NovelToon NovelToon
GERILYAWAN TERAKHIR

GERILYAWAN TERAKHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Perperangan
Popularitas:145
Nilai: 5
Nama Author: Galuh pravitasari

Sìang itu pesawat Bomber Martin B-10 Belanda terbang rendah di langit RANCAGAOK

BOOOOM!!!

Cahaya putih menyilaukan membelah malam. Tanah terlempar ke udara. Atap rumah Pak Lurah terangkat lalu hancur berkeping-keping.

"Turun!" teriak Bayu.

Semua menjatuhkan diri ke tanah. Debu dan pecahan bambu menghujani punggung mereka. Bau mesiu dan kayu terbakar memenuhi udara.

*TAT... TAT... TAT...*

Suara tembakan dari udara menyisir tanah. Peluru menancap ke batang pisang dan pematang sawah. Bayu menarik Astri ke bawah parit.


Bayu, Karta, Ningsih, Astri bertekad untuk merebut kampung halaman mereka dari tangan belanda hanya bermodal tekad berjuang dan senjata seadanya.

Kisah perjuangan anak muda melawan penjajah, semoga jadi pengibar semangat anak muda Indonesia" MERDEKA"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15 : JEBAKAN DI BALIK TEBING

Malam makin larut, kabut turun makin tebal menyelimuti lembah hingga pandangan tak sampai tiga langkah ke depan. Suara jangkrik perlahan meredup seolah ikut diam menanti apa yang akan terjadi. Di sepanjang jalan sempit menuju tempat persembunyian, puluhan pasang mata mengintai dari balik pepohonan dan celah batu, napas diatur sehalus mungkin, tangan menggenggam erat senjata yang dimiliki.

Tiba-tiba terdengar gesekan daun pelan dari arah belakang. Semua menoleh cepat siap siaga. Dua sosok kecil menyelinap masuk dengan napas terengah. Itu Ujang dan Asep, pemuda desa yang hilang sejak kemarin.

"Kang Bayu!" bisik Ujang hampir tak bersuara.

"Kami kabur dari barisan belakang!"

"Bagaimana keadaan mereka?" tanya Bayu mendekat.

"Mereka bawa beban berat. Banyak senapan, rantai, dan peti. Berjalan dengan lambat," lapor Asep.

"Bagus. Kalian sembunyi di gua belakang sana. Jangan keluar sampai aman," perintah Bayu.

"Siap Kang," jawab mereka lalu menyelinap pergi.

Tak lama Embek Gombloh berbisik:

"Bayu, tali jerat sebelah kiri agak kendur. Saya perbaiki sebentar?"

"Cepat dan hati-hati," jawab Bayu.

Embek Gombloh merayap pelan, mengencangkan tali, lalu kembali ke posisinya.

"Sudah yakin memasang jebakan di tikungan pertama?" tanya Bayu pelan, matanya tetap menatap jalan yang masih gelap gulita.

"Sudah tertanam kuat, tertutup rapat dedaunan kering. Tak akan terlihat meski diperiksa sekalipun," jawab Jaka Kelitik sambil turun perlahan dari posisinya di atas pohon.

"Kamu, Dul Kalong, tetap di posisi paling atas. Begitu terlihat ujung seragam mereka, beri tanda peluit pelan, jangan sampai terdengar sampai ke telinga mereka," perintah Bayu kembali memastikan.

"Siap. Tak akan meleset satu pun gerakan mereka," jawab Dul Kalong sambil menyelinap naik ke dahan yang paling rindang.

Di sisi lain tebing, Karta sedang memastikan kembali tumpukan batu dan duri rumbia yang siap didorong jatuh bila isyarat diberikan. Kapten Wirayuda mendekat berdiri di sebelahnya.

"Jangan terburu-buru melepaskan dorongan. Tunggu sampai bagian depan rombongan tepat berada di bawah sana, baru lepaskan semuanya sekaligus," pesan Kapten tenang namun tegas.

"Jangan sampai kita memasang jebakan tapi tidak membawa rampasan untuk di bawa pulang"

"Paham, Kapten. Saya akan tunggu perintah dari Bayu," jawab Karta sambil meraba batang kayu pengungkit yang sudah disiapkan.

Waktu terasa berjalan sangat lambat. Menit bagaikan berjam-jam. Keringat dingin mulai mengalir pelan di punggung, bukan karena takut, melainkan karena menahan tegang yang memuncak. Hingga akhirnya terdengar peluit sangat halus dari arah atas.

"Mereka datang," bisik Bayu.

"Diam,...jangan ada yang bersuara, sampai mereka mendekati titik jebak"

Semakin lama suara langkah kaki terdengar jelas, disusul percakapan pendek dan bunyi besi yang saling berbenturan. Komando Mayor Van Der Hock terdengar dingin dan tegas memerintahkan anak buahnya bergerak lebih cepat.

"Jangan ada yang lolos! Kepala mereka harus dibawa kembali pagi ini!" bentaknya.

Rombongan berjalan beriringan rapat, tak sadar sedang masuk ke dalam perangkap yang sudah disiapkan sejak lama. Saat barisan depan tepat melewati tali jerat, Bayu memberi isyarat tangan. Seketika tali terulur kuat, membuat tiga prajurit terjerat dan jatuh terguling ke tanah.

"Serang!" teriak Bayu.

Batu-batu besar bergemuruh jatuh dari tebing, menghalangi jalan depan sekaligus belakang. Pasukan Belanda seketika panik, berlarian mencari tempat berlindung namun jalan sudah tertutup rapat.

"Jangan menembak! Kami di ketinggian, kalian kalah posisi!" seru Kapten Wirayuda.

"Turunkan senjata!, kami tak akan membunuh jika kalian menyerah!"

Mayor Van Der Hock mengumpat kasar, segera berlindung di balik batang pohon besar.

"Jangan percaya mereka! Tembak semuanya!"

Satu dua tembakan meletus ke arah semak, namun peluru hanya menembus udara kosong. Sukria segera membalas satu tembakan tepat mengenai dahan di samping bahu Mayor, membuatnya terkejut dan terdiam seketika.

"Yang kedua tak akan meleset," ancam Sukria dingin.

Suasana seketika hening kembali, hanya terdengar napas berat kepanikan. Embek Gombloh dan kawan-kawannya mulai turun perlahan dari sisi tebing, menghadang mereka dengan bambu runcing dan parang teracung siap.

"Kalian dikepung sepenuhnya. Tak ada jalan lari, tak ada bantuan yang akan datang tepat waktu," ucap Bayu melangkah maju sedikit.

"Kami hanya meminta satu hal: tinggalkan senjata kalian dan pergi dari tanah ini. Jika kalian tetap melawan, terpaksa kami pertaruhkan nyawa kita bersama."

Kapten De Vries hendak mengangkat senapan, namun kakinya tiba-tiba terjerat tali akar, membuatnya jatuh terjerembab. Sebelum bangun, Jaka Kelitik sudah berdiri di sampingnya dengan ujung bambu runcing tepat di leher.

"Verdomme! Laat me los, jij vuile inlander!" (Sialan! Lepaskan aku, penduduk pribadi kotor!) teriak De Vries menahan sakit dan marah.

"Hou je mond! Je bent gevangen, onnodig schreeuwen!" (Diamlah! Kau sudah tertangkap, tak perlu berteriak!) balas Jaka Kelitik dengan nada datar namun tegas.

"Sudahlah Kapten. Hari ini bukan hari kemenangan kalian," ucap Jaka pelan.

Melihat keadaan benar-benar tak berdaya, satu per satu prajurit mulai menurunkan senjata, meletakkannya di tanah sesuai perintah. Mayor Van Der Hock masih menatap tajam penuh kemarahan, namun akhirnya terpaksa ikut menyerah.

"Kalian akan menyesal," desisnya marah.

"Kami sudah ratusan kali menyesal membiarkan kalian menindas kami selama ini. Sekarang giliran kalian merasakan betapa berartinya kebebasan," jawab Bayu tegas.

Setelah semua senjata dikumpulkan dan diamankan, Bayu memberi jalan lebar.

"Pergilah. Katakan pada siapa pun yang mau mendengar: di Rancagaok, kami bukan lagi warga yang bisa ditangkap sesuka hati."

Mereka pun pergi dengan tertunduk malu dan tak berdaya. Begitu hilang dari pandangan, sorak kecil meledak di antara mereka, namun segera diredam. Kemenangan ini baru permulaan, dan musuh pasti akan kembali dengan kekuatan yang jauh lebih besar.

"Berhasil, Yu! Sungguh berhasil!" seru Karta sambil menepuk bahu sahabatnya dengan penuh semangat.

Bayu tersenyum bangga, namun matanya masih memandang jauh ke arah jalan yang ditinggalkan musuh.

"Iya berhasil. Tapi ingat, mereka tak akan membiarkan begitu saja. Kita harus segera memindahkan semuanya ke tempat yang lebih aman sebelum matahari benar-benar tinggi."

Kapten Wirayuda mengangguk setuju.

"Benar sekali. Hari ini kita buktikan dengan akal bisa mengalahkan senjata. Tapi mulai detik ini, kewaspadaan kita tak boleh turun sedikit pun."

Mereka pun segera bergerak membawa hasil rampasan yang lumayan banyak: sepuluh senapan Mannlicher, dua peti kecil berisi peluru, dan peta lengkap seluruh penjuru wilayah kekuasaan Belanda di sekitar sana. Langkah kaki mereka ringan, hati berbunga, namun pikiran tetap jernih menyiapkan segala kemungkinan yang akan datang.

Di balik rimbunan pepohonan, pagi itu bukan hanya menyambut sinar matahari, melainkan juga menyambut hari baru di mana warga Rancagaok akhirnya berani berdiri tegak melindungi apa yang menjadi hak milik mereka.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!