Valencia Adelia atau Cia selalu menjadi korban perundungan Amora Luca Alessandro, ratu sekolah sekaligus putri keluarga terkaya di kota. Bertahun-tahun dihina dan disakiti membuat Cia menyimpan dendam yang mendalam.
Sadar tak akan pernah bisa mengalahkan Amora secara langsung, Cia memilih cara yang tak terduga. Ia mendekati Dixon Luca Alessandro, ayah Amora yang kaya dan berkuasa, hingga berhasil menjadi istrinya.
Kini, Cia bukan lagi gadis lemah yang bisa diinjak sesuka hati. Ia telah menjadi ibu tiri Amora. Dari dalam rumah yang sama, Cia mulai menjalankan balas dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
Kemarahan Dixon telah mencapai puncaknya. Pria berusia 39 tahun itu melangkah maju dengan tatapan mata yang menggelap sempurna, kehilangan seluruh kendali atas rasionalitasnya. Tubuh raksasanya bergerak secepat kilat. Sebelum Cia sempat menghindar, tangan kekar Dixon bergerak maju dan langsung mencengkeram kuat leher ramping Cia.
Dixon mencekik leher Cia, mendorong tubuh ramping itu hingga membentur dinding kamar dengan keras.
"Ughh..." Cia mengerang tertahan. Cengkeraman tangan Dixon begitu kuat hingga pasokan udara di tenggorokannya terputus seketika. Wajah cantiknya memerah padam, dan sepasang matanya mulai berkaca-kaca menahan rasa sakit yang luar biasa. Kedua tangan kecilnya mencengkeram pergelangan tangan kekar Dixon, mencoba melonggarkan tekanan mematikan itu.
"S-Sakit... Mas... l-lepas..." cicit Cia dengan suara yang teramat serak dan kesulitan bernapas, air mata tulus akibat rasa sakit fisik mulai meleleh membasahi pipinya.
Melihat kilat ketakutan dan air mata di wajah Cia, kesadaran Dixon mendadak tersentak. Pria itu melepaskan cengkeramannya dengan sangat kasar, membuat tubuh Cia terhuyung ke depan dan hampir jatuh berlutut di lantai sembari terbatuk-batuk hebat memperebutkan sisa oksigen.
Melihat pemandangan itu dari atas ranjang, Amora menyunggingkan senyum kepuasan yang teramat pekat. Ia mendudukkan tubuhnya bersandar pada dasaran kasur mewah, menatap Cia dengan pandangan menghina.
"Daddy! Sesuai dugaanku, perempuan jalang ini memang berniat membunuhku!" seru Amora memprovokasi dengan suara yang dibuat histeris. "Daddy harus tinggalkan dia sekarang juga! Ceraikan dia dan jebloskan perempuan miskin ini ke dalam penjara!"
Mendengar hasutan itu, Cia yang masih terengah-engah perlahan menegakkan tubuhnya. Rasa sakit di leher dan lebam di pipinya mendadak memicu energi tak terduga. Sorot matanya berubah tajam. Dengan langkah yang cepat dan tegas, Cia menerobos ruang di depan Dixon, melangkah lebar mendekati ranjang Amora.
PLAK!!!
Suara tamparan yang teramat keras dan nyaring kembali menggema di dalam kamar. Kali ini, telapak tangan Cia mendarat telak, menghantam pipi mulus Amora hingga kepala gadis itu terhentak ke samping.
"Valencia!!" bentak Dixon, amarahnya kembali meledak melihat istrinya berani main fisik di depan matanya.
"Lo berani nampar gue, jalang?!" jerit Amora kesal setengah mati, memegang pipinya yang berdenyut panas dengan mata membelalak penuh dendam.
Namun, Cia tidak memberikan celah bagi siapa pun untuk memotong. Dengan tubuh yang bergetar hebat dan air mata yang mengalir deras, Cia menatap Amora dengan pandangan yang sarat akan kekecewaan mendalam dan rasa sakit yang luar biasa. Sandiwara tingkat tinggi kini ia mainkan dengan sangat agung.
"Kamu keterlaluan, Amora!" ucap Cia dengan nada suara yang bergetar hebat, terengah-engah menahan emosi yang meluap. "Bagaimana bisa... bagaimana bisa kamu melakukan tindakan sekeji ini hanya untuk menyingkirkanku?!"
Cia melangkah mundur, memegangi lehernya yang memerah bekas cekikan Dixon, lalu menatap Amora dengan tatapan yang seolah-olah hancur berkeping-keping. "Kamu boleh membenciku, Amora! Kamu boleh mencaci makiku sebagai pelayan miskin, atau bahkan mendesak Daddy-mu untuk mengusirku dari rumah ini! Aku tidak akan melawan! Tapi jangan pernah menggunakan nyawamu sendiri sebagai alat taruhan untuk menjebakku!"
Cia menoleh ke arah Dixon yang mendadak terdiam membeku, lalu kembali menatap Amora dengan histeris yang terukur. "Nyawamu itu sangat berharga, Amora! Kamu adalah putri tunggal Mas Dixon, harta paling bernilai di hidupnya! Bagaimana kalau takaran racun yang kamu masukkan ke dalam supmu tadi sedikit lebih tinggi? Kamu bisa mati, Amora! Bagaimana bisa kamu sekejam ini pada dirimu sendiri hanya demi memfitnahku?!"
Rentetan kalimat penuh keprihatinan yang keluar dari mulut Cia seketika membuat Dixon terdiam seribu bahasa. Aura kemarahan pria itu mendadak surut, digantikan oleh kebingungan yang teramat pekat. Pikirannya yang cerdas mulai menangkap ada sesuatu yang tidak beres dari reaksi emosional Cia yang tampak begitu jujur.
"Fitnah!! Daddy, dia bohong! Perempuan ini cuma memutarbalikkan fakta!" teriak Amora panik, wajahnya mulai pucat melihat perubahan ekspresi ayahnya. "Bi Sumi! Panggil Bi Sumi ke sini! Dia yang melihat semuanya!"
Asher yang sejak tadi berdiri di ambang pintu segera melangkah masuk, membawa Bi Sumi yang tampak gemetar ketakutan di belakangnya. Di tangan Asher, sebuah komputer tablet perusahaan sudah menyala.
"Maaf mengganggu, Pak Dixon," potong Asher dengan nada suara yang teramat serius dan tegas. "Sebelum Bi Sumi berbicara, saya sudah meminta tim keamanan untuk memeriksa seluruh rekaman CCTV area dapur dan koridor belakang sejak sore tadi."
Bi Sumi langsung berlutut di lantai marmer sembari menangis ketakutan. "M-Maafkan saya, Pak Dixon... Nona Amora yang memaksa saya untuk berbohong. Tadi sore, Ibu Valencia sama sekali tidak pernah menginjakkan kaki ke area dapur belakang karena beliau sedang beristirahat di kamar utama. Justru... justru Nona Amora sendiri yang masuk ke dapur saat suasana sepi."
Asher melangkah maju, memutar rekaman video di tabletnya dan menyodorkannya tepat di hadapan mata elang Dixon.
Di layar digital beresolusi tinggi itu, terlihat dengan sangat jelas garis waktu pukul lima sore. Siluet Amora tampak berjalan mengendap-endap masuk ke dalam dapur yang kosong. Gadis itu membuka tas kecilnya, mengeluarkan sebuah botol kecil berisi bubuk putih, lalu menuangkan seluruh isinya ke dalam panci sup iga yang sedang mendidih, sebelum akhirnya mengaduknya dengan terburu-buru.
Deg.
Bukti visual yang tak terbantahkan itu terpampang nyata di depan mata Dixon.
Rahang tegas sang CEO mengencang sempurna, kali ini bukan karena murka pada Cia, melainkan karena rasa syok dan kekecewaan yang teramat dalam pada putri kandungnya sendiri. Dixon memalingkan wajahnya perlahan, menatap lurus ke arah Amora dengan pandangan elang yang teramat dingin, tajam, dan mengerikan—sebuah tatapan yang menandakan bahwa sang singa telah mengetahui seluruh busuknya sandiwara sang putri mahkota.
toh Dixon ga menghargai kamu
mending kamu pergi
balas dendam bisa lewat apa aja
jarak jauh pun bisa
kamu punya bukti2 aborsi Amora
kamu bisa kirim bukti itu ke Dixon,
ngapain harus merendahkan diri sendiri
kalo Dixon cinta sama kamu pasti akan cari kamu