Saat ia pikir hidupnya berakhir, seorang pria tiba-tiba mendapatkan sistem. Namun, bukannya menjadi kaya, ia justru terbangun di masa lalu... di dalam tubuh ayahnya saat masih muda.
Kini, dengan sistem di tangannya dan mengetahui masa depan, ia harus mengubah takdir keluarganya.
Mampukah ia menyelamatkan keluarganya... tanpa menghapus keberadaannya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Nadia mengangkat kepalanya dan menatap langsung ke mata Raka.
"Sebenarnya, dulu aku sama Mas Riko itu deket banget, bahkan sempat pacaran. Tapi... ternyata kembaranku diam-diam juga suka sama dia. Mas Raka kan tahu sendiri, Riko itu orang kota yang kebetulan lagi tinggal sementara di desa kita dulu."
Raka mendengarkan dengan serius. "Oke, terus gimana ceritanya?"
Nadia menarik napas dalam-dalam. "Nah, suatu hari, Mas Riko salah orang. Dia mengira kembaranku itu aku. Aku nggak tahu detail apa yang terjadi di antara mereka, tapi tahu-tahu beberapa bulan kemudian kembaranku dinyatakan hamil."
"Hah?! Kok bisa? Jangan-jangan ibu juga..." Raka hampir keceplosan karena kaget.
Nadia langsung menyipitkan mata sambil cemberut. "Maksudmu? Aku lanjutin ya."
"Aku juga nggak habis pikir kenapa mereka bisa sampai sejauh itu. Dan..." Nadia menunjuk hidung Raka dengan tatapan serius. "Mas Raka jangan mikir yang aneh-aneh ya! Aku nggak pernah ngelakuin hal kayak begitu sebelum kita nikah."
Raka buru-buru mengangguk. "Iya, iya, aku percaya. Tapi kalau ceritanya begitu, kenapa kita bisa nikah?"
Alis Nadia langsung terangkat heran. "Mas beneran lupa? Kita kan dijodohin buat menutupi aib adikku itu. Mirisnya, warga desa malah mengira kita berdua yang ngelakuin hal tabu itu. Makanya kita mutusin pindah ke kota, soalnya di kampung kita cuma dihina dan dijadiin bahan gosip tiap hari."
Mendengar penjelasan itu, Raka kembali bertanya, "Terus gimana nasib bayinya adikmu?"
"Kamu kok jadi pelupa banget sih, Mas? Aku lama-lama bingung deh. Apa kita perlu ke rumah sakit buat periksa kepala? Takutnya dulu pernah terbentur sesuatu," ujar Nadia khawatir.
"Ah, nggak apa-apa. Wajar lah lupa, namanya juga manusia," kilah Raka buru-buru mencari alasan.
Nadia menggeleng pasrah. "Waktu itu Mas Riko kabur karena belum siap nikah. Dia juga ngiranya aku yang hamil, dia nggak tahu kalau yang dia tidurin itu kembaranku. Gara-gara masalah itu, adikku jadi agak depresi dan kesehatannya drop terus. Makanya selama ini aku diam-diam sering ngirim uang ke kampung buat bantu pengobatannya."
Sekarang Raka akhirnya paham seluruh benang merahnya.
Ternyata kemarin Riko datang menemui Nadia untuk menawarkan sejumlah uang agar Nadia mau menceraikan Raka.
Nadia terpaksa memikirkan opsi itu karena takut.
Kalau orang tuanya di kampung sampai tahu Riko ternyata orang kaya, mereka pasti bakal memaksa Nadia cerai demi memanfaatkan kekayaan Riko untuk pengobatan adiknya, berkedok tuntutan 'berbakti'.
Selain itu, Nadia juga tahu Riko punya pengaruh besar di kota ini dan takut kalau pria itu bakal nekat mencelakai Raka atau bahkan Reno kecil jika dia tahu itu bukan anaknya.
Suasana mendadak hening, hanya terdengar suara jangkrik di luar rumah.
Nadia menatap Raka dengan pandangan dalam, sementara Raka cuma bisa terdiam menatap lurus ke depan, mencerna semua informasi gila ini.
Ding!
[Progres Misi: 60%]
Terkadang, masalah terbesar dalam sebuah hubungan, baik rumah tangga maupun pertemanan memang berakar dari komunikasi yang buruk.
Raka membatin setuju, "Bener banget. Kalau dari awal mereka berdua mau saling jujur dan terbuka, dramanya nggak bakal sepanjang ini."
Ding!
[Hadiah Misi: Rp100.000.000,-]
Tepat saat Raka sedang syok kegirangan melihat nominal hadiah dari sistem yang melonjak drastis, dia merasakan sesuatu yang hangat menyentuh punggung tangannya. Raka menoleh.
Nadia sedang memegang tangannya dengan erat. Wajah wanita itu tampak merona merah, dan dari tatapan matanya, Raka yang berjiwa pria dewasa langsung paham apa kode yang dimaksud Nadia.
Seketika, insting bertahan hidup Raka berteriak histeris. "Gila! Ini nyokap gua sendiri! Nggak boleh ngaco! nanti saja kalau ayah sudah balik ke tubuh ini wkwk."
Raka langsung berdiri dari kursi, melepaskan pegangan tangan Nadia dengan terburu-buru sambil mencari alasan darurat. "Oh, iya! Aku baru ingat kalau belum makan malam. Perutku mendadak lapar banget nih, aku ke dapur cari camilan dulu ya!"