NovelToon NovelToon
Lebih Sekadar Tante

Lebih Sekadar Tante

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Agatha soul

Bagi Arvin, Karin bukan sekadar tante dari sahabatnya. Karin adalah tempatnya pulang, tawa yang selalu ia cari, dan masa depan yang ingin ia tuju. Di saat kedekatan mereka mulai mencairkan dinding perbedaan usia, sebuah kencan tak sengaja justru membawa kembali bayang-bayang masa lalu Karin yang belum usai.
Ketika masa lalu menuntut tempatnya kembali, akankah Karin bertahan pada zona nyamannya, atau berani melangkah demi rasa yang lebih dari sekadar tante?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sensasi yang terlupakan

Karin kembali melanjutkan tulisannya di laptop membiarkan keheningan malam dan deru hujan menjadi latar suara di ruang tengah. Usapan lembut di pipi Arvin perlahan terhenti saat dia mulai bernapas dengan teratur. Karena terus memejamkan mata menikmati kenyamanan di bahu Karin, Arvin akhirnya benar-benar ketiduran.

Karin melirik jam yang sudah larut, lalu menutup laptopnya pelan. "Arvin... bangun, Vin. Pindah ke kamar, yuk?" panggil Karin lembut sambil menepuk bahu cowok itu.

Arvin melenguh pelan dalam kantuknya, namun kepalanya sama sekali tidak bergeser. "Gak mau... pengen tidur sama Tante," gumam Arvin setengah sadar, suaranya terdengar serak dan dalam.

Karin menghela napas panjang. Mengingat Arvin yang malam ini sedang rapuh dan patah hati, hatinya yang lembut tidak tega untuk menolak. Akhirnya, Karin menuntun tubuh jangkung Arvin yang masih setengah mengantuk masuk ke dalam kamarnya yang beraroma vanilla.

Mereka berdua merebahkan diri di atas ranjang yang sama. Awalnya Arvin tidur terlentang, namun tak lama kemudian dia membalikkan tubuhnya menjadi miring menghadap Karin. Dengan gerakan alami, lengan kekarnya langsung melingkar erat di pinggang Karin, menarik wanita itu ke dalam dekapannya.

Karin terdiam dalam posisi membelakangi Arvin, merasakan kehangatan yang menjalar dari dada bidang cowok itu yang menempel di punggungnya. Dia merubah tidurnya jadi terlentang, menatap wajah tidur Arvin yang tampak begitu tenang dan polos. Rasa iba kembali menyergapnya.

"Kamu tuh masih muda, ganteng lagi. Pasti banyak banget cewek di sekolah yang pengen jadi pacarmu," gumam Karin sangat pelan, hampir berupa bisikan.

Karin tidak tahu bahwa Arvin sebenarnya belum sepenuhnya terlelap. Mendengar gumaman Karin yang masih menganggapnya anak kecil yang galau karena cinta monyet, Arvin hanya bisa menelan kepahitan itu dalam diam. Dia tetap berpura-pura tidur, namun lengannya bergerak semakin erat memeluk pinggang Karin, seolah enggan melepaskan wanita itu.

Karin yang merasakan pelukan itu mengerat hanya tersenyum maklum. Dia mengira Arvin sedang mencari perlindungan di tengah rasa sedihnya. Perlahan, Karin mengusap punggung tangan Arvin yang melingkar di pinggangnya, membiarkan kantuk menjemput mereka berdua hingga terlelap bersama.

Keesokan paginya, hari Minggu yang cerah menyapa kamar tidur Karin. Perlahan, kesadaran Karin mulai kembali saat dia merasakan sesuatu yang berat sekaligus hangat menindih bagian dadanya.

Karin mengerjapkan mata, masih dalam posisi membelakangi Arvin. Detik berikutnya, napas Karin mendadak tertahan saat merasakan sebuah gerakan lembut. Tangan Arvin yang semalam melingkar di pinggangnya, kini perlahan naik dan memberikan sentuhan-sentuhan halus yang sangat lembut.

Jantung Karin seketika berdegup dua kali lebih cepat. Ada sengatan canggung yang luar biasa, namun di sudut hatinya yang terdalam, sebuah kejujuran menyeruak.

‘Udah lama banget gak ada yang memegang seperti ini…’ batin Karin, tenggelam dalam sensasi hangat dan kenyamanan yang tak terduga dari sentuhan Arvin.

Karena posisinya membelakangi, Karin benar-benar tidak tahu apakah Arvin melakukan ini dalam keadaan sadar atau hanya gerakan refleks dalam tidur. Didorong rasa penasaran dan debaran yang kian menggila, Karin perlahan-lahan membalikkan tubuhnya untuk menghadap ke arah Arvin.

Begitu berbalik, Karin mendapati wajah Arvin yang masih terpejam. Namun jarak mereka sekarang benar-benar terkikis habis, menyisakan embusan napas hangat Arvin yang menerpa kening Karin. Menatap pahatan wajah tegas dan bibir kokoh Arvin dari jarak sedekat ini membuat dada Karin bergemuruh hebat. Ada kilasan keinginan yang lebih tinggi yang mendadak melintas di benaknya, sebuah hasrat dewasa yang langsung buru-buru dia tahan dengan sekuat tenaga.

Karin menelan ludah, mencoba menguasai dirinya yang hampir lepas kendali. Dia mengangkat tangannya, lalu menyentuh pipi hangat Arvin dengan ujung jarinya.

"Arvin..." panggil Karin dengan suara parau khas bangun tidur.

Mendengar suara Karin, kelopak mata Arvin perlahan bergerak terbuka. Manik mata hitamnya yang dalam langsung menatap lurus ke dalam netra Karin. Begitu kesadarannya penuh, Arvin seolah baru tersadar dari apa yang tangannya lakukan. Dia langsung menarik kembali lengan kekarnya dari tubuh Karin, melepas pelukan eratnya.

Suasana di atas ranjang pagi itu seketika diselimuti keheningan yang sangat canggung dan sarat akan ketegangan emosi.

Arvin buru-buru mengubah posisinya menjadi duduk di tepi ranjang, membelakangi Karin sambil mengusap wajahnya kasar. "Maaf, Tan... gue gak sengaja," ucap Arvin dengan suara khas bangun tidur, mencoba meredam salah tingkahnya yang luar biasa karena perbuatannya barusan.

Karin ikut bangkit dan duduk bersandar pada kepala ranjang, merapikan kaosnya yang sedikit berantakan. "I-iya, gak apa-apa, Vin. Namanya juga orang tidur," sahut Karin canggung, berpura-pura tenang padahal jantungnya masih berkejaran.

Untuk memecah suasana yang terlalu intens itu, Karin berdeham keras dan melirik jam dinding yang menunjukkan pukul enam pagi. "Ya udah, kamu... mending mandi dulu sana biar seger. Tante mau ke dapur, siapin sarapan."

Arvin hanya mengangguk patuh tanpa menoleh. Begitu Karin keluar dari kamar, Arvin menjatuhkan kembali tubuhnya ke atas kasur, menutupi wajahnya dengan bantal sambil mengumpat pelan pada dirinya sendiri. Sentuhan tadi benar-benar di luar kendalinya, namun dia tidak bisa menampik bagaimana reaksi tubuh Karin yang sempat menerimanya beberapa saat tadi.

Di dapur, Karin bersandar pada kitchen island sambil memegangi dadanya yang masih naik-turun. Sentuhan Arvin tadi pagi benar-benar membangkitkan sisi lain di dalam dirinya yang selama tiga tahun ini tertidur. 

Karena rumah minimalis Karin tergolong kecil, satu-satunya kamar mandi berada di dekat area dapur. Arvin melangkah keluar dari kamar sambil membawa handuk yang sempat dikeluarkan oleh Karin tadi. Saat dia berjalan melewati dapur, Karin yang sedang sibuk menyeduh air panas menoleh sekilas.

"Vin, kamu suka kopi manis apa pahit?" tanya Karin menawarkan.

"Pahit," jawab Arvin singkat, lalu masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya.

Beberapa menit kemudian, suara gemercik air mereda. Arvin keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan celana pendek hitam santai miliknya, membiarkan dada bidang dan perut atletisnya terekspos bebas. Rambut hitamnya yang basah tampak berantakan, meneteskan sisa-sisa air ke bahunya. Cara berjalannya begitu santai, benar-benar sudah bersikap seperti di rumahnya sendiri.

Karin yang sedang menata sarapan di meja dapur awalnya tidak mempermasalahkan penampilan santai anak itu. Namun, begitu melihat air dari rambut Arvin mulai menetes ke lantai, naluri Karin terusik. Dia mendesah pelan, berjalan mengambil sebuah handuk kecil kering dari gantungan, lalu mendekati Arvin.

Tanpa aba-aba, Karin menaruh handuk itu di atas kepala Arvin dan mulai menggosok rambut basah cowok itu dengan lembut. "Kamu ini... kebiasaan deh, keringin yang bener rambutnya. Nanti lantainya basah semua, lagian bisa masuk angin tahu."

Sentuhan mendadak yang begitu perhatian dari Karin seketika membuat Arvin terpaku. Kedekatan yang kembali tercipta di antara mereka, terutama dengan posisi Karin yang harus sedikit mendongak karena perbedaan tinggi badan mereka membuat perasaan Arvin kembali campur aduk.

Untuk menutupi rasa salah tingkahnya yang mulai membuncah, Arvin mengangkat tangannya dan memegang pergelangan tangan Karin, menghentikan gerakan wanita itu.

"Gue bisa keringin sendiri, Tante," ucap Arvin, merebut handuk itu dari tangan Karin dengan gerakan agak kaku.

Karin sempat tertegun menatap tangannya yang sempat digenggam Arvin, lalu mundur satu langkah sambil melipat tangan di dada. Dia terkekeh geli. "Ya udah, keringin yang bener. Padahal di laci meja rias ada hair dryer, dasar malas."

Karin kembali ke dekat kompor, mengambil dua cangkir kopi hitam yang sudah mengepulkan asap tipis. "Terus... kamu kenapa suka kopi pahit?" tanya Karin penasaran.

Arvin tidak langsung menjawab. Dia menggosok rambutnya asal-asalan dengan handuk, lalu berjalan mendekati meja makan. Matanya melirik ke arah cangkir kopi milik Karin yang diletakkan di sana. "Tante juga sama, suka minum kopi pahit."

Karin terkekeh renyah sambil meletakkan cangkir satunya di hadapan Arvin. "Ya kalau Tante beda dong. Tante butuh kafein tinggi buat melek semalaman biar ide nulisnya lancar."

"Ya... sama. Gue juga," sahut Arvin pelan sambil mendudukkan diri di kursi.

Karin yang memperhatikan nada bicaranya itu sekilas bisa merasakan kalau Arvin sebenarnya sedang merajuk, mungkin sisa kekecewaan dari penolakannya semalam. Namun, Karin memilih untuk tidak memperpanjangnya. Dia hanya tersenyum tipis dan memakluminya, menganggap sisi merajuk Arvin ini justru terlihat menggemaskan untuk wajah sedingin dia.

Karin ikut duduk di hadapan Arvin, lalu menyendokkan nasi goreng buatan pagi ini ke piring mereka masing-masing. "Terus... hari ini kamu mau kemana?"

Arvin meraih cangkir kopinya, menyeruput cairan hitam pekat itu sedikit sebelum menjawab, "Ke rumah Eja. Mau main."

Karin mengangguk-angguk paham, lalu kembali bertanya sambil menyuap makanannya, "Mau main kemana emangnya hari Minggu begini?"

"Gak tahu," jawab Arvin singkat dan datar.

Setelah jawaban pendek itu, keheningan kembali merayap di dapur kecil mereka. Arvin melanjutkan sarapannya dengan tenang, membiarkan rasa hangat kopi pahit dan nasi goreng buatan Karin mengisi perutnya, sekaligus mencoba menata kembali hatinya yang terus-terusan dibuat jungkir balik oleh wanita di depannya ini.

1
Bunga
Karya terbaik😍semangat 💪
Agatha soul: terima kasih
total 1 replies
Bunga
Terbaik
mary dice
sepertinya ada yang mau nembak nih... lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!