NovelToon NovelToon
Aku Tak Sanggup Lagi

Aku Tak Sanggup Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / CEO
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan rumah tangga Anjani dan Malik yang harus kandas dengan hadirnya sosok Dara, wanita yang merupakan sahabat baik Anjani yang menjadi pelakor dalam rumah tangganya. Hinaan kasar dari mertuanya juga membuat Anjani menyerah dan memutuskan untuk berpisah hingga takdir mempertemukannya dengan bule tampan asal Inggris Oliver Jones yang mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lamaran Dari Pria Bule

"Keadilan tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang kita bayangkan, Anjani. Namun, dengan kepergian mereka, setidaknya babak kelam itu sudah benar-benar tertutup. Tidak ada lagi ancaman yang datang dari arah mereka," sahut Oliver, mencoba menenangkan Anjani.

​Di sisi lain kota, nasib yang jauh berbeda dialami oleh Dara Mitha Dahayu. Jika Malik dan Anne memilih untuk pergi, Dara justru terjebak dalam labirin pikirannya sendiri yang semakin kacau. Setelah pemeriksaan psikologis yang dilakukan selama berhari-hari, psikiater menyatakan bahwa Dara menderita skizofrenia akut yang dipicu oleh obsesi dan trauma dendam yang tak tertangani.

​Dara kini tidak lagi berada di sel penjara, melainkan di sebuah rumah sakit jiwa dengan tingkat pengamanan tinggi. Ruangannya steril, putih, dan sunyi—sebuah kontras yang tajam dengan dunia penuh tipu daya yang dulu ia jalani.

​Saat para perawat membawanya masuk, Dara tidak meronta. Ia hanya menatap dinding dengan tatapan kosong. Namun, sesekali, ia akan tersenyum sendiri, seolah sedang bercakap-cakap dengan seseorang yang tidak terlihat.

​"Anjani... apakah gaunnya cantik?" bisiknya pada dinding. "Aku sudah menyiapkan pesta untuknya. Kenapa dia belum datang?"

​Psikiater yang menangani kasusnya, Dr. Aris, mencatat setiap detail perilaku Dara dengan raut wajah prihatin. "Dia benar-benar terputus dari realitas. Dendam telah melahap sisa-sisa kewarasannya hingga tidak ada lagi kepribadian asli yang tersisa. Dia hidup dalam dunianya sendiri di mana ia merasa masih memenangkan permainan yang sudah lama berakhir."

​Kabar tentang kondisi mental Dara juga sampai ke telinga Anjani. Berbeda dengan kabar kematian Malik dan Anne yang membuatnya syok, kabar mengenai Dara justru membuat Anjani merasa sangat sedih. Ia menyadari bahwa dendam telah mengubah seorang wanita muda yang dulu berpotensi, menjadi seseorang yang kini harus kehilangan dunianya sendiri.

"Dia membayar harga yang jauh lebih mahal daripada Malik dan Bu Anne," gumam Anjani suatu sore, saat ia dan Oliver mengunjungi makam sederhana di pinggiran kota untuk menenangkan batinnya.

​"Dia dihukum dengan pikirannya sendiri selamanya," timpal Oliver. "Itu adalah jeruji besi yang sebenarnya, Jani."

​Anjani menghela napas panjang, menatap langit Jakarta yang kini tampak lebih biru dibanding hari-hari penuh teror sebelumnya. Ia mulai memahami bahwa kehidupan tidak selalu memberikan akhir bahagia seperti dalam novel yang ia tulis. Terkadang, kehidupan memberikan akhir yang getir, sebuah pengingat bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi yang tak terelakkan.

​Kini, dengan kepergian Malik dan Anne serta terisolasinya Dara di rumah sakit jiwa, keluarga Direja mulai merasakan ketenangan yang sesungguhnya. Pak Santo sudah mulai bisa berjalan di halaman rumah tanpa bantuan tongkat secara konstan, sementara Bu Purwati kembali menemukan senyumnya saat berkebun di pagi hari.

****

​Sementara di ruang isolasi rumah sakit jiwa, Dara masih duduk di sudut ruangan, jemarinya terus bergerak di udara seolah sedang mengetik sesuatu.

​"Kali ini, Anjani pasti kalah," bisiknya penuh kemenangan. Ia tidak tahu bahwa di luar sana, Anjani telah melangkah jauh meninggalkan bayang-bayang kelam tersebut, menuju masa depan yang cerah dan penuh dengan harapan baru.

​Dunia terus berputar. Tidak ada lagi teror yang membayangi, tidak ada lagi ledakan yang menggetarkan fondasi rumah. Yang ada hanyalah kedamaian yang diraih dengan perjuangan panjang. Anjani Direja telah memenangkan pertempuran hidupnya, bukan dengan senjata, melainkan dengan keteguhan hati yang tidak tergoyahkan.

​Babak ini telah usai. Keadilan telah ditegakkan, meski dengan harga yang sangat mahal. Dan bagi keluarga Direja, setiap detik kedamaian yang mereka rasakan saat ini adalah anugerah terindah setelah sekian lama berada di ambang kehancuran.

****

Matahari senja Jakarta menyusup melalui jendela ruang tamu keluarga Direja, memberikan rona keemasan pada ruangan yang kini terasa jauh lebih hangat dibanding beberapa bulan lalu. Pak Santo duduk di kursi santai, tampak bugar meski masih membutuhkan waktu untuk pemulihan total, sementara Bu Purwati duduk di sampingnya, tangan mereka bertaut dengan penuh kasih. Anjani duduk di tengah, masih memegang cangkir teh yang mengepul, tidak menduga bahwa sore ini akan menjadi salah satu momen paling bersejarah dalam hidupnya.

​Oliver Jones berada di sana, mengenakan setelan jas abu-abu yang tampak santai namun tetap memancarkan aura maskulin yang elegan. Ia tidak terlihat seperti CEO Jones Group yang ditakuti lawan bisnisnya saat ini; ia tampak seperti seorang pria yang gugup, sesuatu yang tak pernah dibayangkan oleh siapa pun.

​Suasana hening sejenak sebelum Oliver berdeham. Ia berdiri, berjalan ke tengah ruangan, lalu dengan gerakan yang tenang namun mantap, ia berlutut di hadapan Anjani.

​Pak Santo dan Bu Purwati saling berpandangan dengan mata berbinar. Anjani terperangah, cangkir di tangannya hampir terlepas jika saja ia tidak segera meletakkannya di meja. Jantungnya berdegup kencang, seolah bisa didengar oleh seisi ruangan.

"Anjani," suara Oliver terdengar dalam dan tulus, menghilangkan kesan dingin yang biasanya menyelimuti dirinya. "Kita telah melewati badai yang hampir menenggelamkan kita berdua. Aku melihat kekuatanmu saat aku melihat keruntuhan, dan aku melihat ketabahanmu saat dunia mencoba menghancurkanmu. Bagiku, kau bukan sekadar wanita yang kubantu, kau adalah wanita yang menyadarkanku bahwa hidup tidak hanya tentang bisnis dan kekuasaan."

​Oliver mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna biru tua dari saku jasnya. Saat kotak itu terbuka, kilau berlian di dalamnya menangkap cahaya senja, memancarkan pesona yang abadi.

​"Pak Santo, Bu Purwati," Oliver menoleh ke arah orang tua Anjani dengan hormat yang mendalam. "Dengan restu kalian, saya ingin meminta izin untuk melamar putri kalian. Saya ingin mendampinginya, melindunginya, dan menghabiskan sisa hidup saya bersamanya. Anjani, maukah kau menikah denganku?"

​Air mata tidak terbendung lagi. Anjani merasakan sesak yang membahagiakan di dadanya. Ia menangis haru, bukan karena penderitaan yang telah usai, melainkan karena rasa syukur yang meluap-luap. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya bergetar hebat.

​"Ya... ya, Oliver. Aku mau," bisik Anjani di sela-sela tangis bahagianya.

Pak Santo menyeka sudut matanya yang basah, sementara Bu Purwati segera bangkit dan memeluk putrinya erat-erat. Ruangan itu seketika dipenuhi oleh tawa dan rasa syukur. Setelah begitu banyak air mata yang tumpah karena kelicikan orang lain, kebahagiaan akhirnya menemukan jalannya ke rumah sederhana mereka.

****

​Namun, di belahan kota yang lain, jauh dari kehangatan keluarga Direja, dunia yang berbeda sedang bergolak.

​Di dalam ruang isolasi rumah sakit jiwa yang memiliki sistem pengamanan tingkat tinggi, Dara Mitha Dahayu tampak tenang—terlalu tenang. Rambutnya yang berantakan telah dipotong pendek oleh pihak rumah sakit, dan ia mengenakan pakaian pasien berwarna putih yang seragam.

​Pukul tujuh malam, seorang perawat muda yang baru bertugas masuk ke dalam ruangan Dara dengan membawa baki makan malam. Perawat itu tidak menyadari bahwa di balik tatapan kosong Dara, terdapat otak yang sedang merancang skenario pelarian paling nekat yang pernah ada.

​Saat perawat itu mendekat untuk meletakkan baki di atas meja, Dara tiba-tiba terjatuh dari tempat tidur, berpura-pura kejang dengan mulut berbusa—hasil dari sabun yang diam-diam ia kunyah beberapa saat sebelumnya.

​"Suster! Tolong! Pasien mengalami kejang!" teriak suster dengan suara yang ia buat semirip mungkin dengan teriakan minta tolong.

Perawat yang panik itu segera meletakkan baki dan bergegas mendekati Dara untuk memberikan pertolongan pertama. Begitu tubuh perawat itu condong ke depan, Dara berhenti berakting. Dengan kecepatan yang tak terduga, ia menyambar nampan logam dari baki dan menghantamkannya ke pelipis perawat itu.

​BRAK!

​Perawat itu jatuh pingsan seketika. Tanpa membuang waktu, Dara merangkak naik, mengambil kunci pintu darurat yang tergantung di pinggang perawat tersebut. Tangannya gemetar karena adrenalin, namun matanya memancarkan semangat iblis yang belum padam.

1
Heriyani Lawi
ceritanya ky film India, meskipun ditangkap bbrp kali msh aja lolos. klo aku mungkin dah kutembak mati aja tuh si dara, ngapain diserahkn ke polisi klo ujung2nya lepas lg
Heriyani Lawi
ceritanya agak aneh menurutku thor. sdh tau dara melarikan diri dan bersifat licik, knp ayahnya Anjani tidak dikawal dan dibiarkan sendiri
Dew666
👍
Iffanaya 😽
dara tu gk bisa dimasukin penjara lg, orang mcm dara lbih baik dimusnahkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!