NovelToon NovelToon
Pak Dosen Galak, Awas Jatuh Cinta

Pak Dosen Galak, Awas Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dosen / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: W_ Wulandari

Kirana cuma pengen kuliah tenang. Tapi dosen paling galak sekampus malah jadi orang yang bikin jantungnya berdebar tanpa alasan.

Status dosen dan mahasiswi jadi tembok pemisah. Masa lalu kelam Alden jadi ancaman yang siap menghancurkan semuanya.

Satu pertanyaan tersisa: berani nggak, Kirana, jatuh cinta pada orang yang paling dilarang buat dicintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W_ Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: KIRANA TETAP MERASA TERLUKA

Kafe Kopi Senja terletak di gang kecil beberapa blok dari kampus, tempat yang jarang dikunjungi mahasiswa karena lokasinya yang agak tersembunyi. Kirana tiba lebih dulu, memilih meja di sudut paling belakang yang jauh dari jendela, berharap tidak ada yang mengenalinya di sana.

Dia memesan segelas cokelat hangat, mencoba menenangkan diri sambil menunggu kedatangan Alden. Pikirannya masih dipenuhi berbagai kekhawatiran sejak pertemuan tegang di ruang kaprodi tadi pagi, dan sekarang dia harus menghadapi percakapan yang mungkin akan menentukan arah hubungan mereka ke depannya.

Alden tiba sekitar sepuluh menit kemudian, mengenakan pakaian yang lebih kasual dari biasanya, kemeja polos tanpa jas yang biasa dia kenakan di kampus, seolah mencoba menyamarkan identitasnya sebagai dosen.

"Maaf telat," katanya, duduk di kursi seberang Kirana. "Saya sengaja muter jalan biar nggak ada yang liat saya masuk ke sini."

"Nggak apa apa, Pak. Saya juga baru sampe kok," jawab Kirana, mencoba tersenyum meski suasana hatinya masih terasa berat.

Alden memesan kopi hitam ke pelayan yang datang, lalu menatap Kirana dengan ekspresi yang penuh kekhawatiran. "Kamu baik baik aja? Tadi pagi pasti bikin kamu stres banget."

"Saya masih agak shock, Pak," Kirana mengakui jujur, meremas gelas cokelatnya.

"Nggak nyangka bakal secepat ini jadi masalah resmi."

"Saya juga nggak nyangka," Alden menghela napas panjang. "Ibu Retno bilang, foto itu udah nyebar ke grup dosen juga. Beberapa kolega saya mulai nanya nanya soal ini."

Kabar itu membuat dada Kirana semakin berat. "Terus, apa yang Ibu Retno omongin ke Bapak setelah saya keluar tadi?"

Alden terdiam sejenak, tampak mempertimbangkan seberapa jujur dia harus menjelaskan. "Dia ingatkan saya soal kode etik dosen, dan bilang kalau ada laporan resmi masuk, saya bisa kena sanksi, mulai dari teguran sampai yang lebih berat."

"Seberat apa, Pak?" Kirana bertanya, suaranya bergetar khawatir.

"Paling berat, bisa sampe pemecatan," Alden menjawab jujur, meski suaranya tetap berusaha tenang. "Tapi itu skenario ekstrem, dan sejauh ini belum ada laporan resmi yang masuk."

Kirana terdiam, mencerna kabar itu dengan perasaan campur aduk antara takut dan bersalah. "Ini semua gara gara saya, Pak. Kalau saya nggak ajak Bapak minum kopi bareng waktu itu, mungkin nggak akan ada foto yang bikin masalah kayak gini."

"Kirana, jangan salahin diri kamu sendiri," Alden buru buru menyela, menatapnya dengan sungguh sungguh. "Ini keputusan kita berdua, bukan cuma tanggung jawab kamu sendirian."

"Tapi Bapak yang bakal nanggung risiko paling besar, Pak. Karir Bapak, reputasi Bapak, semuanya bisa hancur gara gara ini," Kirana melanjutkan, air matanya mulai menggenang menahan rasa bersalah yang mendalam.

Alden meraih tangan Kirana di atas meja, genggamannya lembut namun penuh ketegasan. "Dengerin saya, Kirana. Saya yang buat pilihan buat deket sama kamu, sama seperti kamu yang buat pilihan yang sama. Ini bukan salah satu pihak aja, ini keputusan bersama yang harus kita hadapi bersama juga."

Sentuhan itu membuat jantung Kirana berdebar, meski suasana hatinya masih diliputi kekhawatiran. "Tapi risikonya nggak seimbang, Pak. Saya cuma mahasiswa, saya bisa pindah kelas atau bahkan kampus kalau semuanya nggak bisa diperbaiki. Tapi Bapak, ini karir yang udah Bapak bangun bertahun tahun."

"Saya tau risikonya," Alden menjawab, suaranya penuh keyakinan yang mengejutkan Kirana. "Tapi saya juga tau, kalau saya harus milih antara karir yang aman tapi kosong, atau risiko yang besar tapi ada kamu di dalamnya, saya akan pilih yang kedua."

Pengakuan itu membuat Kirana terdiam, air matanya akhirnya menetes meski dia berusaha menahannya. "Pak, saya takut. Takut kalau semuanya berakhir buruk buat Bapak gara gara saya."

Alden melepaskan genggamannya, mengambil tisu dari dispenser di meja dan menyerahkannya ke Kirana dengan lembut.

"Saya juga takut, Kirana. Tapi ketakutan itu nggak akan bikin saya mundur dari apa yang udah saya rasain ke kamu."

Kirana menyeka air matanya, mencoba menenangkan diri meski hatinya masih terasa berat dengan semua ketidakpastian yang mereka hadapi. "Terus, apa yang harus kita lakuin sekarang, Pak?"

"Untuk sementara," Alden menjelaskan, nadanya lebih tenang dan terstruktur, "kita perlu benar benar jaga jarak di depan umum. Nggak ada lagi pertemuan berdua di tempat terbuka kampus, nggak ada lagi obrolan personal di ruang dosen kalau nggak ada urusan akademik yang jelas."

"Terus gimana kita bisa tetep... deket, kalau semuanya harus dijauhin kayak gitu?" Kirana bertanya, suaranya penuh kekhawatiran akan kehilangan koneksi yang baru saja mereka bangun dengan susah payah.

"Saya juga belum punya jawaban pasti," Alden mengakui, tampak lelah dengan situasi yang begitu rumit. "Tapi saya janji, saya nggak akan ninggalin apa yang udah kita mulai ini, meski kita harus lebih hati hati dari sebelumnya."

Mereka duduk dalam diam beberapa saat, masing masing tenggelam dalam pikiran sendiri tentang bagaimana menjalani hari hari ke depan dengan batasan batasan baru yang harus mereka patuhi demi melindungi diri mereka berdua dari ancaman yang semakin nyata.

"Pak," Kirana akhirnya bicara lagi, suaranya lebih pelan, "soal Sarah, apa rencana Bapak masih sama? Ketemu dia akhir minggu ini?"

Pertanyaan itu membuat Alden terdiam sejenak, wajahnya menunjukkan kelelahan yang bertumpuk dari berbagai masalah yang harus dia hadapi bersamaan. "Saya masih belum tau, Kirana. Dengan semua yang terjadi sekarang, rasanya semakin susah buat mikirin itu dengan jernih."

"Mungkin Bapak perlu selesain dulu satu per satu," Kirana menyarankan, mencoba berpikir rasional meski hatinya sendiri masih diliputi kekhawatiran. "Fokus dulu ke masalah di kampus, baru nanti mikirin soal Sarah."

"Kamu benar," Alden mengangguk, tampak menghargai saran itu. "Tapi entah kenapa, semua masalah ini kayak numpuk jadi satu di waktu yang sama."

"Kita hadapi satu satu, Pak. Nggak usah dipikirin semuanya sekaligus," Kirana mencoba menyemangati, meski dia sendiri juga merasakan beban yang sama beratnya.

Alden menatapnya lama, senyum tipis penuh terima kasih muncul di wajahnya yang lelah. "Terima kasih, Kirana. Entah kenapa, kamu selalu berhasil bikin saya ngerasa sedikit lebih tenang, bahkan di tengah situasi seburuk ini."

Kirana tersenyum kecil, meski hatinya masih terasa berat dengan semua ketidakpastian yang menyelimuti mereka. "Sama sama, Pak. Kita lewatin ini bareng bareng, apapun yang terjadi nanti."

Mereka menghabiskan waktu beberapa saat lagi di kafe itu, membicarakan langkah langkah praktis untuk menjaga jarak di depan umum sambil tetap mempertahankan komunikasi yang aman lewat pesan pribadi. Ketika akhirnya mereka harus berpisah, keluar dari kafe secara terpisah untuk menghindari kecurigaan, Kirana merasakan berat di dadanya yang belum sepenuhnya hilang, kesadaran bahwa jalan yang mereka pilih untuk terus bersama akan semakin sulit dan penuh rintangan seiring waktu berjalan, tapi juga tekad yang semakin kuat untuk tetap bertahan menghadapi semua tantangan itu bersama sama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!