Hari pertama bekerja seharusnya menjadi awal yang sempurna bagi Naira Putri Prameswari. Namun semua rencananya berantakan ketika tanpa sengaja ia menumpahkan segelas kopi ke jas seorang pria asing yang dingin dan menyebalkan. Masalahnya, pria itu ternyata adalah Arga Mahendra Wijaya—CEO perusahaan tempat Naira baru diterima bekerja. Sejak saat itu, setiap pertemuan mereka selalu diwarnai adu mulut, sindiran, dan kekacauan yang mengundang tawa. Naira menganggap Arga terlalu kaku dan perfeksionis, sementara Arga merasa Naira adalah sumber masalah yang tak pernah habis. Takdir rupanya punya selera humor. Sebuah proyek penting memaksa mereka bekerja dalam satu tim. Semakin sering bersama, semakin banyak sisi lain yang mereka temukan. Di balik sikap dingin Arga tersimpan perhatian yang tulus, sementara di balik kecerobohan Naira ada hati yang hangat dan selalu membawa warna. Saat kebencian perlahan berubah menjadi rasa nyaman, masa lalu Arga datang menguji hubungan mereka. Mampukah mereka mengalahkan ego, atau justru kembali menjadi dua orang yang saling menyakiti? Karena terkadang, orang yang paling membuat kita emosi adalah orang yang paling sulit kita lepaskan. ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35 - Orang yang Tak Diundang
Suasana ruang rapat berubah tegang.
Pak Anton masih menggenggam ponselnya.
"Bagaimana kondisi investornya, Pak?" tanya salah satu staf.
Pak Anton menghela napas.
"Beliau selamat."
Semua mengembuskan napas lega.
"Tapi..."
"...mengalami patah kaki dan harus dirawat."
Arga langsung bertanya, "Lalu bagaimana dengan presentasi proyek?"
"Belum ada kepastian."
"Keputusan akhir akan diumumkan besok."
---
Sepanjang hari, suasana kantor terasa muram.
Seluruh tim sudah bekerja keras hampir dua bulan.
Jika kerja sama itu batal, semua usaha mereka bisa sia-sia.
Nadira memperhatikan Arga yang masih sibuk memeriksa laporan.
"Kamu belum makan?"
Arga menggeleng.
"Nanti saja."
"Kamu dari tadi bilang nanti."
"Aku masih mau memastikan semua data aman."
Tanpa banyak bicara, Nadira berjalan ke pantry.
Lima belas menit kemudian ia kembali membawa dua kotak nasi.
"Aku nggak lapar."
ucap Arga.
Nadira meletakkan kotak itu di meja.
"Aku juga nggak."
"Lho?"
"Makanya makan bareng."
Arga menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya tertawa kecil.
"Kamu keras kepala."
Nadira mengangkat bahu.
"Belajar dari seseorang."
---
Dari balik dinding kaca ruangannya, Bianca melihat pemandangan itu.
Arga dan Nadira makan sambil sesekali saling tersenyum.
Ada kehangatan yang dulu pernah ia rasakan.
Tanpa sadar, jemarinya mengepal.
"Jadi..."
"...kamu benar-benar sudah melupakanku."
gumamnya lirih.
---
Malam harinya.
Bianca memberanikan diri mengetuk pintu apartemen Arga.
Tok.
Tok.
Tok.
Saat pintu terbuka, Arga terlihat sedikit terkejut.
"Bianca?"
"Aku cuma mau bicara sebentar."
Arga mengangguk.
"Silakan."
Bianca masuk, tetapi pandangannya langsung tertuju pada dua cangkir teh di atas meja.
"Kamu ada tamu?"
"Baru saja."
Bianca mengangguk pelan.
Ia tahu tamu itu pasti Nadira.
"Aku cuma ingin bilang..."
"...aku tidak berniat merebutmu kembali."
Arga menatapnya tanpa ekspresi.
"Kalau begitu?"
"Aku hanya ingin menebus kesalahanku."
Arga tersenyum tipis.
"Kesalahan tidak selalu bisa ditebus dengan penjelasan."
"Tapi..."
"Aku sudah memaafkanmu."
Bianca mengangkat wajahnya.
"Benarkah?"
"Iya."
"Tapi maaf..."
"...hatiku sudah tidak berada di tempat yang sama."
Air mata Bianca jatuh.
Ia tersenyum, meski senyumnya penuh kepedihan.
"Aku terlambat, ya?"
Arga tidak menjawab.
Keheningan itu sudah menjadi jawaban paling jelas.
---
Keesokan paginya.
Pak Anton kembali mengumpulkan seluruh tim.
"Ada kabar terbaru."
Semua langsung berdiri mengelilinginya.
"Investor tetap melanjutkan kerja sama."
Ruangan langsung dipenuhi tepuk tangan.
"Syukurlah!"
"Tapi..."
Pak Anton kembali membuka map.
"Mereka mengganti perwakilan yang akan datang."
"Siapa, Pak?"
Pak Anton membaca nama di surat itu.
"Direktur utama perusahaan akan datang langsung."
Semua mengangguk.
Namun wajah Pak Anton perlahan berubah bingung.
"Beliau meminta satu syarat lagi."
"Syarat apa?"
"Beliau ingin bertemu secara pribadi dengan..."
Pak Anton berhenti sejenak.
"...Nadira."
Nadira terkejut.
"Saya?"
"Iya."
"Kenapa saya?"
Pak Anton menggeleng.
"Saya juga tidak tahu."
---
Sore harinya.
Sebuah mobil mewah berhenti di depan kantor.
Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun turun dengan setelan jas hitam yang rapi.
Tatapannya langsung mencari seseorang.
Begitu melihat Nadira, ia tersenyum tipis.
"Nadira Prameswari?"
"Iya... saya."
Pria itu mengangguk.
"Akhirnya kita bertemu."
Nadira mengernyit.
"Maaf... kita pernah bertemu sebelumnya?"
Pria itu tersenyum penuh arti.
"Belum."
"Tapi..."
"...aku mengenal almarhum ayahmu."
Kalimat itu membuat Nadira membeku.
Arga yang berdiri di sampingnya langsung menoleh.
Pria itu kemudian mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari tasnya.
"Ayahmu menitipkan sesuatu."
"Dan beliau memintaku..."
"...memberikannya tepat ketika kamu berusia dua puluh tujuh tahun."
Nadira menerima amplop itu dengan tangan gemetar.
Di bagian depan amplop tertulis tulisan tangan yang sangat ia kenal.
> **"Untuk Nadira, dari Ayah."**
Air mata Nadira langsung mengalir.
Selama bertahun-tahun, ia mengira ayahnya tidak meninggalkan apa pun selain kenangan.
Namun ternyata...
Ada sebuah rahasia yang baru akan terungkap hari ini.
**Bersambung ke Episode 36...**