Saat kehidupan tidak lagi berpihak kepadaku. Saat orang yang kusayang semakin jauh meninggalkanku. Saat semua terungkap bahwa aku adalah alien di lingkunganku sendiri, yang tidak dinginkan kehadirannya, tidak dipedulikan keadaannya. Aku tahu, aku harus menyingkir. Menjauh dari semuanya. Kehidupan remaja bernama Adit yang sangat nyaman seperti surga tiba-tiba berubah menjadi seperti neraka. Apakah Adit akan memilih tetap bertahan atau menyerah?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku berjalan sedikit melambat berusaha menjajari langkah teh Ai yang masih sibuk dengan HP nya. Dulu aku selalu mendapatkan teguran dari Dheka jika melakukan hal yang sama. Dia akan sangat marah saat mengetahui aku berjalan di tempat umum sambil fokus pada HP. Hmmm,, apa kabar gadis ku itu?! Meskipun kami sudah resmi tidak ada hubungan apapun, namun nama Dheka masih menempati sudut dalam hatiku. Bukan menjadi yang istimewa, namun tetap ada namanya yang tersimpan. Semoga dia selalu baik-baik saja dimanapun dia berada.
“Teh, waktu dzuhur masih beberapa menit lagi. Aku ke counter itu dulu ya, mau beli kartu perdana.” Kulihat tidak jauh dari pelataran masjid ini counter kecil yang mendisplay beberapa HP di etalasenya.
“Boleh Dit, punten yah, ribet nih dosen pembimbing minta ketemunya belibet banget. Kita ketemu di depan sana ya selesai Sholat nanti.” Aku hanya mengangguk kecil menanggapinya.
Segera kulangkahkan kaki keluar area halaman masjid, dan menuju counter yang terlihat sepi di sisi kanan masjid tersebut. Terlihat seorang pemuda yang sepertinya menginjak usia diatas dua puluhan sedang sibuk membongkar HP yang mungkin sedang di service.
“Permisi bang, mau beli sim card. Boleh yang mana saja. Dan minta tolong diaktifkan juga ya bang.” Penjual tersebut segera tersenyum kearahku dan meninggalkan aktivitas bongkarnya. Segera kuambil iPhone yang kusimpan di weist bag ku.
“Lho, iPhone ini bukannya bisa pakai eSIM ya A’?” Tanya nya heran, ya mungkin jarang sekali orang yang menggunakan iPhone tanpa memanfaatkan layanan eSIM nya.
“Aku pakai SIM fisik aja bang. Lagi pengen ga dipake dulu eSIM nya. Oh ya bang, sekalian tolong dikembalikan kesetelan pabrik.” Ucapku menjawab keheranannya.
Selanjutnya Aku duduk di kursi yang tersedia di depan etalasenya dan meraih satu botol air mineral dingin yang tersedia di showcase depan counter ini. Siang yang cukup terik sekarang ini sebenarnya tidak membuat aku kepanasan sama sekali, karena angin dingin tetap berhembus agak kencang di kota ini. Aku sampai beberapa kali berusaha menarik resleting jaket ku yang turun akibat pergerakanku.
Aku memikirkan langkah selanjutnya yang akan kulakukan di kota ini. Jika bekerja mengandalkan ijazah SMA ku, mungkin hanya pekerjaan berat yang kudapatkan. Jika kuliah, mungkin untuk pendaftaran awal bisa kupenuhi, bahkan mungkin seluruh biaya bisa kulunasi diawal, tapi aku tidak ingin mengandalkan uang dari papa. Dan pilihan terbaik untuk selanjutnya adalah dengan beasiswa agar kepastian biaya kuliah ku ada tanpa mengandalkan uang papa. Akupun belum tahu, apakah setiap bulan tetap ada pemasukan di kartu debit yang kupegang atau tidak sama sekali. Mungkin sementara kujalani dulu semuanya. Akan kucoba membuka jasa penerjemah makalah atau jasa design grafis secara online dulu, sesuai dengan kemampuanku saat ini. Untuk itu, aku harus merundingkan pemasangan wifi di tempat kost ku nanti. Semoga kang Iyus tidak keberatan.
“Sudah A’, ini nomor SIM card nya, sudah saya kembalikan ke setelan pabrik juga. Jadi sepuluh ribu A’. Mau sekalian isi kuota nya?”
“Boleh bang. Yang 100 GB ya.”
“Siap, total jadi 265.000 A’, saya kasih potongan jadi 250.000 aja A’.”
“Nggak usah di potong bang, ini saya ambil juga air mineral dan roti ini ya bang.” Kuberikan tiga lembar uang seratus ribu-an, dan memberikan isyarat dengan tanganku agar tidak perlu dikembalikan sisanya.
“Hatur nuhun A’.” Aku menanggapi dengan senyum, dan segera beranjak memasuki area masjid kembali. Adzan masih belum berkumandang, sehingga aku memilih duduk dipelataran masjid dengan bersender pada tiang terluar.
Setelah roti kuhabiskan, langsung kuambil langkah menuju tempat wudhu. Ada gejolak aneh kembali menghampiri kenyamanan tubuhku. Aku belum tahu apakah ini efek obat yang kuminum pagi tadi atau efek aku yang kelelahan atau bahkan bisa jadi efek roti yang baru saja kumakan. Hampir lima menit berlalu, tidak ada perubahan apapun. Bersamaan dengan berkumandangnya adzan, akupun memutuskan segera menyelesaikan wudhu ku dan mengacuhkan semua kekurang nyamanan tubuhku ini. Semoga semuanya baik-baik saja.
“Yuk Dit!” Sebuah kalimat ajakan dari teh Ai sedikit mengagetkanku yang baru saja bersandar di salah satu tiang masjid. Setelah Sholat tadi, selesai salam tanpa mengikuti jamaah lain yang khusyuk berdoa, aku memutuskan segera ke toilet. Karena di Rokaat terakhir aku merasakan desakan kuat dari perutku. Tiba-tiba aku merasakan mual luar biasa. Sesampainya di toilet, hanya air yang kumuntahkan. Meski begitu, sampai sekarang aku merasakan seluruh bagian dalam mulutku sangat pahit, membuatku mual berkepanjangan. Aku mengangguk kecil dan segera mengikuti langkahnya yang keluar dari masjid.
“Disana taman yang teteh maksud, teteh mau ke kedai bakso nya. Kamu mau apa?” Masih berjalan didepanku teh Ai menunjuk sekumpulan penjual di sisi kiri masjid.
“Aku ikut teteh aja.” Ucapku setelah teh Ai menoleh ke belakang karena jeda cukup lama menunggu respon dariku.
“Kamu oke Dit? Teteh baru ngeuh kamu pucet gitu” Ucapnya kemudian sambil beringsut mundur menjajari langkahku.
“Aman teh, agak mual aja.” Jawabku mencoba bersikap senormal mungkin.
“Yakin?!” Tanyanya sanksi. Aku hanya menjawab dengan anggukan kepala dan segera melangkah kembali.
"Mungkin asam lambung kamu naik kali ya dit, telat makan. Biasa makan siang jam berapa? Teteh jadi ngerasa bersalah nih. Kenapa nggak jujur aja sama teteh Dit kalau kamu punya asam lambung?! Padahal kita bisa makan siang sebelum sholat tadi." Teh Ai kembali mensejajari langkahku. Terdengar nada penuh kekhawatiran darinya.
"Aman kok teh, aku nggak apa-apa. Udah nggak begitu mual lagi." Ucapku segera untuk menghilangkan kekhawatiran di wajahnya.
Sesampainya di kedai bakso yang menjadi incaran teh Ai, aku dibuat terkagum-kagum dengan penampakan taman dibelakang deretan para penjual ini. Taman yang sangat luas, dihiasi berbagai tanaman warna-warni, ada banyak bangku-bangku lengkap dengan meja dan payung besarnya sebagai kanopi di berbagai sudut dan sisi, tidak ketinggalan pula di sisi yang lain wahana bermain anak-anak pun ikut meramaikan suasana taman yang asri ini.
"Kang bakso dua ya" suara teh Ai yang terdengar di telingaku segera membuatku beranjak mendekatinya.
"Teh Ai, aku nggak makan. Mau teh manis hangat aja. Belum enak buat makan apapun." Segera kuralat pesanannya, karena aku benar-benar tidak bernafsu makan apapun. Mungkin teh manis hangat pilihan paling tepat saat ini.
Beberapa saat kemudian, kulihat teh Ai membayar seluruh pesanan dan bapak penjual memberikan satu baki berisi pesanan kami. Aku langsung berinisiatif menerima baki tersebut dan kuikuti langkah teh Ai menuju salah satu bangku berpayung yang terlihat unik dimataku.
"Disini aja Dit, lumayan sepi. Teteh nggak suka yang terlalu ramai." Aku mengikutinya duduk berhadapan di bangku yang terpisahkan oleh meja bundar di tengahnya dengan payung besar yang melindungi kami.
"Enak banget tempatnya teh, teteh sering kesini?" Tanyaku sambil sesekali menyeruput teh anget ku.
"Tiap hari teteh kesini Dit, numpang WiFi ngerjain tugas. Eh iya, kamu baru kesini ya. Ada WiFi free disini Dit. Tanpa password apapun, jadi bisa diakses siapapun." Teh Ai menanggapi pertanyaanku dengan sesekali jeda mengunyah bakso yang dimakannya.
" Wah.. lumayan ya. Kalo gtu aku mau coba aktivasi MacBook ini." Segera kubuka ransel laptopku dan kukeluarkan MacBook yang masih orisinil ini. Tak lupa iPhone ku juga segera kukeluarkan dari weist bag berwarna beige ini, untuk dihubungkan nantinya di akun Apple yang akan kubuat baru.
"Maa syaa Allah, hp kamu juga iPhone Dit. Orang Kaya ya kamu." Celetukan teh Ai membuatku sedikit saah tingkah.
"Ayah yang belikan teh. Oh iya, bagi nomor what's app teteh dong." Sengaja kualihkan pembicaraan ini. Setidaknya teh Ai tidak akan terfokus pada kedua benda mewah didepan ku.
"Oh iya, hampir lupa. Kita ada grup anak kost lho. Nomor kamu belum masuk kayaknya Dit. Smuanya jadi admin, teteh bisa masukin nomor kamu juga." Segera kuberikan secarik kertas pemberian Abang counter tadi. Dan teh Ai terlihat sibuk kembali dengan HP nya mengabaikan separuh mangkuk bakso yang belum ia habiskan.
Aku mengesampingkan membuka MacBook ku, lebih memilih mendownload berbagai aplikasi untuk iPhone ku. What's app sepertinya menjadi aplikasi terpenting yang dibutuhkan sekarang. Segera ku download aplikasi hijau tersebut dan mulai mengaktifkan nomor baru ku untuk what's app ini.
Tiga puluh menit lebih teh Ai akhirnya menghabiskan porsi bakso nya. Setelah beberapa kali memberikan instruksi untuk ku. Mulai dari aku yang disuruh menyapa duluan di grup, sampai memintaku berkenalan singkat. Aku hanya mengikuti instruksinya tanpa protes sedikitpun. Selanjutnya teh Ai memberikan info, paling sore atau malam grup akan ramai. Kalau sekarang pasti masih disibukkan di kampus masing-masing.
Aku kembali menyimpan MacBook serta iPhone ku kedalam ransel dan weist bag ku. Kemudian membantu teh Ai mengembalikan baki beserta mangkuk serta gelas tadi kepada penjual di kedai bakso yang kami pesan sebelumnya.
"Jam dua teteh ketemu dosen, kita otw sekarang ke kampus teteh ya Dit."
"Siap teh."
Kami berjalan beriringan menuju parkiran motor didalam halaman masjid. Dan langsung bersiap meninggalkan area masjid besar ini menuju kampus teh Ai yang belum kutahu kampus apa dan dimana. Aku berniat mencari informasi beasiswa juga disana, hanya untuk mencari tahu. Semoga ada kesempatan aku bisa merasakan bangku kuliah, meskipun masa depan masih sangat abu-abu untuk ku yang bervirus ini. Semoga saja aku bisa hidup normal disini...
semangatt juga kak 💪