NovelToon NovelToon
ADIKKU SELINGKUHAN SUAMIKU

ADIKKU SELINGKUHAN SUAMIKU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Pengkhianatan / Tamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Bagi Lina, pengorbanan adalah bahasa cinta. Ia rela menelan ego, mengubur ambisi, dan menjadi istri sempurna demi Raka, pria yang ia cintai sejak kuliah. Namun, retakan mulai muncul ketika Raka sering pulang larut dengan alasan pekerjaan, sementara Lina sibuk mengurus rumah tangga mereka yang terasa semakin hampa.

Puncaknya terjadi pada malam ulang tahun pernikahan mereka yang ke-5. Bukan hadiah mewah yang Lina temukan di meja makan, melainkan notifikasi dari ponsel Raka yang tertinggal. Pesan itu bukan dari rekan kerja, melainkan dari "Sayang"—yang ternyata adalah Dinda, adik kandung Lina sendiri. Gadis manis yang selalu Lina lindungi, yang sering menginap di rumah mereka karena "masalah di kosannya", dan yang selalu memeluk Lina erat sambil berbisik, "Kakak adalah segalanya bagiku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PAKET PERSELINGKUHAN

Arka menatap Lina dengan intens Sampai-sampai Lina merasa seperti ikan mas yang baru saja ditangkap dari akuarium dan ditaruh di atas meja makan.

"Jadi," kata Arka, memutar-mutar sendok di piring cheesecake-nya yang masih utuh. "Kamu bilang kamu mau belajar menjadi dingin? Atau kamu mau belajar cara membalas dendam tanpa meninggalkan sidik jari?"

Lina mengunyah kue lemonnya. rasa Asam. Pahit nya Pas sekali dengan suasana hatinya. "Saya belum tahu, Mas Arka. Tapi saya tahu satu hal: saya nggak bisa jadi dingin kalau perut saya lapar. Dan martabak manis tadi sudah habis dimakan oleh si 'adik tersayang'."

Arka mengangkat alis. "Adik tersayang? Jangan-jangan... dia juga bagian dari paket perselingkuhan itu?"

Lina menghela napas panjang. "Bingo. Hadiah utama untuk pemenang kuis 'Siapa Paling Naif Tahun Ini' adalah saya. Suami saya selingkuh dengan adik kandung saya sendiri. Mereka menyimpan kontak dengan nama samaran. Suami saya 'Bang Juki', adik saya 'Suami Orang'. Kreatif, kan? Seharusnya mereka masuk industri kreatif, bukan industri penghancur rumah tangga."

Arka tertawa renyah, tidak ada nada merendahkan. "Wah, level kreativitasnya tinggi. Kalau di film sinetron, biasanya sih adiknya pura-pura sakit kepala terus minta dipijat sama kakaknya. Tapi ini? Langsung ke apartemen. Efisien."

"Jangan ketawa!" protes Lina, meski sudut bibirnya sendiri mulai naik. "Ini tragis! Saya korban! Saya berhak dapat simpati, bukan analisis plot!"

"Maaf, maaf," kata Arka sambil mengangkat tangan. "Tapi serius, Lin. Kamu nggak bisa terus-terusan marah. Marah itu bikin keriput. Dan percayalah, keriput dini nggak seksi. Apalagi buat mantan suami yang matanya sudah rabun karena terlalu sering melihat hal-hal yang nggak seharusnya."

Lina mendengus. "Kamu ini ngasih nasihat atau nginsult?"

"Dua-duanya," jawab Arka santai. "Itu paket lengkap. Beli satu, gratis satu. Jadi, apa rencanamu sekarang? Mau nangis di bahu saya? Sorry, bahu saya lagi disewa oleh beban hidup saya sendiri."

Lina menatap Arka. Pria ini sangat aneh. Tapi entah kenapa, kehadirannya membuat beban di dada Lina terasa sedikit lebih ringan. Mungkin karena Arka tidak berusaha menjadi pahlawan. Dia hanya menjadi teman minum kopi yang jujur.

"Saya nggak butuh bahu," kata Lina tegas. "Saya butuh strategi. Saya butuh cara untuk membuat mereka merasa bersalah. Bukan sekadar minta maaf, tapi bersalah sampai mereka nggak bisa tidur nyenyak tanpa minum obat penenang."

Arka mengangguk pelan. Matanya yang tadi bercanda kini terlihat serius. "Oke. Strategi. Langkah pertama: jangan pulang ke rumah malam ini. Biarkan Raka panik. Biarkan dia bertanya-tanya ke mana kamu pergi. Apakah kamu bersama pria lain? Apakah kamu melaporkan dia ke polisi? Ketidakpastian adalah senjata paling ampuh bagi seorang pembohong."

Lina mengangguk. "Logis. Lalu?"

"Langkah kedua: ubah penampilan. Jangan pakai baju sedih. Pakai baju yang membuatmu merasa kuat. Baju merah, misalnya. Atau baju dengan tulisan 'I’m Not Your Wife Anymore' kalau ada yang jual."

Lina mulai tertawa. "Kayaknya nggak ada yang jual baju gitu di mall biasa."

"Ya udah, pesan custom aja. Sekarang zaman digital. Cepat kok," kata Arka. "Langkah ketiga: jangan blokir nomor mereka. Biarkan mereka mengirim pesan. Baca saja. Jangan dibalas. Biarkan tanda centang biru itu menghantui mereka seperti hantu gentayangan di kamar mandi tengah malam."

Lina membayangkan wajah Raka yang gelisah melihat chatnya tidak dibalas. Bayangan itu membuatnya tersenyum puas. "Kamu jahat juga ya, Mas Arka."

"Saya realistis," koreksi Arka. "Kebaikan hati itu bagus, tapi kalau dihadapkan pada ular berbisa, kamu nggak bisa cuma kasih mereka pelukan. Kamu harus punya tongkat."

Tiba-tiba, ponsel Lina bergetar lagi. Kali ini bukan Raka. Tapi Dinda.

Pesan dari Dinda ❤️: Kak, maafin Dinda ya. udah bikin Kakak marah . Dinda cuma butuh tempat curhat. Kak Raka orangnya baik banget dia mau dengerin Dinda. Kakak kan sibuk urus rumah, jadi Kak Raka cari hiburan lain. Nggak salah kan?

Lina menatap layar ponselnya. Darahnya mendidih. "Lihat ini!" serunya pada Arka. "Dia bilang aku sibuk urus rumah, jadi suamiku cari hiburan lain? Artinya apa? Artinya aku kurang perhatian? Artinya aku istri yang gagal?"

Arka membaca pesan itu lewat bahu Lina. Dia mengerutkan kening. "Waduh. Ini tingkat keparahannya naik. Dia nggak cuma selingkuh, dia juga gaslighting. Manipulasi psikologis. Klasik."

"Apa harus saya balas?" tanya Lina, jarinya sudah siap mengetik kalimat-kalimat pedas.

"Tunggu," tahan Arka. "Kalau kamu balas sekarang, kamu masih terlihat emosional. Kamu masih terlihat terluka. Dan itu yang mereka inginkan. Mereka ingin kamu marah, biar mereka bisa bilang 'Lina tuh dramatis'. Jadi, jangan balas. Biarkan dia menunggu. Biarkan dia cemas."

Lina menarik napasnya dalam-dalam. Dia meletakkan ponselnya di meja, layar menghadap ke bawah. "Kamu benar. Saya nggak boleh memberi mereka kepuasan melihat saya hancur."

"Betul," kata Arka. "Sekarang, mari kita bahas topik yang lebih penting. Kamu suka meditasi?"

Lina melotot. "Meditasi? Di saat hati saya sedang berperang dunia ketiga? Anda serius?"

"Serius," kata Arka. "Meditasi bukan cuma soal duduk diam dan membayangkan bunga lotus. Meditasi itu soal mengendalikan napas. Soal nggak meledak setiap kali ada orang bodoh berbicara. Coba, tarik napas... tahan... buang..."

Lina mencoba mengikuti instruksi Arka. Tarik napas. Tahan. Buang.

"Gimana?" tanya Arka.

"Masih pengen melempar sepatu ke muka Dinda," jawab Lina jujur.

Arka tertawa. "Proses. Butuh waktu. Namanya juga detoksifikasi racun keluarga. Nanti juga bakal hilang kok. Diganti dengan keinginan untuk membeli tas branded baru."

Lina tersenyum tipis. "Kamu punya solusi untuk semua masalah, ya?"

"Hanya masalah-masalah yang bisa diselesaikan dengan logika dan belanja," kata Arka. "Masalah cinta? Itu wilayah abu-abu. Saya cuma bisa menemani kamu berjalan di kegelapan, bukan menerangi jalan."

Lina menatap Arka lekat-lekat. Ada sesuatu di mata pria itu. Kesedihan yang dalam, tapi juga kekuatan yang tenang.

"Kenapa kamu membantu saya?" tanya Lina tiba-tiba. "Kita baru kenal sejam yang lalu. Kamu bahkan nggak tahu nama lengkap saya."

Arka terdiam sejenak. Dia menatap cangkir kopinya yang sudah dingin. "Karena saya pernah di posisi kamu. Dan saat itu, nggak ada siapa-siapa yang mau dengerin cerita saya. Semua orang cuma bilang 'sabar ya' atau 'udah takdir'. Saya nggak butuh takdir. Saya butuh teman yang mau ketawa bareng di tengah badai. Jadi, anggap saja ini bayar utang karma."

Lina merasa dadanya sesak, tapi kali ini bukan karena sakit. Melainkan karena haru.

"Terima kasih, Arka," kata Lina pelan.

"Sama-sama, Lina," jawab Arka. "Sekarang, ayo kita pulang. Kamu butuh istirahat. Besok, perang sesungguhnya baru dimulai. Dan kamu butuh energi penuh. Plus, kamu perlu beli baju merah itu."

Lina mengangguk. Dia berdiri, mengambil tasnya. Untuk pertama kalinya sejak pagi itu, dia merasa punya arah. Dia punya sekutu yang aneh, sarkastik, dan agak gila. Tapi setidaknya, dia nggak sendirian.

Saat mereka berjalan keluar mall, hujan mulai turun. Arka membuka payungnya, menaungi Lina.

"Hati-hati licin," kata Arka.

Lina tersenyum. "Jangan khawatir. Saya sudah terbiasa jatuh. Yang penting, kali ini saya akan bangkit dengan gaya."

Arka tertawa. "Gaya kamu memang nggak ada duanya, Lin. Bahkan saat hancur, kamu tetap terlihat kuat."

Mereka berjalan menyusuri trotoar basah, dua jiwa yang terluka namun menemukan kekuatan dalam kebersamaan yang tak terduga. Dan di kejauhan, lampu-lampu kota berkedip, seolah-olah memberi restu pada babak baru kehidupan Lina.

Babak balas dendam yang elegan.

JANGAN LUPA LIKE YA HEHEH

1
Allea
kok bisa dapet harta selama baca novel anak haram nasabnya ( bener ga) ikut ibu jd ga berhak atas warisan ( kata cerita2 novel ya bukan kata saya)😄
Nuna_Pena: bikin berbeda dari yang lain🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!