Deni adalah seorang pemuda jenius yang berada satu langkah lagi menuju puncak ilmu bela diri, namun secara sepihak diusir oleh gurunya untuk turun gunung dengan sebuah misi yang sangat absurd yaitu menjadi kurir Shopee Food. Untuk membuka segel kekuatannya dan resmi menjadi Raja Bela Diri sejati, Deni diwajibkan oleh sebuah sistem misterius untuk mengumpulkan seribu ulasan bintang lima dari para pelanggannya di kerasnya ibukota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Wush!
Tiga orang preman langsung berlari maju dan mengayunkan tongkat bisbol mereka ke arah kepala Deni secara bersamaan.
Deni sama sekali tidak panik, kakinya hanya bergeser sedikit ke samping dengan gerakan yang sangat luwes.
Syut! Syut!
Dua ayunan tongkat bisbol itu hanya mengenai udara kosong karena Deni sudah merunduk ke bawah.
"Pukulan kalian terlalu lambat, lebih cepat nenek-nenek menyapu halaman," ejek Deni sambil tersenyum.
Dengan tangan kanannya yang bebas, Deni meninju perut preman pertama dengan kecepatan yang sulit dilihat mata.
Buk!
"Ughh!" rintih preman pertama itu sambil memuntahkan ludah dan langsung jatuh berlutut memegangi perutnya.
Preman kedua yang berada di sampingnya terkejut melihat temannya tumbang dalam satu pukulan ringan.
"Kurang ajar, rasakan ini!" teriak preman kedua sambil mengayunkan pipa besinya ke arah pinggang Deni.
Deni melompat ringan ke belakang sambil tetap menjaga posisi tangan kirinya agar martabaknya tidak berguncang keras.
Trak!
Pipa besi itu menghantam aspal hingga memercikkan sedikit bunga api.
Deni menggunakan momentum lompatannya untuk menendang dada preman kedua menggunakan telapak kakinya.
Duag!
Tubuh preman berbadan besar itu terpental mundur sejauh tiga meter dan menabrak temannya yang lain di belakang.
"Aduh punggungku!" teriak mereka berdua saat jatuh bergulingan di atas aspal.
Pria bercodet yang menjadi pemimpin mereka membelalakkan matanya tidak percaya melihat kejadian itu.
"Hei kalian semua, serang dia bersama-sama dari segala arah, dia cuma sendirian!" teriak pria bercodet itu mulai panik.
Sisa preman yang ada langsung mengepung Deni membentuk lingkaran kecil.
Mereka mulai menyerang secara membabi buta dari depan, belakang, kiri, dan kanan.
Tapi bagi Deni yang sudah terbiasa berlatih menghindari lemparan ratusan batu kecil di Gunung Salak, serangan lambat ini hanyalah permainan anak-anak.
Deni bergerak meliuk-liuk di antara sela-sela ayunan senjata para preman itu.
"Satu, dua, tiga, empat," hitung Deni setiap kali dia melayangkan tamparan tangan kanannya ke wajah para preman.
Plak! Plak! Plak!
Suara tamparan keras bergema berurutan di jalanan sepi itu.
Empat orang preman langsung terhuyung mundur dengan pipi membengkak merah dan hidung yang mengucurkan darah.
Mereka bahkan tidak sempat melihat dari mana datangnya tangan Deni saking cepatnya pergerakan kurir itu.
"Kenapa kalian diam saja? Ayo serang lagi, tapi ingat jangan sentuh tangan kiriku," tantang Deni memprovokasi.
Pria bercodet itu mengertakkan giginya dan berlari maju sendiri dengan penuh amarah.
Dia mengayunkan pipa besinya dari atas ke bawah tepat mengarah ke ubun-ubun Deni dengan niat membunuh yang nyata.
Wush!
Angin dari ayunan senjata itu menyapu poni rambut Deni.
Deni tidak menghindar, dia malah mengangkat tangan kanannya ke atas dan menangkap pipa besi yang sedang meluncur kencang itu dengan telapak tangan kosong.
Tap!
Pipa besi itu berhenti mendadak tepat satu jengkal di atas kepala Deni.
Pria bercodet itu mencoba menarik pipanya kembali, tapi benda itu seolah menancap di dalam karang baja.
"T-tenaga macam apa ini? Kau manusia atau monster?" tanya pria bercodet itu dengan suara gemetar ketakutan.
"Aku cuma kurir Shopee Food biasa kok Paman," jawab Deni sambil tersenyum ramah.
Deni mencengkeram pipa besi itu dan memelintirnya perlahan.
Krek!
Pipa besi yang padat itu tiba-tiba bengkok seperti terbuat dari tanah liat basah.
Pria bercodet itu melepaskan pegangannya dan mundur beberapa langkah dengan lutut yang lemas.
"Biar aku berikan sedikit pelajaran tentang cara menyapa orang di jalanan," ucap Deni dengan nada suara yang tiba-tiba berubah dingin.
Deni melempar pipa bengkok itu ke aspal lalu melesat maju ke depan pria bercodet itu hanya dalam satu kedipan mata.
Buk!
Satu pukulan siku Deni mendarat telak di ulu hati pria bercodet tersebut.
Pria itu langsung kehilangan nafas, matanya memutih, dan dia ambruk ke tanah tanpa bisa mengeluarkan suara jeritan sama sekali.
Melihat pemimpin mereka tumbang dengan cara yang sangat mengerikan, sisa preman yang masih sadar langsung membuang senjata mereka.
"Ampun Mas kurir! Kami cuma disuruh orang, tolong jangan bunuh kami!" teriak mereka bersujud memohon ampun di atas aspal.
Deni menepuk-nepuk pundaknya sendiri dan merapikan jaket oranyenya.
"Aku tidak akan membunuh kalian karena itu melanggar hukum negara," kata Deni tenang.
"Tapi tolong sampaikan pesanku pada bos kalian yang pengecut itu ya."
Para preman itu mengangguk cepat berkali-kali seperti ayam mematuk beras.
"Katakan padanya, kalau dia berani mengganggu Nona Clara lagi, dia akan berhadapan denganku," ancam Deni menatap tajam mereka satu per satu.
"Dan ingat, namaku Deni, kurir bintang lima terhebat di kota ini!"
Setelah mengatakan itu, Deni berbalik dan berjalan kembali menuju motornya yang masih utuh.
Dia memeriksa kantong plastik martabak di tangan kirinya dengan cemas.
"Syukurlah bentuk kotaknya tidak penyok, pasti keju dan cokelatnya masih rapi di dalam," ucap Deni tersenyum lega.
Deni menyalakan mesin motornya dan membunyikan klakson satu kali untuk mengusir preman yang menghalangi jalan.
Tin!
Dua preman buru-buru menyingkirkan mobil hitam mereka ke pinggir jalan dengan wajah ketakutan.
Deni menggas motornya meninggalkan lokasi penyergapan itu dengan santai seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Setengah jam kemudian, motor matic butut itu akhirnya memasuki area parkir khusus direksi di Gedung Grup Nirvana.
Deni memarkirkan motornya dan berjalan masuk ke lobi utama dengan langkah ringan.
Beberapa resepsionis menatap heran melihat seorang kurir bisa masuk ke area eksklusif tersebut.
Namun sebelum mereka menegur, Siska sudah terlihat berlari kecil menghampiri Deni.
"Deni, akhirnya kamu datang juga, Nona Clara sudah menunggumu dari tadi di lantai atas," sapa Siska dengan wajah cemas.
"Maaf Siska, tadi ada sedikit halangan kecil di jalan raya, biasalah macetnya Jakarta," jawab Deni beralasan.
Siska melihat jaket Deni ada sedikit noda debu hitam tapi dia tidak terlalu mempermasalahkannya.
"Ayo cepat ikut aku, ruang rapatnya ada di lantai lima puluh," ajak Siska sambil menuntun Deni menuju lift VIP.
Di dalam lift, Siska tidak sengaja melihat kantong plastik putih di tangan Deni.
"Kamu bawa apa itu Deni? Bau cokelatnya wangi sekali," tanya Siska mengendus pelan.
"Oh ini, ini martabak manis spesial buat Nona Clara dan kamu sebagai tanda perkenalan dariku," jawab Deni tersenyum lebar.
Siska melebarkan matanya dan menatap Deni dengan pandangan tidak percaya.
"Kamu membelikan makanan jalanan untuk Nona Clara si CEO yang sangat menjaga pola makannya?" bisik Siska terkejut.
"Memangnya kenapa? Martabak ini sangat enak lho, aku jamin dia pasti suka," bela Deni mempertahankan pendapatnya.
Siska hanya bisa menepuk dahinya pelan karena tidak tahu harus berkata apa lagi pada kurir lugu ini.
Pintu lift terbuka dan menampilkan lorong kantor yang sangat megah dengan lantai marmer mengkilap.
Deni melangkah keluar dari lift dengan dada membusung siap menemui bos cantiknya.
Hari pertamanya sebagai kurir pribadi belum juga usai dan dia sudah membawa dua oleh-oleh berharga, yaitu martabak manis dan berita penyergapan.