NovelToon NovelToon
SISTEM DUNIA INI AKAN KURETAS

SISTEM DUNIA INI AKAN KURETAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Reinkarnasi / Epik Petualangan
Popularitas:293
Nilai: 5
Nama Author: YANDRI HS

Di dunia di mana para penyihir saling pamer ledakan dan mantra panjang, Kaelen Vance mantan pakar cybersecurity yang bereinkarnasi menjadi putra bangsawan miskin memilih menjadi anomali yang tak terlihat. Melihat sihir kuno tak lebih dari sistem jaringan yang penuh celah keamanan, Kael dengan sengaja memasukkan "kode rusak" pada ujian masuk Akademi Sihir. Tujuannya satu: dibuang ke Kelas F, sebuah gedung tua dengan sistem keamanan magis kedaluwarsa yang menjadi titik buta sempurna untuk meretas arsip kerajaan.
Publik mencapnya sebagai "Sampah Akademi". Mereka tidak tahu bahwa Kael tidak butuh merapal mantra; ia menyimpan struktur sihir di otaknya secara permanen layaknya NVRAM, dan menggunakan cincinnya sebagai router untuk meretas dan membelokkan serangan musuh di udara. Kael tidak butuh validasi atau menjadi pahlawan—ia menghancurkan musuhnya secara diam-diam dari balik layar.
Namun,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YANDRI HS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ep 16: Denial of Service

Suasana di aula utama Istana Kerajaan Aethelgard pagi itu terasa tegang. Perdana Menteri berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke halaman luas, sementara beberapa penasihat militer berdiskusi dengan nada rendah di dekat meja peta. Meskipun laporan palsu yang dikirimkan oleh Kael melalui jalur *Ley Lines* sempat meredakan kekhawatiran istana, desas-desus mengenai kelumpuhan total di Akademi Sihir tetap merembes keluar dan memicu kepanikan di kalangan para bangsawan tinggi.

Di tengah ketegangan itu, pintu utama aula terbuka dengan suara hantaman keras. Jenderal Vane—pemimpin tertinggi Pasukan Inkuisisi Militer kerajaan, seorang pria berbadan kekar dengan bekas luka bakar melintang di wajahnya—melangkah masuk dengan jubah baja yang berdenting nyaring di setiap langkahnya. Di belakangnya, enam orang komandan pasukan khusus mengekor dengan ekspresi dingin tanpa kompromi.

"Perdana Menteri," sapa Jenderal Vane dengan suara berat yang menggelegar di seluruh ruangan. "Aku baru saja menerima surat balasan dari Grand Inquisitor di akademi yang mengatakan semuanya terkendali. Tapi mata-tamaku di lapangan melaporkan hal sebaliknya. Pintu gerbang akademi terkunci rapat, tidak ada utusan yang keluar-masuk selama tiga hari terakhir, dan sistem pertahanan inti mereka memancarkan fluktuasi energi yang tidak wajar."

Perdana Menteri berbalik, mengerutkan kening. "Jenderal, laporan resmi menyatakan..."

"Laporan resmi bisa dipalsukan oleh birokrat yang ingin menyelamatkan muka!" potong Vane tajam. "Jika Akademi Sihir Aethelgard benar-benar jatuh ke tangan pihak tak dikenal, itu adalah ancaman langsung terhadap kedaulatan kerajaan. Aku tidak akan duduk diam menunggu izin birokrasi. Aku akan mengerahkan satu batalion Inkuisisi ke sana hari ini juga untuk melakukan pemeriksaan fisik secara paksa!"

Perdana Menteri terdiam, menyadari bahwa Vane tidak bisa dihentikan begitu saja. "Baiklah. Jika kau bersikeras, siapkan pasukanmu. Tapi pastikan tindakanmu tidak memicu perang terbuka dengan faksi internal akademi."

Jauh di dalam kamar sempit Kelas F, Kaelen Vance tidak melewatkan satu pun percakapan tersebut. Jaringan *packet sniffer* yang ia pasang di jalur *Ley Lines* merekam gelombang suara dan perintah pergerakan militer itu secara *real-time*.

Kael duduk tegak, jari-jarinya menari cepat di atas meja kayu. Di sampingnya, Elara Vane tampak mondar-mandir dengan cemas, jemarinya mencengkeram erat ujung jubahnya.

"Kael, kau mendengarnya?!" seru Elara panik. "Jenderal Vane tidak bisa dibohongi dengan surat palsu lagi! Dia mengerahkan satu batalion penuh Pasukan Inkuisisi Militer untuk mendatangi akademi secara langsung! Mereka membawa artefak pendobrak segel dan golem pemusnah! Kalau mereka datang dan memaksa masuk secara fisik, sistem logika digitalmu tidak akan bisa menghentikan tebasan pedang mereka!"

Kael tidak menjawab. Matanya yang abu-abu menatap lurus ke arah layar proyeksi tiga dimensi yang menampilkan pergerakan pasukan militer di luar batas wilayah akademi.

"Mereka berniat menerobos pertahanan fisik," kata Kael tenang, suaranya sedatar mesin ketik. "Itu adalah tindakan yang sangat konvensional. Mereka mengira masalah ini bisa diselesaikan dengan jumlah pasukan dan kekuatan otot."

"Lalu apa pertahanan kita?!" desak Elara. "Ruang server bawah tanah tidak memiliki dinding pertahanan baja yang cukup tebal untuk menahan artileri militer!"

Kael mengangkat tangan kanannya, memutar cincin peraknya hingga pendaran biru di permukaannya menyala sangat terang.

"Kita tidak akan melawan mereka di ruang fisik," jawab Kael dingin. "Kita akan menyerang sumber daya mereka di ruang logika. Dalam arsitektur jaringan, ketika sebuah server dibanjiri oleh permintaan akses yang masuk secara bersamaan dalam skala masif hingga melampaui kapasitas pemrosesannya, sistem tersebut akan mengalami kelumpuhan total."

Elara mengerutkan kening, mencoba memahami istilah asing itu. "Maksudmu...?"

"Sebuah serangan *Denial of Service*," jelas Kael. "Pasukan Inkuisisi Militer sangat bergantung pada jaringan komunikasi sihir jarak jauh untuk koordinasi taktis dan pasokan energi golem mereka lewat *Ley Lines*. Jika kita membanjiri jalur komunikasi mereka dengan jutaan paket data kosong secara serentak..."

Kael mengetukkan jarinya dengan tegas pada konsol utama.

*Executing mass packet flood...*

*Target: Military relay nodes.*

*Overloading bandwidth...*

Jauh di luar tembok akademi, barisan depan Pasukan Inkuisisi Militer yang sedang berbaris cepat tiba-tiba mendadak tersendat. Prajurit yang memegang batu komunikasi sihir berteriak kaget saat batu di tangan mereka berpendar merah panas, lalu meledak berkeping-keping. Golem-golem tempur berukuran besar yang berjalan di barisan belakang tiba-tiba kehilangan sinkronisasi sinyal, berdiri membeku di tengah jalan, dan ambruk menimpa satu sama lain akibat kehabisan suplai *mana* dari server pusat militer.

Di atas kuda komandannya, Jenderal Vane menarik kendali kudanya dengan kasar, menatap murka ke arah batu komunikasi yang kini tinggal arang.

"Ada apa ini?! Lapor kondisi!" bentak Vane pada ajudannya.

"Jenderal! Jaringan komunikasi terputus total!" teriak sang ajudan dengan wajah pucat. "Semua pos komando di ibu kota tidak bisa dihubungi! Suplai energi golem kita mengalami *crash* massal! Kita kehilangan koneksi ke jaringan pusat!"

Vane mengepalkan tinjunya di udara. Tanpa jaringan komunikasi dan suplai *mana* jarak jauh, pasukan elitnya lumpuh seketika, berubah menjadi sekumpulan prajurit biasa yang terjebak di tengah jalan tanpa arah.

Kembali ke ruang Kelas F, Kaelen Vance melihat layar proyeksi yang menunjukkan garis-garis koneksi musuh putus satu per satu.

"Koneksi militer berhasil diputus," ucap Kael datar, menurunkan tangannya. "Mereka kehilangan kapasitas untuk melakukan invasi terkoordinasi. Mereka tidak punya pilihan selain mundur dalam kebingungan."

Elara menghela napas panjang, lututnya nyaris lemas karena rasa lega yang luar biasa. Ia menatap Kael dengan rasa kagum yang bercampur ngeri. Tanpa mengangkat satu senjata pun, pemuda itu baru saja melumpuhkan seluruh divisi militer terkuat kerajaan hanya dengan membanjiri jalur data mereka.

"Mereka datang untuk menghancurkan kita," bisik Elara pelan. "Dan kau membuat tentara terkuat kerajaan tidak berdaya tanpa harus keluar dari kamar ini."

"Itu bukan keajaiban," balas Kael dingin, kembali mengetukkan jarinya di atas meja. "Itu adalah hukum dasar efisiensi jaringan. Siapa pun yang menguasai *bandwidth*, menguasai dunia."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!