NovelToon NovelToon
Hanya Untuk Tuan Mafia

Hanya Untuk Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:614
Nilai: 5
Nama Author: Yann_Story

Kirana, seorang gadis yatim-piatu yang berakhir di bekerja di tempat seorang Tuan Muda dunia bawah yang terkenal dingin dan kejam, Derandra Arseto. Namun begitu, sebuah obsesi di hati Kirana seakan terpancing oleh sebuah tantangan baru...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dokumen yang Berbicara

Suasana ruangan sangat hening. Hanya terdengar detak jarum jam dinding antik yang berirama konstan. Kirana mulai menyusun map-map berlogo naga perak ke dalam lemari arsip kayu ek hitam. Sifat teliti dan rasa ingin tahunya yang tinggi membuatnya tidak sekadar menumpuk kertas, melainkan membaca sekilas judul-judul dan angka yang tertera di bagian luar map.

Matanya yang jeli tiba-tiba menangkap sebuah map berwarna merah marun yang agak tebal, terselip di antara dokumen legal perkapalan. Di sudut atas map itu, tertulis sebuah nama yang familier di telinganya: Kelompok Siberia Hitam – Jaringan Selatan.

Kirana membawa map itu ke meja kerja, membukanya dengan perlahan. Di dalamnya terdapat lembaran-lembaran profil, rute penyelundupan, hingga nama-nama pejabat lokal yang diduga telah dibeli oleh kelompok saingan Arseto tersebut. Yang menarik perhatian Kirana adalah sebuah memo kecil yang ditulis tangan dengan tinta hitam—tulisan tangan Adrian yang tegas dan tajam.

"Sektor logistik dermaga empat adalah umpan. Mereka mengincar jalur distribusi keuangan utama di bank swasta pusat. Cari tahu siapa orang dalam yang membukakan pintu."

Geri-geri kecerdasan Kirana berputar dengan kecepatan penuh. Pikiran taktisnya langsung menghubungkan titik-titik informasi. Bank swasta pusat? Bukankah itu bank milik keluarga Nona Tasya? Hubungan bisnis yang selama ini terlihat kokoh sebagai sekutu finansial Keluarga Arseto... mungkinkah ada retakan di dalamnya? Mungkinkah ada seseorang di dalam keluarga Tasya yang diam-diam bermain dua kaki dengan kelompok Siberia Hitam?

"Jika tebakanku benar, Tuan Muda sedang menghadapi pengkhianatan yang jauh lebih besar daripada sekadar ulah pelayan seperti Mawar," gumam Kirana lirih, matanya menyipit tajam menatap dokumen di hadapannya.

Klik.

Suara pintu yang terbuka dari arah ruang istirahat pribadi membuat Kirana dengan cepat menutup map merah marun tersebut dan mengembalikannya ke posisi semula dalam hitungan detik. Wajahnya dalam sekejap kembali berubah menjadi ceria dan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.

Adrian melangkah keluar. Ia kini sudah mengenakan celana kain hitam panjang dan kaus oblong hitam longgar yang menutupi sebagian besar perbannya. Wajahnya masih agak pucat, namun binar matanya yang dingin menunjukkan bahwa energinya telah pulih sebagian.

"Apa yang sedang kamu lakukan di mejaku, Kirana?" tanya Adrian, suaranya rendah dan sarat akan kecurigaan yang menjadi insting alaminya sebagai penguasa dunia bawah.

Kirana tidak panik. Ia justru berbalik dengan senyuman manisnya yang paling memikat, memegang kemoceng bulu ayam di tangan kanannya sebagai alibi yang sempurna.

"Saya hanya sedang memastikan meja kerja Anda bebas dari debu-debu nakal, Tuan Muda," ujar Kirana dengan nada manja yang renyah. Ia melangkah mendekati Adrian yang kini berdiri di dekat jendela besar. "Bagaimana tidur Anda? Apakah obat dari dokter berhasil membuat Anda memimpikan saya?"

Adrian mendengus pelan, sepasang mata hitamnya menatap kelancangan Kirana yang tiada habisnya. Namun, jika ia jujur pada dirinya sendiri, keheningan ruang kerjanya yang biasanya terasa mencekam dan sepi, mendadak terasa lebih hidup dan hangat setiap kali suara riang gadis ini menggema di dalamnya.

"Kau benar-benar tidak punya rasa takut, ya?" ucap Adrian, berjalan perlahan menuju kursi besarnya dan mendudukkan diri dengan hati-hati agar tidak menarik luka di rusuknya. "Di luar sana, orang-orang gemetar mendengar namaku. Tapi kau... kau memperlakukan tempat ini seperti taman bermainmu sendiri."

Kirana meletakkan kemocengnya di atas meja sudut, lalu berjalan mendekati kursi Adrian. Dengan keberanian yang luar biasa, ia berlutut di samping kursi pria itu, meletakkan kedua tangannya di atas lengan kursi marmer, menatap langsung ke dalam manik mata hitam Adrian dengan pandangan yang penuh obsesi dan kejujuran yang murni.

"Karena di mata saya, Anda bukan sekadar nama yang ditakuti di luar sana, Tuan Adrian," bisik Kirana lembut, suaranya bergetar oleh emosi yang dalam. "Di mata saya, Anda adalah pria yang menyelamatkan hidup saya dari lorong gelap itu. Anda adalah majikan saya, dan saya adalah wanita yang memilih untuk mengabdikan seluruh kecerdasan dan keberanian saya untuk berdiri di samping Anda. Mengapa saya harus takut pada pria yang jiwanya justru ingin saya lindungi?"

Adrian terpaku. Kata-kata Kirana menembus langsung ke bagian terdalam dari dinding esnya yang paling tebal. Selama bertahun-tahun, semua orang yang mendekatinya selalu menginginkan sesuatu darinya—uang, perlindungan, atau kekuasaan.

Tasya menginginkan statusnya, para direktur menginginkan kekayaannya, dan para musuh menginginkan kepalanya. Hanya gadis pelayan yatim piatu di hadapannya ini yang mendekatinya dengan satu keinginan yang murni: menginginkan dirinya.

Adrian berpura-pura bersikap tidak tahu dan mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela kaca besar, mencoba mengendalikan detak jantungnya yang kembali berpacu liar. "Kata-kata yang indah, Kirana. Tapi di dunia tempatku berdiri, kesetiaan diuji dengan darah, bukan dengan rayuan manis."

"Maka biarkan saya membuktikannya pada Anda, dari hari ke hari, Tuan Muda," balas Kirana dengan senyum manis yang penuh kemenangan, tahu bahwa meskipun Adrian menolak secara verbal, pria itu tidak melepaskan tangan Kirana yang kini secara tidak sengaja bersentuhan dengan ujung jarinya di lengan kursi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!