Sebuah pernikahan yang berdiri di atas pilar rasa utang budi, bukan cinta. Nindya menerima lamaran Haris karena takdir mempertemukan mereka dalam tragedi berdarah yang hampir merenggut nyawa Haris—dimana Nindya bertaruh nyawa untuk menyelamatkannya. Namun, setelah bertahun-tahun berlalu dan dikaruniai seorang putra yang menggemaskan, Nindya harus menelan kenyataan pahit: rasa terima kasih Haris tidak pernah berubah menjadi cinta. Di balik dinding rumah tangga mereka yang dingin, Haris masih menyimpan bayang-bayang masa lalunya bersama wanita lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertanyaan Yang Tak Kunjung Datang
Ketika rasa sakit telah mencapai puncaknya, tubuh dan pikiran manusia memiliki mekanismenya sendiri untuk bertahan hidup. Bagi Nindya, malam ulang tahun pernikahan yang diabaikan itu menjadi garis batas terakhir dari batas kesabarannya yang luas.
Sejak malam kelam itu, ada sesuatu yang patah sekaligus mati di dalam diri Nindya. Namun, di balik kematian rasa itu, lahirlah sebuah ketegaran baru yang amat dingin. Nindya tidak lagi menangis di sudut kamar saat malam merayap sepi. Ia tidak lagi menghabiskan waktunya berdiri di balik jendela, menatap jalanan luar demi menunggu deru mobil Haris pulang. Dan yang paling utama, ia tidak lagi menyisakan sup hangat atau lauk-pauk di atas meja makan untuk suaminya.
Persetan dengan cinta, rasa sayang, dan pengakuan, bisik Nindya tegas pada dirinya sendiri saat berdiri menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi pagi itu. Matanya kini tampak jernih, tak ada lagi sisa-sisa kesedihan atau ketakutan akan diabaikan.
Jika Haris sejak awal menganggap pernikahan ini hanya sebatas transaksi bisnis atas nama utang budi dan pemenuhan kewajiban materi, maka Nindya memutuskan untuk mulai memperlakukannya dengan cara yang persis sama. Nindya tidak akan lagi bersikap seperti seorang istri yang merindukan kasih sayang suaminya. Ia akan memosisikan dirinya sebagai ibu yang fokus sepenuhnya pada tumbuh kembang sang anak. Yang terpenting baginya saat ini adalah memastikan Arka tumbuh dalam lingkungan yang tenang, mendapatkan kasih sayang utuh darinya, dan seluruh kebutuhan finansial mereka tercukupi dengan baik dari fasilitas yang Haris berikan. Tidak kurang, dan tidak akan pernah meminta lebih.
Nindya melangkah keluar dari kamar dengan kepala tegak. Ia menghampiri Arka yang sedang bermain di ruang tengah, lalu mengajak putranya itu tertawa bersama. Kehidupannya kini hanya berputar pada Arka. Ia mengatur jadwal les Arka, menyiapkan makanan kesukaan putranya, dan merencanakan masa depan mereka berdua tanpa pernah lagi memasukkan nama Haris ke dalam rencana-rencana tersebut.
Haris ingin memberikan materi? Maka Nindya akan menerimanya tanpa rasa bersalah. Haris ingin menghabiskan waktunya dengan Siska? Nindya tidak akan lagi ambil pusing. Baginya, Haris kini tak ubahnya seperti seorang penyedia fasilitas dalam rumah ini—seorang asing yang kebetulan berbagi atap dengannya. Rasa cinta yang dulu memenuhi dada Nindya kini telah menguap sepenuhnya, berganti menjadi sebuah benteng es yang tak akan bisa dilelehkan lagi oleh kata-kata manis atau alasan apapun di masa depan. Nindya telah siap menjalani babak baru dalam hidupnya: hidup tanpa mengharapkan Haris.
Pukul sepuluh malam lewat sedikit. Haris melangkah masuk ke dalam rumah mewahnya dengan langkah kaki yang terasa amat berat. Bahunya menegang setelah seharian mengurus pekerjaan kantor yang menumpuk, ditambah harus membagi fokusnya untuk menemani Siska di rumah sakit.
Secara refleks, Haris bersiap menghadapi skenario yang biasa terjadi selama empat tahun terakhir. Biasanya, begitu pintu utama terbuka, Nindya akan menyambutnya di lorong depan dengan senyuman tipis namun tulus. Istrinya itu akan menawarkan secangkir teh hangat, membawakan tas kerjanya, atau sekadar bertanya dengan lembut bagaimana harinya di kantor—meski Haris selalu merespons kebaikan itu dengan jawaban singkat, dingin, dan tidak peduli.
Namun malam ini, suasana di dalam rumah terasa sangat berbeda. Ruang tamu dan ruang keluarga terasa luar biasa hening dan asing.
Nindya tampak sedang duduk santai di sofa panjang ruang tengah, berbalut pakaian rumahan yang rapi. Tangannya bergerak tenang merapikan mainan-mainan krayon dan mobil-mobilan milik Arka ke dalam wadah plastik besar. Saat mendengar suara pintu tertutup dan langkah sepatu Haris mendekat, Nindya hanya melirik suaminya sekilas melalui ekor matanya. Tidak ada kejutan, tidak ada binar bahagia, dan yang pasti, tidak ada gerakan untuk berdiri menyambutnya.
Nindya kembali melanjutkan kesibukannya menyusun mainan Arka satu per satu tanpa menghentikan gerak jemarinya sedikit pun. Tidak ada sapaan hangat. Tidak ada tawaran untuk menyiapkan makan malam. Dan yang paling membuat dada Haris mendadak terasa janggal: tidak ada pertanyaan kemana saja ia pergi sepanjang hari ini atau mengapa ia baru pulang larut malam.
Haris menghentikan langkah kakinya tepat di samping meja konsol, tak jauh dari posisi Nindya duduk. Ada rasa ganjil yang amat tebal yang tiba-tiba merayapi dadanya. Sikap diam Nindya kali ini terasa sangat berbeda dari diamnya yang dulu. Ini bukan diamnya seorang wanita yang sedang merajuk, menangis, atau menuntut perhatian dari suaminya. Ini adalah diamnya seseorang yang telah benar-benar acuh dan tidak peduli lagi pada keberadaannya.
"Arka... sudah tidur?" tanya Haris akhirnya, mencoba mencairkan keheningan asing yang mendadak menghimpit lehernya.
"Sudah," jawab Nindya singkat. Ia bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari wadah mainan di pangkuannya. Nada suaranya terdengar sangat datar, tenang, dan bersih dari emosi apa pun—baik itu amarah maupun rasa rindu.
Haris mematung di tempatnya berdiri. Ia menatap istrinya beberapa saat, secara tidak sadar menunggu Nindya melontarkan pertanyaan-pertanyaan langganannya—bertanya tentang Siska, mempertanyakan alasannya lupa hari ulang tahun pernikahan, atau meluapkan kekesalannya seperti biasa. Namun Nindya tetap membisu.
Setelah selesai menutup rapat wadah plastik mainan Arka, Nindya berdiri dengan anggun. Tanpa menatap mata Haris, ia berjalan melewati suaminya begitu saja, melangkah menuju kamar Arka untuk memastikan putra mereka tertidur dengan nyenyak.
Haris berdiri kaku di tengah ruang tamu yang sepi. Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah empat tahun lalu, Haris merasa dirinya telah kehilangan kendali penuh atas wanita itu. Tatapan mata Nindya yang dulu selalu dipenuhi binar harapan dan kehangatan, kini telah berubah total menjadi telaga bening yang amat dingin, dalam, dan sama sekali tak tersentuh olehnya lagi.