NovelToon NovelToon
Kembaran Rahasia Si Culun

Kembaran Rahasia Si Culun

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Bad Boy / Balas Dendam
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: fayepey

Elnaya Bellarose Valenzia, gadis polos yang selalu menjadi korban perundungan di Golden International School, mengalami percobaan pembunuhan misterius yang membuatnya koma.

Mengetahui hal itu, saudara kembarnya, Elnara Bellamont Valenzia, seorang bad girl yang bersekolah di luar negeri, kembali ke Indonesia untuk mencari pelaku. Dengan menyamar sebagai Elnaya, ia mulai menyelidiki rahasia di balik kejadian tersebut.

Namun di tengah pencariannya, Elnara justru menarik perhatian dua siswa paling berpengaruh di sekolah: Alaric Alden Adinata, ketua OSIS yang sempurna, dan Nathaniel Atharva Pradana, ketua geng Blaze yang terkenal sebagai bad boy.

Semakin dalam Elnara mengungkap kebenaran, semakin banyak rahasia gelap yang terkuak. Hingga ia menyadari bahwa orang yang menghancurkan hidup saudara kembarnya ternyata lebih dekat dari yang pernah ia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fayepey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Informasi Baru

Hari pertama sekolah, Nara tidak menemukan apa pun. Tidak ada tanda-tanda ataupun jejak yang bisa dia selidiki. Penyebabnya sederhana, seharian ini dia terus saja berantem dengan Sandra sampai tidak punya waktu untuk mencari tahu apa pun.

Setelah selesai membereskan hukumannya, eh, ralat, bukan benar-benar menyelesaikan. Dia cuma membuang air dari keran dan menyemprotkannya begitu saja. Untungnya, ketos yang awalnya mengawasi gadis itu sekarang beralih mengawasi Sandra. Kesempatan itu tentu saja tidak Nara sia-siakan. Dia bisa mengumpat sepuasnya tanpa harus takut ketahuan.

Dan sekarang, di sinilah dia berada. Di lobi utama yang mengarah ke parkiran. Karena hari sedang hujan, terpaksa dia menunggu sampai hujan reda. Lagi pula, dia tidak membawa payung. Daripada seragamnya basah, lebih baik menunggu sampai hujannya sedikit mereda.

Sekolah itu sudah mulai kosong. Hampir semua murid sudah pulang karena jam sekolah memang sudah selesai dari tadi. Nara pulang lebih lambat karena hukuman tadi. Bahkan Sandra, yang ikut kena hukuman bersamanya, sudah pulang lebih dulu.

Biar saja. Bodo amat.

"Lo ngapain masih di sini?" tanya Alden yang ternyata masih ada di sana.

Mendengar suara itu, Nara langsung menoleh. "Lo enggak lihat nih lagi hujan?" ucapnya judes.

Alden hanya diam. Ia lalu berdiri di sebelah gadis itu, ikut menunggu hujan reda.

"Lo ngapain, sih, dekat-dekat? Sana jauh, ih," ucap Nara kesal.

Sadar dengan apa yang ia lakukan, Alden akhirnya sedikit bergeser. Ia tidak benar-benar menjauh, hanya memberi sedikit jarak agar gadis itu tidak semakin banyak protes.

"Gue ikut lihat perkembangan lo," ucap Alden tiba-tiba.

Nara langsung menoleh heran. "Maksudnya?"

"Biasanya lo masuk ruang OSIS sebagai korban. Sekarang udah bisa masuk sebagai pelaku," lanjut Alden santai.

"Pelaku apa, Njir? Lo enggak lihat dia yang mulai duluan?" jawab Nara kesal.

"Enggak usah ngegas gitu."

Nara mendengkus, masih tidak terima.

"Oke, tapi gue turut senang," ucap Alden lagi. "Itu artinya, lo udah punya keberanian buat ngelawan orang-orang yang jahatin lo."

Ucapan itu membuat Nara terdiam. Entah kenapa, kalimat Alden barusan terasa cukup mengena. Beberapa detik kemudian, gadis itu kembali bersuara.

"Tapi gue heran, deh. Dia itu sering banget melakukan perundungan, kok masih bisa sekolah di sini? Bukannya dikeluarin sama pihak sekolah, malah dibiarin."

Alden menghela napas pelan sebelum menjawab. "Pemilik sekolah ini rakus kalau masalah uang. Apa pun bisa aman asal ada uang tutup mulut. Makanya, setiap Sandra buat masalah, bokapnya gampang aja menyogok pakai uang. Belum lagi nyokap Sandra itu selebgram. Jadi, Sandra bisa memanfaatkan kesempatan itu buat berperilaku semena-mena ke orang-orang yang menurut dia enggak punya harta benda."

Nara terdiam, mencerna ucapan Alden yang cukup panjang itu.

"Tapi sekarang, kan, dia udah tahu gue beda dari yang dulu. Identitas gue juga udah diumumin. Kenapa masih gue yang diganggu?" ujarnya bingung.

"Gue juga enggak tahu," jawab Alden asal.

Beberapa saat, Nara kembali diam. Pikirannya mulai bekerja, menyusun satu per satu kemungkinan yang ada.

"Siapa, sih, nama orang tua dia? Gue harus cari tahu," ucap Nara dalam hati.

Tidak lama setelah itu, ia kembali menoleh ke arah Alden. "Lo tahu enggak siapa pemilik sekolah ini?"

"Tahu," jawab Alden.

"Siapa?"

"Bokapnya Nathaniel."

Jawaban itu langsung membuat Nara naik pitam.

"Pantesan," gumamnya dalam hati.

Selain Sandra yang terus mencari masalah dengannya, Nathaniel juga ikut terlibat. Dalam satu hari ini saja, hanya dua orang itu yang Nara tahu sebagai pelaku perundungan terhadap adiknya.

"Apa gue harus mata-matain mereka, ya?" gumamnya pelan.

Tidak lama setelah itu, hujan akhirnya mulai mereda. Tetesannya tidak lagi sederas tadi, hanya menyisakan gerimis kecil yang turun pelan.

"Nah, udah berhenti. Sana pulang," ucap Alden, seolah mengusir.

"Gue tahu. Gue juga enggak mau lama-lama di sini," balas Nara ketus.

Gadis itu lalu berjalan ke arah parkiran mobil. Alden ikut berjalan di belakangnya, menuju parkiran motor, meski tetap menjaga jarak. Mereka berjalan dalam diam, hanya ditemani suara sisa gerimis dan aroma tanah basah yang memenuhi udara.

Sesampainya di parkiran, Nara langsung dibuat kesal oleh sesuatu yang tidak terduga. Ban belakang mobilnya bocor. Gadis itu membelalak, lalu berengut kesal.

"AAAAAAA! Oh, no!" teriak Nara.

Teriakannya membuat Alden menoleh. Cowok itu berjalan mendekat ke arah Nara dan melihat apa yang membuat gadis itu ribut.

"Kenapa, sih, lo? Suka banget teriak-teriak enggak jelas gitu," ucap Alden kesal.

"Lo enggak lihat itu, hah? Ban gue dikempesin sama seseorang," ucap Nara sambil menunjuk ban belakang mobilnya.

Alden menoleh ke arah yang ditunjuk Nara. Ia lalu berjongkok di sana dan meraba ban itu. Ternyata benar, ada orang iseng yang bukan hanya mengempeskan ban, tetapi juga membocorkannya. Bahkan, terlihat bekas sobekan di bagian ban tersebut.

"Tinggal bawa ke tambal ban," ucap Alden dengan santai.

"Gue enggak ada nomor tambal ban," jawab Nara.

Alden terdiam. Ia pun sebenarnya tidak punya nomor tambal ban. Biasanya, kalau ada masalah seperti ini, ia tinggal menelepon seseorang, lalu orang itu yang menyelesaikan semuanya.

"Lo telepon siapa kek yang bisa," ujar Alden.

Nara kemudian teringat bahwa ia punya nomor salah satu pengawal kepercayaan papanya. Tanpa menunggu lama, ia langsung mengambil ponsel dan mencoba menelepon orang itu. Sayangnya, ponsel pengawal tersebut tidak aktif.

"Enggak aktif," gumam Nara kesal.

Alden terdiam sejenak. Sebenarnya, ia bisa saja memperbaikinya sendiri. Kadang-kadang, ia memang suka memperbaiki motor atau mobilnya sendiri. Tapi kadang juga, ia lebih memilih menyuruh pengawalnya untuk menyelesaikan semuanya.

"Lo ada ban cadangan?" tanya Alden.

"Ada, sih. Tuh, di bagasi," jawab Nara.

"Buka," ucap Alden singkat.

Nara pun membuka bagasi mobilnya. Setelah melihat ban cadangan di dalamnya, Alden mulai bersiap.

"Biar gue aja yang gantiin. Enggak lama, kok," ucap Alden.

Nara langsung tercengang. "Seriously? Lo beneran bisa?"

"Beneran. Udah, lo tunggu aja."

Alden membuka almetnya, lalu membuka tasnya juga. Ia memberikan dua benda itu kepada Nara untuk dipegang. Nara menerimanya dengan masih memasang wajah tidak percaya.

Sesekali Alden menyeka keringatnya. Meski hujan baru saja berhenti, udara di parkiran terasa lembap dan membuat gerah. Melihat itu, Nara berinisiatif mengambil kipas portabel dari dalam tasnya.

"Sini, gue kipasin lo biar enggak kepanasan," ucap Nara sambil menyodorkan kipas itu ke arah Alden.

Alden hanya diam. Ia tidak menjawab, tetapi juga tidak menolak. Cowok itu kembali melanjutkan pekerjaannya, sementara Nara ikut jongkok di dekatnya sambil mengarahkan kipas portabel itu agar mengenai Alden.

Dua puluh menit kemudian, ban itu akhirnya selesai ditukar. Alden berdiri sambil mengatur napasnya yang sedikit berat.

"Tuh, udah," ucap Alden sedikit ngos-ngosan.

Nara menatap ban mobilnya yang sudah terganti dengan mata berbinar. "Waaaw, thanks! Lo mau gue bayar berapa?" tanyanya sambil mengeluarkan dompet.

Alden tidak langsung menjawab. Ia berjalan ke sebuah wastafel terbuka yang ada di area parkiran untuk membersihkan tangannya. Setelah membilas tangannya, ia baru menoleh ke arah Nara.

"Enggak usah. Simpan aja uang imut lo itu," jawab Alden santai.

Mendengar itu, Nara langsung menatapnya cengang.

"Gue udah baik loh sama lo," ucap Nara, merasa usahanya menawarkan bayaran tidak dihargai.

"Gue cabut dulu," jawab Alden.

Cowok itu mengambil tas dan almetnya dari tangan Nara, lalu berjalan ke arah parkiran motor. Nara hanya bisa menggerutu tidak jelas sambil menatap punggung Alden yang semakin menjauh.

"Dih, sok keren tuh orang," ucap Nara kesal.

Setelah memastikan Alden benar-benar pergi, Nara akhirnya masuk ke dalam mobilnya. Ia menyalakan mesin, lalu keluar dari area sekolah dengan perasaan yang masih campur aduk.

1
Lxjn
Mangat kak💪
fayepey: Terimakasih
total 1 replies
ana Ackerman
kak lanjut ya jangan lupa up kak semangat
fayepey: Terimakasih kak
Nanti sore aku up lagii
total 1 replies
ana Ackerman
lanjut kak
Bu Dewi
seru kk😍😍😍😍
fayepey: Terimakasih😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!