Kirana cuma pengen kuliah tenang. Tapi dosen paling galak sekampus malah jadi orang yang bikin jantungnya berdebar tanpa alasan.
Status dosen dan mahasiswi jadi tembok pemisah. Masa lalu kelam Alden jadi ancaman yang siap menghancurkan semuanya.
Satu pertanyaan tersisa: berani nggak, Kirana, jatuh cinta pada orang yang paling dilarang buat dicintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W_ Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: ALDEN MARAH TANPA SEBAB JELAS
Sesi diskusi kelompok hari itu jatuh tepat seminggu setelah pengakuan cemburu Alden di ruang diskusi. Kirana datang dengan perasaan campur aduk, berharap ada kejelasan setelah waktu yang diminta Alden untuk berpikir, tapi juga cemas dengan apa yang mungkin dia dengar nanti.
"Kir, kamu nervous banget dari tadi," bisik Nadia yang duduk di sebelahnya, memperhatikan Kirana yang terus mengetuk ngetuk pena ke meja tanpa sadar.
"Nggak apa apa, cuma kepikiran progress kelompok aja," jawab Kirana, mencoba menyembunyikan kegugupan yang sebenarnya.
Pintu terbuka, dan Alden masuk dengan langkah yang lebih cepat dari biasanya, wajahnya terlihat tegang sejak awal, jauh berbeda dari kesan tenang yang biasa dia tunjukkan.
"Langsung mulai aja," katanya, tidak menyapa seperti biasa, langsung membuka laptopnya dengan gerakan yang sedikit kasar.
"Update progress masing masing bagian."
Suasana ruangan langsung berubah tegang, semua orang bisa merasakan perbedaan sikap Alden yang mencolok. Dinda dan anggota kelompok lain saling melirik, sedikit bingung dengan perubahan mood yang tiba tiba itu.
"Analisis pasar udah selesai, Pak," Nadia mulai melapor, suaranya sedikit ragu ragu karena tegangnya suasana.
"Tunjukkan," kata Alden singkat, tidak memberikan komentar tambahan seperti biasanya.
Nadia menunjukkan hasil kerjanya, dan Alden memeriksa dengan cepat, terlalu cepat untuk ukuran biasanya yang selalu teliti. "Oke, lanjut ke bagian berikutnya."
Kirana memperhatikan dengan seksama, menyadari sesuatu yang berbeda dari cara Alden menilai hari ini, lebih terburu buru, kurang detail, seolah pikirannya sedang berada di tempat lain.
"Kirana, bagian finansial," panggil Alden, matanya tetap tertuju ke laptop sendiri.
"Ini, Pak," Kirana membuka filenya, memutar layar laptop ke arah Alden. "Saya udah perbaiki sesuai komentar Bapak minggu lalu."
Alden melirik sekilas, tidak selama biasanya dia memperhatikan detail perhitungan.
"Masih ada kesalahan di bagian discount rate. Perbaiki lagi."
"Kesalahan yang mana, Pak?" Kirana bertanya, sedikit bingung karena dia sudah mengecek bagian itu berkali kali sebelum sesi ini.
"Kamu nggak lihat sendiri?" Alden menjawab, nadanya lebih tajam dari yang biasa dia gunakan bahkan untuk mengkritik kesalahan yang jelas. "Coba periksa lagi dengan lebih teliti."
Nada suara itu membuat seisi ruangan terdiam, tidak biasa mendengar Alden berbicara sekasar itu, bahkan untuk standar galaknya yang biasa. Kirana merasa wajahnya memanas, campuran antara malu dan bingung dengan perlakuan yang terasa tidak adil ini.
"Baik, Pak, saya akan periksa lagi," jawab Kirana, mencoba menjaga suaranya tetap tenang meski dalam hati dia merasa tertekan.
Diskusi berlanjut dengan suasana yang semakin canggung, Alden terus memberikan komentar komentar tajam ke hampir semua anggota kelompok, jauh lebih keras dari biasanya, seolah dia sedang melampiaskan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan progress proyek yang sebenarnya sudah cukup baik.
"Pak, kalau boleh saya bilang," Bagas akhirnya memberanikan diri bicara setelah menerima kritik yang menurutnya terlalu berlebihan untuk kesalahan kecil di bagian slide-nya, "kayaknya hari ini Bapak agak lebih keras dari biasanya."
Kalimat itu membuat suasana semakin tegang. Alden menatap Bagas tajam, rahangnya mengeras. "Saya cuma menuntut standar yang sesuai. Kalau kalian nggak siap menerima kritik, mungkin kalian belum siap buat dunia kerja yang sebenarnya."
Tidak ada yang berani membalas lebih jauh setelah itu, suasana ruangan menjadi hening dan tegang, jauh berbeda dari sesi sesi diskusi sebelumnya yang biasanya berjalan lebih santai meski tetap serius.
Begitu sesi diskusi selesai, anggota kelompok
bergegas keluar ruangan, jelas terlihat lega bisa menjauh dari suasana yang tidak nyaman itu. Kirana sengaja tertinggal di belakang, merapikan barangnya dengan sengaja lambat, ingin bicara dengan Alden sebelum benar benar pergi.
"Pak," panggilnya begitu ruangan mulai sepi.
Alden mendongak, ekspresinya masih terlihat tegang. "Ada apa?"
"Kenapa Bapak keras banget hari ini? Bukan cuma ke saya, tapi ke semua orang," Kirana bertanya, mencoba menahan nada kecewa dalam suaranya.
Alden terdiam sejenak, matanya menghindari kontak langsung. "Saya cuma coba jaga standar penilaian yang objektif."
"Ini bukan soal standar, Pak," Kirana mendesak, tidak puas dengan jawaban yang terasa seperti kilah. "Ini soal Bapak yang keliatan lagi ada masalah, dan itu dilampiaskan ke kelompok kami."
Kalimat langsung itu membuat Alden terdiam lebih lama, tampak berjuang dengan sesuatu yang jelas terlihat di raut wajahnya. "Maaf," katanya akhirnya, suaranya melembut.
"Kamu benar. Saya nggak seharusnya bersikap kayak gitu ke kalian semua."
"Ada apa sebenarnya, Pak?" Kirana bertanya lebih lembut, khawatir melihat perubahan drastis dalam sikap Alden hari itu.
Alden menghela napas panjang, menyandarkan punggung ke kursinya. "Sarah kirim pesan lagi tadi pagi. Dia bilang bakal sampai ke kota ini akhir minggu ini."
Kabar itu membuat dada Kirana terasa berat. "Jadi Bapak beneran bakal ketemu dia?"
"Saya belum tau," Alden menjawab jujur, suaranya penuh kebingungan yang jarang dia tunjukkan. "Tapi mikirin itu aja udah bikin saya nggak bisa fokus seharian ini."
"Makanya Bapak jadi lebih keras ke kami semua?" Kirana bertanya, mulai memahami akar dari sikap tidak biasa itu.
"Saya nggak berniat kayak gitu," Alden mengakui, terlihat menyesal. "Tapi rasanya, semua tekanan itu numpuk jadi satu, dan akhirnya keluar dengan cara yang salah."
Kirana terdiam, mencerna semua penjelasan itu. Di satu sisi, dia merasa lega akhirnya mengerti alasan di balik sikap Alden yang tidak biasa, tapi di sisi lain, ada rasa cemas yang mulai tumbuh mendengar kabar tentang kedatangan Sarah yang semakin dekat.
"Pak," Kirana akhirnya bicara, memilih kata katanya dengan hati hati, "apapun yang Bapak putuskan soal Sarah, saya harap Bapak nggak lupa buat jaga hubungan Bapak sama orang orang di sekitar Bapak, termasuk kelompok kami."
Alden menatapnya lama, ada rasa terima kasih yang tersirat jelas di matanya. "Kamu benar. Saya akan minta maaf ke semua orang besok, dan coba jelasin situasinya sedikit, tanpa perlu masuk ke detail personal."
"Itu ide yang bagus, Pak," Kirana tersenyum kecil, merasa sedikit lega mendengar Alden bersedia memperbaiki kesalahannya.
"Terima kasih, Kirana," kata Alden, suaranya penuh ketulusan. "Buat selalu jujur sama saya, bahkan waktu saya lagi nggak dalam kondisi terbaik."
"Sama sama, Pak," Kirana mengangguk, mulai bersiap untuk benar benar pamit. "Saya harap semuanya bisa terselesaikan dengan baik, apapun keputusan yang Bapak ambil nanti."
Dia berjalan menuju pintu, tapi sebelum benar benar keluar, dia berhenti sejenak, menoleh ke arah Alden yang masih terlihat lelah dan penuh beban pikiran. "Pak, kalau butuh temen ngobrol soal ini, saya selalu ada, kok."
Alden tersenyum tipis, meski senyum itu penuh dengan kelelahan yang jelas terlihat. "Terima kasih. Itu berarti banyak buat saya."
Kirana keluar ruangan dengan hati yang berat, memikirkan bagaimana kedatangan Sarah yang semakin dekat akan mengubah segalanya, baik untuk Alden maupun untuk hubungan rumit yang baru saja mulai mereka bangun dengan susah payah. Di sepanjang jalan pulang, dia terus bertanya tanya, apakah dia siap menghadapi kemungkinan bahwa masa lalu Alden akan kembali dan mengancam segala sesuatu yang baru saja mulai tumbuh di antara mereka berdua.
Di dalam ruangan yang kini kosong, Alden duduk termenung, menatap ponselnya yang menampilkan pesan terakhir dari Sarah. Perasaannya campur aduk antara ketakutan menghadapi masa lalu dan kekhawatiran akan kehilangan sesuatu yang baru saja mulai berarti baginya sekarang, sesuatu yang terwujud dalam sosok seorang mahasiswi yang tanpa dia sadari telah berhasil menembus tembok pertahanan yang selama ini dia bangun begitu kokoh.