Istri Cadangan Sang Mafia
Di hari pernikahan, Selena Kustiono menghilang.
Demi menyelamatkan keluarganya, Serina Kustiono dipaksa menggantikan sang kakak menikahi Vincent Timothy, bos mafia paling berkuasa sekaligus ayah tunggal dari Viren, putra genius yang menolak kehadiran ibu baru.
Pernikahan mereka hanyalah kesepakatan.
Tak ada cinta.Tak ada pilihan.
Namun saat Viren mulai memanggil Serina "Mama", Vincent menyadari satu hal—musuhnya kini tak lagi mengincar kekuasaannya, melainkan keluarganya.
Mampukah seorang istri cadangan bertahan di sisi pria yang seluruh hidupnya dipenuhi darah, pengkhianatan, dan rahasia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Cahaya matahari pagi menembus tirai ruang makan. Jam di dinding baru menunjukkan pukul tujuh.
Hari Minggu.
Bagi sebagian orang, itu hari untuk beristirahat.
Tidak di mansion Timothy.
Vincent sudah mengenakan kemeja hitam dengan jas yang tersampir di lengannya. Secangkir kopi tinggal setengah.
Serina meletakkan sepiring omelet di meja. "Selamat pagi."
Vincent mengangguk singkat. "Pagi."
Tak lama kemudian Viren turun dengan kaus putih dan celana panjang krem. Hari libur membuatnya tidak mengenakan seragam, tetapi rambutnya tetap tersisir rapi. Ia duduk di kursinya seperti biasa. "Pagi."
Serina tersenyum. "Pagi."
Chef Rudi menyajikan sarapan. Beberapa menit berlalu tanpa percakapan.
Vincent melirik jam tangan. "Jangan lupa nanti pukul sembilan."
Viren mengangguk. "Aku ingat, Ayah."
Serina menatap keduanya bergantian. "Ada apa jam sembilan?"
"Les piano."
Serina sedikit terkejut. "Hari Minggu juga?"
Viren menjawab sambil mengoleskan selai ke rotinya. "Setiap Minggu."
Vincent menambahkan tanpa mengangkat kepala. "Setelah itu kelas berenang."
Serina menatap Viren. "Jadwalmu padat juga."
Viren mengangkat bahu. "Sudah biasa. Jadi, kamu tidak perlu kaget."
Vincent menghabiskan kopinya. "Aku ada rapat."
Ia berdiri. "Daniel akan mengantarku."
Serina ikut berdiri. "Kalau begitu... siapa yang mengantar Viren?"
Vincent merapikan manset kemejanya. "Kamu."
Serina berkedip. "Aku?"
Vincent menatapnya datar. "Kamu istriku. Mulailah membiasakan diri." Tak ada penjelasan lagi. Ia mengambil kunci mobil dan pergi. Sementara Viren bangkit menuju kamarnya.
Suara mesin mobil menghilang dari halaman mansion.
"Nyonya." suara Soraya pelan.
"Ya?"
"Biasanya Tuan sendiri yang mengantar Tuan Muda."
Serina menoleh. "Hari ini dia menyuruhku untuk mengantar. Mengapa tidak ada kata tolong atau pemanis lain."
Soraya tersenyum tipis. "Mungkin Tuan ingin memberi kesempatan kepada Nyonya." Serina tidak berkomentar.
Serina merapikan lengan bajunya. "Apa ada yang perlu saya kerjakan?"
Soraya menggeleng pelan. "Untuk sementara tidak ada, Nyonya."
"Kalau begitu.... Aku ke dapur sebentar."
Soraya yang sedang membereskan meja makan menoleh. "Nyonya mau apa?"
"Aku mau membuat bekal."
Soraya tampak sedikit terkejut. "Untuk Tuan Muda?"
Serina mengangguk. "Aku tidak bisa terus berdiam diri, banyak hal yang bisa aku lakukan. "
Soraya tersenyum kecil. "Saya bisa membantu."
"Tidak usah." Serina sudah lebih dulu berjalan menuju dapur dan membuka lemari dapur.
Ia mengambil dua lembar roti tawar, sebutir telur rebus, beberapa lembar selada, dan sepotong keju. Tangannya bergerak cekatan. Tak lama kemudian, dua potong sandwich tersusun rapi di atas talenan.
Sesaat ia melirik semangkuk stroberi yang masih berada di meja makan. Tangannya sempat terulur. Lalu berhenti. Ia mengingat ucapan Viren.
"Aku tidak suka stroberi."
Serina menarik kembali tangannya. Sebagai gantinya, ia mengambil sebuah apel dari keranjang buah. Apel itu dipotong kecil-kecil, lalu dimasukkan ke dalam kotak bekal bersama sandwich.
Kotak itu ditutup rapat. "Jangan bilang pada Viren kalau aku membuatkan bekal ini."
Soraya mengedip bingung. "Kenapa, Nyonya?"
Serina tersenyum tipis. "Aku khawatir dia malah menolak membawanya."
Soraya terkekeh pelan. "Baik. Saya mengerti."
Serina memasukkan kotak bekal itu ke dalam tas kecil yang nanti akan dibawa saat les piano. Ia berharap Viren tidak menyadarinya sampai waktu istirahat tiba.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pukul delapan lewat empat puluh lima. Sebuah sedan hitam berhenti di depan gedung akademi musik.
Viren membuka sabuk pengamannya. "Sepuluh menit lagi."
Serina mengangguk. "Kita masih punya waktu."
Viren menatap gedung itu. "Kalau terlambat satu menit, Bu Helena akan menambah latihan lima belas menit."
Serina menahan tawa. "Galak sekali."
"Bukan galak." Viren membuka pintu mobil. "Disiplin." Mereka berjalan berdampingan memasuki gedung.
Di ruang tunggu, alunan piano terdengar dari balik pintu kelas. Serina duduk sambil memperhatikan beberapa orang tua murid.
Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya keluar dari ruangannya. Rambutnya disanggul rapi. Ia memakai kacamata tipis. "Viren Timothy."
Viren berdiri. "Selamat pagi, Bu Helena."
Wanita itu mengangguk. Tatapannya beralih kepada Serina. "Saya belum pernah melihat Anda."
Serina tersenyum sopan. "Saya Serina."
Bu Helena terdiam sejenak. Lalu tersenyum ramah. "Jadi... Anda yang menggantikan Tuan Vincent hari ini."
Serina mengangguk. "Saya harap Viren tidak merepotkan."
Bu Helena justru tertawa pelan. "Justru sebaliknya. Dia murid paling tenang yang pernah saya ajar. Tapi..."
Serina menunggu.
"Dia tidak pernah tersenyum."
Tatapan Serina perlahan beralih kepada Viren. Anak itu tampak begitu serius, seolah dunia di sekitarnya tidak ada.
"Silakan masuk, Viren."
"Baik, Bu."
Pintu kelas tertutup. Serina tetap duduk di ruang tunggu.
Beberapa detik kemudian...Alunan piano mulai memenuhi ruangan. Jari-jari kecil Viren bergerak lincah di atas tuts. Serina memejamkan mata sejenak. Ia tidak menyangka, di balik sikap dinginnya, anak itu mampu memainkan nada-nada yang begitu lembut.
Beberapa jam berlalu tanpa Serina sadari.
Alunan piano berhenti. Pintu ruang latihan terbuka. Beberapa anak berlarian keluar menghampiri orang tua mereka.
Serina yang sejak tadi duduk membaca majalah langsung berdiri. Bu Helena menghampirinya sambil tersenyum. "Ibu Serina?"
"Ya, Bu?"
"Anak-anak istirahat sepuluh menit sebelum sesi berikutnya."
"Kalau ingin bertemu Viren, sekarang waktunya."
"Terima kasih."
Serina meraih tas kain yang sejak tadi berada di samping kursinya. Ia berjalan memasuki ruangan, Viren sedang duduk sendirian di sebuah bangku kayu. Buku not balok masih berada di pangkuannya. "Kelelahan?"
Viren menggeleng. "Belum."
Serina duduk di sampingnya. "Aku membawa sesuatu."
Viren menoleh. "Apa?"
Serina membuka tas kain itu. Sebuah kotak bekal berwarna biru muncul dari dalamnya. "Aku pikir setelah latihan kamu lapar."
Viren memandang kotak itu beberapa detik. "Aku belum tentu memakannya."
"Aku tahu."
"Kalau begitu kenapa dibawa?"
Serina tersenyum kecil. "Karena aku juga belum tentu pulang tanpa membawanya."
Jawaban itu membuat Viren terdiam. Pelan-pelan ia mengambil kotak bekal tersebut. Tutupnya dibuka. Di dalamnya tersusun dua potong sandwich telur, beberapa irisan apel yang dipotong kecil, serta sepotong keju.
Viren memperhatikan isi kotak itu. "Stroberinya tidak ada."
"Aku ganti."
"Kenapa?"
"Kemarin ada seseorang yang bilang terlalu banyak stroberi."
Viren segera mengalihkan pandangan. "Itu bukan keluhan."
"Aku tahu."
"Kalau begitu apa alasanmu ?"
Serina mengambil satu potong apel. "Aku hanya ingin mencoba sesuatu yang berbeda."