Budi, seorang karyawan kantor biasa yang gaji bulanannya selalu numpang lewat karena harus melunasi utang warisan orang tuanya, tiba-tiba mendapatkan sebuah sistem aneh bernama 'System Lempar Dadu Monopoly'.
Sistem ini menampilkan papan permainan hologram mirip Monopoli lengkap dengan avatar chibi dirinya di atasnya, di mana setiap lemparan dadu bisa memberikannya reward uang dan item ajaib, atau hukuman memalukan yang harus ia jalani di dunia nyata.
Kini, hidup Budi berubah drastis menjadi sebuah pertaruhan harian di mana setiap petak yang ia injak perlahan-lahan mengangkatnya dari kemiskinan, asalkan ia bisa bertahan dari "kejutan" konyol yang disiapkan oleh sistem tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Sinar matahari pagi menembus celah ventilasi kamar kos Budi yang sempit.
Budi membuka matanya dengan sangat lambat karena kepalanya terasa pening bukan main.
Semalaman dia tidak bisa tidur nyenyak karena bayangan kejadian di minimarket terus berputar di otaknya.
Dia menarik selimut tipisnya hingga menutupi seluruh wajahnya yang memerah.
'Astaga, apa yang sudah aku lakukan semalam.'
Budi mengerang pelan menyadari bahwa kejadian memalukan itu bukanlah sebuah mimpi buruk.
Dia benar benar telah menyatakan cinta pada Maya di depan meja kasir dengan suara lantang.
Rasa menyesal dan malu seketika kembali menyerang dadanya membuat perutnya terasa mual.
Namun jam alarm dari ponsel bututnya terus berdering menandakan dia harus segera bersiap ke kantor.
Kring kring kring.
Budi menekan tombol mati pada ponselnya dengan malas lalu memaksakan diri untuk bangun.
Dia mandi dengan sangat cepat dan langsung memakai seragam kerjanya yang belum sempat disetrika.
Ada satu misi penting pagi ini yang harus Budi lakukan sebelum berangkat bekerja.
Dia harus menghindari rute jalan yang melewati minimarket tempat Maya bekerja.
Biasanya Budi selalu berjalan lurus menyusuri jalan utama untuk menuju halte bus.
Tapi hari ini Budi memilih untuk mengambil jalan memutar melewati gang gang sempit di belakang pemukiman warga.
Jaraknya memang dua kali lebih jauh dan memakan waktu lebih lama.
Tapi Budi sama sekali tidak peduli asalkan dia tidak melihat wajah Maya pagi ini.
'Aku belum siap melihat tatapan jijik atau canggung dari Mbak Maya.'
'Lebih baik aku menghindar dulu sampai dia melupakan kejadian konyol semalam.'
Setelah berjalan cukup jauh hingga berkeringat, Budi akhirnya tiba di halte bus tepat waktu.
Perjalanan menuju kantor berjalan lancar tanpa hambatan berarti.
Namun perasaan lega Budi langsung sirna begitu dia menginjakkan kaki di lantai ruang divisinya.
Hawa dingin dari mesin pendingin ruangan terasa menusuk namun suasana di ruangan itu terasa sangat panas.
Pak Anton sudah berdiri di tengah ruangan dengan wajah ditekuk garang.
Di atas meja kerja Budi, terdapat dua tumpuk kardus besar yang terlihat sangat kusam dan berdebu.
Budi menelan ludahnya susah payah saat berjalan mendekati mejanya sendiri.
"Budi, dari mana saja kamu jam segini baru datang."
Suara Pak Anton menggelegar memecah keheningan ruang divisi administrasi tersebut.
"Maaf Pak Anton, ini baru jam delapan kurang lima menit, saya belum terlambat."
Budi mencoba menjawab dengan sopan sambil melirik ke arah jam dinding ruangan.
"Saya tidak peduli dengan jam dinding, kalau saya sudah datang berarti kamu sudah harus bekerja."
Pak Anton menepuk tumpukan kardus di atas meja Budi dengan sangat keras hingga debunya beterbangan.
Uhuk uhuk.
Budi terbatuk pelan menghirup debu dari kardus usang tersebut.
"Ini adalah tumpukan nota dan kuitansi dari gudang pengadaan barang lima tahun terakhir."
Pak Anton menunjuk isi kardus itu dengan tatapan mengancam.
"Tugasmu hari ini adalah menginput semua data di dalam kardus ini ke dalam format lembar kerja digital."
Budi melebarkan matanya menatap ribuan lembar kertas kusut di dalam kardus tersebut.
"Tapi Pak Anton, ini jumlahnya ribuan lembar dan sebagian besar tintanya sudah mulai pudar."
"Saya rasa butuh waktu setidaknya satu minggu untuk menyalin semuanya sendirian."
Budi mencoba memberikan alasan yang sangat masuk akal karena tugas ini memang di luar nalar.
Brakk.
Pak Anton memukul meja Budi dengan keras membuat seluruh karyawan lain menundukkan kepala mereka.
"Saya tidak mau dengar alasan apa pun dari mulutmu itu Budi."
"Semua data itu harus selesai diinput dan diserahkan ke email saya besok pagi sebelum jam delapan."
"Kalau kamu tidak sanggup, pintu keluar gedung ini terbuka lebar untukmu mengundurkan diri sekarang juga."
Pak Anton membalikkan badannya dan berjalan masuk ke dalam ruangannya yang berdinding kaca.
Budi hanya bisa berdiri mematung menatap dua kardus besar yang seolah menjadi batu nisan untuk karirnya.
Di meja seberang, Siska mulai tertawa kecil sambil menutupi mulutnya dengan tangan.
"Aduh kasihan sekali Budi, sepertinya besok kita akan ada acara perpisahan karyawan."
Siska berbicara dengan nada yang sangat menyebalkan dan dibuat buat.
"Makanya Budi, kerja itu yang cekatan supaya bos tidak memberimu hukuman seperti itu."
Budi mengepalkan tangannya kuat kuat di bawah meja menahan amarah yang mendidih.
Dia tahu persis tugas menyalin nota lama ini sebenarnya adalah tanggung jawab divisi kearsipan.
Pak Anton sengaja melimpahkan tugas kotor ini padanya hanya untuk mencari cari alasan untuk memecatnya.
Reno yang duduk di sebelah Budi menatap sahabatnya itu dengan tatapan penuh iba.
"Bud, ini sih namanya bunuh diri, tidak mungkin kau bisa mengetik ribuan nota dalam sehari semalam."
Reno berbisik pelan agar tidak didengar oleh Siska yang terus memantau mereka.
"Biar aku bantu cicil ketik sebagian nanti waktu jam istirahat siang ya."
Budi menoleh ke arah Reno dan tersenyum tipis menghargai tawaran temannya itu.
"Tidak usah Ren, nanti kau malah ikut dimarahi Pak Anton kalau ketahuan membantuku."
"Lagi pula pekerjaan utamamu juga masih menumpuk, biarkan ini jadi urusanku saja."
Budi menarik napas panjang dan mulai mengeluarkan lembaran nota yang berdebu itu satu per satu.
Dia menyalakan komputernya dan mulai mengetik angka angka yang hampir tidak terbaca itu.
Trak trak trak.
Suara keyboard Budi terdengar tanpa henti sepanjang hari di ruangan tersebut.
Dia bahkan tidak beranjak dari tempat duduknya saat jam makan siang tiba.
Budi hanya memakan roti sobek murah dan meminum air putih yang dia beli dalam perjalanan tadi pagi.
Fokusnya terkuras habis untuk memecahkan kode angka yang tintanya sudah luntur dimakan usia.
Jam kerja resmi berakhir pada pukul lima sore namun pekerjaan Budi belum selesai setengahnya.
Siska dan rekan rekan kerjanya yang lain sudah bersiap pulang dengan wajah gembira.
"Selamat lembur sampai pagi Budi, jangan lupa minum vitamin supaya besok tidak pingsan atau tipes..."
Siska melambaikan tangannya dengan gaya mengejek sebelum keluar dari ruangan.
Budi tidak menanggapi sedikit pun dan terus menatap layar komputernya yang menyilaukan mata.
Sekitar pukul tujuh malam, gedung kantor sudah sangat sepi dan pendingin ruangan sentral mulai dimatikan.
Keringat mulai bercucuran di dahi Budi yang menahan rasa lelah dan kantuk yang luar biasa.
Tangannya mulai kram karena terlalu lama mengetik tanpa henti.
'Kalau begini terus aku bisa mati kelelahan di depan komputer ini.'
'Aku harus membawa pulang sisa kardus ini dan mengerjakannya di kosan saja.'
Budi memutuskan untuk mematikan komputernya dan memindahkan data sementara ke dalam flashdisk.
Dia mengangkat salah satu kardus besar yang belum tersentuh itu ke dalam dekapannya.
Budi berjalan keluar dari gedung kantor yang gelap dengan langkah sempoyongan.
Beban di tangannya sangat berat tapi beban di pikirannya jauh lebih menyiksa.
Perjalanan pulang terasa seperti siksaan tanpa akhir bagi tubuh Budi yang sudah mencapai batasnya.
Dia kembali mengambil rute jalan memutar yang gelap untuk menghindari minimarket Maya.
Meskipun lelah dia tetap teguh pada pendiriannya untuk tidak menunjukkan wajah di sana dulu.
Sesampainya di kamar kos, Budi meletakkan kardus besar itu di atas lantai dengan kasar.
Bruk.
Dia langsung merebahkan dirinya di atas kasur tanpa mempedulikan kemejanya yang kotor dan bau keringat.
Napas Budi tersengal sengal menatap langit langit kamarnya yang kusam.
Pikirannya kosong sejenak sebelum dia teringat pada satu hal penting yang belum dia lakukan malam ini.
Budi melirik ke arah jam dinding kamarnya.
Waktu menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit malam.
Hitung mundur sistem lempar dadu seharusnya sudah selesai sejak beberapa menit yang lalu.
Budi bangun dari posisi rebahannya dan duduk bersila menghadap ke ruang kosong di depannya.
'Sistem, munculah sekarang juga.'
Ting.
Layar hologram biru yang memancarkan cahaya terang seketika muncul membelah kegelapan kamar.
Visual papan permainan Monopoli yang megah kembali tersaji di depan mata Budi.
Rasa lelahnya sedikit berkurang melihat keajaiban teknologi yang entah dari mana ini.