Seorang wanita pekerja kantoran yang rasional bertransmigrasi ke dalam novel romansa tragis sebagai Geneviève de Montmirail, seorang putri Duke yang ditakdirkan dieksekusi karena cintanya yang gila dan obsesif kepada Duke muda, Lucien de Vaudémont.
Bertekad untuk mematahkan bendera kematiannya (death flag), Geneviève memutuskan untuk menarik diri sepenuhnya dari kehidupan Lucien dan lingkungan istana yang beracun. Alih-alih mengejar cinta fana, ia menggunakan kecerdasannya dalam administrasi keuangan untuk memajukan wilayahnya dan membuka bisnis perhiasan yang mendobrak tren kekaisaran.
Namun, sikap dingin Geneviève justru memicu retaknya "Sihir Putih" milik Putri Mahkota Camille, sang protagonis asli novel yang tampak suci namun bermuka dua. Saat Lucien mulai mengalami kilasan ingatan yang menyiksa tentang masa lalu yang tak pernah ia ketahui, Geneviève menemukan sebuah perhiasan rahasia peninggalan tubuh aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadnote, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Le C'eow dan Laporan Busuk
"Nona, jika Anda berniat pingsan untuk kedua kalinya, hamba benar-benar terpaksa menyiram wajah Anda dengan air dingin dari sumur belakang dapur. Hamba tidak peduli jika riasan Anda luntur."
Suara Odette terdengar sangat dekat. Geneviève berkedip beberapa kali, membiarkan fokus matanya kembali menajam. Ia masih duduk di lantai karpet kamarnya. Napasnya memburu, seolah ia baru saja berlari memutari seluruh halaman istana kekaisaran.
Di depannya, Odette berlutut dengan wajah panik yang tidak bisa disembunyikan, meskipun pelayan itu masih berusaha merangkai kalimat ancaman bernada sarkas.
"Aku tidak pingsan, Odette," jawab Geneviève dengan suara serak. Ia menelan ludah, berusaha menyingkirkan sisa-sisa ilusi taman rumah kaca dan wajah hangat Lucien dari kepalanya. "Aku hanya kehilangan keseimbangan karena belum makan malam."
"Belum makan malam?" Odette mendengus keras, berdiri sambil menepuk celemeknya. "Anda baru saja menatap kosong ke udara, membelalakkan mata seperti melihat hantu, lalu jatuh terjengkang dari kursi. Jika itu efek kelaparan, maka hamba pasti sudah mati kelaparan sejak sepuluh tahun lalu. Apakah benda bersinar itu benar-benar mengutuk Anda?"
Geneviève menatap tangan kirinya. Cincin dengan batu permata biru dan ungu lembut itu masih bertengger manis di jari manisnya. Pendaran cahayanya telah hilang sama sekali, kini benda itu terlihat seperti perhiasan maha karya biasa.
Otak rasional Geneviève bekerja dengan kecepatan maksimal. Ilusi tadi terlalu nyata untuk disebut sebagai halusinasi. Ada segel memori di dalam kepalanya, dan cincin ini adalah kuncinya. Lucien di masa lalu memanggilnya dengan sebutan C'eow. Panggilan kesayangan yang entah bagaimana terbawa hingga ke kehidupan modernnya sebagai ide nama bisnis.
Fakta ini sangat mengerikan. Jika ia dan Lucien dulunya saling mencintai, lalu mengapa ingatannya dan ingatan pria itu berubah menjadi saling membenci? Siapa yang mendistorsi otak mereka? Dan untuk tujuan apa?
Rasa pening kembali menyerang pelipis Geneviève. Tidak. Ia menggelengkan kepalanya pelan. Ia tidak boleh memikirkan hal itu sekarang. Menyelidiki konspirasi sihir hilangnya ingatan tidak akan menghasilkan koin emas dalam waktu dekat. Prioritas utamanya saat ini adalah uang. Tanpa uang, ia tidak akan memiliki kekuatan politik untuk melawan siapa pun yang telah merusak otaknya.
"Odette," panggil Geneviève dengan nada yang kembali dingin dan penuh otoritas. Ia bangkit berdiri dan berjalan menuju meja kerjanya. "Mulai hari ini, nama bisnis perhiasan kita resmi menggunakan nama Le C'eow."
"Le C'eow?" Odette membeo dengan kening berkerut. "Hamba kira Anda akan mencari nama yang lebih panjang dan merepotkan untuk diucapkan, seperti kebiasaan para bangsawan ibu kota. Mengapa memilih nama yang terdengar aneh itu?"
Geneviève menarik selembar kertas perkamen kosong dan mengambil pena bulunya. "Karena nama itu terdengar eksklusif, singkat, dan tidak memiliki arti apa pun di kamus bahasa kekaisaran. Para bangsawan bodoh itu akan berlomba-lomba membelinya hanya karena mengira itu adalah istilah seni tingkat tinggi dari benua seberang. Kita akan menjual ilusi eksklusivitas."
Odette tersenyum lebar. Rasa curiganya pada kejadian mistis tadi seketika menguap mendengar rencana penipuan berkedok bisnis tersebut. "Hamba sangat menyukai cara berpikir Anda, Nona. Lalu, bagaimana dengan konsep produk pertama kita?"
Geneviève mulai mencoretkan pena bulunya di atas perkamen, menggambar sketsa kasar berdasarkan detail cincin yang kini melingkar di jarinya.
"Dengar baik-baik, Odette. Kita akan menolak semua tren pasar saat ini secara mutlak," ucap Geneviève tegas. Garis-garis sketsanya mulai membentuk pola ranting dan bunga yang rumit. "Aku tidak mau ada warna kuning emas yang menyilaukan mata di etalase toko kita. Aku juga tidak mau melihat warna hijau zamrud atau merah rubi berukuran raksasa. Warna-warna itu terlalu berisik dan pasaran."
Odette mengangguk-angguk paham, matanya terus mengawasi gerakan pena majikannya. "Bangsawan kita memang suka memakai batu merah sebesar telur ayam agar semua orang tahu mereka kaya. Jika kita membuang warna itu, warna apa yang akan kita pakai, Nona?"
"Palet warna kita hanya berkisar pada biru lembut, ungu muda, dan putih kristal," jawab Geneviève. "Kita akan menggunakan material emas putih, perak kualitas tinggi, dan platina. Desain kita tidak akan berpusat pada seberapa besar ukuran batu permatanya, melainkan pada kerumitan ukirannya. Estetika kita adalah dongeng klasik. Elegan, misterius, dan tidak bisa ditiru oleh pengrajin biasa."
"Batu safir muda dan kecubung harganya jauh lebih murah di pasar mentah dibandingkan berlian atau rubi," gumam Odette sambil mengetukkan jarinya ke dagu, insting pedagangnya mulai bekerja. "Jika kita menggunakan bahan murah namun menjualnya dengan harga tiga kali lipat karena desainnya yang rumit, margin keuntungan kita akan meledak, Nona."
Geneviève tersenyum miring. Ia meletakkan penanya dan menatap Odette. "Tepat sekali. Kita akan mempekerjakan seniman pengukir kayu untuk beralih mengukir perhiasan logam kita. Berikan gaji mereka sedikit lebih tinggi dari harga pasar agar mereka tutup mulut tentang desain rahasia kita."
"Hamba akan mengurus para pengrajin itu besok pagi," jawab Odette penuh semangat. "Tetapi, Nona. Ada satu masalah kecil yang menahan rencana brilian kita ini."
"Masalah apa?"
Odette mengetukkan buku jarinya ke atas tumpukan dokumen yang berserakan di ujung meja kerja. "Modal awal. Melebur perhiasan lama Anda memang akan menghasilkan banyak koin emas. Tetapi menyewa toko di kawasan komersial Lumière, membeli bahan baku platina, dan membayar pengrajin di bulan pertama membutuhkan dana segar yang sangat besar. Uang saku pribadi Anda sudah habis tak bersisa untuk membayar rombongan musisi jalanan sialan minggu lalu."
Rasa frustrasi seketika kembali mencekik leher Geneviève. Ia benar-benar ingin menggali lubang, mencari musisi jalanan itu, dan merampas kembali koin emasnya. Namun itu mustahil.
"Bawakan buku besar keuangan wilayah pesisir timur," perintah Geneviève dengan rahang mengeras. "Ayahku adalah Duke of Montmirail. Keluarga kita menguasai tiga pelabuhan dagang terbesar di kekaisaran ini. Mustahil aku tidak bisa mengambil seratus ribu koin emas dari brankas wilayah sebagai pinjaman investasi awal."
Odette berjalan ke lemari kayu di sudut ruangan. Pelayan itu kembali dengan membawa tiga buku besar bersampul kulit hitam yang sangat tebal. Bunyi debuman keras terdengar saat Odette menjatuhkan buku-buku itu ke atas meja.
"Ini adalah laporan pembukuan dari tiga pelabuhan utama kita selama enam bulan terakhir, Nona," ucap Odette. "Kepala Pelayan Pierre mengatakan bahwa pendapatan pelabuhan sangat menurun tahun ini karena badai dan perombakan kapal."
Geneviève tidak menjawab. Matanya sudah terpaku pada deretan angka di halaman pertama.
Sebagai mantan ahli administrasi dan tata kelola keuangan di dunia modern, membaca buku kas adalah keahlian mutlaknya. Ia bisa menemukan satu koin perak yang salah hitung dalam dokumen setebal lima ratus halaman.
Namun, apa yang ia lihat saat ini bukanlah kesalahan hitung kecil. Ini adalah pembantaian angka.
"Odette," panggil Geneviève pelan. Suaranya terdengar sangat berbahaya.
"Ya, Nona?"
"Tolong jelaskan padaku, mengapa di baris kelima puluh halaman ini tertulis pengeluaran sebesar dua puluh ribu koin emas untuk pemeliharaan kayu tiang layar utama?" Geneviève menunjuk angka tersebut dengan pena bulunya. "Dua puluh ribu koin emas bisa digunakan untuk membangun tiga kapal dagang berukuran sedang yang baru. Apakah pelabuhan kita menggunakan kayu dari pohon surga yang disiram dengan air mata bidadari?"
Odette memicingkan matanya melihat angka tersebut. "Hamba tidak tahu banyak tentang kapal, Nona. Tetapi itu memang terdengar sangat mahal untuk sepotong kayu tiang."
Geneviève membalik halaman berikutnya dengan kasar. Jari telunjuknya bergerak cepat menelusuri kolom pengeluaran. Napasnya mulai memburu karena marah. Ia bisa merasakan darahnya mendidih hingga ke ubun-ubun.
"Biaya keamanan gudang pelabuhan, tiga puluh ribu koin emas per bulan," baca Geneviève dengan gigi gemertak. "Gaji standar untuk satu ksatria penjaga tingkat rendah hanyalah sepuluh koin perak per minggu. Tiga puluh ribu koin emas berarti pelabuhan kita dijaga oleh sepuluh batalion pasukan elit setiap malamnya. Ini sangat gila."
Ia membuka buku besar kedua, lalu buku besar ketiga. Semuanya sama. Laporan pendapatan yang dicatat sangat kecil, berbanding terbalik dengan laporan pengeluaran operasional yang digelembungkan hingga puluhan kali lipat dari harga wajar.
Geneviève membanting buku ketiga hingga tertutup. Suaranya menggema keras di ruang kerja tersebut.
"Ini bukan penurunan pendapatan karena badai," desis Geneviève. Matanya berkilat tajam menatap tumpukan buku itu seolah benda itu adalah musuh bebuyutannya. "Ini adalah penggelapan dana. Seseorang sedang merampok kekayaan keluarga Montmirail secara sistematis dari dalam. Mereka memanipulasi laporan keuangan pelabuhan untuk menyedot jutaan koin emas setiap tahunnya."
Odette tersentak kaget. Wajah pelayan itu pucat pasi. Menggelapkan dana wilayah dari seorang Duke adalah kejahatan tingkat tinggi yang hukumannya adalah hukuman gantung di alun-alun kota.
"Siapa yang berani melakukan hal senekat itu, Nona?" tanya Odette dengan suara pelan. "Ayah Anda, Tuan Duke Montmirail, sedang berada di wilayah perbatasan untuk memimpin pasukan. Beliau memercayakan urusan administrasi pelabuhan kepada dewan perwakilan wilayah."
"Maka dewan perwakilan wilayah itulah yang menjarah uang kita," jawab Geneviève dingin.
Otak Geneviève bekerja mengurai teka-teki ini. Ayahnya adalah jenderal militer yang brilian di medan perang, tetapi beliau sama sekali buta dalam hal angka dan administrasi dagang. Sang Duke terlalu memercayai orang-orang berseragam rapi di ibu kota untuk mengurus pelabuhannya. Sementara tubuh asli Geneviève di masa lalu hanya sibuk menangisi pria yang tidak peduli padanya, membiarkan aset keluarganya digerogoti oleh tikus-tikus berdasi.
Rasa frustrasi yang sedari tadi ia tahan kini berubah menjadi kemarahan murni. Uang yang seharusnya menjadi miliknya, modal yang seharusnya ia gunakan untuk membangun kerajaan bisnisnya, ternyata sedang dikuras oleh pihak lain.
"Kita harus mencari tahu siapa bajingan yang menandatangani persetujuan pencairan dana-dana siluman ini," ucap Geneviève.
Ia kembali membuka buku besar pertama. Ia menariknya mendekat, membalik halaman demi halaman menuju bagian paling akhir dokumen tersebut. Setiap pengeluaran wilayah berskala besar harus memiliki stempel pengesahan dan tanda tangan dari ketua dewan pengawas pelabuhan kekaisaran.
Di halaman terakhir, tepat di bawah rincian pengeluaran palsu bernilai ratusan ribu koin emas, terdapat sebuah cap stempel lilin berwarna merah darah. Dan di samping stempel itu, tergores tanda tangan dengan tinta hitam pekat.
Mata Geneviève menyipit membaca nama yang tertera di sana.
"Marquis de Chanteclair," gumam Geneviève perlahan. Setiap suku kata yang keluar dari bibirnya terasa seperti duri tajam.
Odette yang berdiri di samping meja langsung menahan napas. "Chanteclair? Nona, itu adalah nama marga keluarga Yang Mulia Putri Mahkota Camille. Marquis de Chanteclair adalah pamannya sendiri. Pria itu menjabat sebagai menteri perdagangan kekaisaran."
Geneviève menyandarkan tubuhnya ke kursi. Sebuah tawa kering yang sangat sinis meluncur dari bibirnya. Segala kepingan teka-teki busuk ini mulai terbentuk dengan sangat jelas di dalam kepalanya.
Putri Mahkota Camille yang tampak suci dan rapuh. Wanita bermuka dua yang selalu sibuk membangun panti asuhan, memberikan sumbangan untuk kaum miskin, dan menyelenggarakan pesta amal mewah di istana. Publik selalu memujanya sebagai malaikat pelindung kekaisaran.
Dari mana Camille dan pamannya mendapatkan uang tanpa batas untuk mendanai pencitraan suci tersebut? Jawabannya ada di atas meja Geneviève saat ini. Mereka menggunakan uang hasil rampokan dari pelabuhan milik keluarga Montmirail.
Faksi kerajaan secara sistematis melemahkan kekuatan finansial Duke Montmirail. Mereka mendistorsi ingatan Lucien agar ksatria terkuat itu memihak mereka. Mereka membuat tubuh asli Geneviève terlihat gila di mata publik agar tidak ada yang memercayainya. Dan di balik layar, mereka menjarah kekayaan wilayah pesisir untuk memperkaya keluarga Chanteclair.
"Ini adalah konspirasi politik tingkat tinggi, Nona," bisik Odette waspada. Pelayan itu melirik ke arah pintu ruang kerja seolah takut ada orang yang menguping. "Marquis de Chanteclair dilindungi langsung oleh Raja dan Putri Mahkota. Jika kita membongkar dokumen ini, kita tidak hanya berurusan dengan pencuri biasa. Kita akan menyatakan perang secara langsung melawan Istana Soleil. Mereka bisa dengan mudah menuduh balik keluarga Montmirail atas tuduhan pemberontakan."
"Perang, kau bilang?" Geneviève tersenyum miring. Matanya menatap tajam tanda tangan di atas kertas perkamen itu. Ujung kukunya mengetuk meja dengan irama yang mematikan.
Bagi Geneviève, masalah percintaan masa lalu mungkin bisa ia lupakan sejenak. Namun, mencuri koin emas miliknya adalah garis merah yang tidak boleh dilewati oleh siapa pun.
"Odette," panggil Geneviève dengan nada suara yang sangat tenang namun membekukan udara di sekitarnya. "Mereka mengambil modalku. Mereka menguras kekayaan keluargaku untuk membangun citra suci mereka. Jika faksi kerajaan menginginkan perang dagang, maka aku akan memastikan keluarga Chanteclair bangkrut hingga mereka harus menjual gaun-gaun putih norak milik keponakan kesayangan mereka itu di pasar loak."
Geneviève menutup buku besar itu dengan bunyi debuman keras yang menggema di seluruh ruangan. Ia telah menemukan musuh utamanya. Dan ia akan menghancurkan mereka melalui tempat yang paling menyakitkan, yaitu pundi-pundi kekayaan mereka.