Bella sudah berusia dua puluh delapan. Ia masih belum memikirkan soal pernikahan dengan siapapun. Namun, ketika adiknya dilamar orang lain ia dijodohkan dengan seorang yang bahkan tak ia kenal dan sama sekali bukan tipenya.
Bella si perfeksionis harus menikah dengan Aska si urakan. Lantas kehidupan Bella berubah drastis setelah pernikahan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Etika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bella dan Masa Lalunya
Bella berada di ruangan seukuran lapangan bola, megah, ditata rapi dan gemerlap. Melihat panggung seukuran setengah dari luas kamarnya yang dihias berbagai macam bunga dan dedaunan artificial membuat perutnya mulas. Beberapa kursi berjejer di atasnya, ada sebuah meja kecil di depan kursi yang paling besar. Kain-kain satin berwarna krem dan lampu warna-warni menambah kesan mewah.
Bella menelan ludah. Bapaknya dan Niko berada jauh di belakang, tak jauh dari pintu masuk. Membicarakan sesutu sambil menunjuk-nunjuk meja stainless persegi panjang di depan mereka. Sesekali Bella mendengar tawa yang menggema di ruangan yang hanya ada mereka bertiga.
Acaranya tak kurang dari tiga hari lagi. Lebih tepatnya dua hari lebih dua belas jam lagi. Bella tak bisa menolak ketika Bapaknya dengan senyum merekah mengajaknya untuk menengok tempat resepsi yang akan diadakan di aula salah satu hotel ternama. Mau tak mau, Bella ikut. Rupanya, di lobby hotel bertemu dengan Niko yang sudah janjian sebelumnya dengan Bapaknya.
" Jadi gimana?"
Bella tersentak mendengar pertanyaan dari Niko. Bapaknya dan Ayah Aska rupanya sudah berdiri di belakangnya.
Sambil memaksakan seulas senyum, Bella berkata, " bagus, Om. Saya nggak nyangka bakal semewah ini."
Niko tertawa, " Kamu kan anak pertama, jadi Bapakmu pasti ngasih yang terbaik."
Bella melirik Bapaknya yang kelihatan bahagia sekali.
" Oh ya, katanya Aska mau datang?" kali ini Feri yang bertanya. Karena, Niko bilang Aska akan datang.
" Masih di jalan. Macet sepertinya."
Feri mengangguk-angguk paham.
Mendengar nama Aska, Bella sakit perut. Ia memohon izin untuk ke toilet. Ketika baru saja ia keluar dari aula hotel, Bella melihat Aska berjalan mendekat ke arahnya. Tampang kekanak-kanakan lelaki itu sama sekali tak menunjukkan jika usianya sudah berkepala tiga. Ketika berpapasan, Bella dan Aska sama-sama tak peduli. Mereka berjalan berlawanan arah tanpa saling sapa.
Ketika tubuh Aska lenyap di balik dinding aula, Bella berhenti dan membalikkan badan. Ia tak paham bagaimana bisa akan menikah dengan orang tak sopan macam Aska. Meski sudah kenal sejak kecil, ia tak pernah berteman dengan lelaki itu. Tak tahu bagaimana sifatnya aslinya, bahkan hingga pernikahan mereka akan segera berlangsung.
Sebenarnya Bella tak pernah mau ambil pusing soal ini. Toh, semua orang bahagia dengan keputusannya. Lalu apalagi yang membuat Bella merasa tak yakin dengan Aska? Harusnya dia senang, apapun yang akan terjadi nanti biar ia urus nanti. Yang penting kan setelah ia menikah, Citra dan pacarnya bisa menikah.
Bella berbalik dan kembali melanjutkan perjalanannya menuju toilet. Di toilet, ia bahkan tak merasakan apa-apa. Sepertinya perutnya akan mengalami reaksi sama jika ia telalu membayangkan pernikahannya.
Bella membasuh wajahnya. Ia pandangi wajahnya di depan cermin. Baginya, wajah oval yang menatap balik ke arahnya tak pernah berhenti berusaha untuk membuat hidupnya normal. Meski Bella tahu, mata yang menatapnya tak sebahagia senyum di depan keluarganya.
Pantulan itu mengembuskan napas kasar. Sudah terlalu lama setelah Arya pergi dan tak ada kabar. Arya adalah teman terdekatnya semasa kuliah S1. Hubungan mereka sangat dekat hingga semua orang yang mereka kenal menganggap mereka lebih dari teman. Nyatanya perasaan Bella memang begitu. Tidak tahu dengan Arya.
" Bel, aku punya sesuatu buat kamu," Arya menutup mata Bella dengan telapak tangannya.
" Ini apa sih? Gelap, Arya..."
Arya tertawa, " udah... nurut aja kenapa. Mana tangan."
Bella memberikan tangannya. Berharap Arya tak melakukan hal yang aneh-aneh. tak sampai lima detik, Bella merasa Arya memasangkan sesuatu dengan susah payah di jari tangahnya. Bella terkejut setelah Arya menarik tangannya dan duduk di sebelahnya.
" Astaga! buat apa ini?"
Arya tersenyum, " buat empat tahun pertemanan kita."
Bella masih tak bisa menahan rasa bahagia, " tapi ini bagus banget!" Bella memutar-mutar cin-cin emas putih polos di jari tengahnya, " tapi kenapa jari tengah?"
Arya tertawa geli mengingat tingkahnya sebelum memasang cin-cin itu di jari tengah Bella, " cin-cinnya kebesaran buat jari manis kamu."
Bella ikut tertawa, " dasar!"
Mereka bersenda gurau hingga sore. Suasana kampus yang awalnya ramai, perlahan-lahan sunyi.
" Bel, hari senin aku sidang."
Bella terkejut. Ia mengulurkan tangan agar dijabat oleh Arya, " selamat ya!"
Arya memaksakan seulas senyum dan menjabat uluran tangan Bella, " Bel, aku harap kamu jangan lupain aku ya."
Bella memandang Arya tak paham, " kenapa begitu? lagian kamu masih di sini. Mana bisa aku lupain sahabat terdekat aku, teman seperjuangan aku selama empat tahun ini."
" Bel, jangan marah ya."
Bella memandang bingung Arya.
" Aku berniat lanjut S2 di Australia."
Detik itu dunia Bella serasa runtuh. Ia baru saja diterbangkan ke langit dengan pemberian cun-cin, kemudian dijatuhkan ke dasar neraka yang paling dalam dengan perpisahan.
" Kenapa harus Australia?"
" Papaku mau ditemani untuk sementara waktu. Akhir-akhir ini, kesehatannya menurun. Mamaku udah di Queensland sejak setahun yang lalu buat ngurus Papa."
Dada Bella terasa sesak. Ia bahkan tak pernah bertanya apa-apa tentang Papa Arya yang telah lama tinggal di Australia karena bekerja di Kedutaan Besar di sana. Usianya sudah mendekati masa pensiun dan rupanya sakit-sakitan.
" Bell, mungkin setelah sidang aku bakal langsung pergi. Tapi tenang, aku bakal datang lagi di hari wisuda kita. Aku mau punya foto wisuda bareng kamu."
Ucapan Arya sama sekali tak membuat Bella bahagia. Langit telah berubah warna. Cahaya bulan sabit menampakkan sinarnya. Kampus lebih sepi dari biasanya.
" Bel," Arya meraih tangan Bella dan meletakkan tangan itu di dadanya, " kamu bisa rasa?"
Bella merasa debaran itu. Tapi Bella tak tahu dari mana asalnya, karena tangannya gemetaran. Entah dari dada Arya atau dadanya sendiri. Entah itu debaran gugup atau takut.
Di bawah cahaya bulan sabit, tubuh Bella ditarik Arya ke dalam dekapannya. Dari jarak sedekat itu, Bella dapat mendengar degup Arya yang begitu cepat.
Bella terkejut ketika Arya mengecup bibirnya sekali dan sekali lagi. Refleks, ia memejam. Ketika terakhir kali, Arya menahan bibirnya di bibir Bella. Bella membuka mulutnya dan mereka beradu lidah.
" Bel, aku janji."
Masih di tempat yang sama, refleksi di depan Bella menjatuhkan air mata. Ia mengerjap berkali-kali, bahkan rasa kecewanya masih sama seperti hari wisudanya tiba.
Bella tak dapat menemukan Arya dimanapun. Semenjak itu, ia berusaha melupakan Arya dan hidup normal seperti orang-orang. Lagipula tak ada gunanya larut dalam kesedihan terlalu lama.
Sampai waktu yang Bella tak ketahui, ia menunggu. Bahkan sampai sekarang, tujuh tahun setelah kepergian Arya. Bella masih menunggu kapan Arya akan datang menemuinya dan mendengar penjelaskan apapun yang ingin lelaki itu jelaskan. Memulai semuanya dari awal.
Namun, setelah tujuh tahun tak ada kabar, rupanya Bella lupa jika ia juga harus berumah tangga. Bagaimanapun, Citra tak boleh seperti dirinya.
Bella membasuh wajahnya dengan air sekali lagi. Seseorang membuka pintu toilet. Melihat sumber suara, Bella terkejut dengan keberadaan Aska yang masuk toilet wanita. Lelaki itu mengunci toilet dan menggelengkan kepala menatap Bella.
Aska berjalan mendekat dengan tangan bersedekap, " jadi lo juga terpaksa buat menikah?"
Bella meneliti ekspresi Aska yang tak bisa ditebak tanpa menjawab pertanyaan itu.
" Karena adik lo nggak boleh nikah sebelum kakaknya nikah?"
Bella mundur mengikuti langkah Aska yang maju.
" Kalau gitu kita sama-sama terpaksa. Jadi..."
Punggung Bella membentur dinding. Ia tidak bisa mundur lagi untuk menghindari Aska.
" Gue akan menggugat cerai lo kalau adik ipar tercinta udah nikah."
***
sukses
.....semangat