NovelToon NovelToon
Cinta Ini Salah Tempat. (Kau Kaka Tiriku)

Cinta Ini Salah Tempat. (Kau Kaka Tiriku)

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Fantasi
Popularitas:401
Nilai: 5
Nama Author: Denny Priyanto

Viona tumbuh di Candisari Semarang dengan selalu merasa terlindungi oleh Zidan– kakak tirinya yang sepuluh tahun lebih tua. Sejak ayahnya tiada, Zidan selalu ada buat dia.
pelindung, guru, bahkan tempat curhat setiap kali dia punya masalah. Perlahan, rasa kagum yang dulu ada berubah jadi sesuatu yang lebih dalam. Viona tahu bahwa cinta pada kakak tiri itu tidak boleh ada, tapi perasaan itu seperti akar yang tumbuh dalam hati, sulit untuk dihilangkan.
Sampai hari itu datang, saat Zidan dengan bangga memperkenalkan Gina sebagai calon istri di ulang tahunnya yang ke-30. Dunia Viona seolah runtuh. Akhirnya dia berani mengungkapkan semua yang ada di dalam hati, tapi Zidan menolaknya dengan lembut tapi tegas:

"Aku hanya bisa melihat kamu sebagai adik perempuanku, sebagai mana cinta dan kasih sayang antara Kaka & Adik. Tidak lebih dari itu."

Untuk menyembuhkan luka dan menempatkan Cinta yang salah, Cara apa yang harus Viona lakukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Priyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Topeng Yang Retak

Keesokan paginya, matahari di Semarang tampak enggan menyinari langit. Awan kelabu masih menggantung rendah, seolah-olah alam pun menahan napas menunggu reaksi kota terhadap pengakuan Zidan dan Viona. Namun, di dalam ruang kerja udara terasa dingin karena AC, bukan karena cuaca.

Zidan duduk di balik meja kerjanya yang luas, menatap layar laptop. Di sebelahnya, secangkir kopi hitam sudah dingin. Matanya lelah, bukan karena kurang tidur, tapi karena semalaman ia memantau laporan krisis dari tim humas. Saham Ardhan Group memang turun 1,5% saat pembukaan pasar pagi ini. Angka itu kecil bagi sebagian orang, tapi bagi konglomerat seperti Ardhana, itu adalah sinyal bahaya.

Pintu ruangan diketuk pelan.

"Masuk," ucap Zidan tanpa mengalihkan pandangan dari layar.

Viona masuk dengan langkah hati-hati. Ia mengenakan setelan kantor berwarna navy yang sederhana namun elegan, rambutnya diikat rapi ke belakang. Wajahnya pucat, ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya, namun senyumnya tetap sempurna. Di tangannya, ia membawa sebuah folder tebal.

"Pagi, Kak," sapa Viona lembut. Ia meletakkan folder itu di atas meja Zidan. "Ini revisi proposal untuk Yayasan Cahaya Hati. Aku menambahkan poin tentang transparansi dana dan kolaborasi dengan universitas lokal, seperti yang Ayah sarankan kemarin malam."

Zidan akhirnya menoleh. Ia menatap Viona, lalu menatap folder itu. Ada kekaguman di matanya. Viona tidak menghabiskan pagi harinya untuk menangis atau bersembunyi di kamar. Ia bekerja. Ia membuktikan kata-katanya.

"Kamu tidak tidur?" tanya Zidan, suaranya lebih halus dari biasanya.

"Tidur sebentar. Tapi pikiranku terlalu ramai untuk bisa istirahat nyenyak," jawab Viona jujur. Ia menarik kursi di hadapan Zidan dan duduk.

"Aku membaca berita lagi, Kak. Ada artikel opini yang menulis bahwa hubungan kita adalah 'bentuk pemberontakan anak muda kaya yang bosan'. Mereka bilang kita tidak paham penderitaan rakyat."

Zidan mendengus kesal.

"Mereka hanya butuh kambing hitam. Jangan ambil hati."

"Aku tidak mengambil hati, Kak. Justru... aku jadi berpikir. Mungkin mereka benar soal satu hal:

"Jika kita ingin membuktikan bahwa cinta ini membuat kami lebih bermanfaat, mungkin kita harus turun langsung. Bukan sekadar donasi lewat transfer bank, tapi hadir di lapangan."

Zidan mengangkat alis, tertarik. "Maksudmu?"

"Yayasan Cahaya Hati punya program pembangunan perpustakaan desa di daerah terpencil Jawa Tengah. Biasanya, kita hanya mengirim uang dan kontraktor. Bagaimana jika minggu depan, kita pergi ke sana? Kita temui warganya. Kita lihat sendiri progresnya. Biarkan kamera merekam kita bekerja, bukan sekadar berpose."

Zidan terdiam sejenak, mempertimbangkan ide itu. Itu berisiko. Pergi ke daerah terpencil berarti meninggalkan kenyamanan dan keamanan.

Mereka akan mudah diakses oleh wartawan atau bahkan warga yang mungkin masih marah. Tapi di sisi lain, itu adalah bukti nyata ketulusan.

"Itu ide yang berani, Vion," ucap Zidan akhirnya, senyum tipis muncul di bibirnya.

"Ayah pasti akan setuju. Itu menunjukkan kepemimpinan, bukan sekadar pencitraan."

Tiba-tiba, ponsel Zidan berdering. Nama "Pak Wahyu" muncul di layar. Zidan segera menjawab dan mengaktifkan speaker.

"Selamat pagi, Yah," sapa Zidan.

"Zidan, Viona. Kalian sudah baca email dari direksi utama?" suara Pak Wahyu terdengar berat, tanpa basa-basi.

"Sudah, Yah," jawab Zidan. "Kami sedang membahasnya."

"Ada investor dari Singapura, Tuan Lim, yang ingin bertemu siang ini. Dia bukan tipe yang peduli gosip media, tapi dia peduli stabilitas. Dia ingin memastikan bahwa fokus kalian tidak terpecah. Dan..." Pak Wahyu berhenti sejenak. "Dia juga mendengar rumor bahwa Viona memiliki ide brilian untuk efisiensi distribusi buku yayasan. Dia ingin mendengarnya langsung darimu, Viona."

Viona terkejut. Ia menatap Zidan, yang mengangguk memberi dukungan.

"Siap, Yah. Kami akan bersiap untuk pertemuan itu," jawab Viona dengan suara yang lebih tegas dari yang ia kira mampu ia keluarkan.

"Bagus. Ingat janji kalian. Jangan buat aku malu. Dan jangan buat diri kalian sendiri malu."

Telepon dimatikan.

Viona menghela napas panjang.

"Tuan Lim dikenal sangat kritis. Jika presentasiku gagal..."

"Kamu tidak akan gagal," potong Zidan. Ia berdiri, berjalan mengelilingi meja, dan berdiri di belakang kursi Viona. Ia meletakkan kedua tangannya di bahu wanita itu, memberikan kehangatan. "Kamu tahu data itu lebih baik daripada siapa pun di divisi ini. Kamu peduli pada yayasan itu dengan tulus, bukan karena kewajiban. Orang seperti Tuan Lim bisa mencium kepalsuan dari jarak satu kilometer. Tampilkan ketulusanmu, Vion. Itu senjata terkuatmu."

Sentuhan Zidan menenangkan detak jantung Viona yang kencang. Ia menoleh, menatap mata Zidan. Di sana, ia tidak melihat keraguan. Ia melihat keyakinan.

"Terima kasih, Kak," bisik Viona.

"Sama-sama. Sekarang, mari kita bedah ulang presentasimu. Kita punya waktu tiga jam sebelum Tuan Lim datang."

Pertemuan dengan Tuan Lim berlangsung tegang. Ruang rapat besar itu dipenuhi oleh para direksi senior yang duduk dengan wajah datar. Tuan Lim, seorang pria paruh baya berkacamata tebal dengan aura intimidatif, duduk di ujung meja.

Viona berdiri di depan layar proyektor. Tangannya sedikit gemetar saat ia memegang clicker, namun saat ia mulai berbicara, suaranya stabil. Ia tidak berbicara tentang angka-angka kering semata. Ia bercerita tentang anak-anak di desa yang harus berjalan lima kilometer untuk meminjam buku, tentang harapan mereka, dan bagaimana efisiensi distribusi bisa mengubah nasib mereka.

Ia menunjukkan data, ya, tapi ia membungkusnya dengan narasi kemanusiaan. Ia berbicara dengan passion yang jarang dilihat oleh para direksi konservatif itu.

Saat sesi tanya jawab, Tuan Lim mengajukan pertanyaan jebakan.

"Nona Viona, banyak yang mengatakan keterlibatan Anda dalam bisnis keluarga hanyalah karena nepotisme, diperparah dengan skandal pribadi Anda baru-baru ini. Mengapa kami harus percaya bahwa keputusan strategis Anda didasarkan pada kompetensi, bukan emosi?"

Ruangan hening. Semua mata tertuju pada Viona. Ini adalah serangan langsung.

Viona tidak langsung menjawab. Ia menarik napas, mengingat kata-kata Zidan: Tampilkan ketulusan.

"Tuan Lim," mulai Viona, menatap lurus ke arah investor tersebut.

"Emosi memang bagian dari manusia. Saya tidak menyangkal bahwa hubungan saya dengan Kak Zidan adalah hal pribadi. Namun, kompetensi saya dalam mengelola yayasan ini telah terbukti selama dua tahun terakhir, jauh sebelum isu ini menjadi publik. Laporan audit independen tersedia untuk Bapak tinjau."

Ia melangkah selangkah ke depan.

"Mengenai nepotisme, saya setuju itu berbahaya. Tapi izinkan saya bertanya balik: apakah lebih berbahaya memiliki pemimpin yang dipilih karena darah, atau pemimpin yang dipaksa menyembunyikan jati dirinya sehingga bekerja dalam ketakutan dan stres? Saya memilih untuk jujur. Saya memilih untuk terbuka. Dan karena kejujuran itu, saya kini bekerja dengan kepala yang jernih, tanpa beban rahasia. Hasil kerja saya bulan ini meningkat 20% dibandingkan bulan-bulan sebelumnya saat saya masih tertekan. Jadi, jika Bapak mencari kompetensi, lihatlah hasil kerjanya, bukan gosip di media sosial."

Hening mencekam selama beberapa detik.

Kemudian, Tuan Lim tersenyum tipis. Senyum yang sulit diartikan.

"Jawaban yang menarik, Nona Viona. Sangat... manusiawi. Dan logis." Ia menutup notebooknya.

"Saya setuju untuk melanjutkan investasi tahap kedua. Dengan catatan, saya ingin melihat laporan progres perpustakaan desa itu secara langsung bulan depan."

Rasa lega yang luar biasa menyergap dada Viona. Ia hampir ambruk karena lututnya lemas, namun ia bertahan hingga Tuan Lim dan para direksi keluar dari ruangan.

Saat pintu tertutup, Zidan yang sejak tadi diam memperhatikan dari sudut ruangan, berjalan cepat menghampiri Viona. Ia memeluknya erat, mengangkat tubuh Viona sedikit dari lantai.

"Kamu luar biasa, Vion," bisik Zidan di telinganya. "Aku bangga padamu."

Viona tertawa kecil, air mata haru menggenang di matanya. "Kita berhasil, Kak. Langkah pertama."

"Ya," jawab Zidan, melepaskan pelukan namun tetap menggenggam tangan Viona. "Tapi ingat, ini baru awal. Badai belum reda sepenuhnya. Tapi setidaknya, kita sudah belajar cara menari di tengah hujan."

Di luar jendela, awan kelabu mulai tersibak sedikit, memungkinkan seberkas sinar matahari emas menembus masuk, menerangi ruang rapat yang tadi terasa begitu dingin. Itu adalah tanda kecil, namun bagi Zidan dan Viona, itu adalah simbol harapan yang nyata.

Mereka telah membuktikan bahwa kebenaran, meski pahit dan penuh risiko, memiliki kekuatan untuk membuka pintu-pintu yang sebelumnya tertutup rapat. Dan mereka siap menghadapi babak berikutnya, bersama-sama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!