Sebuah proses perjalanan pulang seorang wanita yang tersesat jauh dari Agama.
karena,kehancurannya di masa lalu.
Perjalanan mencari makna hidup,keikhlasan,dan cinta yang tulus untuknya.
happy reading💗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANTARA SEBUAH PENGHORMATAN DAN MASA LALU
Setelah melewati malam yang teramat panjang dan menguras emosi, Maira akhirnya kembali terlelap. Wajahnya yang pucat tampak sedikit lebih tenang dalam tidurnya, meskipun sisa-sisa trauma malam itu masih samar tercetak di keningnya yang berbalut perban kecil.
Melihat Maira sudah tertidur pulas, Fatih yang sejak tadi berdiri berjaga di dekat tirai bangsal kemudian melangkah mendekati adiknya. Ia menyentuh pundak Aisyah dengan sangat pelan.
“Sya, Mas keluar dulu sebentar ya. Kamu juga sebaiknya istirahat dan tidur sebentar di kursi ini sebelum waktu subuh tiba,” bisik Fatih dengan suara baritonnya yang lembut.
Aisyah yang matanya sudah mengantuk berat hanya bisa mengangguk pelan sebagai jawaban. “Iya, Mas. Hati-hati.”
Fatih melangkah keluar dari bangsal observasi dengan langkah yang tenang namun pasti. Langkah kakinya membawa Fatih menyusuri lorong-lorong rumah sakit, kembali menuju ke area ruang perawatan IGD lain. Ada satu hal yang sejak satu jam lalu mengganjal di dalam benaknya. Ia ingin memastikan sendiri siapa sosok lelaki yang berada di dalam mobil bersama Maira saat kecelakaan tragis itu terjadi.
Setelah bertanya pada salah seorang perawat jaga, Fatih akhirnya diarahkan ke sebuah bilik di ujung ruangan. Begitu tirai sedikit terbuka, tatapan mata Fatih langsung tertuju pada sesosok lelaki yang terbaring di atas brankar rumah sakit. Lelaki itu sedang meringis kesakitan dengan perban putih yang melingkar tebal di kepalanya, serta beberapa luka lecet di wajahnya.
“Ternyata benar... laki-laki ini yang waktu itu berbuat kasar dan mengganggu Mbak Maira di pinggir jalan,” batin Fatih. Tebakannya sama sekali tidak meleset. Rasa tidak suka sempat terbersit di dada Fatih mengingat bagaimana brutalnya lelaki ini memperlakukan Maira, namun sebagai seorang muslim yang dididik dengan akhlak, Fatih menekan ego itu dalam-dalam.
Fatih melangkah maju, berdiri di samping brankar dengan sikap tubuh yang tegak dan berwibawa. “Assalamualaikum,” ucap Fatih tenang.
Rayn yang sedang menahan denyut linu di kepalanya sontak mendongak. Begitu pandangan matanya menangkap sosok Fatih, wajah Rayn langsung berubah menegang dan mengeras. Ia tidak menjawab salam Fatih. Otaknya yang masih bekerja lambat akibat sisa syok kecelakaan langsung mengenali siapa lelaki religius yang berdiri di hadapannya ini. Lelaki ini adalah orang yang sama yang menggagalkan rencananya sore kemarin.
Melihat Rayn yang mencoba bergerak gelisah dan hendak merubah posisinya, Fatih langsung mengangkat sebelah tangannya, memberi isyarat agar Rayn tetap diam. “Jangan banyak bergerak dulu, Mas. Luka di kepala Mas cukup parah dan baru selesai ditangani medis.”
Rayn mendengus kasar, tatapan matanya menyorotkan rasa permusuhan yang teramat pekat. “Gak usah sok baik deh Lo di depan gue! Mendingan sekarang Lo pergi jauh-jauh dari hadapan gue!” ketus Rayn dengan suara yang agak serak, egonya tetap menolak untuk terlihat lemah di depan Fatih.
Menghadapi bentakan kasar dari Rayn, raut wajah Fatih sama sekali tidak berubah. Ia tidak terpancing emosi sedikit pun. Dengan gerakan yang teramat tenang, Fatih merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah ponsel pintar yang layarnya sedikit retak.
“Ini, Mas. Saya ke sini cuman mau mengembalikan ponsel milik Mas. Tadi barang ini dititipkan ke saya oleh salah seorang warga yang menolong Mas di lokasi kejadian, karena mereka mengira kita berada dalam rombongan yang sama,” ucap Fatih seraya meletakkan ponsel itu di atas meja kecil di samping brankar Rayn.
Fatih menatap Rayn untuk terakhir kalinya malam itu dengan tatapan mata yang teduh namun sarat akan ketegasan. “Kalau begitu, urusan saya sudah selesai. Saya permisi. Assalamualaikum.”
Tanpa menunggu balasan dari Rayn yang hanya bisa terdiam membeku menahan rasa dongkol dan sakit di sekujur tubuhnya, Fatih langsung membalikkan badan dan melangkah pergi meninggalkan ruangan tersebut. Bagi Fatih, tugasnya sebagai sesama manusia telah usai, dan ia tidak ingin terlibat lebih jauh dalam lingkaran obsesi beracun lelaki itu.
Keesokan paginya, sinar matahari yang cerah mulai menembus tirai jendela rumah sakit. Maira perlahan terbangun dari tidurnya. Kondisi tubuhnya sudah terasa jauh lebih mendingan, meskipun rasa linu di bahunya masih tersisa.
Begitu ia menoleh, ia melihat Aisyah yang sedang sibuk merapikan tasnya di samping brankar. Maira melirik jam dinding di ruangan, jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi.
“Syah... Lo gak kerja hari ini?” tanya Maira dengan suara khas orang baru bangun tidur. Wajahnya dipenuhi rasa cemas, takut jika karena menemaninya, Aisyah justru mendapat masalah di tempat kerja.
Aisyah menoleh dengan senyuman lebar yang sangat ceria, mencoba membuang sisa-sisa ketegangan semalam. “Nggak, Mbak Maira. Aku hari ini gak masuk kerja dulu. Tadi pagi-pagi banget aku udah izin kok sama Pak Manajer kafe. Aku udah kasih tahu juga ke beliau tentang kondisi Mbak Maira yang habis kena musibah kecelakaan.”
Aisyah berjalan mendekat, membetulkan letak selimut Maira dengan telaten. “Hari ini biar aku yang nemenin Mbak di sini sampai benar-benar beres. Oh iya, kata dokter yang visit tadi pagi, kondisi Mbak Maira bagus banget kemajuannya. Jadi, Mbak udah bisa diizinkan pulang sore hari ini juga, Mbak!”
Mendengar kabar itu, Maira mengembus napas lega, namun lagi-lagi rasa tidak enak hati kembali menyeruak di dadanya. “Aduh, Syah... maaf ya, gue bener-bener minta maaf karena selalu ngerepotin Lo mulu dari semalam.”
“Ih, Mbak Maira mah hobinya minta maaf Mulu deh dari kemarin. Gak apa-apa tahu, Mbak! Kita kan sahabat,” seru Aisyah riang.
Klek.
Suara pintu ruangan yang terbuka memotong kalimat Aisyah. Sosok Fatih melangkah masuk ke dalam ruangan dengan penampilan yang sudah rapi. Di tangan kanannya, Fatih tampak membawa sebuah kantong kresek hitam berukuran sedang.
Fatih berjalan mendekat dengan pandangan mata yang sengaja ia jaga agar tetap menunduk sopan. Ia kemudian mengulurkan kantong kresek hitam tersebut ke arah Maira. “Ini, Mbak... barangkali Mbak Maira sedang butuh ini,” ucap Fatih dengan nada suara yang teramat tenang dan sopan.
Maira mengernyitkan dahi bingung. “Eh? Apa ini, Fatih?”
Dengan rasa penasaran, Maira menerima kresek tersebut lalu membuka isinya. Begitu melihat ke dalam kantong, mata Maira seketika membelalak. Di dalamnya terdapat sebuah hijab instan baru berwarna gelap yang kainnya terasa sangat adem dan nyaman.
Mendapati barang tersebut, Maira secara refleks langsung mengangkat tangannya, memegang puncak kepalanya sendiri. Detik itu juga Maira tersentak kaget dan wajahnya mendadak memerah padam karena salah tingkah.
“Ahh... iya! Hijab gue yang semalam... kemana ya?” gumam Maira dengan suara cicitan kecil yang menahan malu. Ia baru teringat sepenuhnya kalau sejak semalam tersadar dari pingsan, hijab pashminanya sudah hilang entah kemana akibat ditarik paksa oleh Rayn sebelum kecelakaan. Beruntung sejak semalam ruangan ini hanya dimasuki oleh Aisyah dan Fatih yang selalu menjaga pandangannya.
Maira mendongak, menatap Fatih dengan binar mata yang sarat akan rasa haru atas kepekaan dan kebaikan lelaki itu yang begitu luar biasa menjaga kehormatannya sebagai seorang wanita.
“B-btw... makasih banyak ya, Fatih. Makasih banget,” ucap Maira dengan nada tulus yang sedikit terbata-bata karena rasa grogi yang tiba-tiba menyerang dadanya.
Tanpa membuang waktu lagi, Maira langsung membuka hijab instan tersebut dan mengenakannya ke kepala. Hijab instan itu langsung membingkai wajah cantiknya dengan sangat sempurna dan instan, menutup rambutnya dengan rapi.
Fatih yang melihat Maira sudah menutup auratnya kembali dengan sempurna diam-diam mengembuskan napas lega dan menyunggingkan senyum tipis yang sangat terhormat. Perhatian-perhatian kecil yang tulus itu, tanpa disadari oleh keduanya, perlahan mulai mengikis jarak dan menanamkan benih baru yang kian mendalam di lubuk hati mereka.