Di dunia tempat kekuatan kultivasi menjadi ukuran harga diri dan masa depan, Riu Han lahir sebagai anak dari Klan Riu yang terhormat—namun membawa takdir yang dianggap sia-sia. Sejak usia empat tahun, ia dinyatakan memiliki saluran energi yang tersumbat, membuatnya sama sekali tidak mampu menyerap dan menyalurkan energi alam. Di tengah pandangan mencemooh dan belas kasihan, ia terus berusaha meski tahu jalannya seolah sudah tertutup rapat.
Hingga suatu hari, di balik pohon Kayu Keabadian yang berusia ribuan tahun, ia menemukan sebuah ruangan rahasia yang tersembunyi selama berabad-abad. Di sana, udara terasa lebih kental dan damai, serta menyimpan jejak kekuatan kuno yang tak terduga. Apa yang awalnya hanya menjadi tempat pelarian, perlahan mengungkapkan sebuah warisan agung yang telah lama ditunggu—satu-satunya harapan yang bisa membalikkan takdirnya, membuka jalan menuju puncak kekuatan, dan mengungkap rahasia yang tersembunyi di balik dunia kultivasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Kembali ke Gunung Hu
Setelah selesai mengumpulkan mutiara roh dan menyimpan bangkai kedua ular beracun itu ke dalam cincin penyimpanan, Riu Han dan Luo Jin tidak berhenti begitu saja. Mereka terus menyusuri lembah yang lebih dalam, dan dalam perjalanan pulang, mereka berhadapan dengan berbagai jenis binatang roh tingkat tiga. Alih-alih menghindar, mereka justru menyambut tantangan itu dengan semangat yang membara. Satu per satu kawanan binatang roh itu berhasil mereka kalahkan dengan kerja sama yang semakin rapat dan taktis.
Di sepanjang perjalanan itu, ikatan persaudaraan di antara mereka pun tumbuh semakin dalam. Tidak ada lagi sekadar hubungan kakak dan adik seperguruan—mereka kini sudah seperti saudara kandung yang saling menjaga nyawa satu sama lain. Saat berhadapan dengan bahaya, yang satu akan menutupi celah pertahanan yang lain; saat salah satu kelelahan, yang lain akan mengambil alih beban serangan; dan saat beristirahat di tengah hutan lembah yang sunyi, mereka bergantian berjaga sepanjang malam dengan penuh saling pengertian, tanpa perlu banyak bicara.
Bagi Riu Han, ini adalah keberuntungan yang tak ternilai. Ia tidak hanya mendapatkan seorang senior yang baik hati dan bijaksana, melainkan juga seorang saudara yang tulus menyayanginya. Hal yang sama pun dirasakan oleh Luo Jin.
Luo Jin adalah anak yatim piatu. Ia masih ingat jelas hari-hari kelam saat ia terlantar di pasar kota setelah kedua orang tuanya tiada. Tanpa memiliki kemampuan kultivasi sedikit pun, tubuhnya yang kecil sering menjadi sasaran hinaan, tendangan, dan pukulan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Ia belajar bertahan hidup dengan sabar, menelan semua rasa sakit, dan berusaha tidak menyerah pada takdir yang kejam. Hingga suatu hari, takdir mempertemukannya dengan Jing Hu di sudut pasar yang kumuh. Sang Tetua melihat potensi dan ketangguhan hatinya, lalu membawanya ke Sekte Pedang dan menjadikannya murid di Gunung Hu. Sejak saat itulah, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan apa itu kehangatan keluarga.
Namun selama ini, ia hanya selalu menjadi yang dilindungi oleh kakak-kakak seperguruan yang lebih tua. Bersama Riu Han dalam misi ini, untuk pertama kalinya ia benar-benar merasakan arti memiliki seseorang yang harus dijaga, dan di saat yang sama ia pun dijaga dengan tulus. Perasaan itu begitu hangat, menyenangkan, dan membuat hatinya penuh. Ia menyadari bahwa persaudaraan bukan hanya soal menerima perlindungan, melainkan juga memberi perlindungan dengan segenap hati.
“Riu Han, sepertinya kita sudah mengumpulkan hasil yang sangat banyak,” ujar Luo Jin tiba-tiba. Kali ini ia tidak lagi menggunakan kata ‘junior’, melainkan memanggil nama Riu Han dengan akrab.
Riu Han tersenyum lebar. “Benar sekali, Saudara Luo. Bagaimana kalau kita pulang sekarang? Aku sudah rindu dengan suasana di Gunung Hu.”
Luo Jin mengangguk mantap. Riu Han langsung mengerti maksud tatapan itu tanpa perlu dijelaskan lebih lanjut. Mereka pun memutar arah, melangkah meninggalkan kedalaman lembah dan berjalan menuju jalan keluar yang menanjak ke arah puncak Gunung Pedang.
Wajah mereka berseri-seri penuh kebahagiaan. Ini adalah pengalaman petualangan pertama mereka bersama, dan hasilnya sungguh melampaui harapan. Tidak hanya kekayaan materi yang mereka dapatkan, melainkan juga pengalaman bertarung yang berharga dan persaudaraan yang kini terjalin kokoh.
“Saudara Luo,” tanya Riu Han tiba-tiba saat mereka berjalan menyusuri jalan setapak yang menanjak, “Tinju Petir yang kau miliki itu… benarkah itu sebuah teknik ubahan dari ilmu pedang?”
Luo Jin menoleh dengan senyum heran. “Iya, Saudara Riu. Memangnya kenapa tiba-tiba bertanya soal itu?”
“Tidak ada apa-apa,” jawab Riu Han pelan. “Hanya saja, bukankah jika ilmu pedang diubah menjadi serangan tangan, biasanya gerakannya tetap lurus seperti tusukan pedang? Tapi milikmu adalah pukulan kepalan tangan yang penuh kekuatan memukul ke depan.”
“Kau benar sekali,” akui Luo Jin. “Sebenarnya ini adalah teknik rahasia Ilmu Pedang Petir yang dimiliki oleh pendiri sekte kita sendiri. Beliau kemudian mengubahnya agar bisa digunakan tanpa pedang, dengan memadatkan kekuatan sabetan dan bacokan menjadi satu kekuatan pukulan tunggal yang padat dan menghancurkan.”
Riu Han mengangguk paham. Di dalam hatinya, ia mulai berpikir: “Aku juga harus melakukan hal yang sama. Aku harus belajar mengubah teknik pedangku menjadi bentuk serangan lain yang tidak mencolok. Dengan begitu, teknik tingkat abadi yang kupunya tidak akan terdeteksi orang lain.”
Semakin lama ia berada di Sekte Pedang, semakin dalam ia memahami betapa keras dan berbahayanya dunia kultivasi. Sebuah teknik yang hebat saja sudah cukup menjadi alasan bagi dua sekte besar atau bahkan kerajaan untuk berperang dan saling memusuhi. Jika orang lain mengetahui bahwa ia memegang teknik yang melampaui batas dunia ini, ia tidak sanggup membayangkan betapa kacau dan berbahayanya nasibnya, bahkan bagi orang-orang yang dicintainya. Ia harus belajar bersembunyi di balik kesederhanaan.
Setelah berjalan cukup lama melewati gerbang pemeriksaan sekte, mereka langsung menuju Menara Kultivasi di pusat wilayah sekte. Mereka berjalan menuju lantai dasar, tepatnya ke kantor pendaftaran misi untuk menyelesaikan urusan administrasi. Petugas yang sama yang dulu melayani mereka membelalakkan mata saat melihat jumlah dan kualitas mutiara roh yang mereka serahkan—terutama mutiara roh tingkat empat yang berkilau indah. Setelah menghitung semuanya, poin kontribusi yang didapatkan ternyata jauh melampaui misi biasa, cukup untuk menutupi kebutuhan mereka berlatih cukup lama.
Dari sana, mereka langsung berjalan menanjak menuju puncak Gunung Hu. Sesampainya di halaman utama, terlihat sosok Pah Long sedang duduk bersila di atas batu datar yang biasa digunakan murid untuk beristirahat sekaligus menyerap energi alam.
Melihat kehadiran mereka berdua, Pah Long perlahan membuka matanya dan tersenyum lega. “Junior Riu, Junior Luo… kalian akhirnya telah kembali.”
“Salam hormat, Senior Pah!” jawab Riu Han dan Luo Jin bersamaan sambil membungkuk sedikit. “Ya, kami baru saja menyelesaikan misi dan pulang.”
Pah Long mengangguk lembut. Sebagai ketua murid di Gunung Hu, ia memang sengaja menunggu kepulangan mereka. Ia sangat khawatir—terutama pada Riu Han yang masih baru bergabung dan tingkatan kultivasinya masih terbilang rendah dibanding murid lain. Meskipun Luo Jin bersamanya, lembah dalam di sekitar Gunung Pedang tetap menyimpan bahaya yang tidak bisa dianggap remeh.
“Syukurlah kalian kembali dengan selamat dan tanpa luka serius,” ujarnya pelan. “Sudahlah, sekarang kalian istirahatlah dulu dengan tenang. Pulihkan tenaga dan pikiran kalian.”
“Baik, terima kasih atas perhatiannya, Senior Pah,” jawab mereka.
Riu Han pun mengerti sepenuhnya. Ia tahu alasan mengapa Pah Long duduk di sana sejak tadi—bukan sekadar berlatih, melainkan menjaga pintu masuk wilayah Gunung Hu sambil menunggu kepulangan mereka. Di sini, di bawah naungan Jing Hu, di bawah langit Gunung Hu, ia tidak hanya mendapatkan tempat untuk mengasah kekuatan, melainkan juga sebuah keluarga yang tidak pernah ia miliki sebelumnya.
Lanjut Up Thor 💪💪