"Tiga minggu di surga tersembunyi, atau tiga minggu terjebak di istana para penguasa abadi?"
Liburan akhir semester yang seharusnya menjadi momen healing bagi empat sahabat Elena, Aldara, Keisha, dan Amanda berubah menjadi awal dari petualangan lintas dimensi yang berbahaya sekaligus mendebarkan. Tergiur oleh foto-foto estetik di internet, mereka sepakat untuk melakukan camping selama tiga minggu di Pulau Tirta Asri, sebuah pulau terpencil tak berpenghuni di wilayah laut selatan.
Mereka tidak pernah tahu bahwa di balik keindahan pasir putih dan air kristalnya, pulau itu memiliki nama asli yang terhapus dari peta manusia Pulau Bai She. Pulau tersebut adalah domain suci yang menyembunyikan empat istana kolosal kuno, rumah bagi empat raja klan siluman tertinggi dengan rupa ketampanan yang mematikan.
Bai Yuanjun, Sang Raja Ular Putih yang dingin Mo Chenxi, Sang Raja Buaya Putih yang tak tersentuh Su Lingkong, Sang Raja Rubah Putih yang penuh tipu daya dan Lang Ye, Sang Raja Serigala
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Divya bharti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hipnotis sang Raja dan Sumpah yang Terikat
Di dalam kamar pengantin Istana Bai Long yang megah, riasan wajah Elena akhirnya telah selesai sepenuhnya. Gaun sutra merah berlapis emas yang membalut tubuhnya memancarkan kemewahan yang tak tertandingi, membuat kecantikan alaminya naik berkali-kali lipat layaknya seorang dewi dari langit kuno. Rambut hitam panjangnya disanggul rapi dengan mahkota giok putih lambang permaisuri klan ular. Namun, di balik semua kemegahan yang menempel di tubuhnya, tidak ada binar kebahagiaan sedikit pun di wajah gadis itu.
Elena duduk mematung di depan cermin perunggu sembari menangis dalam diam. Air mata perlahan mengalir melewati pipinya, merusak sebagian bedak tipis yang melekat di sana. Xiao Cui, pelayan pribadinya, dengan cekatan dan penuh kehati-hatian berulang kali mengusap sisa-sisa air mata itu menggunakan kain sutra lembut, takut jika sang raja akan murka melihat pengantinnya berwajah sembap.
Jujur saja, dada Elena terasa begitu sesak oleh gumpalan rasa sedih dan penyesalan yang teramat sangat. Pikirannya terus berputar pada dua hal besar yang merenggut kedamaian jiwanya. Yang pertama, ia sangat ingin pulang dan berkumpul lagi bersama ketiga sahabatnya Keisha, Amanda, dan Aldara. Kehilangan mereka secara misterius di pulau ini adalah luka terdalam yang membuatnya merasa gagal sebagai seorang sahabat. Yang kedua, harga dirinya menolak keras takdir gila ini ia sama sekali tidak mau menikah dengan siluman, makhluk dari dimensi kegelapan yang keberadaannya bahkan tidak masuk dalam nalar manusianya.
Lebih dari itu, Elena merasa perlindungannya telah hilang sepenuhnya. Kalung jimat pemberian pakdenya satu-satunya benteng gaib yang melindunginya dari energi hitam pulau ini kini entah kemana, terkubur jauh di bawah tumpukan dedaunan kering di tengah hutan belantara sana. Tanpa benda itu, ia merasa telanjang dan tak berdaya di hadapan kekuatan magis Bai Yuanjun.
Di tengah kesunyian kamar yang mencekam, rasa rindu yang luar biasa besar mendadak menghantam sanubari Elena. Ia merindukan rumahnya yang hangat di kota. Ia merindukan orang tuanya, terutama sang bunda dan ayahnya. Bayangan wajah cemas bundanya sebelum ia berangkat liburan mendadak terlintas dengan sangat jelas di pelupis matanya.
“Elena, perasaan Bunda agak kurang enak. Kamu yakin mau pergi ke pulau terpencil itu? Kenapa enggak liburan di tempat yang dekat saja?”
Andai saja... andai saja saat itu ia menuruti firasat bundanya agar tidak pergi dan membatalkan rencana liburan ini, semua malapetaka ini tidak akan pernah terjadi. Namun, nasi telah menjadi bubur. Kini, penyesalan hanya tinggal penyesalan yang mengendap pahit di dasar hati. Sekarang, ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Logika pintarnya lumpuh, fisiknya terkunci, dan jiwanya sepenuhnya terjerat akan pernikahan paksa ini dengan Siluman Ular Putih.
“Waktu keberuntungan telah tiba, Yang Mulia. Baginda Raja telah menanti di Altar Suci,” bisik Xiao Cui dengan suara desisan halusnya yang khas, memecah lamunan sedih Elena.
Dengan tubuh yang gemetaran dan langkah kaki yang terasa seberat bongkahan batu, Elena perlahan bangkit berdiri. Dipandu oleh Xiao Cui di sisi kiri dan seorang pelayan lain di sisi kanan, Elena berjalan keluar dari kamar pengantin. Mereka menyusuri lorong-lorong istana yang panjang, melewati jajaran prajurit siluman berpakaian zirah perak yang berdiri tegak memberikan penghormatan mutlak kepada calon permaisuri mereka.
Hingga akhirnya, mereka sampai di area Altar Pernikahan Istana Bai Long. Tempat itu adalah sebuah aula terbuka yang sangat luas di puncak tebing tertinggi island. Di tengah aula, terdapat sebuah altar batu giok putih raksasa yang dikelilingi oleh kobaran api merah dari cawan-cawan perunggu kuno. Ratusan tetua dan bangsawan klan ular telah berkumpul, mengenakan pakaian formal, menatap kedatangan Elena dengan pandangan takjub sekaligus patuh.
Di ujung altar, berdiri Bai Yuanjun. Jubah pengantin merahnya berkibar megah ditiup angin malam. Wajah tampannya yang pucat tampak bersinar di bawah cahaya bulan yang mulai naik ke puncak langit. Sepasang mata keperakannya mengunci sosok Elena sejak gadis itu menginjakkan kaki di area aula.
Namun, di dalam dirinya, Elena tetap menolak. Pemberontakan batinnya mencapai puncaknya ketika ia hanya berjarak beberapa langkah dari hadapan Bai Yuanjun. Mengumpulkan sisa-sisa energi terakhirnya, Elena mendadak menghentikan langkah kaki. Ia menepis pegangan tangan Xiao Cui, membalikkan tubuhnya dengan cepat, dan berniat untuk berlari kembali menerobos kerumunan pelayan demi menjauh dari altar terkutuk itu.
“Elena.”
Sebuah panggilan suara yang bernada rendah, berwibawa, sekaligus mengandung tekanan spiritual yang luar biasa besar menggema di udara. Belum sempat Elena melangkah maju untuk kabur, sosok Bai Yuanjun telah bergeser dengan kecepatan kilat dan menghadang tepat di depan tubuhnya.
Elena tersentak, mendongak dengan tatapan penuh keputusasaan dan kemarahan. Namun, sebelum ia sempat mengeluarkan kata-kata makian atau penolakan, Bai Yuanjun bertindak lebih cepat. Sang raja ular putih tidak akan membiarkan upacara suci ini hancur karena pemberontakan seorang manusia.
Bai Yuanjun menatap lurus ke dalam manik mata hitam milik Elena. Seketika itu juga, kedua mata keperakan sang raja memancarkan sinar cahaya perak yang sangat terang, berputar-putar bagaikan pusaran labirin yang tak berdasar. Sinar magis itu langsung menembus kornea mata Elena, merasuki pusat kesadarannya, dan menghancurkan seluruh dinding pertahanan mentalnya dalam hitungan detik.
Itu adalah sihir hipnotis kuno klan ular, Segel Jiwa Musim Semi.
Elena mendadak mematung. Tatapan matanya yang semula tajam penuh amarah dan linangan air mata, perlahan-lahan berubah menjadi kosong, redup, dan kehilangan cahayanya. Isak tangisnya berhenti seketika. Tubuhnya yang tadinya tegang kini menjadi rileks namun kaku, bergerak murni di bawah kendali penuh dari pikiran Bai Yuanjun. Rasa sedih, rindu pada orang tua, dan keinginan untuk pulang mendadak terkunci rapat di sudut tergelap batinnya, digantikan oleh kepatuhan mutlak tanpa cela.
Bai Yuanjun tahu ini adalah cara yang sangat licik dan sepihak untuk memperlakukan calon istrinya. Namun, demi kelancaran pernikahannya, demi mengikat jiwa Elena agar tidak terlepas lagi ke dunia manusia, dan demi takdir abadi yang telah ia impikan selama ratusan tahun, cara licik ini sama sekali tidak menjadi masalah baginya. Bagi seorang raja siluman, hasil akhir jauh lebih penting daripada proses moral manusia.
Dengan senyuman puas yang mengembang di bibirnya, Bai Yuanjun mengulurkan tangan kanannya. Elena, yang kini berada di bawah pengaruh hipnotis total, menggerakkan tangannya secara perlahan dan menyambut genggaman tangan dingin sang raja ular dengan gerakan yang sangat anggun.
Mereka berdua berbalik bersama, melangkah menuju altar giok putih di hadapan para tetua klan. Di bawah bimbingan mantra hipnotis yang mengikat kesadarannya, Elena mengikuti setiap instruksi upacara ritual dengan sempurna. Ia membungkuk hormat pada langit dan bumi, meminum cawan arak pernikahan yang telah ditetesi darah spiritual sang raja, dan mengucapkan sumpah setia yang bergaung mistis di udara malam.
Hingga akhirnya, cincin perak bermotif ular putih tersemat di jari manis Elena, menandakan bahwa ikatan suci itu telah selesai. Pernikahan itu pun terjadi dengan megah, mengunci Elena ke dalam status barunya sebagai Permaisuri Agung Istana Bai Long, mengubur dalam-dalam kebebasannya sebagai manusia normal.