."

Sementara itu, di kendaraan belakang, Aji sang tukang kebun mengikuti perjalanan mereka menggunakan mobil bak kecil yang membawa sebagian barang-barang kebutuhan.

Beberapa menit kemudian rombongan berhenti di sebuah persimpangan kecil. Pak Gunawan turun dan meregangkan tubuhnya.

Bu Sri ikut turun dari mobil dengan hati-hati. Pak Gunawan segera menghampirinya.

"Pelan-pelan, jangan terburu-buru."

"Aku tidak apa-apa," jawab Bu Sri sambil tertawa kecil.

Aji yang baru tiba menghampiri mereka.

"Pak, barang-barang aman semua."

"Bagus, Aji."

Aji memandang sekeliling.

"Desanya tenang sekali ya, Pak."

"Itu alasan saya memilih tempat ini."

Mbok Warsih juga turun lalu menarik napas panjang.

"Udara seperti ini sudah sulit ditemukan di kota."

Sumi mengangguk setuju.

"Rasanya seperti sedang liburan."

Pak Gunawan tertawa.

"Anggap saja memang begitu. Tapi kita akan tinggal cukup lama."

"Berapa lama, Pak?" Tanya Lela.

"Sampai Sri melahirkan dan kondisinya benar-benar pulih."

Bu Sri tersenyum hangat.

"Jadi kalian harus sabar menghadapi aku yang mungkin akan semakin rewel."

Semua tertawa.

"Kalau soal itu kami sudah terbiasa, Bu." canda Sumi.

"Sumi!" seru Bu Sri sambil tertawa.

Setelah beristirahat sejenak, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Jalan yang mereka lalui semakin sepi. Rumah-rumah penduduk mulai jarang terlihat.

Lela mulai memperhatikan keadaan sekitar.

"Pak, rumah penduduk sudah tidak banyak."

"Karena vila yang kita tuju berada di ujung desa." Jawab Pak Gunawan.

"Jauh sekali rupanya."

"Justru itu yang saya cari. Tenang, tidak terlalu ramai."

Tak lama kemudian sebuah bangunan megah mulai terlihat di kejauhan.

Mata semua orang langsung tertuju ke sana.

"Wah..." gumam Sumi.

"Itu villanya?" Tanya Lela tidak percaya.

Pak Gunawan mengangguk bangga.

"Ya. Mulai hari ini kita tinggal di sana."

Bangunan itu berdiri di atas lahan luas yang dikelilingi pepohonan. Terdiri dari dua lantai dengan balkon besar menghadap perbukitan dan sawah.

"Ya Allah..." kata Bu Sri pelan.

Pak Gunawan tersenyum.

"Kau suka?"

"Suka sekali."

Mobil memasuki gerbang besi yang tinggi. Halaman vila begitu luas dengan taman yang tertata rapi.

Aji sampai bersiul kagum.

"Pak, ini bukan vila lagi namanya. Ini seperti hotel."

Semua tertawa.

Pak Gunawan turun lebih dulu lalu membuka pintu untuk istrinya.

"Selamat datang di rumah sementara kita."

Bu Sri menggenggam tangan suaminya.

"Terima kasih, Mas."

"Untukmu dan calon anak kita."

Mbok Warsih memandangi vila itu dengan kagum.

"Pak, tempat ini benar-benar indah."

"Saya berharap begitu."

"Semoga membawa banyak kebahagiaan."

"Amin." Jawab semua hampir bersamaan.

Angin sore berhembus lembut melewati pepohonan di sekitar vila. Dari kejauhan terdengar suara burung dan gemericik air sungai kecil yang mengalir di balik bukit. Suasana terasa damai, seolah menjadi tempat sempurna bagi keluarga kecil itu untuk menunggu kelahiran anggota baru mereka.

Pintu utama vila terbuka perlahan.

Pak Gunawan melangkah sambil merangkul pinggang istrinya penuh perhatian, dan membantunya melangkah melewati ambang pintu. Kandungan yang sudah berusia delapan bulan membuat langkah Bu Sri sedikit lebih lambat dari biasanya.

Di belakang mereka, Mbok Warsih, Sumi, dan Lela ikut masuk sambil membawa beberapa tas kecil. Sementara itu, Aji masih sibuk mengangkat koper-koper besar dan membawanya ke dalam vila.

Begitu memasuki ruang utama, semua orang langsung terdiam.

Ruangan itu sangat besar. Langit-langitnya tinggi hingga lantai dua, dihiasi lampu gantung kristal yang berkilauan terkena sinar matahari. Lantai marmer berwarna krem mengilap bersih, sementara jendela-jendela besar membuat cahaya alami memenuhi seluruh ruangan.

"Masya Allah..." Gumam Mbok Warsih.

Sumi menoleh ke kanan dan kiri dengan mata berbinar.

"Indah sekali."

"Ini lebih besar dari yang saya bayangkan." Tambah Lela.

Pak Gunawan tersenyum puas melihat reaksi mereka.

Sementara itu, Bu Sri masih berdiri di dekat pintu sambil memandang sekeliling. Pak Gunawan tetap berada di sampingnya, satu tangan memegang bahunya dengan lembut.

"Bagaimana?" Tanyanya.

Bu Sri tersenyum.

"Aku suka sekali."

"Benarkah?"

"Iya. Rasanya tenang."

Pak Gunawan mengusap lengan istrinya pelan.

"Itu yang paling penting."

Bu Sri menoleh ke arah suaminya.

"Terima kasih, Mas."

"Kamu tidak perlu berterima kasih."

"Tapi kau sudah melakukan banyak hal untukku." Kata Bu Sri.

Pak Gunawan tersenyum hangat.

"Aku melakukan semuanya untuk kalian berdua."

Tangannya berpindah ke perut besar istrinya.

"Untuk ibu dan calon anakku."

Bu Sri tersenyum haru.

Di tengah suasana hangat itu, terdengar suara langkah berat dari arah pintu.

Aji masuk sambil membawa dua koper besar sekaligus.

Dia menurunkan koper-koper itu dengan hati-hati.

"Waduh..." katanya sambil mengusap keringat.

Semua tertawa kecil.

"Baru dua koper, Aji?" Tanya Sumi.

"Masih banyak." Katanya.

"Wah, semangat ya, Pak."

Aji menggeleng sambil tersenyum.

"Kalau saya tahu barangnya sebanyak ini, mungkin saya minta tambahan tenaga."

Tawa kembali memenuhi ruangan. Pak Gunawan lalu mengajak semuanya menuju ruang keluarga.

Tangannya tidak pernah jauh dari istrinya, sesekali dia memegangi punggung istrinya, memastikan langkahnya tetap nyaman.

Mereka tiba di ruang keluarga yang menghadap langsung ke perbukitan hijau melalui jendela kaca besar.

Bu Sri perlahan duduk di sofa. Pak Gunawan segera duduk di sampingnya.

"Nah, istirahat dulu."

"Aku tidak selelah itu."

"Tetap saja." Kata pak Gunawan.

"Kau terlalu khawatir." Ucap Bu Sri tertawa kecil.

"Aku memang khawatir."

Mbok Warsih yang melihat mereka tersenyum.

"Pak Gunawan dari dulu memang begitu kalau soal Nyonya."

"Dan itu tidak pernah berubah, kan Mas." kata Bu Sri.

"Tentu saja." Sahut Pak Gunawan.

Setelah beberapa saat beristirahat, mereka mulai berkeliling melihat isi vila.

Saat menaiki tangga menuju lantai dua, Pak Gunawan kembali menggenggam tangan istrinya.

"Pegangan."

"Mas, aku masih bisa jalan sendiri."

"Aku tahu."

"Kalau begitu lepaskan."

"Tidak mau."

Bu Sri menggeleng sambil tersenyum.

"Keras kepala."

"Anggap saja aku suami yang bertanggung jawab."

Sumi dan Lela yang berjalan di belakang mereka saling bertukar pandang lalu tertawa kecil.

"Romantis sekali." Bisik Lela.

"Iya." Jawab Sumi.

Mereka akhirnya tiba di kamar utama.

Begitu pintu dibuka, semua kembali terpukau.

Kamar itu sangat luas dengan tempat tidur besar, lemari kayu jati, dan balkon yang menghadap ke hamparan sawah.

Bu Sri berjalan menuju balkon.

Namun sebelum dia membuka pintu, Pak Gunawan lebih dulu membukanya untuknya.

Angin sejuk langsung masuk ke dalam kamar.

Bu Sri menutup mata sejenak, menikmati udara segar yang menyentuh wajahnya.

Pak Gunawan berdiri di sampingnya sambil memegang salah satu tangannya.

"Pemandangannya indah."

"Sangat indah."

"Apakah tempat ini sesuai harapanmu?"

Bu Sri menoleh dan tersenyum.

"Bahkan lebih baik dari yang aku bayangkan."

Pak Gunawan mengangguk puas.

"Itu berarti aku tidak salah memilih."

Mereka berdiri berdampingan memandang hamparan sawah yang berwarna keemasan diterpa cahaya sore.

Di belakang mereka, suara Aji yang masih bolak-balik membawa koper terdengar samar dari lantai bawah.

Namun saat itu tak ada yang memikirkan apa pun selain rasa bahagia.

Bagi Bu Sri, kehadiran suaminya yang selalu berada di sisinya membuat vila megah itu terasa lebih hangat. Dan bagi Pak Gunawan, tidak ada yang lebih penting selain menjaga istrinya tetap tenang dan nyaman sampai hari kelahiran anak mereka tiba.

1
Maure Nia
bagus KK ceritanya....lanjut....
Maure Nia
pembalasan menuju yg kedua...JD penasaran Thor siapa LG dalangnya MLM itu🤔
Nurr Tika
satu persatu orang yg membunuh akan di teror
Nurr Tika
sri masih binggung
Nurr Tika
lanjut
Nurr Tika
sri di panggil ibunya
Maure Nia
balas dendamnya memang nunggu Sri Dateng...lanjut thor
Maure Nia
kan ketemu ibumu Sri🥺🥹hah jadi ikut mewek
Siti Yatmi
aduh..sri kalo kamu tau tentang riwayat kelahiran mu...auto sedih and pilu...ga kebayang penderitaan ibu mu...
Siti Yatmi
baru ngeh kalo udh 20 tahun setan baru nongol🤣
Maure Nia
Sri itu pasti ibumu
Maure Nia
Sri itu pasti ibumu
Yulia Lia
yang manggil Sri itu ibu kandungmu sri
Yulia Lia
hutan tempat Sri di lahirkan dengan cara yg sangat tragis
Nurr Tika
ada yg menyesatkan jalan mereka
Nurr Tika
rasman ktemu ga yah
Maure Nia
Sri kamu bisa ketemu ibu kamu
Nurr Tika
lanjut
Nurr Tika
siapa yg bwa rasman ya
Yulia Lia
ayo siapakah sosok misterius itu,,,apakah ada yg tau kejadian 20 THN silam
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!