Seorang Hakim Ketua yang menjunjung tinggi keadilan harus memilih antara hukum, ayahnya, dan cinta kelamnya pada seorang buronan nomor satu yang pernah menghancurkan masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yrp putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takhta Wina dan Waktu yang Berdetak Mundur
Satu bulan setelah malam penuh kecemburuan dan tawa di *château* Pegunungan Alpen, dominasi sindikat Baskara di daratan Eropa semakin tak terbantahkan. Taktik brutal Arjuna di lapangan, dipadukan dengan strategi brilian Aluna di balik layar, membuat musuh-musuh ayah Arjuna bertekuk lutut.
Puncak dari penaklukan itu dirayakan dalam sebuah *gala dinner* bawah tanah yang sangat eksklusif di Wina, Austria. Para penguasa kartel, bos mafia, dan oligarki korup dari seluruh Eropa berkumpul di sebuah gedung opera bersejarah yang telah disewa secara privat.
Malam itu, Aluna melangkah memasuki aula utama dengan keanggunan yang menyita napas seluruh ruangan. Ia mengenakan gaun beludru hitam berpotongan leher rendah yang memeluk tubuhnya dengan sempurna, dipadukan dengan sarung tangan panjang dan untaian kalung berlian yang berkilau di bawah lampu kristal. Di sisinya, Arjuna mengenakan tuksedo hitam pekat, memancarkan aura membunuh dan karisma absolut yang membuat para petinggi mafia secara otomatis menunduk hormat saat mereka lewat.
Katya dari Bratva turut hadir malam itu. Namun, alih-alih mencoba mendekati Arjuna, wanita pembunuh berambut pirang platina itu justru menghentikan langkahnya saat berpapasan dengan Aluna. Katya menundukkan kepalanya sedikit—sebuah gestur penghormatan tertinggi di dunia bawah tanah yang mengakui kekalahan telaknya, sekaligus mengakui bahwa Aluna adalah Ratu yang tidak boleh disentuh.
Aluna hanya membalasnya dengan senyum tipis dan anggukan kecil yang elegan, sebelum kembali memusatkan perhatiannya pada Arjuna yang tak pernah melepaskan genggaman tangannya sepanjang malam.
Pesta itu berjalan sempurna. Tidak ada tembakan, tidak ada darah. Hanya dentingan gelas anggur dan bisikan-bisikan konspirasi bernilai triliunan rupiah. Bagi dunia gelap ini, Arjuna dan Aluna adalah pasangan penguasa yang absolut.
Namun, di balik senyum menawan dan tatapan tajam Sang "Palu Es", sebuah badai sedang bergemuruh hebat, menunggu waktu untuk menghancurkan segalanya.
**Buku Hitam Sang Hakim**
Lewat tengah malam, mereka kembali ke *penthouse* mewah hotel bintang lima yang menghadap langsung ke arah Katedral Santo Stefanus.
Arjuna telah terlelap lebih dulu di atas ranjang berseprai sutra. Lelah setelah berhari-hari mengurus logistik yang rumit, pria itu tidur dengan posisi menyamping, salah satu lengan kokohnya melingkar posesif di pinggang Aluna, menahan tubuh istrinya agar tetap berada dalam dekapannya.
Selama satu jam, Aluna membiarkan dirinya menikmati kehangatan itu. Ia menatap wajah damai Arjuna, mendengarkan detak jantung pria yang rela melawan dunia demi dirinya. Matanya merekam setiap detail wajah suaminya, seolah ia sedang menghitung mundur sisa waktu yang ia miliki.
Perlahan, dengan gerakan yang luar biasa hati-hati agar tidak membangunkan insting pembunuh suaminya, Aluna melepaskan lengan Arjuna dari pinggangnya. Ia menyelipkan sebuah bantal guling sebagai pengganti tubuhnya, lalu turun dari ranjang tanpa suara.
Aluna mengenakan jubah tidur berbahan sutra, melangkah menembus kegelapan kamar menuju meja kerja kayu di sudut ruangan. Ia menghidupkan lampu baca kecil yang cahayanya hanya menyorot ke arah meja.
Dari balik laci rahasia yang kuncinya telah ia modifikasi sendiri, Aluna mengeluarkan sebuah buku catatan bersampul kulit hitam.
Itu bukan sekadar buku harian. Itu adalah *ledger*—buku besar yang selama satu bulan terakhir ini Aluna susun dengan sangat teliti. Berbekal akses yang diberikan Arjuna kepadanya dan kecerdasan analitis warisan ayahnya, Aluna mencatat setiap detail operasi sindikat Baskara di Eropa. Nama-nama pejabat korup, rute penyelundupan senjata, titik kordinat pelabuhan tikus, hingga nomor rekening bank anonim milik Raja Mafia di Kepulauan Cayman. Semuanya tertulis rapi di sana.
Tangan Aluna sedikit bergetar saat ia meraih pena mesinnya. Ia membuka halaman terakhir, menuliskan beberapa baris data baru yang baru saja ia sadap dari percakapan para oligarki di *gala dinner* tadi.
Di sinilah rahasia paling mematikan yang disembunyikan Aluna dari Arjuna.
Ia tidak pernah berniat untuk hidup bahagia selamanya sebagai Ratu Mafia. Beban dosa karena telah membohongi keadilan, mengkhianati sumpahnya sebagai Hakim, dan menghancurkan hati Inspektur Arya terlalu berat untuk ditanggung oleh jiwanya yang perlahan membusuk.
Tujuan utama Aluna mengatur skema pelarian ini dan menikahi Arjuna adalah untuk menghancurkan sistem ini dari dalam, sebagai bentuk penebusan dosanya yang terakhir.
Ia sedang mempersiapkan kematiannya.
Buku hitam ini adalah hadiah perpisahan yang akan ia kirimkan kepada Inspektur Arya Larasati saat waktunya tiba. Dokumen ini cukup kuat untuk menghancurkan kerajaan ayah Arjuna hingga ke akar-akarnya. Aluna tahu persis, perjanjian yang ia buat dengan Sang Raja Mafia sangatlah mutlak: *Jika ia membocorkan satu informasi saja, maka Arjuna sendiri yang harus memenggal kepalanya.*
Bagi Aluna, itu adalah skenario kematian yang paling sempurna. Ia akan menghancurkan iblis tua yang telah merusak hidup suaminya, lalu membiarkan Arjuna mengeksekusinya. Dengan begitu, Arjuna tidak akan dicap sebagai pengkhianat oleh sindikatnya, dan ayahnya di Jakarta akan mendapatkan keadilan yang selama ini ia perjuangkan.
Satu tetes air mata jatuh dari pelupuk mata Aluna, menodai tinta di atas kertas jurnalnya.
"Maafkan aku, Juna," bisik Aluna dengan suara yang sangat parau dan tertahan, nyaris menyerupai rintihan.
Ia menoleh ke arah ranjang, menatap punggung Arjuna yang masih terlelap.
"Kau berjanji akan memberikan dunia yang terang untukku," lanjut Aluna dalam bisikan pedih, menutup buku hitam itu dan menguncinya kembali di dalam laci. "Tapi aku justru akan menghancurkan duniamu. Biarkan aku menanggung semua dosa ini sendirian, agar kau bisa bebas."
Aluna mengusap air matanya yang jatuh. Ia merapikan meja, memastikan tidak ada satu pun jejak pengkhianatannya yang tersisa, sebelum perlahan kembali merangkak naik ke atas ranjang. Ia kembali masuk ke dalam pelukan Arjuna, membiarkan pria itu mendekapnya erat.
Di luar jendela *penthouse*, salju mulai turun menutupi kota Wina. Di dalam dekapan hangat suaminya, Aluna memejamkan mata, menunggu bom waktu yang ia ciptakan sendiri meledak dan menghancurkan mereka berdua.