NovelToon NovelToon
Obsesi Ketua OSIS

Obsesi Ketua OSIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Anak Genius / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nalara amora

Kanaya Leticia Clarissa hanya ingin masa SMA-nya berjalan tenang tanpa gangguan. Namun, kecantikannya yang mencolok justru menjadikannya target perundungan oleh senior OSIS yang iri. Di tengah ketakutan itu, Alden Arsenio Malik—sang Ketua OSIS yang dikenal sempurna dan dingin—datang mengulurkan tangan. Letta mengira itu adalah sebuah perlindungan, tanpa menyadari bahwa di balik tatapan tegas Alden, ada obsesi gelap dan posesif yang siap mengurung seluruh hidupnya.

"Kamu aman di sini, Letta. Tapi ingat, kamu hanya milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berhasil nya Rencana.

Tenaga Aleta akhirnya habis. Dengan satu sentakan kuat dari Felicia, ritsleting jaket hoodie itu melorot jatuh, membuat kain tebal tersebut terbuka lebar begitu saja. Jaket yang kebesaran itu merosot jatuh ke bahu Aleta, memperlihatkan seragam putih sekolah yang kini terlihat berantakan.

Namun, bukan seragam itu yang menyita perhatian.

Detik itu juga, suasana lapangan yang tadinya bising mendadak hening seketika. Seluruh pasang mata, baik murid baru, panitia OSIS, bahkan guru yang berada tidak jauh dari sana, terpaku pada satu titik: leher Aleta.

Bekas kemerahan yang pekat, tanda yang tidak mungkin disalahartikan sebagai gigitan nyamuk atau alergi, tercetak jelas di kulit putih gadis itu. Itu adalah bekas tanda kepemilikan yang kasar, tanda yang sangat kontras dan vulgar di tengah suasana sekolah yang formal.

"Ya ampun..." bisik seseorang dari barisan.

"Itu... tanda apa?" sahut yang lain dengan nada penuh syok.

Aleta mematung. Wajahnya seketika pias, sepucat kertas. Ia merasa seluruh dunianya runtuh dalam satu detik. Rasa malu yang luar biasa menghantamnya, membuat lututnya terasa lemas. Ia ingin menutupi lehernya, namun tangannya seolah terkunci.

Felicia, yang awalnya menang dengan senyum kemenangan, justru terdiam membeku. Ia tidak menyangka akan melihat hal itu. Tatapan sinisnya perlahan berubah menjadi keterkejutan yang nyata saat otaknya mulai menyambungkan kepingan puzzle:

Kejadian di rumah satu hari lalu, Aleta yang katanya kemarin sakit, mobil Alden, jaket Alden, dan sekarang... tanda di leher itu....

🌍🌍🌍

Di kejauhan, dari tempatnya berdiri, Alden masih setia dengan posisinya. Senyum liciknya kini perlahan melebar, menikmati setiap detik kehancuran dan rasa malu yang terpancar dari wajah Aleta. Baginya ini adalah pertunjukan yang sempurna—ia tidak perlu melakukan apa-apa, karena Aleta kini telah benar-benar "terekspos" di hadapan semua orang sebagai miliknya.

Marsha terkejut bukan main sampai spontan menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya membelalak sempurna, menatap leher sahabatnya dengan pandangan yang campur aduk antara syok, tidak percaya, dan juga ngeri.

Sebagai teman yang belum terlalu dekat dengan Aleta ia kaget bukan main, Marsha tahu bahwa Aleta bukanlah tipe gadis yang aneh-aneh. Tapi pemandangan di depannya benar-benar meruntuhkan logika pikirannya. Otak Marsha langsung berputar cepat, menghubungkan semua kejadian aneh pagi ini: Aleta yang menghilang kemarin dengan alasan sakit, kedatangannya yang tiba-tiba diantar oleh Alden, jaket besar milik sang Ketua OSIS yang dipakainya, hingga ketakutan luar biasa Aleta saat meminta ponselnya tadi.

Tanda itu... Kak Alden? batin Marsha menjerit dalam hati, menyadari kenyataan mengerikan yang mungkin sedang menimpa Aleta.

Marsha bisa melihat tubuh Aleta yang gemetar hebat di sampingnya. Di tengah bisikan-bisikan miring dan tatapan menghakimi dari ratusan murid yang mulai riuh di lapangan, Marsha merasa sangat bersalah sekaligus bingung harus berbuat apa. Ingin rasanya ia menarik Aleta pergi dari sana atau memakaikan kembali jaket itu ke tubuh sahabatnya, namun di bawah intimidasi Felicia yang masih membeku dan atmosfer lapangan yang mendadak mencekam, tangan Marsha ikut lemas tak berdaya.

🌍🌍🌍

Setelah merasa pertunjukannya sudah cukup memuaskan, Alden akhirnya menurunkan kedua tangannya dari dada. Dengan langkah kaki yang sengaja dibuat santai namun terdengar begitu dominan di tengah keheningan lapangan, ia mulai berjalan mendekati pusat keributan.

Teman-teman yang ada di belakangnya langsung mengikuti termasuk Farhan yang masih merasa aneh.

Setiap derap langkah sepatu Alden yang bergesekan dengan aspal lapangan seolah menjadi penanda detak jantung Aleta yang kian berpacu liar. Murid-murid baru yang berada di jalur jalannya otomatis langsung memundurkan tubuh, memberi jalan lebar untuk sang Ketua OSIS tanpa perlu diminta.

Wajah Alden kembali datar, dingin, dan penuh wibawa topengnya. Senyum licik yang tadi sempat tersungging kini lenyap tak berbekas, digantikan oleh tatapan mata yang tajam dan menusuk.

Ia berjalan melewati Felicia yang masih membeku dengan napas tertahan, lalu berhenti tepat di hadapan Aleta yang menunduk dalam dengan tubuh gemetar hebat. Alden melirik sekilas ke arah jaketnya yang kini terbuka lebar di bahu Aleta, memperlihatkan tanda kemerahan itu ke seisi sekolah, lalu kembali menatap wajah pias gadis di depannya.

"Ada apa ini? Kenapa barisannya malah ribut?" tanya Alden dengan suara rendah yang berat, memecah keheningan lapangan dan membuat atmosfer di sekitar mereka terasa semakin mencekam.

Felicia yang tadinya membeku langsung tersentak mendengar suara bariton Alden. Dengan napas yang masih memburu dan tangan yang sedikit gemetar karena emosi campur aduk, ia langsung mengangkat jarinya, menunjuk tepat ke arah wajah Aleta.

"Dia, Al! Anak baru ini berani melanggar aturan MPLS!" adu Felicia dengan suara yang sengaja dikeras-keraskan agar posisinya sebagai panitia tetap terlihat benar.

"Dia pakai jaket kedodoran di barisan. Waktu gue tegor dan suruh buka, dia malah ngelawan dan bikin alasan sakit. Dan sekarang lo lihat sendiri kan apa yang dia sembunyiin di lehernya?!"

Felicia menatap Alden dengan pandangan menuntut, berharap itu akan memberikan hukuman berat pada Aleta demi menegakkan kedisiplinan sekolah—atau setidaknya, memuaskan rasa cemburunya dan memastikan pertanyaan pertanyaan yang ada di pikirannya, Felicia sama sekali tidak menyadari bahwa ia baru saja masuk ke dalam jebakan permainan yang dibuat oleh Alden sendiri.

Mendengar tudingan Felicia, Aleta semakin menundukkan kepalanya dalam-dalam. Air matanya sudah menggenang di pelupuk mata, siap tumpah kapan saja. Ia meremas ujung seragamnya dengan sangat kuat, merasa sangat terhina karena ditunjuk-tunjuk dan dijadikan tontonan menjijikkan seperti ini di depan ratusan pasang mata.

Alden tidak langsung merespons ucapan Felicia. Ia justru mengalihkan pandangannya dari Felicia, lalu menatap lurus ke arah jari Felicia yang masih menunjuk Aleta.

Alden menatap jari Felicia, lalu beralih menatap wajah Aleta yang kini sudah basah oleh air mata. Di dalam hatinya, Alden merasa sangat puas.

Rencananya berhasil. Sejak awal, ia tahu betul Aleta ga mungkin pasrah begitu saja. Ia tahu Aleta pasti akan berusaha kabur begitu mereka sampai di sekolah, memanfaatkan kelengahan di tengah keramaian murid baru.

Sengaja ia membiarkan Aleta memakai jaketnya, dan sengaja pula ia meninggalkan gadis itu di bawah pengawasan Felicia yang dikenal gila hormat dan pencemburu. Alden sudah memprediksi semua kekacauan ini dengan matang. Kini, Aleta benar-benar terkunci, tidak punya jalan keluar, dan seluruh sekolah tahu bahwa ada "sesuatu" di antara mereka.

"Turunin tangan lo, Felicia," ucap Alden dingin, suaranya pelan namun terdengar seperti perintah mutlak yang tak terbantahkan.

Felicia terkesiap. Dengan ragu dan perasaan campur aduk, ia perlahan menurunkan jarinya.

"Tapi, Al dia—"

"Gue bilang turunin," potong Alden, kali ini mata elangnya menatap Felicia dengan kilat mengancam yang membuat nyali wakil panitia itu menciut seketika.

Alden kemudian melangkah satu kali lagi, mengikis jaraknya dengan Aleta. Ia mengulurkan tangannya yang kekar, meraih kedua sisi jaket hoodie-nya yang melorot di bahu Aleta, lalu dengan gerakan perlahan namun tegas, ia menariknya kembali ke atas. Ia merapikan jaket itu, menutup kembali leher Aleta yang memerah dari pandangan semua orang, lalu menaikkan ritsletingnya hingga ke dagu gadis itu.

Sentuhan Alden yang posesif di depan umum membuat lapangan semakin riuh oleh kasak-kusuk yang tertahan. Marsha yang melihat itu dari dekat hanya bisa menahan napasnya, semakin yakin bahwa sahabatnya sedang berada dalam bahaya besar.

Setelah memastikan tanda di leher Aleta kembali tersembunyi, Alden menepuk pucuk kepala Aleta dengan lembut—sebuah gestur yang terlihat manis di mata orang lain, namun terasa seperti cengkeraman maut bagi Aleta.

"Udah gue bilang kan tadi, jangan buat masalah," bisik Alden tepat di telinga Aleta, cukup rendah agar hanya gadis itu yang mendengar seringai kemenangannya. "Sekarang, lo gak bakal bisa lari ke mana-mana lagi, Aleta."

🌍🌍🌍

Alden berbalik, meninggalkan Aleta yang masih gemetar di tempatnya berdiri. Dengan langkah tenang, ia menghampiri barisan teman temanya yang sejak tadi berjaga di belakangnya atas perintahnya.

"Rian, Farhan lo pegang kendali lapangan bareng Felicia sekarang," ujar Alden dengan nada tegas dan tidak ingin dibantah kepada salah satu temannya.

"Gue harus bawa Aleta ke ruang UKS dulu. Kondisinya makin gak kondusif kalau tetep ada di barisan."

Farhan menepuk bahu Alden singkat.

"Sip, Al. Urus aja dulu, lapangan biar aman sama gue dan yang lainnya."

Felicia yang mendengar hal itu mengepalkan tangannya kuat-kuat, menahan rasa cemburu yang kian membakar dadanya. Ia ingin protes, namun tatapan dingin Alden yang sempat meliriknya sekilas membuat kata-katanya tertahan di tenggorokan. Sementara itu, Marsha hanya bisa menatap punggung Aleta dengan cemas, merasa tidak berdaya karena tidak bisa menolong sahabatnya yang kini benar-benar terperangkap.

Alden kembali memutar tubuhnya menghadap Aleta. Tanpa memedulikan bisikan-bisikan yang kembali riuh di lapangan, ia langsung mencengkeram pergelangan tangan Aleta dengan erat, memaksanya untuk ikut melangkah.

"Ikut gue," ucap Alden dingin, mulai menarik Aleta keluar dari area lapangan menuju gedung utama sekolah, memastikan bahwa kali ini, jalannya pelarian gadis itu sudah sepenuhnya tertutup.

Alden menarik pergelangan tangan Aleta dengan cengkeraman yang begitu kuat hingga membuat kulit gadis itu memerah. Ia membawa Aleta menyusuri koridor sekolah yang mulai sepi karena seluruh murid baru masih tertahan di lapangan. Sepanjang jalan, Aleta hanya bisa menunduk, menyembunyikan wajahnya yang sembap dan menahan tangis agar tidak pecah di sepanjang koridor.

🌍🌍🌍

Begitu sampai di depan pintu UKS, Alden membuka pintu dengan satu sentakan kasar lalu mendorong Aleta masuk ke dalam.

Braak!

Alden menutup kembali pintu kayu tersebut dan langsung memutar anak kuncinya dari dalam. Suara klik kunci yang berputar terdengar begitu nyaring, membuat bulu kuduk Aleta meremang. Ruang UKS yang tenang dan beraroma obat-obatan itu seketika terasa mencekam dan mengingatkan Aleta pada kali dirinya dan Alden berurusan tapi waktu itu posisi nya tidak seperti ini, sekarang berubah menjadi tempat pengasingan yang sempurna di mana tidak akan ada satu orang pun yang berani mengganggu mereka.

"Duduk," perintah Alden singkat, menunjuk salah satu brangkar yang dilapisi seprai putih bersih. Suaranya terdengar sangat santai, kontras dengan aura berbahaya yang menguar dari tubuhnya.

Aleta masih bergeming di dekat pintu, tubuhnya gemetar hebat. Ia menatap Alden dengan pandangan penuh ketakutan sekaligus kemarahan.

"Kenapa... kenapa Kakak tega lakuin ini sama aku di depan semua orang?" bisik Aleta, suaranya bergetar menahan tangis yang akhirnya pecah.

"Sekarang semua orang mikir yang enggak-enggak tentang aku!"

Alden berjalan mendekat, setiap langkah sepatunya terasa mengintimidasi. Ia berhenti tepat di depan Aleta, lalu mencengkeram dagu gadis itu dengan ujung jarinya, memaksa Aleta untuk mendongak menatap matanya yang hitam dan dingin.

"Mikir yang enggak-enggak?" Alden terkekeh sinis, sebuah tawa rendah yang membuat Aleta merinding.

"Mereka gak salah mikir, Aleta. Apa yang mereka lihat itu kenyataan. Tanda di leher lo, jaket yang lo pakai, dan fakta bahwa lo turun dari mobil gue... itu semua bener, kan?"

Alden melepaskan cengkeramannya di dagu Aleta dengan sentakan kecil, lalu melipat tangan di dada sembari menatap korbannya yang tak berdaya.

"Gue udah kasih peringatan tadi pagi di mobil, jangan pernah coba-coba lari dari gue. Tapi lo di barisan tadi malah kelihatan panik dan mau pinjem HP temen lo, kan?" Alden mendekatkan wajahnya ke telinga Aleta, berbisik dengan nada yang teramat dingin.

"Ini hukuman buat lo karena gak penurut. Sekarang, seluruh sekolah tahu lo punya siapa. Jadi, masih mau coba kabur lagi dari gue?"

🌍🌍🌍

Jangan lupa likeee yaa semua 🙂😚

1
Putri Ayu/PqxxyZ
oh tidak bisa😭 sudah berkeliling pikiram
Nalara amora: di larang keras woy ka itulah 😭
total 1 replies
Putri Ayu/PqxxyZ
mama aku takut banget sama Alden 😭😭
Putri Ayu/PqxxyZ
obat itu... ngeri sih..😭 agak lain memang
Putri Ayu/PqxxyZ
wah ini nih.. oke lanjut baca lah.. 😭
Putri Ayu/PqxxyZ
gak bang.. aku gak bang😭😭
Putri Ayu/PqxxyZ
seperti ada kebanggaan ya😭
Putri Ayu/PqxxyZ
ayo bisa ayo kabur mbak😭 takut banget hidup kek gitu
Putri Ayu/PqxxyZ
mas yang bener aja lah... cinta memaksa gitu gak baik toh mas
Putri Ayu/PqxxyZ
Aleta.. run mbak.. run 😭😭
Putri Ayu/PqxxyZ
ini betulan gak dibawa ke RS gitu? kasian banget lemes gini
Enz99
menarik
Putri Ayu/PqxxyZ
langsung di hap aja deh🤭
Putri Ayu/PqxxyZ
no no ya.. gak boleh gitu ama cewek toh bang
Putri Ayu/PqxxyZ
lohh ini mah hukuman seumur hidup namanya
Putri Ayu/PqxxyZ
Sangat di rekomendasi baca ini.. Keren banget
Putri Ayu/PqxxyZ
enak tau teh di UKS tuh 🤣 kek beda gitu rasanya
Putri Ayu/PqxxyZ
aw gentle sekali... bungkus deh 😭🤭
Nalara amora
seruu bgt
Nalara amora
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!