NovelToon NovelToon
Detak Jantung Yang Merahasiakanmu

Detak Jantung Yang Merahasiakanmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Anak Genius / CEO
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: RosaSantika

Lima tahun yang lalu, akibat satu malam penuh kesalahpahaman yang dijebak oleh orang lain, Alana Kirana menyerahkan kesuciannya kepada Devran Adhitama, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa. Takut dituduh sebagai wanita penghibur, Alana melarikan diri ke luar negeri dalam kondisi mengandung. Kini, Alana kembali sebagai desainer interior berbakat demi membiayai pengobatan putranya yang genius namun sakit-sakitan, Leo. Saat Devran menyewa jasanya, pria itu tidak tahu bahwa bocah berwajah sangat mirip dengannya yang sering menyelinap ke kantornya adalah darah dagingnya sendiri. Di tengah intrik mantan kekasih Devran dan rahasia masa lalu, cinta lama yang sempat padam kembali membara dengan taruhan rahasia besar yang siap meledak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7

"Letakkan saja sampel material oak itu di sudut meja, Tuan Devran. Anda tidak perlu berdiri sedekat ini hanya untuk memperhatikan sketsa saya."

Alana menarik napas dalam-dalam, mencoba mempertahankan suaranya agar tetap terdengar dingin dan profesional.

Ia menggeser duduknya beberapa sentimeter ke kanan, menjauh dari sosok tegap Devran yang sejak tiga puluh menit lalu terus berdiri di sisi kursinya, mengawasinya menggambar ulang beberapa detail panel dinding.

Devran tidak bergemerincing dari posisinya. Pria itu justru meletakkan cangkir kopi hitamnya ke atas meja kerja jatinya yang luas, menciptakan bunyi ketukan pelan yang memecah kesunyian ruang kerja privatnya yang kedap suara.

"Ini ruang kerja pribadiku, Alana. Aku berhak berdiri di sudut mana pun yang kuinginkan."

"Tapi kehadiran Anda di sini sangat mengganggu konsentrasi saya," balas Alana ketus tanpa menoleh, jemarinya mencengkeram pensil arsitektur lebih erat, menggoreskan garis-garis tegas di atas kertas kalkir.

"Mengganggu karena aku terlalu dekat, atau karena kamu mulai merasa tidak nyaman dengan debaran jantungmu sendiri?" goda Devran, suaranya yang bariton terdengar sangat rendah dan dalam, bergaung lembut di dekat telinga Alana.

Alana seketika menghentikan gerakan tangannya. Ia mendongak, menatap mata elang Devran dengan kilat amarah yang bercampur dengan kegugupan yang coba ia sembunyikan mati-matian.

"Jangan terlalu percaya diri, Tuan Adhitama yang terhormat. Jantung saya berdegup kencang hanya karena saya merasa tertekan berada di dalam satu ruangan dengan pria tirani yang menyandera paspor saya."

Devran menaikkan satu alisnya, sebuah senyuman tipis yang sarat akan dominasi terbit di sudut bibirnya.

"Tirani? Aku justru sedang melindungimu, Alana. Kamu lihat sendiri apa yang terjadi pada Lorenza Group sore ini, bukan?"

 "Begitu mereka mencoba mengusikmu dan melakukan peretasan siber ke serverku, aku langsung menghancurkan seluruh pasokan bisnis mereka tanpa sisa."

Alana mendengus sumbang, kembali memfokuskan pandangannya pada kertas di depannya.

"Anda menghancurkan mereka karena ego Anda sendiri yang merasa terancam oleh spionase mereka, bukan karena saya. Jangan memutarbalikkan fakta seolah-olah Anda adalah pahlawan di sini."

"Jika itu yang membuatmu merasa lebih aman untuk menolakku, silakan saja berpikir begitu," sahut Devran santai.

 Ia melangkah satu langkah lebih maju, mempersempit jarak di antara mereka hingga ujung sepatu pantofelnya hampir menyentuh ujung sepatu Alana di bawah meja.

"Tapi kita berdua tahu, Siska tidak akan pernah bisa menyentuhmu lagi sekarang. Kamu aman di dalam ruanganku."

Suasana di dalam ruang kerja megah di lantai teratas Adhitama Tower itu mendadak berubah menjadi sangat intens.

 Cahaya lampu temaram berwarna kekuningan yang keluar dari sudut-sudut plafon memberikan kesan hangat yang intim, sangat kontras dengan pemandangan malam kota Jakarta yang dipenuhi kelap-kelip lampu gedung pencakar langit di balik dinding kaca besar di belakang mereka. Hanya ada suara gesekan halus pensil Alana dan desah napas mereka yang saling berkejaran di dalam keheningan.

"Mengapa Anda tidak duduk di kursi kebesaran Anda saja dan memeriksa laporan keuangan?" tanya Alana setelah beberapa menit terlewati dalam kecanggungan yang menyiksa.

"Bukankah Reno bilang Anda memiliki banyak dokumen akuisisi yang harus ditandatangani malam ini?"

"Dokumen-dokumen itu bisa menunggu sampai besok pagi," jawab Devran.

 Matanya tidak sedetik pun lepas dari profil samping wajah Alana, memperhatikan bagaimana bulu mata lentik wanita itu bergerak setiap kali ia berpikir, serta bagaimana garis rahangnya yang tegas namun lembut berpadu sempurna dengan leher jenjangnya.

"Menatap hasil kerjamu di sini jauh lebih bernilai investasi bagiku saat ini."

"Anda benar-benar tidak waras," gumam Alana, wajahnya mulai terasa panas akibat tatapan intens yang dilemparkan Devran secara terang-terangan.

"Aku memang gila, Alana. Dan kegilaan ini dimulai sejak lima tahun lalu di Bandung, di dalam kamar tidur yang denahnya baru saja kamu gambar dengan sangat sempurna dari ingatan bawah sadarmu," bisik Devran, suaranya mendadak berubah menjadi sangat berat dan penuh kerinduan yang tertahan.

Alana mencoba mengabaikan kalimat itu, namun jemarinya mendadak kehilangan kendali. Garis pensil yang ia tarik melenceng jauh dari pola kelonggaran panel.

 "Sial..." umpat Alana lirih, buru-buru meraih penghapus karet di sudut meja.

Namun, sebelum jemari mungil Alana berhasil menyentuh penghapus itu, tangan kekar Devran sudah bergerak lebih cepat. Pria itu menangkap pergelangan tangan Alana dengan lembut, menghentikan gerakannya seketika.

"Lepaskan saya, Devran," desis Alana, tubuhnya menegang seutuhnya saat merasakan kehangatan telapak tangan Devran yang membungkus kulit pergelangan tangannya.

"Tidak sebelum kamu menatap mataku dan menjawab pertanyaanku dengan jujur, Alana," tuntut Devran, perlahan menarik tangan Alana ke atas meja, memaksa wanita itu untuk memutar tubuhnya dan menghadap ke arahnya.

"Saya tidak memiliki kewajiban apa pun untuk menjawab pertanyaan pribadi Anda!" Alana mencoba menyentak tangannya kembali, namun Devran tidak memberikan ruang sedikit pun.

Pria itu justru menundukkan tubuh tegapnya, menopang bobot tubuhnya dengan satu tangan lain di sandaran kursi Alana, mengurung wanita itu sepenuhnya di antara tubuhnya dan meja kerja.

Tepat pada detik itulah, saat jarak di antara wajah mereka terkikis hingga menyisakan jarak beberapa sentimeter saja, embusan angin dari pendingin ruangan membawa sekelebat aroma yang sangat spesifik dari tubuh Alana.

Aroma parfum alami yang lembut, perpaduan antara ekstrak bunga melati musim semi yang samar dengan sentuhan vanila hangat yang menenangkan.

DEG.

Jantung Devran bagai dihantam oleh gada tak kasat mata. Seluruh syaraf di tubuhnya mendadak menegang. Mata elangnya melebar, menatap lurus ke dalam manik mata hazel Alana dengan tatapan yang dipenuhi oleh keterkejutan dan kesadaran yang luar biasa besar yang datang secara tiba-tiba.

Aroma ini. Wangi tubuh ini.

"Kamu..." suara Devran mendadak bergetar hebat, napasnya tertahan di tenggorokan.

Alana yang menyadari perubahan ekspresi Devran berkerut kening, mencoba memundurkan kepalanya demi menghindari tatapan pria itu yang kini tampak begitu liar dan tajam.

 "Ada apa dengan Anda? Lepaskan saya!"

Devran tidak mendengarkan. Ia justru memejamkan matanya selama satu detik, menghirup aroma udara di sekitar leher Alana dengan rakus, memastikan bahwa indra penciumannya tidak sedang menipunya akibat kelelahan.

Begitu matanya kembali terbuka, kilat kepemilikan yang teramat pekat dan gelap menyala di dalam sepasang matanya.

"Wangi ini..." bisik Devran, suaranya terdengar sangat serak dan bergetar oleh badai emosi yang meledak di dalam dadanya.

"Aroma parfum ini... Ini bukan sekadar parfum biasa, Alana. Ini adalah racikan minyak esensial melati dan vanila liar dari pegunungan Swiss yang hanya diproduksi secara terbatas oleh butik kuno di Zurich, bukan?"

Alana seketika membeku. Seluruh darah di tubuhnya rasanya seperti membeku menjadi es. Ia menatap Devran dengan mata yang membelalak sempurna penuh kengerian.

"B-Bagaimana... bagaimana Anda bisa tahu detail itu?!"

"Bagaimana aku bisa tahu?!" Devran tertawa rendah, sebuah tawa yang sarat akan rasa frustrasi dan kelegaan yang luar biasa besar hingga matanya tampak sedikit berkaca-kaca.

"Selama lima tahun ini, Alana... selama lima tahun ini aku menyuruh ratusan orang mencari ke seluruh penjuru dunia untuk menemukan asal-usul wangi ini! Wangi yang menempel erat di selimutku, di bantal tidurku, dan di seluruh kulit tubuhku setelah malam terkutuk di Bandung itu!"

"T-Tidak... Anda salah... Ini hanya parfum pasaran..." Alana terbata-bata, kepanikan massal melanda seluruh sistem pertahanannya.

 Ia mencoba mendorong dada bidang Devran dengan tangan kirinya yang bebas, namun tubuh tegap Devran bagai dinding batu yang tak bergeser satu milimeter pun.

"Jangan berbohong lagi di depanku, Alana Kirana!" bentak Devran, suaranya meninggi, bergaung berat memenuhi ruangan.

Cengkeramannya pada pergelangan tangan Alana sedikit mengencang, bukan karena ingin menyakiti, melainkan karena rasa takut yang teramat sangat jika wanita di hadapannya ini akan menghilang kembali ke dalam kegelapan seperti lima tahun yang lalu.

"Malam itu... malam di mana lampu kamar penthouseku padam total akibat sabotase, malam di mana seorang wanita masuk ke dalam pelukanku dalam kondisi setengah sadar."

"Wanita itu tidak pernah bersuara, dia hanya menangis di bawahku sambil mencengkeram bahuku erat-erat... Tapi seluruh indra penciumanku merekam wangi ini dengan sangat mutlak! Wangi melati dan vanila ini!"

Air mata Alana akhirnya runtuh membasahi pipinya yang pucat pasi. Pertahanannya hancur berkeping-keping tanpa sisa.

 Rahasia paling intim yang ia simpan di sudut terdalam jiwanya, detail tentang bagaimana aroma tubuhnya mengikat takdir pria ini, kini telah telanjang bulat di depan Devran.

"Kenapa, Alana? Kenapa harus kamu?!" tanya Devran, suaranya melunak secara drastis, berubah menjadi bisikan penuh luka yang menyayat hati saat ia menatap air mata Alana.

Pria itu perlahan melepaskan cengkeramannya, lalu beralih menyentuh pipi Alana dengan jemarinya yang gemetar, menghapus air mata yang mengalir di sana dengan kelembutan yang teramat sangat.

"Kenapa kamu harus menyembunyikan diri dariku selama lima tahun jika kamu tahu bahwa kamulah pemilik malam itu? Kenapa kamu membiarkanku hidup dalam rasa bersalah karena mengira aku telah merenggut kesucian wanita asing yang tidak bersalah?!"

"Karena Anda adalah seorang Adhitama, Devran!" teriak Alana di antara tangisnya, menatap Devran dengan tatapan penuh kebencian dan rasa sakit yang mendalam.

"Anda tahu apa yang terjadi jika saya tetap tinggal hari itu? Siska dan jaringan mafia keluarganya akan menguliti saya hidup-hidup! Keluarga Anda yang agung tidak akan pernah menerima seorang gadis yatim piatu miskin seperti saya untuk bersanding dengan pewaris tahta mereka!"

"Saya tidak punya pilihan selain melarikan diri ke Swiss demi menyelamatkan nyawa saya dan nyawa benih yang Anda tanam di dalam rahim saya tanpa izin!"

Mendengar pengakuan jujur yang keluar langsung dari mulut Alana, seluruh tubuh Devran bergetar hebat. Rasa penyesalan yang teramat dalam menghantam dadanya hingga membuatnya merasa sesak.

Ia menarik napas pendek, lalu tanpa aba-aba, ia memajukan tubuhnya dan mendekap tubuh mungil Alana ke dalam pelukan hangatnya yang teramat erat.

"Lepaskan saya! Jangan sentuh saya, Devran!" Alana memukul-mukul punggung tegap Devran dengan kepalan tangannya, mencoba memberontak dengan sisa tenaganya.

Namun Devran justru semakin mempererat dekapannya, menyembunyikan wajah tampannya di ceruk leher Alana, menghirup aroma melati dan vanila itu sedalam-dalamnya seolah ingin menyatukan kembali jiwa mereka yang sempat terpisah.

"Maafkan aku, Alana... Demi Tuhan, maafkan aku..." bisik Devran berulang kali di dekat telinga Alana, suaranya terdengar serak dan sarat akan emosi yang tumpah ruah.

"Aku tidak tahu penderitaan yang kamu lalui sendirian di sana. Aku bersumpah demi sisa hidupku, mulai malam ini... aku tidak akan pernah membiarkanmu menangis sendirian lagi."

"Kota Jakarta ini, Adhitama Group ini, seluruh kekuasaan dan uang yang kamu benci itu... semuanya akan kugunakan untuk menjadi perisai pelindungmu dan Leo dari siapa pun yang berani mengusik kalian."

Alana yang kehabisan tenaga akhirnya berhenti memukul. Ia menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Devran, menangis tersedu-sedu meluapkan seluruh rasa lelah, ketakutan, dan beban mental yang ia pikul sendirian selama lima tahun di Eropa.

Di dalam kehangatan pelukan posesif pria tirani ini, di tengah aroma parfumnya yang kini bercampur dengan aroma maskulin Devran yang mengintimidasi.

Alana tahu, sangkar emas ini telah terkunci sepenuhnya, dan takdir tidak akan pernah membiarkannya berlari lagi.

1
Rosa Santika
makasih kk
Icha Kolin
sangat bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!