NovelToon NovelToon
Kapten Basket Itu Suamiku

Kapten Basket Itu Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Perjodohan
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Aqilazahra

Nikah muda? ✅
Nikah online? ✅

Satu kelas sama suami sendiri yang ternyata idola sekolah? Nah, yang ini di luar prediksi BMKG!


Satu tahun lalu, sebuah ijab kabul via video call mengikat takdir Ellea dengan seorang pria di kota. Tanpa cinta, tanpa tatap muka langsung.

Kini, Ellea harus menyusul sang suami ke kota setelah kepergian neneknya. Namun, saat tiba di sana, justru pria itu kabur dari rumah dan takdir membawa mereka untuk bertemu kembali di koridor sekolah.

Pria itu bernama Albiru, pria yang paling dielu-elukan, sang kapten tim basket yang dingin dan tak tersentuh, ternyata adalah pemilik cincin yang sama dengan yang melingkar di jari Ellea.

Bagaimana cara Ellea menyembunyikan rahasia besar ini di depan teman-teman barunya? Dan mampukah sang kapten basket mengenali istrinya sendiri yang bercadar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilazahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pernikahan pura-pura

Albiru sengaja menarik tuas gasnya lebih dalam. Deru mesin motor sport itu mendadak meninggi, membelah jalan raya dengan kecepatan yang membuat bulu kuduk Ellea meremang. Angin sore berembus kencang, menerpa jilbab dan cadar Ellea hingga berkibar heboh.

"Kak, jangan kencang-kencang! Ellea takut!" teriak Ellea histeris. Spontan, kedua lengannya yang semula merenggang kini melingkar erat di pinggang tegap Albiru. Wajahnya disembunyikan di balik punggung lebar pria itu, memejamkan mata rapat-rapat karena ngeri melihat aspal yang melesat cepat di bawah mereka.

Mendengar jeritan panik bercampur pasrah dari belakang, Albiru justru tertawa lepas. Suara tawa baritonnya terdengar renyah, bersaing dengan gemuruh angin jalanan. Alih-alih melambat, ia sengaja meliuk-liukkan motornya sedikit ke kanan dan ke kiri, sengaja menjahili sang istri agar pelukan itu tidak terlepas.

"Makanya, pegangan yang kencang!" teriak Albiru menimpali.

Namun, di sela-sela aksi jahilnya, ada sebersit rasa asing yang perlahan menyusup ke dalam dada Albiru. Dekap hangat tangan Ellea di perutnya, deru napas gadis itu yang terasa halus di punggungnya, serta aroma wangi lembut khas vanilla yang menguar dari pakaian syar'i Ellea mendadak menciptakan getaran aneh. Ada rasa nyaman dan damai yang menenteramkan rongga dadanya sesuatu yang sangat berbeda dan belum pernah ia rasakan sebelumnya, bahkan ketika Sandra dengan sengaja memeluknya dari belakang saat mereka berkendara bersama.

"Jadi ... begini rasanya dipeluk sama yang halal?" batin Albiru, tertegun sesaat oleh debaran jantungnya sendiri yang tiba-tiba beritme ganjil.

Namun, hanya dalam hitungan detik, tembok ego yang tinggi di dalam kepala Albiru kembali bangkit, menggilas perasaan halus yang baru saja mekar.

"Enggak, enggak. Gue nggak boleh jatuh cinta sama cewek aneh ini. Pernikahan ini cuma karena wasiat, nggak lebih," pikirnya ketakutan, menepis kewarasan demi mempertahankan gengsi masa mudanya.

Motor sport hitam itu akhirnya berbelok memasuki pekarangan rumah mewah keluarga Samudra. Albiru mengerem perlahan dan mematikan mesin motor di depan garasi. Suasana mendadak hening, hanya menyisakan sisa gemuruh knalpot yang perlahan mereda.

Albiru menurunkan standar motor, namun ia merasakan lingkar tangan di pinggangnya belum juga terlepas. Ellea masih setia memeluknya erat dengan tubuh yang bergetar kecil, sementara kedua matanya masih terpejam rapat di balik helm.

"Ehem ..." Albiru berdehem sengaja, menyunggingkan senyum jail andalannya. Ia menunduk, menepuk pelan punggung tangan Ellea yang masih bertaut di perutnya. "Enak ya dipeluk lama-lama? Kita udah sampai, El. Lo mau meluk gue sampai magrib?" goda Albiru dengan nada meremehkan yang khas.

Mendengar bisikan itu, Ellea tersentak kaget. Ia buru-buru membuka mata dan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Begitu menyadari mereka sudah terparkir dengan aman di halaman rumah, Ellea secepat kilat menarik tangannya kembali seolah baru saja menyentuh bara api.

"A-ah, maaf Kak. El nggak bermaksud," cicit Ellea dengan wajah yang merona merah padam di balik cadarnya. Ia buru-buru turun dari boncengan dengan gerakan canggung, hampir saja tersandung roknya sendiri jika tidak segera berpegangan pada jok motor.

Sementara itu, di atas lantai dua, tepatnya di balkon kamar utama, Mahira yang sedang menikmati teh sore sambil bersantai, tidak sengaja menyaksikan seluruh pemandangan manis tersebut sejak motor putranya memasuki gerbang. Senyum bahagia terukir jelas di wajah anggun wanita paruh baya itu. Dadanya membuncah penuh rasa haru melihat interaksi intim kedua anak remaja tersebut.

"Ya Allah, terima kasih. Tolong berikan kebahagiaan seutuhnya dalam rumah tangga anak-anak hamba. Satukan hati mereka, ya Rabb ..." Doa Mahira dalam hati, penuh harap agar wasiat pernikahan ini benar-benar membawa berkah bagi masa depan Albiru dan Ellea.

Ellea berjalan cepat mendahului Albiru masuk ke dalam rumah demi menyembunyikan rasa malunya yang sudah di ambang batas. Namun, langkahnya terhenti di ruang tengah saat melihat Mahira baru saja turun dari anak tangga dengan senyuman yang penuh arti.

"Eh, anak-anak bunda sudah pulang," sapa Mahira manis, tatapannya beralih dari Ellea lalu terkunci pada wajah Albiru yang melangkah masuk di belakang istrinya.

Senyum Mahira memudar berganti dengan kernyitan cemas saat melihat sudut bibir Albiru yang robek dan pipinya yang lebam kebiruan. "Astaga, Al! Muka kamu kenapa lagi itu? Berantem lagi di sekolah?" tanya Mahira, berkacak pinggang menatap putra tunggalnya.

"Cuma masalah kecil di lapangan basket, Bun. Biasa, anak laki," jawab Albiru santai, mencoba mengelak seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Mahira mengembuskan napas panjang, hafal betul dengan tabiat keras kepala putranya. Namun, sedetik kemudian, raut wajah jahil Mahira kembali muncul. Ia melirik Ellea yang berdiri canggung di samping meja, lalu menatap Albiru dengan kedipan mata penuh godaan.

"Ya sudah, obati lukanya di atas. Tapi ingat ya, Al ..." Mahira sengaja menjeda kalimatnya, mendekat sedikit ke arah Albiru seraya berbisik namun cukup jelas terdengar oleh Ellea. "Jangan dulu diapa-apain ya menantu bunda yang cantik itu. Jaga batasannya, ingat kalian berdua itu masih sekolah. Jangan curi-curi kesempatan di dalam kamar!"

Blush!

Wajah Ellea rasanya seperti meledak mendengar wejangan frontal dari ibu mertuanya. Ia meremas jemarinya, menundukkan kepala sedalam-dalamnya hingga khimar putihnya menutupi ekspresi wajahnya yang luar biasa malu. Kamar? Pembicaraan mereka memang di kamar, tapi arahnya sama sekali tidak seperti yang dipikirkan Mahira.

"Apaan sih, Bun! Enggak jelas banget!" protes Albiru dengan wajah yang mendadak ikut memerah karena salah tingkah. Ia mendengus kasar untuk menutupi rasa gugupnya. "Ayo, El, naik ke atas!" titah Albiru ketus, buru-buru menarik lengan Ellea menjauh sebelum bundanya melontarkan godaan yang lebih ekstrem lagi.

Mahira hanya tertawa kecil melihat kepanikan putranya yang salah tingkah, menatap punggung keduanya yang berjalan beriringan menaiki anak tangga menuju lantai dua.

“Ck! Dasar anak muda, malu-malu tapi mau.”

Cklek.

Pintu kamar bernuansa abu-abu gelap milik Albiru ditutup dan dikunci dari dalam. Suasana di dalam kamar mendadak berubah canggung dan hening. Ellea memilih berdiri diam di dekat meja belajar yang rapi, menaruh tas ranselnya di lantai, sementara pandangannya tertuju pada lantai. Ia menolak untuk duduk di kasur besar milik Albiru demi menjaga kesopanan dirinya.

Albiru melempar tasnya ke kursi, lalu berjalan mendekati Ellea. Jarak mereka kini hanya tersisa beberapa langkah. Sisa ketegangan dari sekolah dan kehangatan dari perjalanan pulang tadi masih terasa samar di antara mereka.

"Duduk, El. Nggak usah sekaku itu, gue nggak bakal gigit lo," ujar Albiru, nadanya kini melunak, kehilangan sebagian besar keangkuhannya yang biasa ia tunjukkan di depan teman-temannya.

Ellea perlahan mengangkat kepalanya, menatap lurus ke arah netra tajam Albiru. "Kak Al mau bicara apa soal pernikahan kita? Tolong sampaikan sekarang, keburu adzan magrib.”

Albiru terdiam sesaat. Ia menatap lekat-lekat sosok di hadapannya. Rasa bersalah sempat melintas, namun keegoisan dan kekerasan kepalanya dengan cepat mengambil alih kendali diri. Ia menyandarkan pinggulnya di tepi meja belajar sambil bersedekap dada.

"Gue mau kita perjelas batasan di antara kita," ucap Albiru, suaranya kembali terdengar dingin dan lugas. "Pernikahan ini harus tetap bertahan demi orang tua gue. Di depan Bunda dan Papa, gue mau kita pura-pura bahagia dengan pernikahan ini."

Ellea mengernyitkan dahinya, menatap Albiru dengan tatapan tidak percaya. "Maksud Kak Al ... pura-pura?"

"Iya," jawab Albiru tanpa beban. "Gue nggak mau Bunda merasa bersalah karena sudah maksain wasiat almarhum Kakek. Lo tahu sendiri gimana kondisi kesehatan Bunda kalau sampai kepikiran. Jadi, tugas lo cuma satu. Bersikap seolah-olah lo bahagia jadi istri gue kalau di rumah. Selebihnya, di luar rumah, kita hidup masing-masing."

1
Iped Suhendi
sangat bagus cerita nya.
Iped Suhendi
semangat ya nulis nya.Bagus banget cerita nya.Saya suka 😍
Aqilazahra: terima kasih Kak, sudah mampir. semoga suka ya
total 1 replies
Muharlita Muharlita
saya suka
Devan Davin
bgus skli
Aqilazahra: terima akak sudah mampir
total 1 replies
rattna
bagus
Aqilazahra: terima kasih kakak, sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!