Antara mencintai atau obsesi itu beda tipis nggak sih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My. dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji
Kabar yang mengegerkan ANGKASA NUSA saat ini sampai di telinga Arina. “Kayaknya nggak mungkin,” gumamnya menepis pikirannya sendiri. Dia masih ragu perseteruan antara Jagat dan Risky karena dirinya. “Kalian mau ikut nggak?” tanya Arina kepada dua sahabatnya.
“Kemana?” tanya Mila penasaran.
“UKS,”
“Jenguk Risky?”
“Hemb.”
“Nggak ah, males.”
“Lu mau kesana?” tanya Nina penasaran.
“Hemb, gue mau pastikan keadaannya, memungkinkan nggak buat ikut lomba lusa, biar gue bisa cepet cari ganti.” jelasnya dengan wajah seriusnya.
Nina hanya mengangguk paham, “ya udah kesana gih, gue males.”
“Ya udah, Bye…”
Arina berjalan cepat menyusuri lorong, tetapi siapa sangka dia malah menabrak Jagat yang baru saja keluar dari ruang kepala sekolah.
“Duugghhhh… awwwhh..” ringisnya.
Tangan Jagat langsung menahan lengan Arina dengan gerakan cepat.
“Ja-gat.”
“Mau kemana?”
“Ke UKS.”
Jawaban yang membuat Jagat semakin murka. “Ikut aku.”
“Kemana?” Arina terlihat panik, saat Jagat mencengkeram tangannya dengan kuat, dan menariknya sedikit kasar.
“Ikut aja.”
“Jagat kita mau kemana?” Arina semakin bingung saat Jagat menariknya ke parkiran sekolah.
Jagat sama sekali nggak perduli dengan rengekan Arina, dia langsung memasangkan helm di kepala Arina.
“Jagat, ini masih jam sekolah.”
“Naik, apa gue habisi itu anak?” kali ini wajah Jagat terlihat dingin dan datar. Sorot matanya yang tajam dan mengkilat amarah.
Dengan patuh Arina langsung naik ke jok motor Jagat, sambil menundukkan kepalanya.
Hingga beberapa saat kemudian mereka sampai di halaman rumah minimalis bergaya classic.
“Ini rumah siapa?”
“Rumah gue.”
Jagat langsung menarik lengan Arina, yang sejak tadi hanya berdiri mematung saat turun dari motor. “Kita selesaikan masalah kita saat ini.”
“Ma-salah a-pa?”
“Duduk.” Jantung Arina berdetak lebih kencang, seolah olah dia adalah salah satu tersangka yang sedang di interogasi. Tangannya mulai meremas roknya sendiri dengan gugup.
Jagat menarik dagu Arina dengan pelan agar menatapnya. “Aku udah bilang, jangan deket dengan laki-laki manapun Arina, kecuali aku.” Mata tajam Jagat saat ini penuh dengan intimidasi.
“Ak-aku han-nya ngobrol bia-sa Ja-gat.”
“Kamu milikku Arina, aku nggak suka itu,aku udah peringatkan kamu berkali-kali.”
Arina mengangguk dengan tatapan mata yang ketakutan, suaranya tercekat entah mengapa saat ini Jagat terlihat mengerikan dalam pandangannya.
“Gadis pintar,” Jagat tersenyum smirk lalu melumat lembut bibir Arina. Dia menarik tengkuk Arina untuk memperdalam ciuman nya. “Balas Sayang.” tuntutnya.
Air mata Arina mulai jatuh di ujung pelupuk matanya, saat Jagat mulai meremas dadanya dan menarik pinggang untuk mendekat ke arah Jagat.
“Kenapa menangis, hemb?” bisiknya sambil menghapus jejak air mata yang telah jatuh.
“Jangan lakukan ini.” Mohon Arina dengan wajah melasnya.
Jagat tersenyum smirk di hadapan Arina, “ini hukuman untukmu.”
Arina menggelengkan kepalanya, “Aku janji nggak akan mengulangi lagi.”
“Janji?”
Arina mengangguk pelan. “Iya.”
“Baiklah, kalau kamu ingkar kita akan melakukan lebih dari ini.” Ancamnya yang membuat Arina tercengang.
“Aku mau balik ke sekolah.”
“Nggak, temenin aku di sini.”
“Tapi,”
Jagat langsung kembali melumat bibir Arina dengan lembut, “Balas sayang, kalau mau pulang.” perintahnya.
Mendengar kata pulang Arina mulai membalas ciuman Jagat dengan lembut, entah mengapa malah menjadikan Jagat semakin agresif, ciuman nya terus menuntut lebih, membuat Arina kualahan dan hampir kehabisan pasokan udara. Jagat melepaskan ciuman nya sejenak saat melihat wajah Arina yang memerah sempurna, dia mengijinkan Arina meraup oksigen sebanyak banyaknya dan kembali melumat bibir Arina lagi dengan rakus.
...----------------...
...“Hai, semoga suka ya, bantu Like, koment dan Vote.”...