NovelToon NovelToon
Mahar 1 Miliar: Menikahi Pria Tuli

Mahar 1 Miliar: Menikahi Pria Tuli

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Orang Disabilitas
Popularitas:43.6k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Dara Calya Sania, seorang gadis pincang yang hidupnya penuh dengan penderitaan. Dara dijual pamannya untuk menikahi Gavin Mahardika Abyakta, pria tuli cucu dari pemilik perkebunan teh, Juragan Darmawan, dengan mahar satu miliar rupiah.

Dara yang sejak kecil sudah yatim-piatu, tidak bisa menolak. Terlebih lagi uang mahar itu untuk bayar biaya hidupnya selama tinggal bersama Rama dan Tina.

Bagaimana reaksi Dara ketika tahu Gavin adalah orang yang pernah ditolongnya dahulu dan membuat kakinya pincang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Malam semakin larut. Suasana rumah sudah benar-benar tenang. Dari balik jendela kamar, cahaya lampu kota tampak berkelip di kejauhan. Sesekali terdengar suara kendaraan yang melintas di jalan raya, tetapi begitu pelan hingga tidak mengganggu keheningan malam.

Di dalam kamar, Dara masih duduk di tepi ranjang sambil sesekali melirik ke arah pintu kamar mandi. Sejak tadi suara air dari balik pintu itu terus terdengar mengalir tanpa henti.

Dara memiringkan kepalanya sambil mengerutkan dahi.

"Aa mandi lama sekali."

Padahal tadi Gavin niatnya hanya ingin menggosok gigi sebelum tidur.

Namun, karena melihat keindahan tubuh Dara, dia akhirnya mandi. Sudah hampir setengah jam suara shower masih terus mengalir.

Dara menggigit bibir bawahnya pelan. "Apa Aa tidak takut masuk angin, ya? Mandi lama-lama di malam dingin begini."

Perempuan itu sampai berdiri dan berjalan beberapa langkah mendekati pintu kamar mandi. Tangannya hampir mengetuk pintu, tetapi segera diurungkannya. Ia menggeleng pelan.

"Sudahlah nanti malah mengganggu."

Dara kembali duduk di ranjang sambil mengambil sebuah buku yang tadi sore dibelinya di toko buku. Ia mencoba membaca agar tidak mengantuk.

Sementara itu, di balik pintu kamar mandi, Gavin berdiri tepat di bawah guyuran air dingin. Air terus mengalir membasahi rambut, wajah, hingga seluruh tubuhnya. Kedua matanya terpejam rapat. Ia mengembuskan napas panjang berkali-kali.

"Tenang ... tenang, Gavin," gumamnya lirih.

Namun, semakin Gavin berusaha menenangkan diri, bayangan beberapa menit yang lalu justru semakin jelas memenuhi kepalanya. Wajah Dara yang memerah karena malu. Tatapan matanya yang gugup. Rambut panjang yang masih basah. Dan pakaian tidur yang sempat dilihatnya tanpa sengaja menunjukkan beberapa bagian tubuh yang selalu ditutupi.

Gavin langsung membuka mata..Ia kembali membasuh wajahnya dengan air dingin.

"Kenapa malah kepikiran terus!" Gavin mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Aku benar-benar tidak sengaja."

Pria itu tertawa kecil pada dirinya sendiri. "Ini gara-gara Mama, konsentrasiku jadi berantakan."

Gavin kembali berdiri di bawah shower beberapa menit lagi hingga akhirnya tubuh dan pikirannya mulai terasa sedikit lebih tenang. Barulah Gavin mematikan keran. Setelah mengenakan pakaian tidur, Gavin menarik napas panjang sebelum membuka pintu kamar mandi.

Begitu keluar, Gavin langsung mengembuskan napas lega. Lampu kamar sudah diredupkan.

"Syukurlah. Mungkin Dara sudah tidur," batinnya.

Namun baru beberapa langkah berjalan, Gavin langsung berhenti. Di atas ranjang, Dara ternyata masih duduk sambil memangku sebuah buku. Keningnya sedikit berkerut karena sedang fokus membaca. Sesekali bibirnya bergerak pelan mengikuti kalimat yang sedang dibacanya.

Mendengar suara pintu terbuka, Dara langsung mengangkat kepala.

"Aa sudah selesai mandi?"

"Iya." Jawaban Gavin sangat singkat. Ia bahkan tidak berani menatap wajah istrinya terlalu lama.

"Aa tidak apa-apa?" tanya Dara penuh perhatian. "Di kamar mandinya lama sekali."

Gavin berdeham pelan. "Tadi sekalian mandi."

"Oh ...." Dara mengangguk polos. "Aku kira Aa sakit perut."

"Tidak. Aku baik-baik saja," bantah Gavin. Karena bukan perutnya yang sakit, tetapi yang lainnya.

"Syukurlah." Dara tersenyum lega.

Melihat senyum itu justru membuat Gavin semakin gugup. Tanpa banyak bicara, ia segera berjalan menuju sisi ranjang. Ia langsung berbaring. Menarik selimut hingga menutupi dada, lalu memejamkan mata rapat-rapat.

Dara berkedip bingung. "Cepat sekali tidurnya."

Dara memandangi Gavin beberapa detik. Pria itu sama sekali tidak bergerak. Napasnya dibuat senyaman mungkin, seolah sudah benar-benar terlelap. Dara pun tersenyum kecil.

"Kasihan sekali. Pasti Aa capek bekerja," gumam perempuan itu lirih.

Dara kembali membaca beberapa halaman bukunya. Beberapa menit kemudian, Dara menutup buku itu dan meletakkannya di atas nakas. Ia mematikan lampu. Ruangan langsung berubah gelap.

"Selamat malam, Aa," bisiknya pelan. Tak lama kemudian, Dara ikut memejamkan mata.

Di sisi lain, Gavin sama sekali belum tidur. Ia masih memejamkan mata. Namun, pikirannya justru semakin ramai. Ia bisa mendengar setiap gerakan kecil Dara. Bahkan suara napas lembut istrinya.

"Kenapa aku jadi tidak bisa tidur begini?" batinnya pasrah.

Gavin membalikkan badan perlahan. Mencoba mencari posisi yang nyaman, tetapi tetap saja sulit terlelap. Bayangan Dara tidak mau hilang dalam pikirannya.

"Aku harus alihkan pikiranku sekarang biar bisa tidur," batin Gavin."

Dalam hati Gavin bernyanyi, "Tekotek-kotek gojing, anak ayam turun sepuluh. Mati satu tinggal sembilan."

Di dalam hatinya Gavin terus bernyanyi mengurangi anak ayam, mati satu. Sampai pada bagian, "Tekotek-kotek gojing, anak ayam turun satu. Mati satu tinggal tainya!"

Gavin mengira akan bisa cepat tidur. Namun, kenyataannya masih tetap sama. Dia tidak bisa tidur.

Perlahan Gavin membuka mata. Itu adalah keputusan yang salah. Dia melihat Dara tidur menghadap ke arahnya sambil memeluk guling. Namun, kain bagian dadanya terbuka sehingga memperlihatkan bagian atasnya dengan jelas.

"Tekotek-kotek gojing, anak ayam turun sejuta, mati satu tinggal ...." Gavin langsung memejamkan mata sambil bernyanyi di dalam hati.

Baru menjelang dini hari, Gavin rasa lelah berhitung akhirnya bisa tidur. Tanpa sadar, tubuh pria itu bergeser sedikit mengikuti posisi tidur yang terasa paling nyaman.

Pukul tiga dini hari. Gavin perlahan membuka mata. Alisnya langsung berkerut. Kepalanya terasa bertumpu pada sesuatu yang sangat empuk, lembut, hangat, harum, dan nyaman. Salah satu lengannya juga terasa sedang memeluk sesuatu.

Dengan mata yang masih setengah mengantuk, Gavin menoleh perlahan. Begitu menyadari apa yang terjadi, matanya langsung membulat lebar.

"Ya, ampun!"

Ternyata kepala Gavin sedang bersandar di bahu dan dada Dara. Sementara tangan kanannya tanpa sadar melingkari pinggang sang istri.

Dara sendiri masih tertidur pulas. Wajahnya terlihat damai. Bibirnya sedikit tersenyum dalam tidur. Gavin langsung menahan napas.

"Kenapa aku bisa pindah?"

Gavin menelan ludah. Pelan-pelan, ia mengangkat kepalanya sedikit demi sedikit. Tangannya juga perlahan melepaskan pelukan agar tidak membangunkan Dara.

Begitu berhasil menjauh, Gavin langsung duduk di tepi ranjang. Ia mengusap wajahnya sendiri. Telinganya kembali memerah.

"Kenapa aku bisa tidur seperti itu?"

Gavin melirik Dara sekali lagi. Melihat istrinya masih tertidur nyenyak membuatnya mengembuskan napas lega.

"Untung belum bangun."

Namun, justru karena melihat wajah Dara dari jarak sedekat itu, jantungnya kembali berdetak tidak karuan. Ia segera menggeleng pelan.

"Lebih baik aku mandi lagi," gumam Gavin lirih.

Dengan hati-hati Gavin turun dari ranjang agar tidak menimbulkan suara. Ia berjalan berjinjit menuju kamar mandi. Beberapa detik kemudian, suara shower kembali terdengar memenuhi ruangan.

Sementara Dara masih terlelap, sama sekali tidak menyadari bahwa suaminya baru saja panik karena tanpa sadar tidur sambil memeluknya sepanjang malam.

1
Sribundanya Gifran
lanjut
Risma Hye Chan
sudah aku ksih vote yaa kak aku bacanya sampe nangis
Ummee
Dara dan Gavin poloosss sekaliii, ya Allah lucunya...
Ummee
suruh bulan madu aja Ma...
Aditya hp/ bunda Lia
rasain kau anak lampir berasa jadi korban padahal kamu penjahatnya
Ita rahmawati
mantab dara,, orang seperti Kiara SM ortunya emang harus dikasih faham walaupun GK akan berubah sih tp segknya mereka harus dibantah biar GK makin makin 😏
Ita rahmawati
ucul bgt sih mereka berdua 🤣🤣
Ita rahmawati
payah lah kalo masih sm2 polos mah,,harusnya lgsg tubruk kan 🤣🤣
Mutaharotin Rotin
gitu Dara,balas ucapan Kiara biar tau rasa 👍👍👍
Mutaharotin Rotin
laaannjjuut 🥰🥰🥰🥰🥰🌹🌹🌹
Risma Hye Chan
lucu banget mrka brdua sumpah wkwkwk
Nar Sih
istri kecil mu yg polos pinter kan ,jdi kmu bnr,,beruntung dan pilihan jodoh yg tepat untuk mu gavin👍🥰
Mutaharotin Rotin
🌹🌹🌹🌹🥰🥰🥰🥰
Nar Sih
hahaha😂😂kencan ala internet sedang di mulai
Sugiharti Rusli
semoga cakrawala berpikir kamu semakin bertambah dengan melihat siapa Dara sekarang yah,,,
Sugiharti Rusli
kamu benar Vin, kamu ga salah pilih istri, karena di balik kepolosan dan sifat sederhana Dara, dia pribadi yang kuat dan pantang menyerah oleh keadaan,,,
Nar Sih
psngn yg bnr,,bikin ngakak ,gavin dan dara yg sama,,msih polos
Sugiharti Rusli
jadi sebetulnya sejak kecil Dara sudah struggle sendiri, dan mereka hanya mendampingi kan sebagai orang dewasa
Sugiharti Rusli
dan sejak dulu Dara bahkan tidak pernah menikmati hasil kerjanya sendiri dan diberikan oleh paman dan bibinya kan,,,
Sugiharti Rusli
rumah itu milik kakeknya, jadi dia juga memiliki hak yang sama buat tinggal sebagai pengganti ortunya,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!