Arthur Fabian Kell adalah vampir yang dianugerahi kekuatan terlarang dari Lucifer. Bukannya dipuja, ia justru dibenci oleh klannya sendiri dan ditolak oleh ayahnya, pemimpin Dark Moon.
Saat sang ibu mengorbankan nyawanya demi menyelamatkannya, Arthur berubah menjadi sosok kejam yang hidup hanya untuk membalas dendam. Untuk menyempurnakan kekuatan hitamnya, ia harus meminum darah manusia yang diberkahi.
Setelah berabad-abad menunggu, Arthur akhirnya bertemu Sonja, gadis yang memiliki darah tersebut. Namun, alih-alih membunuhnya, ia justru jatuh cinta.
Kini Arthur harus memilih, menyempurnakan dendamnya atau mempertahankan satu-satunya orang yang mampu menghidupkan kembali hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketakutan Arthur
Arthur melesat di antara rimbunnya pepohonan dengan kecepatan yang nyaris tak terlihat. Satu demi satu batang pohon dilewatinya, meninggalkan Ethan jauh di belakang. Di dalam pelukannya, tubuh mungil Sonja terhimpit begitu erat hingga gadis itu merasa kesulitan bernapas.
Sonja meringis menahan sakit."Arthur, Alea terluka. Pria itu akan membunuh Alea," lirihnya dengan suara bergetar.
Tidak ada jawaban.
Arthur tetap berlari tanpa sedikit pun menoleh. Tatapannya lurus ke depan, rahangnya mengeras, seolah semua emosinya sedang ditahan dengan susah payah.
"Arthur, kumohon, kita harus kembali. Alea akan mati..." Air mata Sonja kembali mengalir deras. Bayangan Alea yang ditinggalkan sendirian bersama Ethan membuat dadanya sesak. Namun, keheningan tetap menjadi jawaban.
Sonja mulai memberontak di dalam pelukan Arthur. Kedua tangannya memukul dada pria itu berkali-kali."Arthur! Lepaskan aku! Lepaskan!"
"Diam, Sonja!" bentak Arthur tanpa menghentikan langkahnya. Napasnya terdengar berat."Kau benar-benar membuat emosiku di ujung tanduk."
Sonja terdiam sesaat.
"Elleanor sudah membawa Alea pergi dari sana. Ethan tidak akan semudah itu menyentuhnya. Jadi berhentilah memberontak."
Mendengar penjelasan itu, Sonja akhirnya sedikit tenang, meski air matanya belum juga berhenti mengalir. Tak lama kemudian, mereka tiba di Kastil Damian. Begitu kedua kakinya menyentuh tanah, Arthur langsung menggenggam erat pergelangan tangan Sonja, seolah takut gadis itu akan kembali menghilang.
"Damian!" serunya lantang.
Damian dan Cassa yang sedang berada di aula langsung menoleh.
"Persiapkan pernikahanku dengan Sonja malam ini juga. Lakukan secepatnya." Perintah itu membuat Damian dan Cassa saling berpandangan dengan mata membulat.
Bahkan Sonja ikut membeku."Malam ini?" bisiknya tak percaya.
Arthur menatap Damian dengan sorot mata dingin."Kenapa kalian masih diam? Apa kalian tidak mendengar perintahku?" Nada suaranya meninggi, dipenuhi amarah yang belum juga mereda.
Damian segera menundukkan kepala."Baik, Yang Mulia. Saya akan segera menyiapkannya."
Tanpa mengatakan apa pun lagi, Arthur menarik Sonja menuju kamar. Begitu pintu kamar tertutup, Sonja melepaskan genggaman Arthur.
"Kau pernah berjanji padaku," ucap Sonja lirih. "Kita akan menikah seminggu lagi. Kenapa tiba-tiba kau mengubah semuanya?"
"Kau masih berani bicara soal janji?" Arthur memotong ucapan Sonja dengan suara tajam. Tatapan matanya dipenuhi rasa kecewa."Bukankah kau juga berjanji padaku untuk tidak keluar dari kastil sebelum pernikahan kita?"
Sonja terdiam.
"Lalu apa yang kau lakukan hari ini?" Arthur melangkah semakin dekat."Kau melanggar janjimu, Sonja!"
Bentakan itu membuat bahu Sonja bergetar. Air matanya kembali jatuh tanpa bisa ditahan."Aku..." bibirnya gemetar.
"Tahukah kau apa yang hampir terjadi?" lanjut Arthur."Karena keras kepalamu, Ethan akhirnya menemukanmu. Sedikit saja aku terlambat..." Arthur menghentikan ucapannya. Dia mengepalkan kedua tangan begitu erat hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol.
Sonja menggigit bibir bawahnya, ia tidak pernah melihat Arthur semarah ini."Aku membencimu!" Kalimat itu meluncur begitu saja di tengah luapan emosinya.
Ruangan mendadak sunyi.
Arthur mematung. Sorot matanya perlahan berubah. Kemarahan yang sejak tadi membakar dirinya seakan runtuh dalam sekejap, berganti dengan sesuatu yang jauh lebih menyakitkan. Perlahan, ia melangkah mendekati Sonja. Satu lengannya melingkar di pinggang gadis itu, menariknya ke dalam pelukan.Tangannya yang lain mengusap lembut pipi Sonja, menghapus air mata yang masih membasahi wajahnya.
Arthur lalu menempelkan keningnya pada kening Sonja. Matanya terpejam."Aku sedang ketakutan, Sonja..." bisiknya lirih. Suara itu begitu pelan, tetapi penuh luka."Rasa takut ini hampir membuatku gila."
Sonja menatapnya bingung. Untuk pertama kalinya, ia melihat Arthur yang selalu kuat itu tampak begitu rapuh."A,apa yang membuatmu takut?" tanyanya terbata-bata.
Arthur mengembuskan napas panjang."Aku takut kehilanganmu." Suaranya nyaris tak terdengar."Aku takut kau meninggalkanku." Dia membuka matanya dan menatap Sonja begitu dalam."Aku takut kau menjauh dariku. Karena itu, dengan cara apa pun, kau harus segera menjadi milikku."
Sonja terpaku. Tak pernah sekali pun ia menyangka Arthur menyimpan ketakutan sebesar itu. Perlahan dia mengangkat kedua tangannya, lalu memeluk Arthur dengan erat."Sudah berkali-kali aku mengatakan ini padamu." Sonja tersenyum di balik air matanya."Aku adalah milikmu. Sampai kapan pun akan tetap menjadi milikmu." Dia mengusap pelan punggung Arthur."Aku sangat mencintaimu, Arthur."
Arthur memejamkan mata, menikmati kehangatan pelukan itu."Aku juga sangat mencintaimu," balasnya pelan sembari mengecup lembut kening Sonja sebelum kembali menatap kedua mata gadis itu."Karena itu kita akan menikah malam ini." Nada suaranya kini jauh lebih tenang, tetapi penuh ketegasan."Jangan membantahku lagi, Sonja."
Dia menggenggam tangan gadis itu dengan erat. "Karena kali ini aku tidak akan mengalah.
***
"Wah, lihatlah siapa yang akhirnya pulang.” Suara berat Markus Gilbert menggema memenuhi aula utama kastil. Senyum tipis terukir di bibirnya, tetapi sorot matanya tetap tajam.“Aku sempat berpikir kau sudah melupakan rumah dan keluargamu, Ethan.”
Pria paruh baya itu menyandarkan tubuhnya dengan santai di singgasana hitam yang berdiri megah di ujung ruangan.“Ada angin apa sampai kau memutuskan kembali tanpa harus kupanggil atau kupaksa?”
Ethan tidak langsung menjawab.
Tatapan matanya yang dingin menyapu setiap sudut kastil. Dinding-dinding batu berwarna kelabu, pilar-pilar tinggi, lampu-lampu kristal yang memancarkan cahaya redup, hingga karpet merah panjang yang terbentang menuju singgasana. Tidak ada yang berubah. Kastil itu masih sama seperti bertahun-tahun lalu.
Dingin.
Sunyi.
Tak bernyawa.
Persis seperti penghuninya.
Seketika berbagai kenangan yang ingin ia kubur kembali memenuhi kepalanya. Masa kecil yang penuh tekanan, latihan tanpa belas kasihan, dan ayah yang hanya mengenalnya sebagai pewaris, bukan sebagai seorang anak. Ethan mendengus pelan.
"Apa kau datang hanya untuk berdiri seperti patung di sana?" sindir Markus sambil mengangkat sebelah alis.
Barulah Ethan melangkah. Setiap langkahnya bergema pelan di lantai marmer, berhenti beberapa meter di depan singgasana."Aku datang untuk meminta satu hal." Nada suaranya datar. Tidak ada rasa hormat. Tidak ada basa-basi.
Padahal sosok yang duduk di hadapannya adalah pemimpin Klan Dark Moon, klan vampir paling disegani oleh seluruh bangsa vampir.
Wajah Markus mengeras."Kau benar-benar anak yang tidak memiliki sopan santun." Suaranya mulai meninggi. "Setidaknya hargailah wibawaku. Sekarang aku adalah pemimpin Klan Dark Moon." Ia berhenti sejenak."Pemimpinmu."
Ethan terkekeh sinis."Kasihan sekali."
Markus mengernyit.
"Tidak ada yang benar-benar mengakui kepemimpinanmu." Tatapan Ethan berubah semakin tajam."Hanya para tetua yang haus kekuasaan dan para penjilat itu yang masih setia mendukungmu."
Ethan menyeringai tipis."Sisanya? Nihil."
"ETHAN!"
Bentakan Markus mengguncang seluruh aula. Aura vampir yang mengerikan menyebar memenuhi ruangan hingga para pelayan yang berjaga langsung menundukkan kepala ketakutan. Namun Ethan tetap berdiri tenang. Sedikit pun tidak gentar.
"Sudahlah, Ayah." Suara lembut seorang gadis memecah ketegangan. Ana berjalan memasuki aula dengan gaun panjang berwarna merah tua. Wajah cantiknya dihiasi senyum hangat ketika melihat kakaknya yang telah lama menghilang."Kakak baru saja pulang. Masa sudah disambut dengan bentakan seperti itu?"
Markus mengembuskan napas panjang. Ia mengepalkan tangan, berusaha menahan amarah yang hampir meluap. Menghadapi Ethan memang selalu menguras kesabaran.
"Selamat datang kembali, Kak." Ana tersenyum tulus. Namun balasan yang diterimanya hanyalah tatapan dingin penuh celaan. Bagi Ethan, Ana dan Markus adalah satu kesatuan. Sama-sama menjijikkan. Sama-sama tidak pernah benar-benar ia anggap sebagai keluarga.
Tatapan Ethan kembali beralih kepada Markus, seolah Ana tidak pernah berdiri di sana. Gadis itu mendengus kesal karena lagi-lagi diabaikan.
"Aku tidak suka membuang waktu." Ethan membuka suara."Langsung saja ke inti pembicaraan."
Markus menyilangkan kedua tangan di dada."Katakan."
Ethan menatap lurus ke arah singgasana."Aku ingin menjadi pemimpin Klan Dark Moon."
Keheningan seketika memenuhi aula. Lalu, Markus tertawa pelan. Seringai kemenangan menghiasi wajahnya."Tentu saja, kau memang pewarisku. Suatu hari nanti, setelah aku puas duduk di singgasana ini, semuanya akan menjadi milikmu."
Ethan menggeleng perlahan."Sekarang."
Senyum Markus memudar.
"Tidak ada kata nanti." Suara Ethan terdengar semakin dingin."Serahkan kepemimpinan itu sekarang juga, atau..." Dia menatap ayahnya tanpa berkedip."aku akan merebutnya dengan paksa."
Tatapan Markus berubah membunuh."Apa kau sedang mengancamku?"
"Aku hanya memberimu pilihan."
"Kak!" Ana berseru panik. "Apa yang Kakak katakan? Kau mengancam ayahmu sendiri!"
Namun lagi-lagi Ethan bahkan tidak melirik ke arahnya. Keberadaan Ana seolah tidak berarti apa pun.
"Aku akan memberimu waktu." Ethan membalikkan badan."Pikirkan baik-baik."
Langkahnya berhenti sesaat."Lepaskan singgasana itu secara terhormat," Ia menoleh sedikit."atau binasa bersamanya." Setelah mengucapkan kalimat itu, Ethan melangkah pergi meninggalkan aula.
Tak seorang pun berani menghalanginya. Suasana berubah sunyi. Markus masih mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol. Sementara Ana hanya bisa memandangi punggung kakaknya dengan tatapan gelisah.
Pertemuan tak terduga dengan Sonja telah mengubah sesuatu di dalam diri Ethan. Wajah mungil gadis itu terus memenuhi pikirannya.
Tatapan matanya.
Suara lembutnya.
Aroma darahnya yang begitu memabukkan.
Semuanya terus menghantuinya tanpa henti. Belum pernah Ethan merasakan hal seperti ini sebelumnya. Selama ratusan tahun hidup sebagai vampir, dunianya hanyalah kehampaan.
Tidak ada tujuan.
Tidak ada keinginan.
Tidak ada sesuatu yang benar-benar mampu membangkitkan gairah hidupnya. Namun Sonja, gadis manusia itu membuat jantungnya yang telah lama mati seolah kembali berdetak. Untuk pertama kalinya, Ethan merasa benar-benar hidup. Dan untuk pertama kalinya pula, ia memiliki sesuatu yang ingin diperjuangkan. Dia menginginkan Sonja. Apa pun risikonya. Namun Ethan sadar, jalan menuju gadis itu tidak akan mudah.
Nama Arthur kembali terlintas di benaknya. Vampir itu adalah penghalang terbesar yang harus ia singkirkan. Karena itu, sebelum merebut Sonja, Ethan harus lebih dulu merebut kekuasaan.
Perang segera dimulai. Dan Ethan tidak berniat kalah.