Tiga tahun jadi sampah!
Itulah yang dialami Arya Langit setelah meridiannya hancur. Dari jenius nomor satu Perguruan Langit Biru, dia jatuh jadi pecundang yang bahkan tidak bisa mengangkat pedang.
Di hari pertunangannya, tunangannya sendiri Kezia Adinegara membatalkan pernikahan di depan seluruh tetua demi pria lain dan memberinya 100 Batu Roh sebagai uang hinaan.
Tepat saat tamparan itu mendarat di wajahnya, Sistem Takdir Harem Kaisar Abadi bangkit!
Mata Takdir aktif. Arya bisa melihat masa depan tragis setiap wanita dengan Takdir Kaisar.
Sekar Embun, Bidadari Pedang nomor satu yang dingin seperti es, akan lumpuh total dalam 7 hari dan mati kedinginan di lembah terpencil.
Luna Maheswari, Ratu Iblis yang mempesona, akan menjadi kuali kultivasi dan meledak mati.
Kirana Lestari, Putri Kerajaan yang manja, akan diracun pada malam pernikahannya.
Satu-satunya cara menyelamatkan mereka adalah menjadikan mereka istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Utusan dari Istana Teratai Suci
Balai Utama Perguruan Langit Biru adalah bangunan paling megah di seluruh perguruan.
Atapnya terbuat dari genteng emas yang berkilauan di bawah sinar matahari, pilarnya terbuat dari kayu naga berusia ribuan tahun, dan lantainya terbuat dari batu giok putih yang hangat. Biasanya, hanya Tetua Agung dan Pemimpin Perguruan yang boleh masuk ke tempat ini. Hanya ada acara besar yang menyangkut masa depan perguruan yang akan diadakan di sini.
Hari ini, Balai Utama itu penuh sesak.
Pemimpin Perguruan Langit Biru, seorang pria paruh baya dengan jubah putih polos dan wajah yang penuh wibawa, duduk di kursi utama. Di sampingnya duduk Tetua Agung dan semua tetua inti dari setiap puncak. Wajah mereka semua terlihat serius dan sedikit tegang.
Dan di tengah balai, berdiri tiga orang asing dengan jubah yang sangat mewah.
Jubah mereka berwarna putih dengan sulaman bunga teratai suci berwarna emas di dadanya. Aura mereka sangat kuat, jauh lebih kuat dari tetua biasa di Perguruan Langit Biru. Pemimpin dari mereka adalah seorang wanita paruh baya dengan wajah cantik namun penuh dengan kesombongan, matanya sipit dan bibirnya tipis. Kultivasinya sudah mencapai Alam Raja Langit tingkat lima.
Dia adalah Tetua Luar dari Istana Teratai Suci, Tetua Lotus.
Dan di belakang Tetua Lotus, berdiri dua gadis muda yang cantik. Salah satunya adalah Kezia Adinegara dengan gaun ungu keemasannya, wajahnya penuh dengan senyum bangga dan tatapan mengejek yang tidak disembunyikan saat melihat ke arah pintu masuk balai. Gadis di sampingnya juga cantik, tapi aura di sekitarnya jauh lebih dingin dan lebih mulia dari Kezia.
Saat Arya Langit dan Sekar Embun tiba di depan Balai Utama dengan pedang terbang, semua mata langsung tertuju pada mereka.
Arya sudah berganti pakaian dengan jubah murid Puncak Embun yang bersih berwarna biru muda, rambutnya yang hitam sedikit basah karena uap kolam tadi masih menempel. Kultivasinya yang baru saja naik ke Alam Jiwa Kesatria tingkat dua dia sembunyikan dengan sempurna menggunakan teknik dari sistem, sehingga di mata orang lain dia masih terlihat seperti Alam Meridian tingkat sembilan puncak.
Sekar Embun juga sudah berganti pakaian dengan gaun putihnya yang biasa, wajahnya kembali dingin seperti es, tidak ada lagi rona merah malu seperti di kolam tadi. Tapi kalau diperhatikan dengan teliti, langkahnya sedikit lebih ringan dan aura dingin di sekitarnya sedikit lebih murni dari sebelumnya.
Mereka berdua berjalan masuk ke dalam Balai Utama berdampingan.
Begitu masuk, Kezia Adinegara langsung maju selangkah dan menatap Arya dengan tatapan penuh kemenangan.
"Arya Langit, kamu akhirnya datang juga. Aku sudah menunggu lama," kata Kezia dengan suara keras yang dibuat buat agar semua orang mendengar. "Hari ini aku datang bersama Guruku, Tetua Lotus dari Istana Teratai Suci, untuk menyelesaikan masalah pertunangan kita secara resmi di depan Pemimpin Perguruan dan semua tetua, agar tidak ada lagi orang yang bergosip."
Tetua Lotus yang berdiri di tengah balai tersenyum tipis dengan penuh kesombongan. Dia menatap Arya Langit dari atas sampai bawah seperti sedang menilai seekor semut.
"Jadi kamu adalah Arya Langit? Sampah yang meridiannya hancur dan masih berani mengikat pertunangan dengan murid jenius Istana Teratai Suci kami?" suara Tetua Lotus tajam dan penuh dengan penghinaan. "Kezia adalah murid inti Istana Teratai Suci kami sekarang, masa depannya tidak terbatas. Kamu tidak pantas bahkan untuk membawa sandalnya. Hari ini, di depan semua orang, kamu harus berlutut dan membatalkan pertunangan ini secara sukarela, lalu bersumpah bahwa kamu tidak akan pernah mengganggu Kezia lagi seumur hidupmu. Sebagai gantinya, Istana Teratai Suci akan memberimu seribu Batu Roh kelas rendah sebagai belas kasihan. Bagaimana?"
Kata kata itu membuat seluruh balai menjadi hening.
Seribu Batu Roh kelas rendah? Untuk membatalkan pertunangan wasiat dari kakek? Ini bukan belas kasihan, ini adalah penghinaan yang lebih besar dari yang dilakukan Kezia kemarin. Ini adalah Istana Teratai Suci yang menginjak injak harga diri Perguruan Langit Biru di depan umum.
Wajah Pemimpin Perguruan dan semua tetua menjadi sedikit tidak enak, tapi tidak ada yang berani berbicara. Istana Teratai Suci adalah salah satu dari tiga kekuatan besar di wilayah ini, jauh lebih kuat dari Perguruan Langit Biru. Mereka tidak berani menyinggung Tetua Lotus.
Rafa Adiputra yang juga ada di dalam balai sebagai perwakilan murid inti tersenyum licik penuh kemenangan. Dia tahu rencana Kezia ini. Begitu Arya berlutut dan membatalkan pertunangan, nama Arya akan menjadi sampah yang paling hina di seluruh kota, dan tidak akan ada lagi wanita yang mau mendekatinya. Puncak Embun juga akan malu karena memiliki murid seperti itu.
Semua mata tertuju pada Arya.
Mereka menunggu melihat sampah itu berlutut dan menangis memohon.
Tapi Arya hanya berdiri diam di tempatnya. Wajahnya tenang, bahkan ada senyum tipis yang mengejek di sudut bibirnya.
"Berlutut?" Arya akhirnya berkata, suaranya tidak keras, tapi setiap orang di dalam balai bisa mendengarnya dengan jelas. "Tetua Lotus, apakah telinga Anda sudah tuli karena usia? Kemarin di Balai Agung, Kezia Adinegara sendiri yang membatalkan pertunangan itu di depan semua orang. Pertunangan itu sudah batal. Kenapa hari ini Anda datang dan menyuruh saya membatalkannya lagi? Apakah Istana Teratai Suci yang terkenal itu suka mengulang ulang sampah yang sudah dibuang?"
Kata kata Arya membuat seluruh balai terkejut.
Dia berani melawan Tetua dari Istana Teratai Suci!
Wajah Tetua Lotus langsung membiru karena marah. Aura Alam Raja Langit tingkat lima miliknya meledak keluar dan menekan langsung ke arah Arya.
"Anak kurang ajar! Berani menghina Istana Teratai Suci! Kamu mencari mati!"
Tekanan aura Alam Raja Langit tingkat lima itu sangat mengerikan. Beberapa murid yang berdiri agak dekat dengan Arya langsung mundur dengan wajah pucat karena tidak tahan. Bahkan beberapa tetua di kursi pun mengerutkan kening karena tekanan itu.
Semua orang mengira Arya akan langsung berlutut dan muntah darah karena tekanan itu.
Tapi Arya masih berdiri tegak di tempatnya, tidak bergerak sedikit pun. Tubuh Meridian Naga Langit di dalam tubuhnya meraung dan dengan mudah menahan tekanan itu. Bahkan ujung jubahnya pun tidak berkibar.
"Tekanan Alam Raja Langit tingkat lima? Hanya segini?" Arya tersenyum dingin. "Tetua Lotus, kalau kekuatan Istana Teratai Suci hanya segini, saya sarankan Anda pulang saja dan jangan mempermalukan diri sendiri di sini."
"Apa katamu!" Tetua Lotus sangat marah hingga tubuhnya gemetar. Dia mengangkat tangannya, cahaya teratai emas berkumpul di telapak tangannya, siap untuk menampar Arya hingga cacat di tempat.
"Berhenti!"
Pada saat itu, dua suara berteriak bersamaan.
Satu suara berasal dari Pemimpin Perguruan Langit Biru yang akhirnya tidak tahan melihat muridnya sendiri ditekan di depan umum.
Dan satu suara lagi berasal dari Sekar Embun yang sejak tadi diam di samping Arya.
Sekar Embun melangkah maju selangkah dan berdiri di depan Arya, melindungi muridnya itu dari tekanan Tetua Lotus.
Aura Alam Raja Langit tingkat satu puncak milik Sekar Embun meledak dan bertabrakan dengan aura Tetua Lotus.
BOOM!
Dua aura Raja Langit bertabrakan di udara, membuat lampu kristal di atap balai bergoyang dengan liar.
Tetua Lotus terkejut. Dia bisa merasakan bahwa aura Sekar Embun jauh lebih murni dan lebih dingin dari sebelumnya, bahkan ada sedikit tekanan yang membuatnya merasa tidak nyaman, padahal kultivasi Sekar Embun masih di bawahnya.
"Sekar Embun, apa maksudmu melindungi sampah ini? Kamu ingin bermusuhan dengan Istana Teratai Suci?" bentak Tetua Lotus.
Sekar Embun menatap Tetua Lotus dengan mata dinginnya tanpa rasa takut sedikit pun.
"Tetua Lotus, tolong jaga bicara Anda. Arya Langit sekarang adalah murid pribadi saya, murid inti Puncak Embun. Dia bukan sampah yang bisa Anda hina sesuka hati. Pertunangan dia dengan Kezia sudah batal kemarin, disaksikan oleh seluruh perguruan. Jika Istana Teratai Suci datang hari ini hanya untuk mengulang ulang penghinaan kemarin, maka Puncak Embun saya yang akan menjadi lawannya."
Kata kata Sekar Embun yang tegas dan tidak memberi ampun itu membuat seluruh balai kembali hening.
Bidadari Pedang Embun yang terkenal tidak pernah ikut campur urusan orang lain, hari ini berdiri dan melindungi seorang murid pria baru secara terang terangan di depan utusan dari kekuatan besar!
Kezia Adinegara wajahnya langsung memerah karena marah dan cemburu saat melihat Sekar Embun, kakak senior yang selama ini dia kagumi, justru melindungi Arya, sampah yang baru saja dia buang.
"Kakak Senior Sekar! Kenapa Kakak Senior melindungi sampah seperti dia! Dia tidak pantas!" teriak Kezia tanpa sadar.
Sekar Embun menoleh dan menatap Kezia dengan tatapan dingin yang membuat Kezia langsung menunduk ketakutan.
"Tidak pantas? Kezia Adinegara, kamu pikir kamu siapa sampai berani menilai muridku tidak pantas? Bakatmu memang bagus, tapi di mataku, kamu bahkan tidak bisa dibandingkan dengan satu jari muridku."
Kalimat itu seperti tamparan keras di wajah Kezia. Gadis itu mundur selangkah dengan wajah pucat pasi karena malu dan marah.
Arya yang berdiri di belakang Sekar Embun menatap punggung gurunya yang ramping namun terasa sangat besar dan bisa diandalkan itu. Hatinya terasa hangat. Inilah pertama kalinya dalam tiga tahun ada seseorang yang berdiri di depannya dan melindunginya tanpa syarat di depan umum.
Di dalam kepalanya, suara sistem berbunyi dengan bahagia.
[DING! Pelindung Bidadari! Sekar Embun melindungi Tuan Rumah di depan umum! Kepercayaan Sekar Embun +10%!]
[Kepercayaan Sekar Embun saat ini: 60%!]
[Hadiah: 300 Poin Takdir, Teknik Langkah Bayangan Embun!]
[Fitur Intim aktif: Isi hati Sekar Embun: "Tidak ada yang boleh menyentuh muridku. Siapapun yang berani menyentuhnya, aku akan memotong tangannya."]
Arya tersenyum membaca isi hati gurunya yang dingin tapi sangat posesif itu.
Dia melangkah maju dari belakang Sekar Embun dan berdiri di samping gurunya, sejajar.
"Tetua Lotus, Kezia Adinegara," suara Arya kini penuh dengan kepercayaan diri seorang Kaisar. "Saya ulangi sekali lagi. Pertunangan antara saya dan Kezia Adinegara sudah batal kemarin. Saya Arya Langit tidak pernah menyesal dan tidak akan pernah menyesal. Seribu Batu Roh mu itu, simpan saja untuk membeli peti mati untuk muridmu itu nanti. Karena dalam Kompetisi Puncak Langit satu bulan lagi, saya akan berdiri di puncak dan memberitahu seluruh Kota Biru, bahwa Kezia Adinegara lah yang buta karena telah membuang naga sejati demi seekor cacing seperti Rafa Adiputra."
Setelah berkata begitu, Arya menggenggam tangan Sekar Embun yang dingin di depan semua orang.
Tangan Sekar Embun sedikit gemetar karena kaget, tapi dia tidak melepaskannya.
"Kami dari Puncak Embun masih ada urusan penyembuhan yang harus dilakukan. Jadi kami tidak akan menemani Tetua Lotus lagi. Pemimpin Perguruan, Tetua, murid pamit dulu."
Dengan menggandeng tangan Bidadari Pedang Embun yang menjadi idola semua pria di perguruan, Arya Langit berjalan keluar dari Balai Utama dengan langkah tegak dan punggung lurus, meninggalkan Tetua Lotus yang wajahnya sudah hitam seperti arang karena marah, Kezia yang menangis karena malu, dan seluruh tetua serta murid yang menatap punggung mereka dengan tatapan tidak percaya, iri, dan kagum.
Hari ini, nama Arya Langit benar mengguncang seluruh Perguruan Langit Biru untuk kedua kalinya.
Dan di luar balai, gadis cantik yang sejak tadi diam di belakang Tetua Lotus, gadis yang auranya lebih mulia dari Kezia, menatap punggung Arya yang menggandeng Sekar Embun itu dengan mata yang berbinar penuh minat.
"Menarik... pria yang bisa membuat Sekar Embun yang dijuluki Gunung Es Abadi itu mau digandeng tangannya... Siapa sebenarnya kamu, Arya Langit?" bisik gadis itu pelan dengan senyum misterius.