NovelToon NovelToon
The Last Golden Rose: Kebangkitan Putri Terbuang

The Last Golden Rose: Kebangkitan Putri Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: SweetMoon2025

​"Bagaimana setangkai mawar membalas dendam saat kelopaknya ditarik habis?"

​Dicap kutukan karena berambut red wine dan bermata storm silver, Annaline diusir dan kamarnya dibakar oleh keluarga kandungnya. Namun, pelarian ke Imperium Aethelgard justru membangkitkan rahasia darah 400 tahun lalu: Thread Magic, sang Sihir Benang Takdir.

​Bersama prajurit misterius bermata perak yang menyimpan otoritas tertinggi, Annaline mulai merajut jaring perang dan bisnis lewat butik barunya.

​Siapakah pria itu sebenarnya? Dan rahasia kelam apa yang akan terkoyak saat sang putri terbuang mulai menarik benang kehancuran mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SweetMoon2025, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7. Rencana Kehidupan Baru

​Srek!

​Annaline buru-buru menarik kembali kain hitam tebal itu untuk menutupi permukaan cermin yang masih beriak. Ia melangkah mundur dengan tergesa-gesa dengan tangan sedikit gemetar, membalikkan tubuh tepat saat bayangan Marry muncul di ujung tangga gudang bawah tanah.

​"Nona Anna? Astaga, Bibi mencari Anda ke mana-mana. Sedang apa di bawah sini sendirian?" tanya Marry seraya melangkah turun, menatap cemas wajah Annaline yang tampak sedikit pucat.

​Annaline menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya. "Ah, tidak apa-apa, Bi. Aku ... aku hanya penasaran dengan isi gudang ini."

​Marry melirik sekilas ke arah gundukan kain hitam di sudut ruangan, matanya berkilat waspada selama sepersekian detik sebelum kembali tersenyum lembut. "Gudang ini terlalu berdebu dan dingin untuk Anda, Nona. Ayo naik ke atas, kita makan siang, masakan sudah matang."

​"Baiklah, Bi. Perutku juga sudah lapar," sahutnya, memaksakan seulas senyum tipis lalu melangkah mendahului Marry naik ke lantai atas.

​Aroma sup gandum hangat dan daging asap langsung menyambut mereka di meja makan kayu yang sederhana. Paul sudah duduk di sana, menyeka keringat di dahinya setelah lelah membetulkan pagar depan rumah mereka yang reyot dengan kayu bekas yang Paul temukan di samping rumah.

​"Supnya enak sekali, Bi," puji Annaline setelah sesendok sup hangat melewati tenggorokannya. Namun, saat tatapannya turun ke mangkuk saji, ia menyadari sesuatu. Porsi sup hari ini jauh lebih encer, dan potongan daging asapnya sangat sedikit.

​Annaline meletakkan sendoknya perlahan. "Bibi Marry, stok makanan kita ... sudah menipis, ya?"

​Marry yang sedang menuangkan air ke cangkir Paul langsung tertegun. Ia menghela napas pasrah. "Benar, Nona. Pasokan makanan yang sempat saya bawa sudah hampir habis hari ini."

​Annaline bangkit berdiri, melangkah ke kamar lantai atas, lalu kembali dengan sebuah kantong kain yang bergemerincing berat, ia meletakkannya di atas meja dan mendorong ke arah Marry.

​"Gunakan ini, Paman, Bibi. Ini seratus koin emas dari ibuku, ditambah sedikit tabungan pribadiku," ujar Annaline tulus. "Ambil ini. Gunakan untuk kebutuhan kita."

​Paul menatap kantong emas itu, lalu menatap halaman belakang rumah mereka yang sangat luas melalui jendela kaca. "Nona, jika boleh saya menyarankan ... daripada terus membeli bahan makanan yang harganya tidak murah di pusat kota, bagaimana jika halaman belakang kita manfaatkan saja?"

​"Dimanfaatkan bagaimana, Paman?" tanyanya penasaran.

​"Halamannya cukup luas dan tanahnya subur," potong Paul bersemangat. "Kita bisa beternak ayam dan bebek, membuat kolam kecil untuk ikan, dan menanam benih sayuran serta buah sendiri."

​Mata Annaline berbinar seketika. "Ide bagus! Kalau begitu, sore ini juga kita pergi ke pasar untuk membeli semua keperluan!"

​Sore harinya, pasar Solmara tampak begitu riuh. Bau tanah basah, aroma rempah, dan suara riuh rendah pedagang berbaur menjadi satu. Annaline berjalan di antara Paul dan Marry, merapatkan tudung jubah wolnya untuk menyembunyikan rambut merah anggur dan matanya.

​"Bibit sayurnya segar-segar, Paman! Ah, itu ikan kecil juga jangan lupa, Paman beli dua puluh ekor. Bagaimana?" ujarnya riang.

"Siap, Nona."

"Bi, ayo kita beli yang lain. Kita beli stok makanan disebelah sana. Aku lihat biji gandumnya bagus."

"Iya, Nona. Mari kita kesana."

Saat Marry dan Paul sibuk dengan tawar menawar membeli kebutuhan mereka. Annaline melangkah beberapa langkah ke samping, mendekati sebuah lapak tanaman hias. Di sana, seorang wanita dari ras Elf berambut perak panjang sedang menata pot-pot bunga. Kupingnya yang runcing bergerak-gerak anggun dna lucu.

​Annaline yang takjub melihat kecantikan Elf itu tanpa sadar menyenggol salah satu pot gantung di dekatnya hingga bergoyang keras dan ....

​BRAK!

​Pot tanah liat itu jatuh dan pecah di atas tanah, mengotori beberapa tanaman hias di bawahnya.

​"Heii! Apa yang kau lakukan, Manusia?!" sentak wanita Elf itu dengan nada tinggi dan ketus. Matanya menatap Annaline dengan pandangan merendahkan dari atas ke bawah. "Dasar gadis ceroboh! Lihat apa yang sudah kau lakukan pada tanaman berhargaku!"

​"Maaf ... maafkan aku, aku tidak sengaja," ujar Annaline gugup, refleks membungkuk untuk membersihkan pecahan pot tersebut. Namun karena panik, jubah wolnya sedikit turun. Rambut merah anggurnya yang pekat mengintip keluar, bersamaan dengan tudungnya yang merosot, menampilkan sepasang mata storm silver-nya yang jernih di bawah sinar sore.

​Wanita Elf itu mendadak membeku. Tatapannya terpaku pada sepasang netra perak Annaline. "Eh, kau ... kau—"

​"Ada apa ini?!" Suara bariton Paul yang berat dan sarat akan intimidasi mendadak menginterupsi. Paul langsung berdiri di depan Annaline, menyembunyikan tubuh nona mudanya di balik punggungnya yang tegap, sementara Marry dengan cepat menarik kembali tudung jubah Annaline hingga tertutup rapat.

​Paul melemparkan beberapa koin perak ke atas meja lapak dengan kasar. "Ini koin untuk mengganti kerugian potmu yang pecah, Nyonya. Anggap masalah ini selesai."

​Melihat aura Paul yang mendadak berubah mengerikan penuh wibawa, wanita Elf itu meneguk ludah susah payah. Ia buru-buru menyapu koin-koin itu ke dalam sakunya dan mendengus.

"Pergi dari lapakku sekarang."

​Paul dan Marry segera menuntun Annaline menjauh dari keramaian pasar, membawa langkah mereka kembali ke arah jalur sepi menuju rumah tua. Sepanjang jalan, atmosfer di antara mereka berubah menjadi sangat tegang.

"Maafkan, aku. Aku ... aku tidak bermaksud mengacau. Maaf," lirih Annaline dengan rasa bersalahnya.

"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Nona. Kami mengerti. Oh, iya tadi saya beli susu segar dan juga roti lembut untuk makan malam kita."

"Wah, benarkah? Sudah lama aku tidak minum susu segar. Terima kasih bibi Marry," ucap Annaline berusaha mencairkan suasana yang menegang ini.

​Begitu mereka melewati pagar rumah dan menutup pintu kayu depan dengan rapat, Paul membalikkan tubuhnya. Wajah pria paruh baya itu tampak sangat serius, ekspresi yang belum pernah ia lihat sebelumnya sejak mereka tiba di Solmara.

​Paul melangkah mendekat, menatap Annaline lekat-lekat dengan pandangan mata yang sarat akan kecemasan mendalam.

​"Nona Annaline," panggil Paul, suaranya ditekan serendah mungkin namun terdengar begitu serius. "Saya harus memperingatkan Anda dengan sangat serius mulai sekarang."

​Annaline terdiam, meremas ujung jubahnya merasa takut. "Ada apa, Paman Paul?"

​"Ingat posisi kita sekarang, Nona. Kita berada di jantung kekaisaran negeri baru. Saya harap Nona kedepan tidak menimbulkan kecurigaan di tempat umum," bisik Paul dengan nada tajam yang membuat bulu kuduk Annaline meremang.

"Dan juga, jangan pernah menyebutkan nama asli anda terlebih nama keluarga Virelle dan yang paling penting ... selalu waspada saat kita berada di luar rumah."

1
Anne Soraya
lanjut
Sweet Moon |ig:@sweet.moon2025: siap kaka 😍🫶
total 1 replies
Razi Maulidi
awal bab yang indah kk.... ceritanya bikin sedih di awalnya.... semangat....
Sweet Moon |ig:@sweet.moon2025: Terimakasih kak 🫶🤗
total 1 replies
WidBy
Lanjut kak 🤭
Mutiara
Kok belum up lagi?
Mutiara
5 bab Thor? keren bnget. besok 5 bab LG kan? 🤭
WidBy
lanjut thor
한스 HANSEN (HiAtus SEmeNtara)
aku hadir mom!
Sweet Moon |ig:@sweet.moon2025: Yes, dear. Thankyouuu 🫶🫶🫶
total 1 replies
Vhin Ananta
Sweet yang nggak Sweet karena bikkn mewek 🫣..
lanjut yaaaaa
Sweet Moon |ig:@sweet.moon2025: Terimakasih Kak Vhin 😘😘😘
total 1 replies
Mutiara
makin seru ni. keren la pokknya. jadi cermin itu apa y?
WidBy
Aetan mulai tertarik ke Ana ya? 🤭
Cutiepie18
Di bab awal udah sedih banget ya, di tambah di akhir makin kena fitnah, pasti ini cewek kuat banget ngadepin semua itu, dan pas waktu perkataan itu, gue penasaran, siapasih tunangan yang di rebut itu. emgnya dia pantas direbutkan?... lanjuuut...😍
Cutiepie18: sama2 kakak, 😍😍😍... keren bgt novel novel kakk👍
total 2 replies
Mutiara
Aku mau saputangana 😍
Mutiara
wih paman Paul keren banget Weh. ternyata ya ternyata 👍🤭
WidBy
rumah siapa y? ayo bangkit An, tunjukkan k keluarga Virelle
Asley Naynay
makin penasarn rumah siapa yg di tempati? semoga aja mary sm paul g jahat
Sweet Moon |ig:@sweet.moon2025: Rumah siapa ya hmmm ikuti terus ya, Kak 😆🫶
total 1 replies
Asley Naynay
Nyonya Rosa 😭🫶🏼 bikn trharu
Asley Naynay
siapa yang sangka ternyata Paman Paul 😱👍💪
Mutiara
sialan. apes banget jadi Analin. lawan ayo lawan
Mutiara
anjg di usir. pdhl anak kandung. woilah
Sweet Moon |ig:@sweet.moon2025: Sabar, Kak sabar 😆🫶
total 1 replies
Mutiara
bab satunya seru. kasian banget analin y. jahat keluarganya
Sweet Moon |ig:@sweet.moon2025: Iya ya, Kak 🥲 baca terus bab seru lainnya ya 🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!