NovelToon NovelToon
The Alpha'S Secret Girl

The Alpha'S Secret Girl

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:610
Nilai: 5
Nama Author: Scrpn

“Rangga Dewantara Aldebaran menguasai sekolah ini, tapi Keisha Zahra Aurellia menguasai jantungnya.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Bab 20: Fajar Baru dan Janji di Bawah Langit Kota

Mentari pagi di penghujung bulan Juli 2026 menyinari kota dengan bias keemasan yang menghangatkan udara dingin sisa musim kemarau. Burung-burung berkicau riang di atas dahan pohon angsana yang berjejer rapi di sepanjang jalan perumahan. Suasana pagi itu terasa begitu kontras dengan hiruk-pikuk malam jahanam dan badai pelabuhan yang pernah mengguncang kehidupan Rangga dan Keisha beberapa bulan lalu. Waktu telah menyembuhkan luka, meredakan ketegangan, dan memberikan ganti yang jauh lebih indah bagi keteguhan hati mereka berdua.

Di teras rumah petak sederhana bercat putih kusam—yang kini telah disulap menjadi tempat tinggal yang rapi dan nyaman—Rangga Dewantara Aldebaran berdiri tegap mengenakan kemeja putih bersih berkerah. Di tangannya, sebuah cangkir keramik berisi kopi hitam mengepulkan uap tipis. Meskipun bekas luka goresan di lengan kanan atasnya kini telah sepenuhnya sembuh dan hanya menyisakan garis tipis samar, sorot mata kelam pemuda itu kini memancarkan ketenangan jiwa yang belum pernah terlihat di masa lalunya sebagai ketua geng motor Black Raven.

Tok... tok... tok...

Pintu pagar kecil terbuka dari luar, menampilkan sosok gadis dengan ransel rapi di punggungnya. Keisha Zahra Aurellia melangkah masuk dengan senyuman manis yang merekah di bibirnya. Hari itu adalah hari yang sangat spesial—hari pengumuman kelulusan resmi ujian kesetaraan mandiri sekaligus pembukaan babak baru lembaran pendidikan tinggi mereka.

"Pagi, Pekerja Teladan sekaligus Calon Mahasiswa!" sapa Keisha ceria, meletakkan tasnya di atas meja kayu teras rumah.

Rangga tersenyum lebar, menaruh cangkir kopinya di atas meja, lalu merentangkan kedua tangannya menyambut kedatangan gadis itu. "Pagi juga, Pengawas Akademik paling galak sedunia," balas Rangga hangat, membiarkan Keisha merangsek masuk ke dalam dekapan pelukannya yang erat dan menenangkan.

Sudah setahun berlalu sejak Rangga memutuskan keluar dari rumah megah keluarganya dan memilih hidup mandiri. Berkat kerja kerasnya siang dan malam di bengkel modifikasi motor besar serta bimbingan intensif dari Keisha, Rangga berhasil melewati ujian kesetaraan dengan nilai yang sangat membanggakan. Hubungannya dengan sang ayah, Danendra Aldebaran, pun perlahan mencair setelah pria paruh baya itu melihat kesungguhan, tanggung jawab, dan kemandirian mutlak yang ditunjukkan oleh anak tunggalnya tanpa menggunakan fasilitas harta keluarga sedikit pun.

"Gimana? Surat hasil pengumuman ujian kemarin malam udah kamu cek ulang?" tanya Keisha antusias saat mereka melepaskan pelukan, menatap lurus ke dalam manik mata Rangga dengan mata berbinar-binar penuh harap.

Rangga mengangguk pelan, lalu mengambil sebuah amplop putih bersih dari atas meja ruang tamu dan menyerahkannya kepada Keisha. "Baca sendiri kalau nggak percaya."

Keisha dengan jari-jari sedikit bergetar membuka amplop tersebut, menarik secarik kertas resmi yang menyatakan bahwa Rangga Dewantara Aldebaran dinyatakan LULUS dengan predikat nilai cum laude untuk tingkat kesetaraan, serta lolos seleksi masuk program studi Teknik Mesin di universitas negeri ternama di kota yang sama—kampus impian yang juga menjadi tempat Keisha diterima sebagai mahasiswi Fakultas Ekonomi.

"Ya Allah... Kak Rangga...!" jerit Keisha girang, melompat kecil kegirangan sambil menepuk-nepuk lengan Rangga. "Kita bener-bener lolos! Kita bakal kuliah di kampus yang sama!"

Rangga tertawa renyah, tawa lepas yang jarang sekali lepas dari bibirnya di masa lalu. Ia meraih kedua tangan Keisha, menggenggamnya erat-erat di dadanya. "Semua ini nggak bakal mungkin terjadi kalau bukan karena kesabaran dan dukungan luar biasa dari kamu, Keish. Kamu adalah alasan kenapa aku bisa bertahan dan berdiri di titik ini."

Keisha merona merah, menundukkan kepalanya sejenak sebelum kembali mendongak menatap pria yang kini telah menjadi pelindung sekaligus belahan jiwa dalam hidupnya. "Kita berdua berjuang bersama, Kak. Nggak ada yang hebat sendirian."

Pukul sepuluh pagi, suasana di halaman kampus utama universitas tampak sangat meriah. Ratusan mahasiswa baru berlalulalang mengenakan atribut orientasi pengenalan kampus. Di bawah naungan pohon besar di tepi lapangan rektorat, Satria dan Bara tampak berdiri menunggu sambil membawa dua botol minuman dingin.

Melihat kedatangan Rangga dan Keisha yang berjalan berdampingan memasuki gerbang kampus, Satria langsung bersiul nyaring sambil melambaikan tangan tinggi-tinggi.

"Wihhh! Mantan ketua geng kita yang sekarang jadi mahasiswa teknik teladan udah datang nih!" seru Satria meledek dengan senyuman jail khasnya begitu Rangga dan Keisha mendekat.

Bara ikut terkekeh, menepuk bahu Rangga dengan akrab. "Gimana rasanya lepas dari jaket kulit geng motor dan ganti jaket almamater kampus, Bos? Jauh lebih berat beban akademiknya atau beban preman jalanan?"

Rangga mendengus pelan, melempar tatapan tajam bercanda ke arah sahabat setianya itu. "Bawel lu berdua. Kalau masih pengin dapet jatah traktir bakso di kantin rektorat, mending kalian jaga sikap di depan mahasiswi baru."

Keisha hanya tersenyum manis melihat interaksi akrab di antara para pemuda yang dulunya menguasai jalanan kota, namun kini telah menemukan jalan hidup mereka masing-masing ke arah yang jauh lebih mulia dan terang. Satria sendiri kini telah aktif di organisasi kepemudaan positif kampus, sementara Bara mulai merintis usaha bengkel mandiri yang bermitra langsung dengan tempat kerja lama Rangga. Masa lalu yang kelam, bentrokan berdarah dengan Viper, dan ancaman penjara kini hanyalah debu sejarah yang tertinggal jauh di belakang.

Menjelang sore hari, ketika kesibukan orientasi kampus mulai mereda dan mahasiswa lain mulai berhamburan pulang, Rangga mengajak Keisha berjalan-jalan sebentar ke tepi dermaga kecil di dekat taman danau buatan kampus. Air danau yang jernih memantulkan bias cahaya jingga matahari senja yang perlahan mulai turun ke ufuk barat.

Mereka duduk berdua di atas bangku kayu panjang yang menghadap langsung ke arah air danau yang tenang. Angin sore berhembus lembut, membelai helaian rambut Keisha.

Rangga mengeluarkan sebuah kotak kecil berbalut kain beludru hitam dari dalam saku kemejanya, lalu meletakkannya di atas pangkuan Keisha dengan gerakan perlahan penuh kehati-hatian.

Keisha menoleh kaget, mengerjap menatap kotak kecil tersebut. "Kak... apa ini?" tanyanya lembut dengan napas sedikit tertahan.

Rangga tidak langsung menjawab. Ia meraih tangan kanan Keisha, membukakan kotak beludru tersebut, memperlihatkan sebuah cincin perak berukir melingkar sederhana namun sangat elegan, dengan inisial nama mereka berdua terukir indah di bagian dalamnya.

"Selama setahun ini, kita sudah melewati badai paling mengerikan dalam hidup kita," ucap Rangga dengan suara baritonnya yang sangat dalam, tulus, dan penuh getaran emosi yang tertahan. "Aku kehilangan segalanya—kemewahan, kenyamanan, dan nama besar keluargaku. Tapi di saat yang sama, aku mendapatkan harta paling berharga di dunia ini: kamu, Keisha."

Air mata haru seketika menggenang di pelupuk mata Keisha. Tenggorokannya tercekat, dadanya bergemuruh hebat merasakan ketulusan luar biasa dari setiap kata yang keluar dari bibir pria di hadapannya.

"Aku bukan lagi ketua geng motor yang hidup di jalanan gelap," lanjut Rangga sambil menatap lekat-lekat manik mata Keisha dengan penuh keyakinan mutlak. "Aku adalah pria yang berdiri di atas kaki aku sendiri, siap bekerja keras, siap melindungimu seumur hidupku, dan siap berjalan di sampingmu mengarungi masa depan. Keisha Zahra Aurellia... maukah kamu terus berjalan di sisiku, bukan cuma sebagai pengawas akademik atau sahabat, tapi sebagai pendamping hidupku selamanya?"

Isak tangis bahagia akhirnya tumpah dari bibir Keisha. Ia tidak bisa lagi menahan bendungan air mata keharuan yang memenuhi dadanya. Gadis itu mengangguk cepat berulang kali, mengusap air matanya sendiri dengan tangan yang bergetar hebat.

"Iya, Kak... aku mau... aku bakal selalu jalan di sisi Kak Rangga, apapun yang terjadi," jawab Keisha parau namun penuh kepastian.

Rangga tersenyum hangat, air matanya sendiri ikut menggenang di sudut matanya. Dengan sangat hati-hati, ia mengambil cincin perak tersebut dan menyematkannya di jari manis tangan kanan Keisha. Pas, sempurna, dan terikat selamanya.

Tanpa ragu lagi, Rangga menarik tubuh Keisha ke dalam dekapan pelukannya. Menyalurkan seluruh rasa cinta, kesetiaan, dan janji suci di bawah langit senja kota yang membentang luas. Di hadapan hamparan air danau yang tenang dan semburat cahaya jingga yang mempesona, dua jiwa yang dulunya terpisahkan oleh jurang perbedaan dunia kini resmi menyatu dalam satu takdir abadi—membuka fajar baru kehidupan yang penuh berkah, cinta, dan harapan terang di masa depan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!