Naura Adisty, seorang reporter muda yang ambisius, terjebak dalam kekacauan demonstrasi kampus yang justru mempertemukannya dengan Kaelith Atharrazka, ketua BEM yang angkuh namun karismatik. Pertemuan yang diawali dengan insiden cedera dan perdebatan sengit itu menjadi awal mula Kaelith terus mengusik hari-hari Naura dengan godaan khas "berondong" yang menyebalkan sekaligus menggemaskan.
Namun, di balik layar organisasi BEM yang penuh intrik, Naura tanpa sengaja mengungkap skandal korupsi besar yang menyeret nama ayah Kaelith. Ketika ancaman teror mulai mengincar nyawa Naura, Kaelith pun menanggalkan sifat jahilnya untuk menjadi pelindung utama sang reporter. Kini, di tengah bahaya yang mengintai dan beban moral yang menghimpit, keduanya harus memilih antara mengungkap kebenaran yang pahit atau mempertahankan cinta yang baru saja bersemi di tengah konspirasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohlyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Celah Rahasia
Sinar lampu neon yang dingin dan berdengung di ruang interogasi Polda terasa menusuk mata Naura. Sudah hampir enam jam ia dan Kaelith dipisahkan di ruangan berbeda untuk memberikan kesaksian. Di depannya, seorang penyidik wanita dengan seragam rapi menatapnya dengan tatapan datar namun profesional.
"Naura Adisty," ujar penyidik itu sambil menuliskan sesuatu di berkasnya. "Pengakuanmu tentang aliran dana yayasan konsisten dengan bukti digital yang kami sita. Namun, ada satu hal yang mengganjal. Bagaimana mungkin seorang reporter magang dan seorang ketua BEM bisa memiliki akses ke enkripsi tingkat tinggi perusahaan sekelas Grup Atharrazka?"
Naura menarik napas panjang. Ia sudah mengantisipasi pertanyaan ini. "Semuanya berawal dari keberanian Kaelith untuk mengambil risiko. Dia yang mendapatkan kuncinya, saya yang memverifikasinya. Kami bekerja sama bukan karena kami peretas profesional, tapi karena kami tidak punya pilihan lain untuk membongkar kejahatan ini."
Penyidik itu mengangguk pelan, seolah sedang menimbang-nimbang kejujuran Naura. "Banyak orang di luar sana, termasuk pengacara Pramudita, mengklaim bahwa data itu direkayasa. Mereka menuduh kalian berdua bekerja sama dengan pesaing bisnis untuk menjatuhkan kredibilitas Atharrazka."
"Itu fitnah," potong Naura cepat. "Data itu otentik. Masih banyak salinan lain yang bisa kalian periksa jika kalian mau melakukan audit forensik menyeluruh pada sistem keuangan mereka."
"Kami sudah melakukannya, Naura. Tapi sayangnya, banyak file utama yang secara otomatis terhapus saat terjadi baku tembak di Bukit Pinus. Sepertinya sistem keamanan mereka memiliki mekanisme self-destruct."
Naura merasa jantungnya mencelos. "Tapi kami masih punya flashdisk cadangan!"
"Sayangnya, flashdisk yang ada pada tersangka Dimas Prasetya tidak bisa dibuka. Dimas telah merusaknya secara fisik sebelum dia ditangkap."
Naura tertunduk. Ia merasa dunia kembali runtuh. Semua perjuangan mereka, semua pelarian mereka, kini terancam tidak memiliki bukti yang cukup kuat untuk menghukum para aktor intelektual di balik korupsi itu. Mereka hanya berhasil menangkap pion-pion kecil, sementara dalang utamanya mungkin akan lolos dengan dalih kurangnya bukti.
Di ruangan lain, Kaelith sedang berhadapan dengan ayahnya, Pramudita Atharrazka. Keduanya dipisahkan oleh meja kayu kokoh. Kaelith tidak lagi merasa takut pada pria yang selama ini mendominasi hidupnya. Ia justru merasa kasihan melihat ayahnya yang kini tampak begitu kecil di balik baju tahanan oranye.
"Kamu pikir kamu menang, Kael?" tanya Pramudita dengan suara dingin. "Kamu menghancurkan kerja keras sepuluh tahun Ayah hanya demi kepuasan idealisme yang tidak ada harganya itu."
"Itu bukan kepuasan, Yah. Itu tanggung jawab," jawab Kaelith tenang. "Ayah yang mengajarkanku bahwa pemimpin harus bertanggung jawab atas tindakannya. Jadi sekarang, Ayah harus menghadapi konsekuensinya."
Pramudita tertawa sinis. "Kamu terlalu naif. Kamu pikir Ayah bekerja sendiri? Di atas Ayah, ada orang-orang yang jauh lebih kuat yang tidak ingin skandal ini terbongkar. Kamu mengira penangkapan ini adalah akhir? Ini baru permulaan. Mereka akan segera memastikan bahwa bukti-bukti yang tersisa akan hilang, dan kamu... mungkin tidak akan pernah keluar dari sini dalam keadaan selamat."
Kaelith tidak bergeming. "Jika memang itu harganya, aku siap."
Pramudita menatap anaknya dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kebencian dan pengakuan. "Kamu benar-benar anak Ayah. Tapi kamu juga bodoh. Kamu tidak sadar kalau gadis yang kamu lindungi itu sekarang sedang dalam incaran mereka."
Kalimat terakhir itu membuat jantung Kaelith seolah berhenti berdetak. Ia bangkit berdiri, tangannya mengepal keras. "Apa maksud Ayah? Siapa yang Ayah maksud?"
Namun, Pramudita hanya tersenyum tipis dan diam membisu. Ia tahu ia telah menanamkan benih ketakutan yang paling efektif di hati anaknya.
Malam itu, Naura diizinkan untuk meninggalkan ruang interogasi. Ia bertemu dengan Kaelith di koridor kantor polisi yang sepi. Keduanya tampak sangat lelah, namun sorot mata mereka menunjukkan bahwa pertempuran ini belum usai.
"Mereka menghapus data yang tersisa," bisik Naura, suaranya parau.
"Gue tahu," jawab Kaelith. "Tapi bokap gue tadi bilang sesuatu. Dia bilang ada pihak yang jauh lebih besar yang sedang mengincar kita. Mungkin itu sebabnya data itu dihapus secara sistematis dari jarak jauh."
Naura menatap Kaelith dengan cemas. "Kael, kalau ini melibatkan orang-orang di pemerintahan atau petinggi yayasan yang lebih tinggi, kita nggak bisa menang sendirian."
"Kita nggak akan menang sendirian," Kaelith mengambil napas dalam-dalam. "Gue ingat sesuatu. Kakek gue pernah cerita kalau ada satu orang yang dulu berseberangan dengan yayasan ini, tapi kemudian disingkirkan secara halus. Namanya Pak Baskoro. Dia mantan komisaris yayasan yang dipecat secara tidak hormat sepuluh tahun lalu. Kalau kita bisa temukan dia, mungkin dia punya salinan dokumen yang dicari orang-orang itu."
"Di mana dia sekarang?"
"Gue nggak tahu. Tapi gue punya alamat lama rumahnya di kota tua."
Naura menatap Kaelith. Ia tahu bahwa menuju ke sana sama saja dengan masuk ke wilayah musuh, karena kota tua adalah area yang banyak dikuasai oleh aset-aset yayasan kampus.
"Kael, ini bahaya banget. Kita bahkan belum bisa memastikan apakah dia masih hidup atau tidak."
"Ini satu-satunya celah kita, Nau. Kalau kita gagal mendapatkan bukti baru, bokap gue bakal bebas dalam hitungan bulan karena kurangnya bukti."
Naura memikirkan tawaran pekerjaan dari Pak Surya, memikirkan hidup normal yang sudah mulai menjauh, dan memikirkan masa depan Rania. Jika ia berhenti sekarang, ia mungkin aman. Namun, jika ia terus melangkah, ia tidak tahu apakah ia akan selamat sampai akhir.
Ia melihat Kaelith yang kini menatapnya dengan penuh harap. Pria itu sudah kehilangan segalanya demi kebenaran ini. Apakah Naura akan membiarkannya berjalan sendiri?
"Oke," jawab Naura dengan tekad yang bulat. "Kita cari Pak Baskoro. Tapi kali ini, kita harus lebih cerdas. Kita nggak bisa terus-terusan jadi orang yang diburu."
"Kita bakal jadi pemburu," sahut Kaelith dengan tatapan tajam yang baru bagi Naura.
Mereka keluar dari kantor polisi di tengah malam yang dingin. Kota itu tampak tenang, namun di balik ketenangan itu, mereka tahu bahwa musuh mereka sedang menunggu langkah selanjutnya. Mereka berjalan ke arah stasiun, siap untuk memulai petualangan baru yang jauh lebih berbahaya.
Tepat saat mereka hendak menyeberang jalan, sebuah lampu mobil menyilaukan mata mereka. Mobil itu berhenti tepat di depan mereka, dan kaca jendelanya perlahan turun. Itu bukan mobil orang suruhan Pramudita. Itu mobil yang sangat familiar.
Seorang wanita paruh baya dengan kacamata hitam duduk di balik kemudi. Ia menatap mereka dengan dingin namun waspada.
"Masuk," perintah wanita itu.
Naura terdiam. Ia mengenali wajah itu. Itu adalah Ibu Citra, editor senior dari media saingan Warta Nusantara yang selama ini dikenal sebagai jurnalis investigasi yang paling ditakuti oleh para koruptor.
"Siapa dia?" bisik Kaelith pada Naura.
"Dia adalah orang yang mungkin bisa menyelamatkan kita," jawab Naura. Ia tidak tahu apakah ini adalah keberuntungan atau jebakan lain. Namun, ia tidak punya pilihan. Ia menarik lengan Kaelith dan mereka masuk ke dalam mobil.
Mobil itu melaju kencang meninggalkan area kepolisian. Di dalam kabin yang senyap, wanita itu hanya berkata satu hal yang membuat mereka tertegun: "Data yang kalian cari tidak ada di tangan Pak Baskoro. Data itu ada di tangan orang yang paling tidak kalian duga."
Naura dan Kaelith saling berpandangan.