Meski terus didera sulitnya hidup, Faris tak pernah lupa dengan mimpinya yang ingin jadi insinyur. Ketika dia difitnah dan dipenjara karena sebuah insiden, saat itulah sistem muncul untuk membantunya mengejar profesi impian.
DING!
"Selamat datang di sistem profesi terhebat!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chaptet 19 - Level Meningkat
Faris menarik napas panjang ketika mobil yang dikendarai Pak Adi memasuki gang sempit menuju rumahnya. Sudah lama dia tidak melihat lingkungan itu. Jalanan kecil yang dipenuhi pot bunga di depan rumah warga, suara anak-anak yang sedang bermain sepeda, serta aroma masakan dari dapur para tetangga membuat dadanya terasa hangat. Selama beberapa minggu terakhir ia hanya melihat tembok-tembok lapas. Kini, pemandangan sederhana itu justru terasa begitu berharga.
Mobil berhenti tepat di depan rumah sederhana milik Siti. Cat temboknya memang mulai memudar, tetapi halaman kecil di depannya tampak jauh lebih rapi dibanding sebelumnya. Rupanya Bu Nuri benar-benar membantu merawat rumah selama Faris berada di lapas.
Faris turun perlahan sambil membawa tas berisi barang-barang pribadinya. Ia memandangi rumah itu beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum.
"Akhirnya pulang juga."
Pak Bandi menepuk pundaknya. "Mulai hari ini, fokuslah menjalani hidupmu lagi. Masalah hukum biar polisi yang menangani."
Pak Adi ikut tersenyum. "Kalau nanti butuh pekerjaan, datang saja ke workshop. Tempatmu selalu ada."
Faris menatap kedua pria yang sudah berjasa mengubah hidupnya itu dengan mata berkaca-kaca.
"Terima kasih, Pak. Saya tidak akan pernah melupakan semua bantuan Bapak berdua."
Pak Bandi hanya tersenyum. "Kalau memang ingin membalas budi, jadilah orang sukses. Itu sudah lebih dari cukup."
Faris mengangguk mantap. "Saya janji."
Setelah berpamitan, mobil Pak Bandi dan Pak Adi perlahan meninggalkan halaman rumah. Faris berdiri beberapa saat memperhatikan mobil itu hingga menghilang di tikungan gang. Barulah ia masuk ke dalam rumah.
Begitu membuka pintu, aroma khas rumah yang begitu dikenalnya langsung menyambutnya. Tidak ada perabot mewah. Hanya ruang tamu sederhana dengan sofa lama dan meja kayu yang sudah beberapa kali diperbaiki olehnya.
Namun rumah itu tetap terasa paling nyaman.
"Ibu?"
Siti keluar dari kamar sambil tersenyum. "Ibu di sini."
Faris segera menghampirinya. "Ibu jangan banyak bergerak."
Siti tertawa kecil. "Ibu sudah jauh lebih baik."
Memang wajah wanita itu masih terlihat sedikit pucat, tetapi kondisinya jauh lebih segar dibanding terakhir kali Faris melihatnya. Langkahnya memang masih pelan sehingga sesekali harus berpegangan pada dinding, tetapi setidaknya ia sudah mampu berjalan sendiri.
"Dokter bilang ibu harus banyak istirahat," kata Bu Nuri yang baru keluar dari dapur sambil membawa teh hangat. "Tekanan darahnya juga mulai stabil."
Faris mengembuskan napas lega. "Syukurlah."
Siti tersenyum lembut. "Melihat kamu pulang saja, rasanya penyakit ibu sudah berkurang setengah."
"Ibu jangan bilang begitu."
Siti menggeleng. "Kamu baru keluar dari lapas. Istirahat dulu."
Faris tersenyum.."Aku memang akan istirahat. Tapi cuma hari ini."
Bu Nuri tertawa kecil. "Baru pulang saja sudah memikirkan kerja."
Faris menggaruk kepala. "Kalau tidak bekerja, kita makan apa nanti?"
Mereka bertiga pun tertawa bersama. Untuk pertama kalinya sejak sekian lama, rumah kecil itu kembali dipenuhi tawa.
Malam harinya, setelah makan malam sederhana dan mengobrol cukup lama, Siti akhirnya masuk ke kamar untuk beristirahat. Bu Nuri pun berpamitan pulang karena rumahnya tidak terlalu jauh.
Kini rumah kembali sunyi. Faris masuk ke kamarnya sendiri. Semua barang masih berada di tempat yang sama. Meja belajar tua, rak buku berisi buku teknik, hingga beberapa gambar rancangan bangunan yang pernah dibuatnya sebelum ditangkap. Ia duduk di atas ranjang sambil mengembuskan napas panjang.
"Akhirnya sendirian."
Belum sempat dia berbaring, suara yang sudah sangat dikenalnya kembali terdengar.
DING!
[Selamat datang kembali, pengguna.]
Faris tersenyum.."Sekarang waktunya belanja."
Layar biru langsung muncul di depannya.
════════════════════
TOKO SISTEM TINGKAT DUA
Saldo Poin : 1.007.420
════════════════════
Paket Kekayaan Awal
100.000 poin
Paket Insinyur Profesional
150.000 poin
Paket Bela Diri Dasar
120.000 poin
Paket Karisma dan Daya Tarik
80.000 poin
Paket Analisis Teknik Lanjutan
200.000 poin
════════════════════
Faris mengusap dagunya. "Harganya masih masuk akal."
[Sistem memberikan diskon bagi pengguna baru Toko Tingkat Dua.]
"Wah, baik sekali."
[Sistem sedang meningkatkan kepuasan pelanggan.]
Tanpa berpikir lama, Faris langsung menunjuk paket pertama.
"Aku beli Paket Kekayaan Awal."
DING!
[100.000 poin dipotong.]
Dalam sekejap, layar baru muncul.
[Paket berhasil diaktifkan.]
[Pengguna memperoleh kemampuan manajemen keuangan tingkat tinggi.]
[Insting membaca peluang usaha meningkat.]
[Kemampuan negosiasi meningkat.]
[Jaringan kesempatan bisnis mulai terbuka.]
Faris mengangkat alis. "Cuma itu?"
[Silakan periksa rekening pengguna.]
Faris segera mengambil ponselnya. Begitu aplikasi perbankan terbuka, matanya langsung membelalak.
Saldo rekeningnya bertambah cukup besar dari hasil pencairan dana bantuan sistem yang dikemas sebagai keuntungan investasi dan aset legal yang kini tercatat atas namanya.
"Astaga... Ini benar-benar legal?"
[Semua aset memiliki asal-usul yang sah.]
Faris mengembuskan napas lega. "Bagus. Kalau begitu lanjut." Ia kembali membuka toko. "Beli Paket Insinyur Profesional."
DING!
[150.000 poin dipotong.]
Detik berikutnya, kepala Faris terasa sedikit berdenyut. Ribuan informasi mengalir masuk ke dalam pikirannya. Perhitungan struktur bangunan, desain jembatan, sistem drainase modern, teknologi beton terbaru, hingga berbagai standar konstruksi seolah langsung tertanam di dalam otaknya.
Beberapa menit kemudian rasa pusing itu menghilang. Faris membuka salah satu buku teknik di meja. Tanpa sadar dia langsung menemukan beberapa kesalahan kecil dalam contoh perhitungan yang dulu menurutnya sangat rumit.
"Hebat..."
[Saat ini kemampuan teknik pengguna setara dengan seorang insinyur profesional berpengalaman.]
Faris tersenyum puas. "Berikutnya. Beli Paket Bela Diri Dasar."
DING!
[120.000 poin dipotong.]
Tubuh Faris langsung terasa hangat. Otot-ototnya menegang sesaat sebelum kembali rileks. Ia spontan berdiri.
Tanpa sadar tubuhnya melakukan beberapa gerakan yang sama sekali belum pernah dipelajarinya. Semua terasa alami, seolah-olah ia telah berlatih selama bertahun-tahun.
Faris berhenti sambil tersenyum kagum. "Aku benar-benar bisa."
[Saat ini pengguna menguasai dasar pertahanan diri, keseimbangan tubuh, serta refleks tempur.]
"Kalau bertemu Doni lagi..."
[Peluang menang meningkat menjadi 68%.]
Faris terkekeh. "Lumayan."
Terakhir, ia membuka menu yang tersisa. "Paket Karisma dan Daya Tarik."
Ia sempat terdiam beberapa detik. "Namanya agak aneh."
[Paket meningkatkan kemampuan membangun kesan positif dalam interaksi sosial.]
"Nah, penjelasannya lebih masuk akal. Ambil!"
DING!
[80.000 poin dipotong.]
Tidak ada rasa sakit ataupun perubahan besar. Hanya sensasi hangat yang mengalir perlahan ke seluruh tubuhnya.
Layar status kemudian muncul.
════════════════════
STATUS PENGGUNA
Kecerdasan : 91
Analisis Teknik : 95
Kekuatan : 72
Refleks : 74
Kharisma : 63
Daya Tarik : 61
Kepercayaan Diri : 70
════════════════════
Faris berkedip beberapa kali.
"Naiknya banyak juga."
[Perubahan bersifat alami.]
"Jadi bukan membuat wajahku berubah?"
[Tidak.]
[Pengguna tetap menjadi dirinya sendiri.]
[Namun pembawaan, komunikasi, dan kepercayaan diri meningkat sehingga lebih mudah memberikan kesan positif kepada orang lain.]
Faris mengangguk puas. "Nah, itu lebih masuk akal."
Ia berjalan menuju cermin. Wajahnya memang masih sama. Namun entah mengapa, sorot matanya tampak lebih tajam, posturnya lebih tegap, dan senyumnya terlihat lebih percaya diri. Perubahannya halus, tetapi terasa nyata.
"Sekarang aku mengerti."
[Sistem tidak mengubah identitas pengguna.]
"Hanya memaksimalkan potensinya."
[Benar.]
Faris tersenyum puas. Dengan sisa ratusan ribu poin yang masih dimilikinya, dia memutuskan tidak berbelanja lagi malam itu.
"Aku simpan sisanya."
[Keputusan bijaksana.]
"Besok mungkin ada paket yang lebih mahal."
[Sangat mungkin.]
Faris mematikan layar sistem lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur. Sudah lama dia tidak tidur di kamar sendiri. Beberapa menit kemudian, matanya mulai terpejam.
Di tempat lain, suasana jauh berbeda. Sebuah rumah kontrakan di pinggir kota digerebek polisi pada dini hari.
"POLISI!"
"Pintu dibuka!"
BRAK!
Pintu langsung didobrak. Dua orang pemuda yang sedang berusaha kabur lewat jendela langsung terkejut.
"Arman!"
"Zaki!"
"Kalian ditangkap!"
Arman mencoba melawan, tetapi seorang polisi lebih dulu menjatuhkannya ke lantai.
Sementara itu, Zaki baru beberapa langkah berlari sebelum berhasil diringkus petugas lain.
"Borgol mereka!"
"Siap!"
Dalam hitungan menit, kedua mahasiswa itu sudah dibawa keluar rumah dengan tangan terborgol.
Arman menggertakkan gigi.n"Sial!"
"Semua gara-gara Faris!"bZaki ikut menundukkan kepala dengan wajah pucat.
"Aku tidak menyangka semuanya terbongkar."
"Kita seharusnya menghabisinya sejak awal."
Polisi langsung mendorong mereka masuk ke mobil tahanan.
"Diam!"
"Kalian bisa bicara nanti saat pemeriksaan."
Sementara itu, satu nama masih belum ditemukan. Sejak dua hari terakhir, Yudi hidup berpindah-pindah tempat. Uangnya hampir habis. Ponselnya sudah dibuang agar tidak terlacak.
Malam itu dia bersembunyi di bawah kolong sebuah jembatan tua di pinggir sungai. Bau air yang kotor bercampur lumpur memenuhi udara.
Yudi duduk memeluk lutut dengan wajah kusut. Rambutnya berantakan. Pakaiannya kotor. Tidak ada lagi penampilan rapi seperti mahasiswa kaya yang dulu selalu dipuji banyak orang.nTangannya mengepal kuat.
"Faris..."
Matanya dipenuhi kebencian. "Kalau bukan karena dia, aku tidak akan jadi begini."
Ia sama sekali tidak menganggap dirinya bersalah. Dalam pikirannya, semua penderitaan yang dialaminya sekarang berasal dari satu orang. Siapa lagi kalau bukan Faris.
"Aku bersumpah... Aku akan membuatmu menyesal."
Di kejauhan, suara sirene polisi kembali terdengar memecah kesunyian malam. Yudi segera menundukkan tubuhnya lebih dalam ke balik bayangan jembatan.